Andika Saputra seorang pemuda yang baru memasuki dunia kerja di ibu kota. Dia seorang arsitek, bekerja di perusahaan kontraktor "Satria Group" yang cukup punya nama di ibu kota. Kinerjanya sangat bagus dan kejujurannya menjadi perhatian manajemen perusahaan termasuk Gunawan Presdir perusahaan tersebut. Hingga Gunawan sangat menginginkan Andika menjadi menantunya, suami untuk Karina anak semata wayangnya.
Ujian demi ujian kehidupan dilalui oleh Andika, dari mulai kepergian ibunya utk selamanya, perjuangan meraih karirnya, termasuk perjuangan cintanya.
Akankah Andika berjodoh dengan Karina?
ataukah ada wanita lain yang dicintainya?
Temukan jawabannya.....!
Selamat membaca.
Salam
Umi Haifa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Haifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang dengan Presdir
Mobil sedan mewah buatan Jepang yang membawa Andika dan Syahrul melaju menembus kepadatan jalanan ibu kota. Mereka menuju tempat yang ditentukan oleh Presdirnya untuk makan siang bersama, di sebuah restoran Jepang yang berada di kawasan mall besar di ibu kota, selain mall kawasan tersebut juga merupakan pusat bisnis, terdapat gedung perkantoran, hotel dan apartemen.
Setelah sampai di gedung mall , Syahrul dan Andika langsung menuju restoran yang berada di lantai tiga. Syahrul sepertinya sudah mengenal area mall dan restorannya. Andika sendiri baru pertama kali ke tempat ini.
Saat mereka memasuki restoran seorang pelayan menyambutnya dengan ramah dan mempersilahkan memilih tempat, Syahrul meminta tempat privat yang cukup untuk enam orang. Pelayan itu pun mengantar dan mempersilahkan masuk ke ruangan privat.
Syahrul segera memesan makanan, banyak sekali yang dipesannya, padahal mereka hanya makan bertiga atau berempat dengan asisten Gunawan.
Tidak lama setelah memesan makanan, seorang pelayan mengantar dan mempersilahkan dua orang masuk ke ruangan, mereka Gunawan dan Candra asistennya. Syahrul dan Andika langsung berdiri dan menyambut kedatangan presdir mereka.
" Maaf saya terlambat, sudah lama menunggu yah?" Ujar Gunawan
" Kami juga belum lama sampai, makanannya baru dipesan, apa Pak Gun ada tambahan yang mau dipesan? " Syahrul sudah memesan menu yang disukai presdirnya, ia sudah hapal dan biasa memesan makanan terlebih dahulu sebelum presdirnya datang.
" Sepertinya makanan kesukaanku sudah kau pesankan bukan?" Gunawan tersenyum, kemudian menikmati secangkir teh yang baru saja disajikan oleh pelayan.
" Andika bagaimana kabarmu, hampir setahun yah kita tidak ketemu? Saya dapat laporan proyek di Kaltim sudah selesai dan berjalan lancar."
" Alhamdulillah baik Pak, tepatnya sepuluh bulan sejak saya ke Kaltim. Pembangunan rumah tahap tiga berjalan lancar, kantor cabang khususnya bagian marketing bekerja sangat baik, semua unit sudah dibooking." jawab Andika
" Ya saya juga mendengar laporannya."
" Oh ya Pak saya ingin menyampaikan terima kasih atas bantuan yang bapak berikan saat ibu saya dirawat. Entah bagaimana saya harus membalas segala kebaikan bapak, hanya Allah yang bisa membalasnya. " Andika tidak ingin meyia-nyiakan kesempatan untuk mengucapkan terima kasih kepada presdirnya yang telah membiayai biaya perawatan ibunya.
" Itu gak seberapa Andika dibandingkan kebaikan ayahmu yang telah menolong saya. Saya juga minta maaf tidak bisa menengok ibumu dan tidak bisa hadir saat pemakaman ibumu, karena sedang di Singapura."
" Oh iya tidak apa-apa Pak." Andika merasa tidak enak karena presdirnya yang meminta maaf, ia paham waktu itu Gunawan sedang menemani istrinya untuk persiapan transplantasi hepar.
" Sebentar saya telfon istri saya dulu, katanya dia lagi di mall ini."
Gunawan menelfon Ambar istrinya, menanyakan keberadaannya, istrinya bersama putrinya yang sedang shoping di lantai dua, Pak Gunawan pun mengajak istri dan putrinya makan siang bersama.
Tak lama kemudian istri dan putrinya sudah berada di restoran diantar oleh pelayan menuju ruang privat. Ambar dan Karina memasuki ruangan dengan menenteng beberapa tas belanja dengan logo barang bermerek, mereka baru belanja tas, sepatu dan baju dan beberapa asesoris. Seperti biasa Karina terlihat seperti gadis yang manja, tampak ceria, tidak terlihat kedewasaan di wajahnya walaupun ia seorang mahasiswa tingkat akhir, yang terlihat wajah imut dan menggemaskan .
Karina mencium tangan Gunawan dan mengecup pipi kiri ayahnya dengan gaya centilnya. " Mummuah."
" Begini nih kalau lagi seneng......gak malu-malu nyium papanya." ujar Gunawan sambil tertawa.
" Makanya Papa harus sering-sering ngajak Karin shoping biar Karin seneng terus, jangan sibuk melulu." balas Karina dengan muka cemberut.
" Iya kamu boleh shoping tiap weekend, kalau Papa gak bisa kan bisa diwakilin Mama, atau nanti Papa cariin yang nemenin kamu, nih karyawan Papa juga pasti mau nemenin kamu shoping, ya kan Andika? " Tanya Gunawan kepada Andika. Terang saja Andika kaget, dia tidak menjawab, hanya senyum-senyum saja.
" Yeeey....orang Karin pengennya di temenin Papah." Karina merasa malu dengan sikapnya pada ayahnya karena ternyata ada karyawan ayahnya hadir di situ, ia memang tidak memperhatikan kehadiran Andika, ia hanya melihat ada Syahrul dan Candra yang sudah akrab dengannya.
" Ayo duduk dulu ." Kata Gunawan.
Gunawan mempersilahkan istri dan putrinya duduk. Karina duduk tepat di depan Andia, karena hanya tempat itulah yang masih kosong. Ia memperhatikan Andika sebentar, ia merasa tidak asing dengan wajah yang duduk di depannya.
Ini kan karyawan papah yang dulu ada di ruangan papah dan sedang dipeluk papah. Sepertinya dia karyawan istimewa, apa masih saudara sampe diajak makan bareng dengan Papa? Tapi beneran ganteng banget ni orang, kaya artis siapa gitu. Ah...tapi lebih cakep Kak Rio. Batin Karina
Gunawan memang belum pernah menjelaskan kepada Karina tentang Andika dan ayahnya yang merupakan sahabatnya yang banyak membantu saat ayahnya kuliah dulu.
Saat Karina menatap Andika, tiba-tiba tatapan mereka bertemu, Andika menganggukan kepalanya dengan senyum di bibirnya, Karina langsung mengalihkan pandangannya ke arah meja makan yang sudah tersaji banyak makanan khas Jepang.
" Ayo kita makan dulu, nanti ngobrolnya dilanjut lagi." Ucap Gunawana sambil mengambil beberapa makanan ke piring dan mangkuknya. Andika mengikuti mengambil makanan yang ingin ia coba. Ini pertama kalinya Andika makan di restoran Jepang. Ia mengambil beberapa potong daging dan sea food, dicelupkannya ke kecap kemudian menyimpannya di tempat pembakaran. Mereka menikmati makanan dengan lahapnya hingga hanya sedikit yang tersisa.
Selesai makan Gunawan melanjutkan obrolannya. Gunawan memperkenalkan Andika kepada istri dan putrinya, dan menjelaskan bahwa Andika putra sahabatnya saat kuliah dan bagaimana persahabatannya dengan ayah Andika.
" Karin, kamu pernah ketemu Andika kan? " Tanya Gunawan pada putrinya.
"Sepertinya pernah, kalau tidak salah di kantor Papah, waktu Karin masuk ruangan Papah, Papah sedang memeluknya. " Jawab Karin.
" Oh iya waktu itu Papah baru tahu kalau ternyata Andika anak sahabat Papah yang selama ini Papah cari. Yah walaupun Papah tidak bisa bertemu lagi dengan sahabat Papah, beruntung Allah yang mengirim anaknya " Gunawan melihat ke arah Andika.
" Andika saya harap kamu mau menganggap kami keluargamu, jadi kamu tidak usah sungkan ." Tambah Gunawan
" Terima kasih Pak telah menganggap saya bagian keluarga Bapak, dan terima kasih atas segala kebaikan Bapak. Kalau Ayah saya masih ada pasti sangat senang dan sangat berterima kasih." Ucap Andika
" Saya juga senang bisa bertemu kamu, saya malah sangat berharap kamu menjadi menantu saya." Ucap Gunawan sambil senyum dan melirik putrinya.
" Uhk....uhk....uhk...." Karina yang sedang menikmati jus buahnya tersedak karena kaget mendengar ucapan ayahnya.
" Pelan-pelan Karin minumnya." ujar mamanya sambil menepuk-nepuk punggung putrinya.
" Papa....." Mata Karina melotot menatap papanya
" Ha....ha....Karin ini kan cuma harapan Papa." Gunawan tertawa melihat ekspresi putrinya. Sementara Andika hanya tersenyum tidak menanggapi ucapan Gunawan karena menganggapnya hanya candaan belaka.
" Mama....kita duluaan pulang yuk, Karin ada janji mau ketemu Zahra." ajak Karin pada mamanya sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 13.00.
" Habiskan dulu jus buahnya. " kata Ambar kepada putrinya. Dan Karina pun segera menghabiskan jus buahnya.
" Pah...Mama sama Karin pulang duluan yah, Papa pulangnya jangan terlalu malam." Ucap Ambar sambil beranjak dari kusinya dan mengambil tas belanjaannya. Gunawan pun mengiyakan.
" Oh ya Andika, nanti tante akan mengundangmu makan malam di rumah, kamu harus datang yah." Kata Ambar kepada Andika.
" Insya Allah tante, terima kasih, dengan senang hati saya akan datang." jawab Andika
" Pah sampai ketemu makan malam di rumah, Pak Syahrul, Andika, Candra, kami duluan pulang, Assalamualaikum." Ambar mencium tangan suaminya, diikuti oleh Karina dengan wajah yang masih cemberut. Gunawan hanya tersenyum melihat sikap putrinya dan mengusap-usap kepala putrinya.
" Waalaikumsalam."
Setelah Ambar dan putrinya Karina meninggalkan ruangan tempat makan Gunawan melanjutkan obrolannya dengan Syahrul dan Andika. Sementara Candra hanya diam mendengarkan obrolan sambil menikmati minumannya.
" Pak Gun, mohon maaf jam 14.00 saya ada janji bertemu dengan Rektor Universitas Dharma Bangsa di salah satu hotel di kawasan ini, untuk menindaklanjuti perpanjangan kontrak magang mahasiswa, mohon ijin saya berangkat sekarang." Syahrul meminta ijin kepada Bosnya.
" Oh ya sudah pukul setengah dua, ya sudah sekalian saja saya juga kembali ke kantor. Andika kamu bareng saya saja, kamu juga tidak ada kepentingan yang lain kan?" Tanya Gunawan sambil berdiri.
" Tidak ada Pak, " Jawab Andika
Gunawan, Andika dan Syahrul berjalan meninggalkan ruangan privat, Candra sudah lebih dulu keluar menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
Setelah sampai di lobi, Syahrul pamit menuju basement tempat parkir mobilnya. Gunawan, Andika dan Candra menuju keluar gedung mall dan langung masuk ke mobil sedan mewah berwarna hitam buatan Eropa yang sudah siap mengantarkan mereka menuju Menara Satria.
Di dalam mobil tak henti-hentinya Andika merasa bersyukur karena bisa dekat dengan presdirnya, tapi ia juga merasa malu karena melalaikan kewajibannya. Andika merasa tidak tenang, ia melihat jam di tangan kirinya, sudah menunjukan pukul dua kurang lima belas menit. Andika merasa gelisah karena belum melaksanakan shalat dhuhur, biasanya ia melaksanakan shalat di awal waktu, karena tadi ia merasa tidak enak untuk meminta ijin melaksanakan sholat, akhirnya berencana untuk shalat setelah makan siang. Tapi ternyata dia langsung ikut masuk mobil presdirnya karena merasa tidak enak untuk meminta ijin terlebih dahulu untuk shalat. Andika sangat menyesal kenapa ia menunda-nunda waktu shalat, padahal Allah sudsh banyak memberikannya nikmat, terutama hari ini banyak sekali hadiah yang Allah berikan.
Andika berfikir untuk mengajak presdirnya berhenti dulu kalau ada masjid, karena kalau langsung ke kantor khawatirnya waktu sholat dhuhur telah berakhir, sepertinya jalanan ibu kota tidak bisa menjamin mereka sampai di kantor sebelum adzan Ashar.
Sebelum Andika mengutarakan maksudnya, Gunawan lebih dulu berbicara kepada supirnya.
" Pa Mus, nanti ada masjid di depan, kita mampir dulu untuk shalat dhuhur."
Andika merasa lega sepertinya Gunawan mengetahui apa yang ada di pikiran Andika.
Mobil pun masuk ke area parkir di depan masjid yang tidak terlalu luas. Gunawan, Andika dan Candra masuk ke tempat wudhu dan langsung melaksanakan shalat berjamaah bertiga karena tidak ada jamaah yang lain. Gunawan maju untuk menjadi imam, Andika dan Candra shalat di belakang Gunawan.
Selesai melaksanakan shalat Gunawan tampak berdoa dengan mengangkat kedua tangannya, cukup lama dan tampak khusu. Entah doa apa yang dipanjatkan, hanya Gunawan dan Allah yang mengetahuinya.
*bersambung
Haiiiii.....terima kasih sudah mampir di novel ini, jangan lupa like dan komennya yah, vote juga yah biar Thor tambah semangat.
Bye....bye....Thanks*.
terimakasih