Persahabatan tiga cowok yaitu Izam, Roki dan Martin disekolah menengah.cerita ini sudah direvisi silakan para pembaca untuk datang menikmati kisahnya. Jika ada kesalahan penulisan atau kata, saya meminta maaf. Ayo datang meriahkan kisah fantasi ini.Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Jendela
Malam itu, kegelisahan merayapi hati Roki. Di benaknya, ucapan Martin terus terngiang, berputar-putar seperti melodi yang tak kunjung padam. "Kamu tidak usah takut," Martin berkata. Tapi apakah benar? Akankah rencana yang sudah dia susun dengan hati-hati berjalan mulus, atau justru akan berantakan di tengah jalan? Keraguan ini bagaikan duri yang menusuk perlahan.
“Kamu tidak usah takut?” suara Martin kembali memecah lamunannya, seolah membaca pikirannya. Roki menoleh, menatap Martin yang duduk santai di sebelahnya.
“Apa yang aku takutkan?” Roki mencoba menyembunyikan kegelisahannya, namun suaranya sedikit bergetar.
Martin tersenyum tipis, senyum yang entah mengapa terasa penuh teka-teki. “Sudah aku katakan, bukan? Dia tidak tahu siapa kamu. Dia tidak akan menggagalkan rencana yang sudah kamu siapkan.” Ada nada aneh dalam ucapan Martin, seperti menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar meyakinkan Roki.
“Aku rasa aku akan kembali sekarang,” kata Martin, bangkit dari duduknya.
“Kenapa tidak menginap saja? Ini sudah malam. Apalagi kalian satu sekolah, bukan? Menginap saja satu hari. Tante tidak apa-apa,” Ibu Roki muncul dari dapur, wajahnya ramah, mengundang Martin untuk tinggal.
“Iya, apa yang dikatakan Mama benar. Kamu menginap saja,” Roki ikut membujuk, sedikit berharap Martin tetap tinggal untuk meredakan kecemasannya.
Martin melihat ke layar ponselnya, jarinya lincah mengetik pesan. “Baiklah,” ucapnya akhirnya, mengangguk setuju.
“Ayo, naik ke atas. Kamu akan tidur di sebelah kamarku,” Roki bangkit, berjalan terlebih dahulu menunjuk arah kamar tamu.
Martin mengikuti, langkahnya tenang. “Terima kasih sudah mengizinkan saya tinggal, Tante.”
Roki mengantar Martin ke kamarnya. Setelah menujukkan kamar, Martin masuk ke dalam untuk beristirahat. Namun, tanpa mereka sadari, bayangan-bayangan gelap sudah mengawasi rumah Roki. Beberapa orang berpakaian serba hitam, berdiri di antara semak-semak, mata mereka tajam memindai setiap sudut.
Dari balik jendela kamar, Martin melihat mereka. Beberapa orang berjaga di sekitar rumah. Ia mengamati gerak-gerik mereka yang mencurigakan, sorot matanya tajam dan waspada. Kilatan cahaya rembulan sesekali menampakkan tato aneh di belakang leher mereka. Martin menyipitkan mata. Tato itu… tato yang sama dengan anak buah Andre.
“Tidak aku sangka mereka memulai bergerak,” gumam Martin dengan suara nyaris tak terdengar, rahangnya mengeras.
Martin segera mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat kepada Mark, memberitahukan untuk memulai pertemuan yang sudah disepakati. “Tinggal menunggu waktu saja, mereka akan mulai bergerak,” bisiknya lagi, matanya kembali menatap bayangan-bayangan di luar.
Saat Martin sedang mengamati anak buah Andre, dia mendengar suara langkah kaki dari bawah menuju lantai atas. Penasaran, Martin membuka pintu sedikit dan melihat Bu Melati, ibu Roki, berjalan menuju kamarnya. Martin membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan Bu Melati masuk ke dalam kamar.
“Ada apa, Tante?” tanya Martin, nadanya penuh hormat.
Bu Melati tersenyum tipis, sorot matanya yang penuh kehangatan menatap Martin. “Kamu tidak pernah berubah, Martin. Masih saja mengkhawatirkan kami berdua.”
Martin duduk di tepi ranjang, menghindari tatapan Bu Melati. “Aku tidak mengkhawatirkan kalian, Tante. Hanya saja, aku pernah utang budi kepada Tante yang harus aku bayar.” Ada penekanan pada kata ‘utang budi’, seolah mengingatkan pada masa lalu yang kelam.
“Apa kamu sudah melihat orang yang di bawah?” Bu Melati bertanya langsung, suaranya pelan namun penuh pengertian.
Martin menghela napas. “Sudah. Bukankah mereka anak buah Andre?”
“Jadi kamu tahu jika itu anak buah Andre?” Ada nada terkejut dalam suara Bu Melati.
Martin hanya menganggukkan kepalanya, ekspresinya datar.
“Apa yang kamu sembunyikan dari Tante, Martin?” Bu Melati menuntut, suaranya sedikit meninggi.
“Apa maksud Tante? Aku tidak mengerti,” Martin mencoba berkelit, sorot matanya masih fokus pada jendela.
Bu Melati mendekat, tangannya menyentuh bahu Martin. “Tante tahu kalau kamu mencoba melakukan pembinasaan organisasi itu, bukan?”
Martin terdiam sesaat, lalu tersenyum getir. “Itu mustahil, Tante. Aku tidak ada kepikiran untuk mencari masalah dengan organisasi itu. Bukankah Tante tahu kalau organisasi itu sangat menakutkan dengan kekuasaan yang mereka miliki? Dengan kemampuan yang kumiliki sekarang, bukankah aku hanya akan menghancurkan diriku sendiri?” Suaranya penuh dengan kepura-puraan, namun tatapan matanya tetap waspada.
Bu Melati menghela napas panjang. “Tante tahu kalau kamu masih mencari ayah kandung kamu yang sebenarnya, bukan?”
Kata-kata Bu Melati seperti tamparan keras bagi Martin. Ia menoleh cepat, tatapan matanya menusuk. “Apa Tante tahu ayah kandung Martin yang sebenarnya?” Suaranya rendah, penuh harapan yang terpendam.
“Tante tidak tahu, tapi Mama kamu mungkin tahu,” ucap Bu Melati, matanya menghindari tatapan Martin.
“Apa maksud Tante? Aku tidak mengerti!” Martin berdiri, berjalan ke arah jendela, kembali mengamati. Ada kekecewaan dan kebingungan yang membayangi wajahnya.
“Apa yang kamu lihat sampai seserius itu?” Bu Melati ikut mendekat, mencoba melihat apa yang menarik perhatian Martin.
“Lihatlah sendiri, Tante,” Martin menunjuk ke arah luar.
Bu Melati mengikuti arah pandangan Martin. Di kejauhan, beberapa sosok anak buah Andre tampak membawa jerigen-jerigen besar. Sebuah firasat buruk menjalar di hatinya.
“Apa yang mereka bawa?” gumam Bu Melati, matanya membelalak. “Itu bukankah minyak tanah? Apa mereka mencoba membunuh kita?” Suaranya bergetar, ketakutan mulai merayap.
Tepat saat itu, Roki yang sedari tadi berdiri di balik pintu, mendengar percakapan mereka berdua. Ia masuk ke dalam, wajahnya tegang. “Kurasa mereka sudah mulai akan bertindak.”
Ibu Roki dan Martin menoleh, terkejut dengan kehadiran Roki. “Sejak kapan kamu mendengar pembicaraan kita berdua, Roki?” tanya Ibu Roki, nada suaranya sedikit menegur.
Roki hanya tersenyum tipis, berjalan mendekat. “Aku rasa tidak perlu dijelaskan lagi untuk saat ini, Mama.”
Ibu Roki hanya bisa melihat kedua anaknya itu, rasa bangga dan khawatir bercampur aduk. “Anakku sudah dewasa sekarang.”
Saat mereka bertiga berbincang-bincang dengan santai, di luar rumah, anak buah yang sudah disiapkan oleh Martin dan Roki bergerak. Dalam keheningan malam, mereka menyergap semua anak buah Andre yang sudah menyiramkan minyak tanah di sekeliling rumah. Suara-suara gaduh perkelahian terdengar samar, namun cepat mereda.
“Apa yang sedang terjadi?” tanya Ibu Roki, yang melihat keluar jendela. Ia melihat beberapa bayangan bergerak di kegelapan, lalu beberapa orang diikat dan dibawa pergi.
“Apa kalian sudah mengetahui akan kejadian yang akan terjadi pada malam ini?” Ibu Roki menatap Roki dan Martin, suaranya penuh selidik.
Roki mengangguk, sorot matanya serius. “Itu benar, Ma. Saat kami mencari butik, kami terpisah dengan Izam dan Terko. Kami sudah diawasi. Kami hanya menebak saja kalau Roki mungkin akan diincar oleh mereka karena sudah menggagalkan rencana mereka. Oleh karena itu, kami sudah menyiapkan beberapa orang yang dalam kendali kami untuk mencegah yang akan terjadi.”
Ibu Roki menghela napas, rasa lega bercampur khawatir. Ia berjalan keluar kamar. “Jangan lupa kalian istirahat. Besok kalian harus berangkat sekolah.”
Setelah Ibu Roki pergi ke kamarnya, Roki dan Martin kembali beristirahat, namun pikiran mereka jauh dari ketenangan.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
Sementara itu, di sebuah tempat tersembunyi, Marko berdiri dengan tenang. Malam itu, di sebuah gudang tua yang remang-remang, ia tengah merencanakan langkah selanjutnya. Bayangan-bayangan anak buahnya bergerak di sekelilingnya, menanti perintah.
“Apa kalian sudah siap?” tanya Marko, suaranya berat dan penuh wibawa.
“Sudah, Bos! Tinggal menunggu langkah selanjutnya,” jawab salah satu bawahan, suaranya lantang.
Terdengar suara langkah kaki mendekat. Hizam muncul dari kegelapan, ekspresinya serius. “Apa yang ingin kamu lakukan di sini, Marko?”
“Menurut kamu?” Marko menjawab datar, tatapan matanya tajam.
“Apa kamu serius akan membakar mereka sekaligus?” Hizam bertanya, suaranya sedikit ragu.
Marko tersenyum tipis, senyum licik yang berbahaya. “Tidak. Aku hanya akan memancing orang yang sudah mengawasi kita saja.”
Hizam mengerutkan kening. “Ternyata kamu sudah ada persiapan untuk menghentikan pergerakan mereka yang bekerja sama untuk mencari identitas kita?”
“Kamu kira aku tidak bisa berpikir jernih masalah ini?” Marko balas menatap Hizam dengan tajam, sedikit tersinggung.
“Apa yang ingin kamu lakukan setelah ingin membakar rumah Roki?” Hizam mendesak, rasa penasaran menguasainya.
“Kita akan gagal membakar rumah Roki,” ucap Marko dengan santai, seolah kegagalan adalah bagian dari rencananya.
“Apa maksud kamu akan gagal?!” Hizam terkejut, tidak memahami rencana rumit Marko.
“Aku sudah bilang, bukan? Targetku bukan rumah, tapi yang mengikuti kita,” Marko menjelaskan, matanya kembali menatap bayangan di luar gudang.
Hizam terdiam, lalu matanya membelalak saat melihat anak buah mereka dari jauh, melaksanakan rencana yang disiapkan oleh Marko. Setelah melihat anak buah Marko yang sudah menyiram minyak tanah di rumah Roki, muncul beberapa orang yang menangkap anak buah Marko.
“Apa kamu mau biarkan saja mereka tertangkap?” ucap Hizam, menatap Marko yang masih santai, tidak menunjukkan reaksi apa pun.
“Kenapa kamu masih santai saja melihat mereka?” Hizam bertanya lagi, kini dengan nada gelisah.
Marko berjalan ke tempat lain, Hizam mengikutinya. Sampai Hizam melihat ke arah mata Marko tertuju. Sebuah mobil hitam melaju perlahan menjauhi lokasi. “Itu…” Hizam tercekat.
“Kenapa kamu kira hanya itu saja rencanaku tanpa ada pencegahan?” Marko menyeringai.
“Mereka sudah tertangkap semua, Bos,” kata seorang bawahan, muncul dari kegelapan.
“Bawa mereka ke markas untuk diselidiki siapa yang menyuruh mereka,” perintah Marko, suaranya dingin dan tegas.
“Jadi ini rencana kamu, menangkap mereka untuk mengetahui rencana lawan?” Hizam akhirnya mengerti, namun masih ada kebingungan di wajahnya.
“Tidak, ini hanya awal saja. Membuat mereka menderita,” kata Marko, matanya memancarkan niat jahat.
“Apa masih ada rencana lagi untuk menyingkirkan mereka?” Hizam bertanya, merasakan betapa liciknya otak Marko.
“Ada, tapi tidak hari ini. Tunggu waktu yang tepat saja, mereka akan berselisih,” ucap Marko, berjalan menuju mobilnya.
“Tidak aku sangka kalau kamu memiliki otak jenius,” ucap Hizam, kagum sekaligus sedikit takut.
Marko hanya melihat Hizam dengan tatapan tajam, lalu masuk ke dalam mobil. “Kamu kira kalian bisa menangkapku,” ucap Marko di dalam mobil, seringainya semakin lebar.
“Kita lihat siapa yang bisa bertahan di tempat ini,” ucap Marko dengan wajah liciknya.
Setelah malam yang penuh strategi, Martin yang melihat rencananya gagal hanya bisa tertawa kecil di dalam hatinya. “Apa kamu kira hanya ini saja rencananya, Marko?”
Marko yang sudah tahu kalau Martin adalah pengkhianatnya hanya bisa terdiam dan mengikuti alur permainan Martin. Yang kebetulan Marko juga sudah mewaspadai Martin jika identitasnya sudah ketahuan. Mereka berdua yang memiliki cara mereka sendiri hanya mengikuti alur permainan satu sama lain, menunggu sampai salah satu dari mereka mengalah, atau mungkin, kehancuran datang bagi keduanya. Sebuah permainan catur yang rumit, di mana setiap bidak adalah nyawa, dan setiap langkah adalah taktik berbahaya.