Jona: Jika ada seribu lagi kesempatan untuk jatuh cinta, aku akan tetap memilih Jordy. Aku tidak jatuh cinta pada seorang yang salah, meski mungkin pada waktu yang salah. Andai aku sepuluh tahun lebih tua.
Livi: Dari begitu banyak wanita cerdas, cantik dan dewasa mengapa Ayah memilih Jona? Sahabatku, yang tak mungkin menggantikan Ibu?
Jordy:
Pada kekurangan dan kelemahannya aku benar-benar jatuh hati. Ah, Jona!
Terdiri dari bab 1-42 (End).
Bab selanjutnya extended season.
Cerita ini mengandung konten dewasa pastikan cukup umur sebelum membacanya. 21+
Terima kasih untuk semua bentuk dukungan Sobat Gorgeous. Salam supportive penuh berkah. 😘😘
27 Juni, I'm done! Sebagai creator cerita saya menyatakan selesai. Selanjutnya, cerita ini saya serahkan kepada Dear Readers Tersayang anak2 tiriku. Jadi, jika kalian punya usul, ide, atau koreksi meliputi typo atau miss-information, jangan sungkan untuk kasih saran masukan. Karena mulai sekarang, cerita ini milik: KITA BERSAMA!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arwen CTB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Ring
The Ring
"Pasti bisa. Aku sangat berterima kasih atas semua kebaikanmu, Rud."
"Tapi aku nggak bisa."
"Pasti bisa, bantulah aku."
"Nggak bisa, Jona."
"Kenapa?"
"Karena aku ... suka sama kamu."
"Bercanda? Kalau iya bener-bener nggak lucu."
"Serius, Jona. Aku cinta kamu."
"Aku ...."
"Jona, please, hentikan kegilaanmu dengan Om Jordy. Lihatlah aku, Jona."
"Hehe."
"Jona?"
"Sayangnya, apa yang kamu bilang kegilaan itu adalah cinta yang sejati. Aku akan segera menikah dengan Jordy." Jona memamerkan cincin di jari manis, sambil tersenyum sinis. Hal itu tentu saja mengiris hati Rudian dengan sadis.
"Nggak mungkin! Kamu nggak mungkin nyakitin Livi."
"Ada apa?" Livi yang kembali dari perpustakaan kaget saat mendengar namanya disebut Rudian.
"Jona bilang bakal dinikahi bokap lo, Liv."
"Nggak mungkin."
"Itu dia bilang punya cincin dari Om Jordy."
Menyadari apa yang akan terjadi Jona berjaga-jaga. Gadis itu memeluk tangannya sendiri. Mundur dari kedua orang itu, agar jarakny lebih jauh dari jangkauan Rudian dan Livi. Satu langkah, dua langkah, dia pun berbalik lalu melangkah pergi, menghindar secepat yang dia bisa.
Tetapi Livi yang sudah dikuasai amarah, tak kalah cepat. Gadis itu segera berlari, lalu memegangi Jona ketika telah berhasil mencegat langkah pacar ayahnya itu, agar tak melarikan diri.
"Siniin cincinnya!" pinta Livi.
"Nggak."
"Kamu nggak berhak atas apapun dari ayahku, Jona. Kapan kamu akan belajar untuk tahu diri?"
Livi terus berusaha merebut cincin di jari manis Jona. Dia menjatuhkan tubuh kekasih ayahnya itu ke lantai. Keduanya bergumul, Jona sekuat tenaga mempertahankan miliknya. Segigih dia mempertahankan cintanya. Di dalam kepala gadis itu sekarang, hanya ada Jordy.
Itu memberikan kekuatan, sekaligus melemahnya, sebab dia jadi tak tega untuk melukai Livi. Jemarinya terasa panas dan perih akibat cakaran Livi, tapi itu tak seberapa dibandingkan pengorbanan yang telah Jordy lakukan untuk Jona. Sehingga dia berusaha untuk tidak melawan.
Rudian mencoba melerai, tapi sia-sia karena teman-teman yang lain justru menyemangati dengan sorak sorai.
"Sini!" Kuku-kuku Livi melukai lengan Jona, dia sangat marah dan tak lagi memikirkan apa-apa selain memberi pelajaran pada mantan-sahabatnya.
"Nggak, Livi. Kumohon."
"Dasar murahan!"
Buk! Livi mendaratkan kepalan tinjunya ke pipi kanan Jona sehingga gadis yang mencintai Jordy itu pun menjerit kesakitan. Seakan belum puas, Livi juga menampar pipi kiri gadis kecintaan ayahnya itu.
Saat seorang guru datang, dan berhasil membuat suasana selasar lebih tenang, keduanya dilerai. Gadis-gadis yang berseteru itu lalu digiring masuk ke ruang konseling.
Jona menatap Rudian penuh dengan kebencian, seolah mengatakan 'puas kamu'. Sementara yang ditatap membalas dengan perasaan terluka. Dia menyesal telah menyatakan cinta di saat yang tak tepat. Menyesal telah membuat kedua temannya bertikai. Sebentar lagi mungkin bahkan Jona tak mau menatapnya lagi....
*
Jordy dan Livi tiba di rumah. Keduanya tak terlibat pembicaraan apapun ketika dalam perjalanan pulang dari sekolah. Terang Jordy marah pada putrinya yang berkelahi di sekolah. Itu hal yang sangat memalukan, terlebih Livi melawan kekasihnya. Dari yang Jordy dengar, Jona bahkan tidak berusaha melawan putrinya. Tak terbayang, betapa sakit yang dirasakan kekasih hatinya.
Kalau dilihat dari postur tubuh, sebenarnya Jona memang menang, karena tubuhnya beberapa centi lebih tinggi dari Livi. Jika Jona melawan, jelas Livi yang babak belur. Terlebih, seorang Jona sudah terbiasa bekerja, biasa menggunakan otot-otot tubuhnya yang jarang dimanja. Hanya saja, Jona tidak terpancing untuk menyakiti balik putri kesayangan kekasihnya.
"Jadi sekarang anak Ayah sudah berani membuat masalah di sekolah?"
"Ayah! Ini semua gara-gara Ayah."
"Oya?"
"Kalau Ayah tidak memacari Jona—"
"Maksudnya bermaksud menikahi Jona, iya, kan?"
"Ayah jahat!"
"Iya Ayah memang jahat. Apa menyakiti orang tua juga bukan merupakan sebuah kejahatan?"
Livi terdiam. Gadis itu benar-benar jengkel dan tak bisa menemukan ide untuk melawan sang ayah. Dia juga tak habis pikir, bagaimana ayahnya bisa sebodoh itu, sejahat itu sejak menjalin hubungan dengan Jona.
"Jawab Ayah, Livi," tuntut pria itu.
"Aku hanya ... bolehkah aku meminta, Ayah?"
"Tentu."
"Bisakah Ayah meninggalkan Jona?"
"Tidak, Livi. Ayah membutuhkannya. Ayah mencintai Jona."
"Dn't you love me too?"
"You get my love, Livi."
Jordy merengkuh tubuh Livi, dia lelah untuk menjelaskan dengan kata-kata. Telapak tangan Jordy mendarat dan menyusuri kepala putrinya penuh kasih. Livi menangis merasa semuanya sia-sia. Usahanya selama ini, semua tidak bisa menjauhkan ayahnya dari Jona. Livi dapat merasakan kasih sayang ayahnya yang tulus.
"Dengar," ucap Jordy melepaskan tubuh Livi memberi jarak agar dia bisa menunduk dan menatap kedua mata Livi, "Ayah memang bukan seorang Ayah yang baik. Ayah akui, Livi dan Ayah minta maaf atas segala kekurangan itu."
Livi menjawabnya dengan anggukan.
"Ayah!" Kembali gadis itu memeluk Jordy dengan perasaan sayang dan sangat-sangat takut kehilangan.
"Hanya tinggal kita berdua, Livi. Di sisa hidup ini kita harus bahagia, agar ibumu juga bahagia. Dia pasti tak ingin melihat kita bersedih dan saling menyakiti."
"Iya, Ayah."
"Ayah akan membuatkan minum untuk kita berdua." Dia menyuruh Livi untuk duduk dan menunggu.
Beberapa menit kemudian, Jordy membawa dua mug berisi susu cokelat hangat ke ruang tengah. Lengkap dengan kukis dan biskuit tawar. Mereka akan melewati sisa hari bersama-sama, tanpa amarah, tanpa pertentangan.
Telah lama ayah anak itu terpisah, meskipun mereka tinggal di tempat yang sama. Keduanya selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Jordy telah bertekad agar bisa lebih dekat dan lebih memahami Livi. Itu pulalah yang membuatnya mengambil keputusan untuk pindah kantor di dekat perumahan tempat mereka tinggal.
"Ayah, aku kangen Ibu."
"Ya, tentu saja. Ayah juga rindu ibumu."
"Ayah ingat dulu ibu pernah tenggelam?"
"Iya, tentu ayah takkan lupa. Ibumu memang tak pandai berenang."
"Iya. Waktu itu sebenarnya, itu salahku." Livi mulai menangis mengenang ibunya.
"Aku menjatuhkan anting yang Ayah berikan. Aku menjatuhkannya di kolam yang landai, tapi saat ibu akan mengambilnya dia kehilangan keseimbangan dan terseret ke kolam yang dalam."
"Livi...."
"Waktu itu aku takut sekali. Aku takut kehilangan ibu. Aku sangat menyesal."
"Livi, pada akhirnya kita tetap kehilangannya. Itu bukan salahmu. Memang harus seperti ini. "
"Ayah benar. Hidup ini begitu lucu. Kemarin kita tertawa bersama, bertiga. Sekarang kita hanya berdua, menangis, Yah."
"Hidup memang selucu ini, Livi. Satu hari kita hidup di atas permukaan bumi. Di hari lain, kita tidur di bawahnya. Ibumu adalah sosok wanita yang tegar. Dia juga kuat dan sangat mandiri. Sedikit sekali sisi hidupnya yang bisa Ayah sentuh."
"Iya, Ayah benar."
"Apa kamu mau buah?" Jordy menawarkan.
"Iya, biar Livi yang ambil. Ayah mau buah apa?"
"Olive."
"Livi juga."
Gadis itu berjalan ke dapur menuju lemari pendingin yang terletak di dekat pintu masuk dapur. Livi membuka lemari itu dan mengambil sebuah jar berisi buah zaitun hijau lalu kembali ke ruang tengah.
"Maafkan Livi, Yah atas kejadian hari ini."
"Ya, Ayah harap kamu tidak mengulanginya."
"Jika Ayah menikahi Jona, lalu bagaimana dengan dokter Evi?"
Jordy tak langsung menjawab. Lelaki itu mencelupkan jari ke dalam jar, mengambil buah zaitun dan mengunyah perlahan-lahan. Sementara itu Livi bersabar menanti jawaban sang ayah. Meskipun tiba-tiba perutnya mual mengingat ide tentang ayahnya menikahi Jona.
"Ayah sudah bicara padanya."
"Ayah sudah bicara tentang Jona?" Livi tak dapat menahan nada bicaranya karena sangat terkejut.
Jordy mengangguk. Livi tak habis pikir bagaimana bisa ayahnya sebuta itu terhadap sinyal-sinyal yang diberikan dokter Evi. Apakah ayahnya tak berperasaan sehingga berani-beraninya bicara tentang Jona pada wanita mungil berhati lembut itu? Tidakkah amat jahat menghancurkan harapannya?
"Kenapa?"
"Tidak pa-pa, Ayah. Aku pikir tadinya—ah sudahlah, tidak perlu dibahas."
"Ada yang kamu rahasiakan?" selidik Jordy, tapi putrinya menggeleng. Livi tak ingin merusak momen bahagia dan langka. Saat mereka menghabiskan waktu bersama sebagai ayah dan anak. Dan dalam masa yang indah tak perlu ada pembahasan lanjut tentang Jona.
Livi mengalihkan pembicaraan mereka, tentang kelanjutan pendidikannya. Rencana-rencana besarnya di masa depan.
"Ada satu hal yang belum Livi capai."
"Apa itu, ceritakan pada Ayah."
"Livi ingin melihat Ibu meskipun dalam mimpi."
"Apa itu tidak pernah terjadi sekalipun?"
"Tidak, Yah. Livi rindu sekali dengan Ibu. Ingin melihat wajah cantiknya, walau hanya dalam mimpi. Entah mengapa itu tidak pernah terjadi meskipun aku tidur dengan baju Ibu."
Jordy prihatin akan curahan hati Livi. Padahal dia sendiri telah berkali-kali memimpikan Emera. Untuk menjaga perasaan putrinya, Jordy menjaga itu sebagai rahasia. Termasuk tentang mimpi duduk di antara Emera dan Jona.
Jar di antara mereka tinggal berisi cairan garam. Livi berinisiatif untuk membereskan semuanya dan berjanji akan segera istirahat dan belajar. "Terima kasih atas hadiah berharga ini, Yah," ungkap Livi.
Jordy mengernyit, tak mengeti.
"Waktu, Ayah. Waktu, adalah hadiah yang sangat berharga," terang Livi tersenyum. Seketika Jordy bisa menemukan sisi dirinya yang berhasil diduplikasi oleh Livi, dia cukup bangga untuk itu.
"Oh, iya, Yah, besok aku akan minta maaf pada Jona."
"Sudah Ayah duga, hatimu memang sebaik Ibumu, Livi," puji sang ayah yang sudah mulai mabuk kembali saat mendengar nama kekasihnya disebut.
-
Hai, Sobat Gorgeous. Terima kasih atas dukungannya atas project HSD ini. Berikan komentar, saran dan masukanmu terkait cerita ini ya, Arwen tunggu!
Sukses selalu dan see uuuu&&&
Jordy sudah dewasa. mandiri. tidak bergantung secara materi dg org tuanya. biarkan ia bahagia sesuai keinginannya😄
klw bisa cinta yg tak menentu atau takdir cinta