Yang suka silahkan lanjut. Bima Arsaka, ahli bedah top dan terkenal. Tak ada yang menyangka, Bima juga seorang mafia yang kejam dan menakutkan. Bima adalah penerus klan Macan Putih, kelompok terkuat Mafia saat ini. Akankah Bima dapat menyeimbangkan tugas yang bertolak belakang sebagai seorang dokter dan juga Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat jam, sampailah trio B3 di sebuah desa yang lokasinya agak terpencil. Suasana desa yang masih asri, belum banyak polusi. Pohon-pohon rindang masih banyak terdapat di sana. Penduduk mayoritas bertani. Mobil Bima melewati sebuah jalan yang terdapat bentangan sawah di kanan kirinya. "Foto dulu yukkkk" ajak Brahma. "Hih..., ogah" sarkas Bima. "Bener Bim, lama-lama kita dikira melambai" sela Bagus fokus melihat jalan di depannya. "Depan itu bukannya rumah Om Rama??" gumam Brahma. "Kalian juga pernah ke sini???" Bima mengernyitkan alisnya. "He...he...kira-kira?" Bagus membalikkan pertanyaan Bima. "Wah, kalian nggak asyik banget" seloroh Bima.
"Assalamulaikum, ayah" Bima mengetuk pintu depan. "Waalaikumsalam wr wb...masuk Bim" seru ayah Rama dari dalam rumah. Bima membuka pintu dan melangkah masuk ke sana, tentu saja Brahma dan Bagus mengikuti. "Duduklah kalian. Sudah pada shalat belum? Kalau belum ayo jamaah, kutunggu!!!" ajak ayah Rama. Bima melangkah duluan untuk mengambil wudhu, diikuti dua sahabatnya itu.
Selepas berjamaah, ayah Rama duduk berbalik. Masih di ruang shalat. "Aku memang sengaja memanggil kalian ke sini. Ada yang mau ayah bicarakan dengan kalian" ucap serius ayah Rama.
Trio B3 pun menatap dan menyimak serius perkataan ayah Rama.
"Bima, aku menunjukmu untuk meneruskan macan putih. Ayah sangat percaya dengan kemampuanmu. Maaf ayah tidak pernah bilang kepadamu soal Bagus dan Brahma. Sekarang kalian sudah dewasa. Tidak perlu ada lagi yang perlu ayah tutupi terutama kamu Bima. Kamu ingat bagaimana bundamu meninggal Bim?" ujar ayah Rama. Perkataan ayahnya seakan mengorek kembali luka yang telah dibalut oleh Bima. "Iya ayah" ucap Bima menunduk. Bagus mengelus bahu Bima untuk menguatkan. "Aku tau kamu sangat trauma dengan kejadian itu" ayah Rama sangat memahami putranya. "Tapi kamu juga harus tau Bim cerita sebenarnya di balik kejadian itu".
Ayah Rama mulai menceritakan masa mudanya.
*Flash Back On*
Rama, Budi dan Anthoni bersahabat karib. Mulai awal kuliah mereka bersahabat. Meski beda jurusan mereka sering kemana-mana bertiga. Saking akrabnya mereka bertiga mendapat julukan trio BAR (Budi, Anthoni dan Rama). Anthoni dengan wajah Indo-Itali, Budi dengan logat Jawa tulennya sedangkan Rama dengan wajah sedikit oriental. Masa kuliah adalah masa awal kejayaan trio BAR. Mereka menjadi idola baru di kampus. Tidak ada yang tidak kenal dengan trio BAR.
Kedatangan cewek cantik bernama Margareth itulah awal trio BAR pecah kongsi.
"Ram, ada cewek cantik baru di kampus nih" awal cerita Anthoni. Rama yang memang tak terlalu berminat untuk pacaran, hanya mengiyakan saja. "Beneran Ram, cantik. Dia asli Itali" kata Antoni penuh semangat. "Ya kalau suka pepet dong Thon" ujar Budi dengan suara medoknya. "Ya jelaslah" tawa riang Anthoni. "Pas kali kau Thon, wajahmu blesteran dapat cewek orang Itali lagi" Budi menyemangati Anthoni.
Mulai saat itu Anthoni mulai tebar pesona dengan Margareth. Selain cantik, Margareth cewek yang supel. Tidak pernah pilih-pilih teman. Kalau trio BAR idola cewek-cewek di kampus. Kalau Margareth, adalah new comer idola para cowok di mana trio BAR ber kuliah. "Wah, kayaknya kamu bakal banyak saingan Thon" ejak Rama kali ini. "Wah, akan kubabat habis mereka yang mendekati Margareth" ancam Anthoni. "Wih ngerinya, lha terus kalau aku yang mepet??" ucap Budi. "Akan kubabat juga" tegas Anthoni. "Sahabatmu akan kau babat Thon???? hanya demi wanita?" suara Anton sedikit meninggi. "Jangankan sahabat Ram, sekarang banyak juga keluarga saling bunuh" sarkas Anthoni. "Wah, bisa bahaya Ram dekat Anthoni" Budi menanggapi ucapan Anthoni dengan sedikit gurauan. Rama pun juga menganggap ucapan Anthoni angin lalu. Hanya demi cewek, sampai mengorbankan persahabatan. Nggak banget bagi Rama.
Selama ini Rama belum pernah bertemu langsung dengan Margareth. Wajahnya seperti apa juga tidak membuat Rama penasaran. Saat itu Rama berjalan di tempat yang lumayan sepi, masih di area kampus. Rama menuju perpustakaan hendak meminjam buku yang diperlukan untuk melengkapi tugas-tugasnya. Rama melihat seorang cewek yang hendak dikeroyok beberapa laki-laki dengan wajah sangar. Cewek itu sudah berposisi kuda-kuda bersiap menahan serangan para preman itu. Rama masih terdiam sebagai penonton. Cewek itu dengan gesit menghindari setiap serangan para preman itu. Tapi dia kalah jumlah dan kalah tenaga. Saat ada serangan dari belakang, cewek itupun tak mampu mengelak. Cewek itupun tersungkur.
Para preman itu menoleh, saat terdengar tepuk tangan di belakang. "Wah...wah...ada yang berani main keroyok nih..Berani sekali kalian..Ini area kampus loh" seru Rama di antara mereka. Cewek itu sudah kembali bangun ke posisi siaga.
"Siapa kamu? Kalau nggak tau urusannya tidak usah ikut campur" bentak salah satu dari mereka. "Aku tetap akan ikut campur, apalagi melihat ketidakadilan di depan mata" ucap Rama berikutnya. "Jangan sok jagoan. Kamu belum tau siapa kami" tambah seorang lagi. "Aku tidak peduli siapa kalian, tapi di sini sudah terjadi ketidakadilan". Terjadilah perkelahian yang tidak seimbang. Seharusnya para premanlah yang kewalahan. Tapi ini malah sebaliknya, Rama dan cewek itu malah membuat babak belur gerombolan preman itu. Mereka lari tunggang langgang ke segala arah.
Rama langsung melangkah ke arah perpustakaan kampus. "Makasih bantuannya" ucap cewek itu mengulurkan tangan. "Sama-sama" Rama melangkah tanpa menyambut uluran tangan itu. "Sombong amat" ucap cewek itu dengan logat yang kebuleannya. Sesampai di perpustakaan, ternyata Budi sudah di sana. "Ram, darimana aja??? Lama kali aku nunggunya" sergah Budi sebelum Rama duduk. "Bukunya mana?" pinta Rama. "Jawab dulu!!!" tolak Budi. "Eh, bajumu kotor banget, habis dihukum dosen tidur di lapangan basket?" berondong tanya dari mulut Budi. "Rama kok dihukum, bisa trending topik dong di kampus" gurau Rama. "Terus itu baju kotor kenapa?" tanya Budi masih penasaran. "Nggak kenapa-napa. Cuma tadi iseng bermain sedikit, anggap aja cari keringat" gurau Rama tanpa mau menceritakan yang sebenarnya.
"Jelas???? Mana sekarang buku yang ku suruh pinjam tadi" lanjut Rama. "Nih, tuan besar" seloroh Budi. Rama tertawa melihat ekspresi Budi. Rama kembali serius dengan buku yang telah dipegangnya tanpa memperdulikan sekeliling. Budi pun demikian, serius dengan bukunya. Budi dan Rama tidak menyadari ada yang datang di antara mereka. "Selamat siang, ijin gabung ya" pinta seseorang itu. Rama dan Budi mangangguk tanpa melihat orang itu. "Hmm, ternyata aku lagi bicara dengan orang yang tunawicara ya. Baiklah" seloroh orang itu lagi. "Whattttt????" seru Rama dan Budi bersamaan memandang ke orang itu. "Kau?????" tunjuk Rama. Budi hanya melongo melihat bidadari di hadapannya.
#bersambung#happy reading☕
gimana sama nasib Joana pas th kl ayahnya di tangkap 🤔🤔🤔 trus gimana kelanjutannya hubungan Bima dan Rani kn blm jls 🤔🤔🤔