Nia seorang gadis yang baru lulus sekolah mengalami "kecelakaan" hingga mengakibatkan dia mengandung anak yang tak pernah ia harapkan.
Kekasih yang menodainya tanpa berdosa meninggalkannya tanpa rasa tanggung jawab. Menimbulkan kekecewaan dan frustasi hingga ingin menggugurkan kandungannya.
Namun akhirnya, Nia dipertemukan orang-orang baik yang menyayanginya. Bahkan, seseorang merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rossa Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
Selesai membersihkan diri dan menunaikan sholat ashar Nia bergegas hendak membangunkan Febi, namun rupanya Febi telah terbangun.
"Hooaammm, jam berapa sekarang, Dek?"
"Jam 04.00, Mbak."
"Duh, males banget mau berangkat kerja. Di luar juga kayaknya hujan, ya?"
"Iya, Mbak, dari tadi siang."
Febi berlalu keluar kamar menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Sedangkan Nia beranjak menuju dapur memasak makanan untuk mereka.
Sore ini Nia memasak sayur lodeh, sambal goreng terasi dan bakwan jagung. Aroma bumbu dari masakannya membuat siapa saja yang menciumnya merasa lapar.
"Emmhhh ... lagi masak apa sih, Dek? Wanginya menggoda," ucap Febi setelah siap berangkat kerja.
"Eh, sini, Mbak. Yuk, makan dulu sambil nunggu hujan reda."
"Gak ditawari pun Mbak udah mau makan, hehe."
Mereka pun mengambil nasi dan lauknya ke piring masing-masing.
"Ah, benar-benar nih mama muda yang satu ini udah jago segala-galanya. Ini enak banget, Dek. Padahal tiap hari Mbak makan masakan kamu, tapi setiap hari juga rasanya selalu mengejutkan." Febi memuji dengan mulut penuh.
"Ih, Mbak berlebihan. Pelan-pelan makannya nanti tersedak."
Baru saja Nia berhenti berbicara Febi tersedak.
"Uhuk ... uhuk ...."
"Tuh 'kan kata aku juga pelan-pelan. Nih, minum dulu Mbak," ucap Nia seraya menyodorkan segelas air.
"Aahh, lega. Habis ini makanan enak banget, Mbak yang lapar jadi semangat makan udah kayak gak makan bertahun-tahun, hahaha."
"Mau aku buatkan bekal juga untuk nanti malam?"
"Emmm, boleh tuh."
Setelah selesai makan Nia segera menyipakan makan di kotak bekal untuk dibawa Febi kerja. Sedangkan Febi memebersihkan alat-alat makan bekas mereka.
"Nah, ini Mbak bekalnya."
"Oke, sip, makasih. Mbak, berangkat dulu, ya, hujannya juga udah lumayan reda."
"Iya, Mbak hati-hati, ya, bawa motornya."
"Oke. Assaalaamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
***
Hujan masih setia membasahi tanah. Reda sebentar, tak lama hujan kembali lebat. Bahkan saat ini hujan diiringi dengan kilat dan guntur yang menggelegar.
"Duh, serem juga hujan-hujan gini sendirian di rumah," gumam Nia.
"Ah, gimana kalo mati lampu, ya?" lanjutnya.
Nia segera menepis fikiran buruknya, jangan sampai yang ditakuti terjadi. Namun baru saja Nia mulai berfikir baik, tiba-tiba ... *pats* lampu mati.
Keadaan ruangan sangat gelap, apalagi di dapur. Nia berjalan sambil meraba-raba benda di sekitarnya untuk kemudian mencari ponsel yang dia simpan di kamar. Saat ia hendak memasuki kamar, tiba-tiba guntur menggelegar sangat dahsyat memekakkan telinga. Nia yang mendengarnya terperanjat hingga terjatuh dan anggota tubuhnya mengenai ujung meja yang lumayan tajam.
"Aaarrghhh."
Nia meringis. Bersamaan dengan itu seseorang mengetuk pintu.
"Neng ... Neng Nia buka pintunya." Terdengar suara Bu Titin di balik pintu.
"Sebentar, Bu." Perlahan Nia bangun lalu membuka pintu.
"Duh, Ibu khawatir banget sama Neng Nia. Neng Febi kerja 'kan?"
"Iya, Bu."
"Ya udah, tunggu di rumah Ibu aja, yuk! Sambil nunggu lampu kembali nyala."
"Gak apa-apa, Bu, gak usah."
"Kalau gitu, nih ada beberapa lilin buat penerangan."
Saat Bu Titin hendak memberikan lilin kilat kembali menyambar. Cahayanya beberapa saat menyorot tangan Nia yang kotor dengan noda. Bu Titin membulatkan matanya, sayang dalam keadaan gelap noda tersebut tak tampak jelas. Namun beruntung sesaat kemudian kilat kembali menyambar memberikan sedikit penerangan.
"Ya Allah, Neng darah!" ujar Bu Titin setengah berteriak.
"Eh, Bu, dimana?" Nia sendiri tak menyadari.
"Ya Allah, Neng, yuk ikut aja sama Ibu."
Tangan Bu Titin menarik lengan Nia, Nia mengikutinya pasrah tanpa bisa menolak menuju rumah Bu Titin. Saat sampai di rumah Bu Titin, dengan sedikit penerangan dari lampu patromak mulai terlihat dari mana asal darah tersebut.
"Kenapa bisa gini? Emang gak kerasa sakit Neng?"
"Itu ... tadi karena gelap aku jalan dari dapur ke kamar terus guntur menyambar bikin kaget jadi aku jatuh, Bu. Aku gak sempat liat darah atau merasakan ada darah, keburu ibu datang mengetuk pintu."
"Ya Allah, Neng ... Emmm, ya udah, Neng tunggu di sini, ya! Ibu panggilkan dulu suami Ibu kebetulan dia lagi di rumah biar antar Neng ke Rumah sakit."
"Eh, gak usah, Bu."
"Ini gak bisa dibiarin, Neng."
Bu Titin bergegas ke dalam kamar mencari suaminya, dengan sigap suami Bu Titin segera mengganti pakaian setelah tahu situasi Nia. Suaminya yang kebetulan seorang supir taxi mengantar Nia menuju salah satu rumah sakit terdekat. Dan Bu Titin segera mengabari Febi.
***
Hari ini pasien tidak terlalu banyak yang datang, justru yang dirawat pun tadi siang banyak yang sudah pulang. Febi sedang bersantai sambil menikmati secangkir kopi mmuntuk menghangatkan tubuhnya ketika tiba-tiba ponselnya berdering.
Terdapat nama "Bu Titin" di layar ponsel, membuat Febi sedikit mengerutkan dahi keheranan.
'Ada apa Bu Titin telpon? Kok tumben, ya?' gumamnya.
"Assalaamu'alaiku, hallo Bu ada apa?"
"Wa'alaikum salam. I-itu Neng, Neng Nia ...."
"Nia, ada apa dengan Nia Bu?"
"Dia jatuh Neng, sekarang lagi diantar suami Ibu menuju rumah sakit Kamila."
Belum sempat Bu Titin menjelaskan keadaannya tiba-tiba sambungan telepon terputus. Febi segera menekan nama kontak seseorang.
Tutt ... Tutt ...
Tak ada jawaban dari sebrang. Lalu Febi mengetikkan sebuah pesan.
[Rak, Nia katanya dibawa ke rumah sakit Kamila. Kamu lagi tugas gak? Tolong temui dia, aku izin dulu baru nanti nyusul.]
***
Nia sudah mendapat penanganan, rupanya kepala dia terbentur meja hingga pelipisnya sedikit berdarah, namun bukan masalah serius. Saat keluar ruangan tiba-tiba suara yang tak asing memanggil namanya.
"Nia!"
Nia menoleh dan sedikit terkejut saat mendapati yang memanggilnya.
"Raka?!"
"Kamu gak apa-apa?"
"Emmm, eng-enggak apa-apa, kok."
"Ah, syukurlah. Sama siapa ke sini?"
"Sama tetangga aku." Nia menunjuk seorang bapak yang tengah duduk menunggunya.
"Terima kasih, Pak, sudah mengantar Nia," ucap Raka, "bapak boleh kembali pulang, Nia biar saya yang antar," lanjutnya.
Nia menoleh ke arah Raka heran. Sejak kapan ada perjanjian seperti itu, fikirnya. Suami Bu Titin itu pamit pulang, meninggalkan mereka.
"Yuk, kita bicara sebentar," ajak Raka. Ia menarik tangan Nia sebelum Nia meng-iya-kan.
"Kok kamu ada di sini?" tanya Nia saat mereka telah duduk di salah satu kursi yang berada di koridor rumah sakit.
"Iya, sekarang aku kerja di sini. Emangnya Febi belum cerita."
"Eh, udah sih. Oh iya, kamu tahu dari mana aku di sini?"
"Tadi Febi yang kabari aku. Katanya sih dia juga bakal nyusul ke sini."
"Boleh aku pinjam ponselmu? Tolong hubungi Mbak Febi gak usah ke sini, soalnya aku gak apa-apa."
"Kayaknya kita telat deh. Tuh orangnya udah nongol."
Febi berjalan cepat setengah berlari, dengan nafas yang tersenggal-senggal.
"Nia kamu gak apa-apa?"
"Gak, Mbak. Aku tadi kepeleset, pelipisku sedikit berdarah, kata dokter tadi bukan apa-apa."
"Ah, syukurlah kamu gak apa-apa. Mbak khawatir banget."
"Lain kali hati-hati, ya, jangan sampai jatuh lagi!" Febi memperingati.
"Ah, manisnya. Mau juga dong jadi adik kamu," goda Raka dengan suara dilembut-lembutkan seperti wanita.
"Issshhh ... jijik tau!" sambar Febi.
crt bagus tulisan dn tata bahas bagus 👍