follow Ig ku yuk. Adisty Rere buat tau kabar terupdate cerita ini.
Teen romance.
Bagaimana alur cerita ketika cinta monyet mendera seekor gorila gila?
Namanya Fiona Narensa Ardana dan Filio Narensa Ardana. Mereka kembar tidak identik yang memiliki perangai sama persis.
Jika murid lain berlomba masuk rangking, maka mereka berdua sering keluar BP. Sifat Fiona yang semena-mena dan sang abang yang sama gilanya membuat mereka dijuluki duo gorila di SMA Tri Dharma.
Namun, apa jadinya jika si biang kerok Fiona tergila-gila dengan guru baru yang berstatus duda? Apakah sang abang yang selalu solid mendukung akan membantunya lagi ketika mengetahui ada rahasia besar di balik sosok guru itu?
Juga, akankah gorila bisa berubah jadi angsa?
Fio, sapaan gadis itu. Berpostur kurus kecil bak model kurcaci. Memiliki mata belo dengan iris berwarna kecokelatan. Punya keistimewaan, bisa berubah warna ketika melihat uang dan sang pujaan.
"Fio, ini kenapa tugas yang saya kasih satu pun gak ada yang kamu isi?" tanya sang guru dengan nada menggeram.
"Maaf, Pak. Saya gak mampu ngisinya. Sebab, isi hati, isi kepala bahkan isi dengkul saya sudah penuh dengan nama Bapak. Jadi saya gak bisa maksain diri, Pak. Takutnya saya kejang. Bahaya Pak, sedangkan kertas undangan sudah siap menunggu diisi nama kita."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adisty Rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan.
Langkah Lio gontai menyusuri lorong sekolah. Hatinya panas mengingat obrolannya dengan Daisy tadi. Tantenya itu bersikukuh tidak tahu dan mengatakan kalau kelurga Marwa berada di luar negeri.
Heh, keluar negeri apaan. Jelas-jelas orangnya ada di depan mata. Heran gue, apa sebegitu sayangnya Tante sama laki-laki busuk itu? gumamnya dalam jadi hati. Semkin lama dan semakin dipikirkan semakin kesal dia. Dia putuskan bergegas ke kelas dan mendapati sang adik tengah bercengkerama sama Aulia.
"Lo seriusan mau minggat?" ucapnya yang terdengar tidak ramah sama sekali.
Fiona mendelik, melihat Lio dia berdengkus. "Kalo lo jadi gue lo bisa maafin Tante gitu aja?" balas Fio. Tatapannya tampak sengit.
"Tante begitu pasti ada alasan, Fio," balas Lio. Dia lepas ransel dan meletakkan di mejanya, lantas duduk di bangku kosong depan adiknya itu. "Lo pulang ya. Sepi rumah. Gak suka gue sendirian."
"Gak, gua gak mau pulang. Lagian apa alasannya?" Fiona memperlihatkan tangannya yang tertempel plester luka.
"Nih liat, lengan gue jadi luka. Tapi ini gak terlalu sakit. Sakitnya di sini. Sakit banget." Fio menekan dadanya. Matanya mulai mengembun dan Aulia menenangkan. Masih jelas di ingatan Fio berapa murkanya Daisy dan dia tidak suka itu.
"Tapi Fio. Dia Tante kita. Satu-satunya yang kita punya."
"Bodo amat."
Lio yang melototi menyentak napas. Ingin dia mengatakan alasan kenapa Daisy bersiap begitu. Namun, urung melakukan mengingat itu hanya akan membuat sang adik makin kacau. Biarlah, dia akan mempercayai Kris yang bilang akan mengakhiri rasa suka Fio dalam sebulan.
"Nih, dari Tante." Lio meletakkan beberapa lembar uang di depan Fiona. Mata adiknya itu pun langsung melebar bersamaan dengan senyum yang mengembang.
Melihat itu tak tahan Lio. Dia toyor kepala sang adik yang benar-benar terlihat bahagia melihat uang. "Soal duit lo nomor satu. Heran gue," sungut Lio
"Ya beda dong, Bang. Duit ya duit. Marah ya marah. Gak bisa itu di gabungin."
Lio cuma geleng-geleng kepala, lalu berdiri dengan tangan masuk ke saku celana. "Tante bilang jangan lama-lama ngambeknya."
"Entar, entak kalo gak marah lagi gue pulang," balas Fio. agak melunak suaranya.
-
-
-
"Wah, lo cantik banget, Fi," oceh Aulia. Dia terus menatap takjub ke arah Fiona yang memutar badan di depan cermin besar. Decak kagumnya terus mengudara dan itu membuat Fiona tersipu. Kepercayaan dirinya jadi begitu penuh. Dia yakin Kris akan klepek-klepek dan tidak akan menganggapnya bocah lagi.
"Gak ada yang aneh, 'kan? Coba lo liat mata gue. Ada beleknya gak?" balas Fio yang seketika mendekatkan wajah ke Aulia. Spontan Aulia menoyor kepalanya.
"Gak usah deket-deket juga, Maemunah. Gue rabun jauh bukannya buta. Wajah lo yang sedekat ini bikin gue enek."
Alih-alih marah Fiona justru terbahak. Pundaknya terguncang, senyumnya begitu merekah bahagia karena akhirnya hari yang ditunggu tiba. Dia akan kencan sama Kris. Kencan pertama.
"Gue cuma deg degan."
"E cieeee ...."
"Apaan si?" Pipi Fio merona bersama dengan itu terdengarlah bunyi bel. Fiona pun dengan semangat empat lima menuruni tangga dan mendapati Kris ada ada di depan pintu. Lelaki itu terbengong beberapa detik.
"Gimana, Pak. Udah cantik belom?"
Kris tak menjawab. Dia masih menatap Fiona. Dadanya dag dig dug memberikan senyar aneh dalam dada. Gara-gara itu juga jakunnya naik turun.
"Pak, aku cantik, 'kan?" lanjut Fiona.
Kris cuma berdeham. Dia balik badan dan Fiona pun mengikuti.
"Hari ini saya yang tentukan tempatnya," ucap Kris.
"Ahsiap!"
Harusnya Krish itu belajar dri Theo terus memperjuangkan,dan sedikit egois utk kebahagiaan sendiri gak papa...Haaiiss Krish mah bikin aku tambah kesel aja...🙇🙇🤦🤦🙄🙄