Bukan kisah tentang benci menjadi cinta tapi tentang cinta pertama yang datang kembali ketika hidup Azia sedang sangat kacau. Dalam badai yang tiba-tiba menerpa hidupnya, sebuah cahaya menyelamatkan hari-hari buruknya. Pria hangat yang membuat dia tidak bisa mengalihkan pikirannya, berada dekat meskipun tidak sanggup dia gapai. Banyak hal yang terjadi setelah bersama hingga membuat mereka tak ingin saling kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah ucap
Aku sudah menduga kalau ibu akan mencari alasan untuk tidak menemaniku membeli kado untuk Andra yang akan berulang tahun. Hari itu aku sengaja mengambil cuti untuk bisa membeli sesuatu untuk Andra, Azia seperti biasa setelah pulang sekolah dia langsung menuju ke rumahku meskipun terkadang Andra tidak di rumah. Azia terlihat sangat senang membantu ibu membuat dan terkadang aku berpikir mungkin kami bisa jadi keluarga kecil yang hangat suatu hari nanti tapi, pikiran itu langsung di patahkan karena kenyataannya aku tidak bisa bersama dengan Azia karena berbagai alasan.
“Bu, hari ini jadikan temani Alex belanja?” Aku hanya basa-basi saja dengan Ibu yang sudah jelas mengekspresikan kalau dia tidak ingin pergi denganku.
“Aduh sayang, Ibu ada arisan dua jam lagi. Emm… gimana kalau perginya bareng Azia aja, gimana bisa kan, nak Azia?”
“Eh, itu..”
“Ayo kalau gitu!” Aku langsung menarik tangan Azia karena dia terlihat sedang mencari alasan menolak ajakan ku.
“Kak, tunggu!”
“Maaf aku tidak menunggu jawaban darimu tadi, apa kamu tidak mau ikut denganku?”
“Bukan begitu, aku hanya… Itu tasku tertinggal di dalam.”
“Sudah aku masukkan ke dalam mobil”
“Apa? Kapan?” Dia terlihat sangat kaget.
“Tadi sebelum menghampiri kalian, sekarang ayo masuk” Alasan tas Azia sudah di dalam mobilku karena aku sudah menebak kalau ibu akan mengorbankan Azia untuk pergi dengan aku.
“Tunggu dulu! Aku masih menggunakan baju sekolah!”
“Gak papa, kamu tetap terlihat cantik menggunakan apapun jadi tidak masalah”
“Bukan itu maksudku!”
“Ayo masuk aja” Aku memaksanya untuk masuk karena jika mengikuti dramanya mungkin kami akan membuang lebih banyak waktu lagi hanya untuk memperdebatkan hal itu.
“Kak, kita mau kemana?”
“Aku mau beli hadiah untuk Andra, besok dia ulang tahun ke 14. Zi, menurut kamu enaknya beli apa, ya?”
“Beli? Hmm..” Azia terlihat serius memikirkan pertanyaan ku padahal aku hanya bercanda menanyakan hal itu padanya, dia terlihat menggemaskan saat sedang berpikir serius dan aku hampir tidak tahan untuk tidak menyentuh pipinya.
“Gimana kalau kakak beli baju, sepatu, dan aksesoris anak laki-laki pada umumnya aja?”
“Em, kalau gitu kita ke mall aja”
Begitu sampai kami langsung mencari barang yang akan di beli dan aku sedikit membuat masalah karena lupa ukuran sepatu Andra, terpaksa aku menghubungi orang rumah untuk menanyakan ukuran sepatu Andra.
“Sekarang semua sudah dibeli, Zi kamu mau kakak belikan apa?”
“Ayo kali ini kakak ikut aku!”
Azia menarik tanganku dan adegan itu membuat detak jantungku terasa tidak biasa, aku merasa ada getaran yang aneh saat jemarinya menggenggam tanganku dengan lembut. Kami masuk ke dalam toko baju perempuan lalu dia mencoba beberapa baju yang aku pilihkan, yang gilanya adalah saat aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari dia. Azia dalam balutan baju biasa terlihat lebih dewasa dan sangat cantik, aku hampir menggila karena menahan perasaanku padanya, aku cukup tahu kalau hubungan kami tidak bisa lebih dari yang saat ini meski aku menyukainya.
Semua baju yang dia coba terlihat sangat cocok untuknya hingga aku ingin menghabiskan semua uangku untuk membelikannya baju.
“Tunggu biar aku bayar”
“Aku punya uang kok, lagian nenek bilang tidak boleh menerima pemberian dari orang asing”
Ucapannya yang mengatakan aku orang asing untuknya membuat dadaku sedikit terasa sesak, dia seperti memberikan jarak yang cukup jelas pada hubungan kami berdua, aku benar-benar tersadar kalau kami memang tak seharusnya dekat satu sama lainnya. Aku mencoba menerima keadaan, aku menarik nafas dan mencoba bersikap seperti biasa agar dia tidak menyadari perasaanku padanya. Mungkin hari itu langit sedang murka kepadaku hingga mengirim tiga teman sialan yang mengacaukan keadaan yang semula baik-baik saja.
“Hai dokter Alex! Ngapain disini?” Rian dan teman-teman yang lain datang menghampiriku yang sedang bersama Azia.
“Belanja, kalau kalian ngapain? Gak kerja?”
“Gak, hari ini kami sepakat buat cuti dan jalan sama pacar kami, eh anak di samping kamu itu siapa?”
“Pacar kecilmu, ya?” Tanya mereka.
Aku melirik kearah Azia, wajahnya terlihat memerah, mungkin karena dia amat kesal ada yang mengatakan kalau dia pacar aku yang usianya terlalu tua untuk seorang seperti Azia. Aku tidak ingin membuat dia semakin marah, karena itu aku langsung mengkonfirmasi hubungan kami berdua dengan jelas.
“Mana mungkin aku suka sama anak kecil, kalian jangan ngada-ngada, dia itu temannya Andra, aku ajak belanja buat beli kado untuk Andra itu aja, kok”
Aku pikir amarahnya akan mereka dengan ucapan ku tapi, saat aku melirik kearahnya matanya seakan mau menangis saja, aku tidak merasa mengatakan hal yang buruk hingga membuat dia harus tersinggung dan hampir menangis karena ucapan ku.
“Kak, aku punya agenda lain sekarang jadi, aku duluan, ya” Azia berjalan dengan cepat meninggalkan aku bersama tiga bocah sialan itu.
“Dia kenapa?” Tanyaku
“Kayaknya anak itu suka sama kamu deh, lex!”
“Jangan ngada-ngada deh! Mana mungkin dia suka sama aku, aku ini terlalu tua untuk anak sekecil dia” Ucapku sambil tertawa karena mendengar ucapan bocah-bocah aneh itu hanya sebuah lelucon.
“Sekarang dia terlihat seperti anak kecil tapi, dua tahun lagi dia akan jadi wanita dewasa yang di kejar-kejar sama banyak cowok, dan saat itu tiba baru kamu akan menyesal.”
“Aku setuju tuh!”
“Kalian pada kenapa sih?”
“Kamu tu yang kenapa? Gak sadar apa, ucapan kamu tadi yang bilang ‘mana mungkin aku suka sama anak kecil’ itu udah membuat dia sakit hati, lihat aja besok aku rasa dia gak akan bicara lagi sama kamu”
“Kenapa gitu?”
“Dasar begok! Udahlah, kamu pikir saja sendiri, masa hal yang kayak gini perlu di jelasin juga sih?”
“Alex, kamu ini kadang-kadang begok juga ya, kalau gitu kami bertiga duluan, ya”
Ucapan Dodi membuat aku ingin memukulnya karena dia kadang benar tentang aku yang tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Aku mencoba menghubungi Azia saat keluar dari tempat itu.
Aku tidak bisa membuka mulutku saat mendengar suara Azia seperti sedang menangis, aku merasa bersalah karena hal yang aku lakukan mungkin menyakitinya tanpa aku sadari. Aku langsung menutup telpon dengan cepat karena hatiku tidak sanggup mendengar suara Azia yang terdengar berat.
“Apa yang aku katakan tadi hingga membuat dia menangis?” Aku terus mengingat-ingat ucapan yang mana yang membuat dia sangat sedih.
“Apa karena… jangan-jangan benar kata mereka kalau Azia menyukaiku? Tapi kenapa harus aku? Bagaimana dia bisa menyukai aku yang usianya jauh dari dia, terlebih dia anak yang cantik dan sangat pintar, masa depannya akan sangat cerah. Apa yang harus aku lakukan dengan perasaannya?”
Segelannya terlalu kacau untuk aku pikirkan, hingga saat hari ulangtahun Andra tiba Azia tidak datang ke rumah, aku pikir mungkin saja dia sedang marah padaku. Aku berpikir harus minta maaf padanya secara langsung dan memperjelas permasalahan antara kami berdua.
BERSAMBUNG
Jangan lupa like+ komentar untuk novel ini
satukan cinta alex dan azia ya..udah terllu bnyak rintangan nya..
mampir juga yuk ke Preman Cantik 🤗