21++ Harap bijak memilih bacaan. Bukan bacaan untuk teenager, ABG, Bocil dan kawan-kawan.
Widia adalah mahasiswi tahun pertama yang mendadak harus menikah dengan pacarnya karena paksaan dari kakaknya.
Dalam perjalanan rumah tangganya, Widia dan Ivan yang tidak pernah berkonflik besar tiba-tiba berpisah. Widia menghilang meninggalkan suami dan anaknya.
Setelah beberapa waktu, Widia yang dikira telah tiada ditemukan bersama dengan laki-laki tampan lain yang memperbudaknya sebagai istri.
Bagaimana perjuangan Widia untuk lepas dari 'GENDAM' Sang Suami setelah hadirnya madu yang meracuni hidupnya?
Base on true story, Cus … dibaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 25
Widia membantu Erwin menutup stand hari terakhir pameran dan merapikan semua barang, karena malam itu juga harus dibawa ke pusat galeri seni milik juragannya.
"Mau makan dulu sebelum pulang?" tanya Erwin lembut seraya menaikkan dagu Widia.
Widia menggeleng dan tersenyum masam, "Aku nggak pulang, Bang!"
Menaikkan kedua alisnya, Erwin bertanya perlahan. "Ada masalah apa?"
"Aku nggak mau disidang, suami udah tau kalau aku sama Abang beberapa hari ini," jawab Widia lugas.
"Sejak kapan?"
"Tadi siang, tapi dia nggak tau kalau aku ada di sini sekarang."
Erwin mengerutkan dahi hingga kedua alisnya hampir bertaut, "Trus kamu mau kemana? Pulang ke rumah orang tuamu?"
"Ya nggak mungkinlah, sama saja bunuh diri itu mah!" Widia melihat kearah lain, bimbang mengatakan keinginannya.
"Kamu mau pulang ke rumahku?" tanya Erwin pada akhirnya. Pertanyaan yang sangat ditunggu-tunggu Widia.
Tanpa berpikir lagi, Widia mengangguk mantap pada tawaran yang dari tadi diharapkannya. Hati Widia berdebar, kupu-kupu dalam perutnya seolah terbang dengan rasa bangga. "Iya mau, kalau Abang nggak keberatan."
"Ya udah siap-siap," kata Erwin santai.
Widia memegang lengan Erwin, "Bisa mampir beli baju sebentar nanti? Aku nggak bawa apa-apa dari rumah!"
Pergi tanpa persiapan tak urung membuat Widia kelimpungan, uang tabungannya tak akan cukup untuk membeli semua kebutuhannya. Mungkin dia hanya bisa membeli dua atau tiga baju untuk sementara.
Pikiran Widia penuh dengan rencana, mulai dari mengurus surat perceraian sampai urusan kuliahnya, dari bicara baik-baik dengan suami dan keluarga sampai dengan kemungkinan terburuk yang harus diambilnya.
Setelah membayar beberapa baju dengan uang pribadi, Widia mengiringi motor Erwin menuju rumahnya.
Ada perasaan lega karena akhirnya Widia terbebas dari Ivan, suami yang menurut Widia memiliki tabiat aneh saat bercinta.
Dua motor memasuki halaman rumah sederhana, rumah yang jauh lebih kecil daripada rumah orang tua Ivan yang notabene mantan kepala desa. Rumah yang juga tak lebih besar dari rumah orang tua Widia di kampung.
Namun, Widia tidak melihat itu sebagai hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan ulang. Widia masih optimis bahwa ke depan dia dan Erwin akan sukses saat sudah berumah tangga.
Masuk ke ruang tamu, Widia disambut oleh seorang perempuan paruh baya dan dua anak perempuan kecil yang memanggil Erwin dengan sebutan papa.
Widia terhenyak saat berjabat tangan dengan ibu Erwin yang menatapnya dengan penuh selidik.
“Ini Widia … calon istri Erwin,” ujar Erwin mengenalkan Widia pada Ibunya dengan ekspresi dingin.
Widia mengangguk ramah dan mencium punggung tangan wanita yang melahirkan Erwin. Ibu Erwin tak berbicara apapun, meninggalkan mereka dengan wajah masam penuh kekecewaan.
Melihat gelagat tak enak, Widia pun bertanya, "Bang Erwin ini udah punya anak dua?"
"Iya, itu tadi anakku."
Widia berpikir cukup lama sebelum mengajukan pertanyaan selanjutnya, "Abang duda?"
Erwin tak menjawab, tapi bertanya balik pada Widia, “Kamu keberatan aku punya anak?”
“Abang nggak bilang sebelumnya, aku pikir Abang masih lajang,” jawab Widia datar.
“Terserah kamu mau dilanjutkan atau nggak, jujur aku sama sekali nggak mengharapkan lebih … apa yang kita lakukan itu hanya atas dasar suka sama suka.”
“Tapi aku sudah meninggalkan suami dan anakku demi Abang,” ungkap Widia getir. Matanya berkaca menghindari tatapan pria di depannya.
“Aku tidak minta itu kan?” Erwin bersikap memojokkan Widia dengan kalimat yang sulit dibantah.
“Abang bilang ke Ibu barusan kalau aku calon istri, jadi gimana yang sebenarnya, Bang?” tanya Widia pelan.
"Iya, istri kedua. Aku masih beristri … belum jadi duda, Widia!"
Sesuatu mencelos dari dada Widia, sakit tapi juga tak berdaya.
***
erwin apa khabar ya?..
smoga nasib baik berpihak padamu