#DILARANG KERAS PLAGIAT CERITA INI#
Patricia Jessica Donovan selalu mengalami kejadian-kejadian mistis: tanpa sadar menghentikan hujan, mengutuk orang dan kutukannya benar terjadi, berkomunikasi dengan arwah, mengalami dejavu, meramal, bahkan bisa merasakan dengan tepat kapan seseorang akan "berangkat".
Sebastian Adrianus Verhoeven adalah sahabat baik Patricia dan hanya kepada Sebastian, Patricia bisa terbuka dan bercerita tentang semua kejadian termasuk kejadian di luar nalar.
Apakah Patricia akan mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya?
Apakah semua kejadian tersebut benar bakat alami atau berhubungan dengan kehidupan Patricia di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priskilawi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 : Obat Dari Mama Mertua
Patricia Jessica Donovan POV
Kami sudah selesai berkemas. Aku membawa flat shoes ke dalam koper kecil beserta sepatu-sepatu yang lain supaya bisa diganti apabila kami nanti akan berjalan-jalan dan supaya tidak pegal di perjalanan.
Abraham banyak membantuku namun aku sungguh merasa tidak nyaman kalau digendong terus-menerus olehnya. Sungguh aku tidak suka merepotkan siapapun walau dia suami sendiri.
Waktu sudah menunjukkan jam 12:00 siang, saatnya kami makan siang di dining room.
Aku terus memaksa suamiku supaya dia membiarkan aku latihan berjalan. Besok aku akan naik pesawat komersial jadi aku harus membiasakan tubuhku menahan rasa nyeri dan sakit ini.
Aku tidak mau menjadi tontonan bila aku digendong. Sungguh memalukan.
Abraham terlihat khawatir karena aku bersikeras berjalan. Walau dia memegang tanganku supaya sewaktu-waktu ketika aku hendak terjatuh karena rasa sakit dan nyeri, dia akan segera menarik tanganku dan menopangku.
Walau tertatih-tatih dan menahan rasa ngilu, aku berhasil berjalan dituntun oleh Abraham.
Ketika sampai di dining room, aku melihat mertuaku sudah siap dan telah duduk di kursi.
"Abraham, mama mau berbicara sebentar dengan Patricia, istrimu." Kata mama mertuaku pada Abraham.
"Ja, mama (Ya, mama). Silahkan." Sahut Abraham sambil tersenyum pada mama mertua dan padaku.
Abraham kemudian pindah ke sebelah papa mertua, mereka tampak mengobrol.
Mama mertuaku mendekatiku, aku melihat ada sebuah botol kaca dan ada air berwarna biru ditangannya. Mama mertua pun duduk di sebelahku.
"Patricia, masih terasa nyeri dan sakit di bawah sana?" Tanya mama mertua sambil berbisik padaku dengan suara pelan supaya tak terdengar oleh Abraham dan papa mertua.
Aku mengerti apa yang dimaksud olehnya. Aku mengangguk padanya.
"Ya betul ma. Masih terasa nyeri dan sakit. Tidak nyaman rasanya." Jawabku pada mama mertua dengan suara pelan.
"Ini, minumlah." Kata mama mertua sambil menyodorkan botol yang dipegangnya.
"Apa ini, ma?" Tanyaku. Apakah ini ramuan atau apa?
"Ini adalah obat khusus wanita. Ketika kamu meminum ini, rasa nyeri dan sakitnya akan berkurang drastis." Jawab mama mertuaku menjelaskan.
Aku menerima botol yang diberikan kepadaku.
"Apakah ada dosis khusus meminum ramuan obat ini, ma?" Tanyaku lagi, supaya aku tak salah dalam meminumnya lebih baik aku bertanya sehingga dosis yang aku minum itu tepat.
"Minumlah sehabis makan, diminum perlahan. Kalau bisa dihabiskan hari ini juga. Supaya menyatu dengan tubuhmu. Ini rahasia turun-temurun keluarga Watson. Nanti ketika suamimu mengajakmu bercinta lagi, kamu tak akan merasakan sakit dan nyeri yang parah. Akan terasa nyeri sebentar sehabis bercinta lalu beberapa jam akan hilang." Terang mama mertuaku panjang lebar.
Aku mengangguk. Aku memerlukan ramuan obat ini dan Praise God, mama mertua memberikannya kepadaku, kataku lega dalam hati.
"Terimakasih mama mertua." Ucapku tulus. Aku spontan memeluknya.
"Sama-sama, menantuku sayang. Semoga kamu bisa segera merasakan khasiat dari ramuan obat ini. Mama tidak tega melihatmu kesakitan." Bisik mamaku di telingaku.
"Iya ma. Aku memerlukan ramuan obat ini. Terimakasih ma sudah memberikannya padaku. Sehabis makan, aku akan meminumnya." Janjiku pada mama mertua.
Mama mertua melepaskan pelukanku. Aku pun melihat wajahnya.
Terlihat jelas bahwa wajah mama mertua menjadi semakin bahagia dan menahan air mata.
Abraham berdiri di belakangku.
"Maaf ma, sudahkah?" Tanyanya sopan kepada mama mertua.
"Oh Abraham, sudah nak. Mama sudah selesai. Nah, kamu duduklah di sini nak. Mama akan kembali duduk di sebelah papamu." Jawab mama mertuaku.
Dia bangkit dari kursi lalu duduk di kursi yang semula di duduki oleh Abraham yaitu di sebelah papa mertua.
Abraham duduk di sebelahku. Dia memandang botol yang aku letakkan di atas meja makan.
"Apa itu, wifey?" Tanyanya penuh minat dan menunjuk ke arah botol ramuan obat yang diberikan oleh mama mertuaku.
"Ini, pemberian dari mama." Jawabku senang.
"Sepertinya yang di dalam botol itu adalah ramuan spesial ya, wifey." Bisik Abraham di telingaku. Aku tahu suamiku sedang menggodaku.
Ugh, suaranya serak dan terdengar seksi di telingaku.
"Ada deh, mau tahu saja." Ledekku pada Abraham.
Suamiku tersenyum dan mengusap Surai blondeku yang panjang.
Para maid telah menyiapkan makanan di atas meja dan menyajikannya kepada kami.
"Mari makan, papa dan mama." Kata suamiku kepada mertuaku.
Kami pun makan dalam diam, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu.
Makanku tetap banyak seperti biasa karena memang aku tak bisa makan sedikit.
Aku senang sudah ada sambal di rumah ini karena aku memang menyukai makanan pedas.
Selesai makan. Aku meminum ramuan obat yang diberikan oleh mama mertuaku.
Aku meminum ramuan itu sedikit demi sedikit sampai habis.
Rasanya enak dan manis, pikirku. Aku pikir ramuan obat ini rasanya pahit atau asam ternyata manis.
Aku juga mencium wangi dari ramuan obat ini.
Aku sudah mempersiapkan diriku dari tegukan pertama apabila rasanya pahit atau asam. Namun, sepertinya ramuan obat ini telah dicampur buah-buahan sehingga rasanya enak untukku. Aku jadi senang meminumnya dan tak terasa ramuan obatnya sudah habis tak bersisa.
Mertuaku masih duduk di kursinya. Semua orang sekarang sedang memperhatikanku.
"Bagaimana rasanya, menantu? Apakah enak?" Tanya mama mertuaku kepadaku, menunggu jawabanku.
"Enak, ma. Manis dan segar seperti jus rasanya. Terimakasih banyak ma." Jawabku senang.
"Sama-sama." Jawab mama mertuaku dengan wajah berseri-seri.
"Ramuan spesial ya, ma?" Tanya papa mertua kepada istrinya dengan nada menggoda.
Mama mertuaku tertawa, "Tentu saja spesial. Patricia menantu kita pa. Sudah pasti dia sudah menjadi bagian dari keluarga Watson. Dan yang mama berikan padanya adalah salah satu kebanggaan dari keluarga Watson turun-temurun." Jawab mama mertua dengan penuh arti. Tersirat rasa bahagia dan kebanggaan dalam setiap ucapannya.
"Patricia, kamu sungguh beruntung, nak. Mamamu ini jarang sekali melakukan hal seperti itu." Kata papa mertuaku dengan nada bahagia.
Aku melihat papa dan mama mertua sangat akrab dan rukun bahkan mereka masih mesra walaupun usia mereka sudah tidak lagi muda.
Semoga aku dan Abraham kelak akan seperti mereka. Tetap mesra walaupun sudah tua.
Aku mendadak menoleh ke arah Abraham. Abraham lalu tersenyum kepadaku. Tatapan dan senyumnya penuh arti dan aku tak bisa mengartikannya.
"Kalian sudah selesai mengemasi pakaian yang akan dibawa?" Tanya papaku kepada kami
"Sudah pa. Abraham dan Patricia sudah berkemas." Jawab Abraham mantab.
"Papa sudah menelpon paman Charles Watson dan istrinya, bibi Elisa Grey. Papa memberitahu bahwa kamu dan Patricia akan datang ke Belanda lalu ke Swiss untuk honeymoon. Mereka akan menjemput kalian di bandara Schiphol." Terang papa mertua.
"Baiklah pa. Terimakasih banyak sudah membantu Abraham dan Patricia, pa. Abraham akan memperkenalkan Patricia kepada keluarga Watson dan juga kepada keluarga besar Morritz." Sahut Abraham bersemangat sambil menggenggam jemari tangan kananku.
"Ya, perkenalkanlah istrimu kepada keluarga kita, nak. Mereka sangat bersemangat ketika papa bilang kamu sudah menikah dan ingin berbulan madu. Mereka ingin melihat siapa wanita yang beruntung yang telah berhasil membuatmu berkomitmen dalam ikatan pernikahan suci. Mengingat kamu sangat dingin kepada wanita-wanita di luar sana." Tutur papa mertua menggodaku sambil melirik ke arahku lalu beliau tersenyum lebar.
Mama mertuaku pun terlihat tersenyum lebar, merekah dan bahagia.
Aku juga tersenyum senang mendengarnya walau aku digoda namun entah mengapa aku bahagia mengetahui fakta bahwa akulah wanita yang beruntung itu.
"Dengan senang hati Abraham akan memperkenalkan Patricia kepada mereka, pa." Kata Abraham sambil tersenyum.
Setelah selesai mengobrol, kami pun berpisah.
Papa dan mama mertua tidur di lantai 1, di kamar utama. Aku dan Abraham di lantai 2, di kamar Abraham yang sudah menjadi kamar kami.
Ketika aku berdiri, aku langsung merasakan perbedaannya. Setelah meminum ramuan obat dari mama mertua, daerah kewanitaanku tidak terasa sakit dan perih lagi.
Aku bisa berjalan seperti biasa dan itu membuat suamiku heran.
"Sudah tidak sakit lagi, wifey?" Tanya suamiku sambil memegang tanganku. Alisnya naik sebelah dan dia terus memperhatikan aku.
"Tidak, hubby. Aku sudah sembuh." Jawabku berseri-seri.
Ramuan obat dari mama mertua memang manjur, kataku senang di dalam hati. Aku bisa bebas berjalan dan tidak merasakan nyeri lagi.
"Berkat ramuan spesial ya, hmm?" Bisik suamiku serak di telingaku.
Tangannya kini melingkar di pinggangku.
"Betul, hubby." Kataku manja. Aku mengalungkan tanganku ke lehernya.
Aku menatap manik hijau safirnya dan dia balas memandangku walau dia kini harus menunduk supaya aku tidak terlalu menengadah karena tubuhnya yang tinggi.
Abraham tersenyum dan menyeringai ke arahku, "Karena kamu sudah sembuh, kalau begitu, aku mau minta jatahku sekarang ya, wifey."
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Mohon tinggalkan jejak dengan like, komen dan vote yaaa supaya author semangat menulis novelnya☺️☺️
Terimakasih ♥️♥️♥️
Sebagus itu guys