NovelToon NovelToon
Nafkah Batin Yang Terbagi

Nafkah Batin Yang Terbagi

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:46.9k
Nilai: 5
Nama Author: Walet Biru

Pernikahan yang bahagia adalah dambaan setiap insan. Namun didalam perjalanan mahligai pernikahan tidak selalu indah seperti yang diimpikan. Karena setiap pernikahan pasti ada masalah dan cobaan yang datang silih berganti. Kerikil dan bebatuan datang menghadang langkah tiada henti.

Guntur dan Sovia adalah sepasang kekasih yang belum lama mengarungi bahtera rumah tangga. Pernikahan yang berawal dari perjodohan tidak membuat Sovia membenci suaminya. Ia berusaha sepenuh hati untuk menjadi istri yang shalihah.

Apakah Sovia bisa melewati halangan dan rintangan yang dihadapinya? Apakah Sovia dan suaminya bisa bahagia dalam membina rumah tangga?

Buruan baca dan subscribe novel ini sekarang juga! Terima kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Walet Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Karma

Sesampainya di lobby rumah sakit, Wina langsung dibawa ke ruang IGD oleh perawat yang berjaga. Pak Santoso dan Bu Hamidah pun menunggu dengan gelisah dan sangat khawatir. Setelah sekitar 15 menit berlalu, akhirnya seorang dokter keluar dari dalam ruang IGD. Pak Santoso pun berkelebat menghampirinya.

"Dok, gimana kabar anak Saya dan kandungannya?"

"Iya Dok! Anak dan cucu Saya baik-baik aja kan?" Bu Hamidah ikut bersuara.

"Anak Ibu alhamdulilah selamat. Untung langsung dibawa kesini, jadi langsung bisa ditangani." Jawab dokter perempuan itu.

"Syukurlah kalau begitu!" Bu Hamidah merasa lega.

"Tapi mohon maaf, janin dalam kandungan anak Ibu dan Bapak, tidak bisa diselamatkan!"

"Ya Allah! Cucuku!" Teriaknya.

"Dok, Kita boleh masuk?" Tanya Pak Santoso.

"Boleh, silahkan." Balasnya. Pak Santoso dan istrinya pun bergegas masuk ke dalam ruangan IGD. Begitu menginjakkan kaki di dalam ruangan, mereka melihat Wina masih terbaring dengan kedua matanya yang masih terpejam.

"Ya Allah, mengapa Kamu nekad begini Wina? Sampai-sampai anakmu meninggal dunia karena kelakuanmu!" Bu Hamidah memegang jari-jari tangan kanan Wina.

"Sudahlah Bu. Semua sudah terjadi. Masih untung anak Kita masih bisa diselamatkan." Pinta Pak Santoso.

"Kasihan Wina! Pasti hatinya sangat hancur! Semua ini gara-gara Guntur!"

"Stop menyalahkan orang lain, Bu! Harusnya Ibu sadar akan semua tingkah laku Ibu selama ini! Bukankah Ibu dan Wina yang telah menjebak Guntur agar mau menikah dengan Wina? Mungkin semua ini teguran dari Allah agar Ibu dan Wina mau bertobat!" Nasihat Pak Santoso.

"Astaghfirullah! Ya Allah ya Tuhanku yang Maha Pengampun, ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa anakku! Saya khilaf! Sebagai seorang Ibu, harusnya Aku memang bisa mendidik Wina ke arah yang diridhai Allah. Bukan malah sebaliknya." Bu Hamidah membelai rambut anaknya. Air matanya mengalir dengan deras membasahi kedua pipinya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dengan perlahan kedua mata Wina terbuka.

"Aku, Aku ada dimana?" ucapnya lirih.

"Kamu sedang di rumah sakit, Nak! Kamu tadi pingsan!"" Balas Bu Hamidah. Mendengar ucapan ibunya, Wina pun kembali teringat kejadian yang terjadi sebelum ia tidak sadarkan diri.

"Kenapa Bapak dan Ibu bawa Aku ke rumah sakit? kenapa Bapak dan Ibu nggak membiarkan Aku mati aja!" Teriaknya.

"Istighfar Nak! Bunuh diri itu perbuatan yang tidak diampuni oleh Allah! Dosanya sangat besar!" Nasihat ibunya.

"Tapi Aku nggak kuat menanggung beban berat ini!" Balasnya.

"Setiap manusia pasti punya cobaan sendiri-sendiri. Masih banyak orang yang lebih menderita daripada Kamu, tapi mereka tidak berpikiran untuk mengakhiri hidupnya. Karena mereka percaya, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambaNya." Nasihat Pak Santoso.

"Betul yang dikatakan Bapakmu, Wina! Kamu tahu nggak akibat dari kelakuanmu tadi?" Tanya Bu Hamidah.

"Emangnya kenapa Bu?"

"Anak yang ada di dalam perutmu tidak bisa diselamatkan!" Jawabnya. Mendengar jawaban dari mulut ibunya, Wina pun langsung melihat ke arah perutnya.

"Anakku! Anakku mana Bu? Kenapa perutku kempes?" Tanya dengan keras. kedua tangannya memegang perutnya yang rata.

"Anakmu meninggal Win!" Balasnya. Wina pun menangis histeris.

"Nggak!!! Nggak mungkin anakku meninggal!!! Walaupun anak itu nggak punya Bapak, tapi Aku mau merawatnya!!!" Teriaknya.

"Anak Mba Wina sudah bahagia di alam sana! Lebih baik Mba Wina ikhlaskan kepergiannya! Sekarang anak Mba Wina bisa dimakamkan secepatnya!"

"Ayo Kita pulang, Win! Kita harusnya secepatnya menguburkan anak Kamu!" Pinta Bu Hamidah.

"Maaf sebelumnya, Bu Wina sudah boleh pulang sekarang. Tapi untuk administrasinya mohon harus diselesaikan dahulu ya Pak, Bu!" Ucap dokter itu.

"Iya Dok. Bu, Aku mau bayar dulu di depan ya!" Kata Pak Santoso.

"Iya Pak. Biar nanti Ibu sama Wina menyusul ke depan!" Balasnya. Pak Santoso pun keluar dari ruangan IGD menuju ke bagian administrasi. Sedangkan Bu Hamidah dan Wina berkemas-kemas dan menyusul Pak Santoso. Mereka pun kembali pulang menggunakan mobil milik Pak Santoso. Dengan dibalut selembar kain, Bu Hamidah menggendong janin cucunya yang tiada lagi bernyawa. Wina yang duduk di samping ibunya, terlihat diam membisu dengan tatapan matanya yang kosong. Hatinya sangat terguncang hebat akibat beberapa kejadian yang menimpa dirinya.

Setelah sampai di rumah, Pak Santoso pun memberikan kabar kepada Pak Kaum kalau anaknya Wina meninggal. Pak Kaum pun mengumumkannya menggunakan toa yang berada di masjid. Mendengar berita duka itu, satu persatu tetangganya Pak Santoso datang untuk berbela sungkawa.

Janin calon anaknya Wina yang sudah berbentuk manusia utuh itupun dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan langsung dikebumikan di pemakaman umum yang berada di daerah tempat tinggal Pak Santoso.

Namun sampai anaknya dikebumikan, Wina hanya duduk melamun di dalam kamarnya. Bu Hamidah beberapa kali mencoba untuk mengajaknya berbicara, namun Wina sama sekali tidak menanggapinya.

Hari berganti hari. Tidak ada perubahan pada diri Wina. Ia terus menerus duduk meringkuk di atas kasur. Perutnya yang beberapa hari tidak diisinya, membuat tubuh Wina terlihat kurus. Rambutnya terlihat berantakan. Wajahnya terlihat kusam. Keadaan itu, membuat Pak Santoso dan Bu Hamidah semakin khawatir. Mereka pun memutuskan untuk membawa kembali Wina ke rumah sakit.

Namun Pak Santoso dan istrinya sangat kaget ketika dokter mengatakan bahwa anak sulung mereka itu, mengalami gangguan pada kejiwaannnya. Dengan perasaan sangat terpaksa, mereka pun membawa Wina ke rumah sakit jiwa yang berada di kota Bandung.

"Wina sayang, Kamu baik-baik tinggal disini ya!" Ucap Bu Hamidah dengan air matanya yang sudah sejak tadi membasahi kedua pipinya.

"Aku mau pulang Bu!!! Aku nggak mau tinggal disini!!!" Teriaknya.

"Besok kalau Wina sudah sembuh, Wina pasti bisa pulang lagi!" Kata Pak Santoso.

"Aku nggak sakit! Buat apa Aku dirawat di rumah sakit! Aku mau pulang! Aku mau bertemu Mas Guntur! Aku kangen Mas Guntur!" Serunya.

"Bapak sama Ibu pulang dulu ya! Besok Bapak akan suruh Guntur datang kesini!" Katanya.

"Betul kan yang Bapak katakan?" Tanyanya perlahan.

"Betul! Masa Bapak bohong!"

"Ibu pamit dulu ya Nak!" Dengan berat hati, Bu Hamidah pergi meninggalkan anak sulungnya yang sangat dicintainya. Pak Santoso pun berjalan disampingnya dengan perasaan tidak kalah sedihnya.

"Lebih baik, sekarang Kita ke rumah Bu Maya. Kita meminta maaf atas semua kesalahan Ibu dan Wina. Lalu, Kita minta agar Guntur mau menjenguk Wina." Kata Pak Santoso.

"Nggak sudi Aku minta maaf sama mereka! Mau ditaruh mana mukaku?" Balasnya.

"Sekarang buang sifat egois Ibu! Apa Ibu mau melihat Wina terus menerus batinnya terguncang seperti tadi? Apa Ibu mau dihina oleh tetangga dan teman-teman Ibu, kalau Wina jadi Gila?"

"Nggak mungkin Ibu sanggup untuk menerima omongan orang-orang tentang Wina!"

"Makanya sekarang Kita pergi ke rumah Bu Maya."

"Iya. Tapi jangan sampai tetangga tahu, kalau Wina dirawat di rumah sakit jiwa. Aku nggak mau nama baik keluarga Kita jadi tercemar gara-gara keadaan Wina sekarang." Katanya.

"Bapak juga nggak mau." Balasnya. Mereka pun menaiki mobil dan pergi meninggalkan rumah sakit jiwa dimana Wina dirawat.

1
musuh pelakor
suami apaan yang kek gitu? kadang sakit bacanya:(
musuh pelakor
hamidah jadi halimah?
Fianto WB: terima kasih masukannya
total 1 replies
kavena ayunda
maless bgt harusnya kebongkar pas ceraii enak di gunturr laki brengsekk munafikkk pdhl dia uda enak2.ma jalang wina jijik q
Martifahsoemarno
coba tor gabung di fb grup novelton, promosi disono insya allah tambah pembacanya
Martifahsoemarno
ud lama gk mampir karna gk pernah up, sekali mampir ud tamat, ceritanya bagus aku suka
Martifahsoemarno
ud lama gk baca pas baca bikin jantung dekdekan, ceritanya makin seru
Fianto WB: mksh mba
total 1 replies
Martifahsoemarno
ud up lgi ya aku sampe lupa
pipi gemoy
Guntur ogeb nga selidiki dulu masa lalu si pelakor
pipi gemoy
aneh kelakuan Bu Halimah 😒
Martifahsoemarno
smg sovia gk menderita melulu seperti senetron tersanjung
Martifahsoemarno
pengen aku jambak itu rambut sm muka wina
Martifahsoemarno
bikin sovia bahagia tor jngn kalah terus sm wina sm mertua. smgt tor upnya
Martifahsoemarno
jngn bikin sovia terus menderita tor jngn kya senetron tersanjung
Martifahsoemarno
ceritanya makin seru, smngt tor
Martifahsoemarno
gk up ya tor, smngt ah
Martifahsoemarno
ayo tor smngt upnya
Fianto WB: tunggu ya
total 1 replies
Martifahsoemarno
gk up tor
Marlisa Lana
good
Martifahsoemarno
lanjut thor, smngt
Martifahsoemarno
lanjut thor, smngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!