Ch.1-107 Arc 1 : Amanat Sang Raja Racun✓
Ch.108-200 Arc 2 : Rencana Besar✓
--
Vian Matawijaksana, seorang Tuan muda dari keluarga konglomerat terpandang. Merasa bosan karena merasa telah memiliki segalanya.
Seorang pemuda yang bahkan belum berusia 18 tahun, pandai dalam hampir segala bidang.
Vian merasa dunia tempat dia tinggal saat ini sangat kecil dan membosankan.
Sampai suatu hari, pemuda itu menemukan berita tentang game Martial Art's Online yang baru saja rilis pada kala itu.
Sebuah Game yang awalnya dia anggap sebuah pelampiasan dan pelarian dari kehidupan di dunia nyata, namun perlahan, game tersebut ternyata akan merubah dirinya dan dunia nyata, ke arah yang tidak pernah terduga sama sekali.
*Memiliki unsur overpower yang berlebihan (katanya)
--
Gabungan Genre Rpg.lit x Xuanhuan
Terinspirasi dari shujinkouron
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.25 Quest Baru
Wu Ming menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang dengan eskpresi heran.
"Tuan meminta bantuanku? Tapi kekuatanku lebih lemah dari Tuan, bagaimana bisa aku membantu Tuan?" Ucap Wu Ming dengan ekspresi bingung.
"Jika ini soal kekuatan aku tidak akan meminta bantuanmu, aku tidak bisa pergi terlalu jauh dari Dungeon ini meskipun kau sudah menaklukannya dan firasatku mengatakan bahwa kaulah orang satu-satunya yang dapat melakukan ini." Balas She Yun dengan tenang.
'Hmm mungkin ini berhubungan dengan Gelar yang kudapatkan.' Pikir Wu Ming.
Wu Ming mengelus dagunya kemudian berkata. "Maaf Tuan, tapi sekarang aku harus secepatnya mendapatkan Rumput Kaisar untuk temanku, jika diriku terlalu lama disini aku khawatir sesuatu terjadi padanya."
"Tentu saja kau tidak harus melakukannya sekarang, Raja ini hanya ingin menyelesaikan urusan yang selama ini belum Raja ini selesaikan." Ucap She Yun tersenyum tipis.
Wu Ming mengangguk. "Lalu apa yang bisa diriku bantu Tuan?" Tanya Wu Ming.
She Yun mengeluarkan sebuah Item Bola Kaca berwarna putih dan menjelaskan benda apa itu.
"Item ini bernama Poison Alchemy Seal, tolong serahkan Item ini kepada seseorang bernama She Fang dari Sekte Racun Neraka. Namun sebaiknya serahkan Item ini sebelum satu bulan berlalu, jika tidak sesuatu yang besar akan terjadi." Ucap She Yun dengan harapan besar pada Wu Ming.
-
[Quest: Poison Alchemy Seal] [A]
She Yun adalah mantan Patriark Sekte Racun Neraka yang dijuluki Raja Racun.
She Yun mengharapkanmu memberikan Poison Alchemy Seal pada cucunya, She Fang, agar dapat menjadi penerus sah Sekte Racun Neraka.
Reward : Exp + Item Equipment Class [Legendary]
Penalty : Level berkurang 10 + Kehilangan beberapa Status.
-
Wu Ming mengerutkan dahinya ketika melihat Penalty tidak dapat menyelesaikan misi benar-benar buruk walaupun Reward yang diberikan juga sangat bagus.
"Ini..." Wu Ming menjadi ragu harus menerima misi ini karena mungkin situasi sebenarnya tidak sesimpel yang dilihatnya di deskripsi misi.
She Yun menjadi khawatir Wu Ming akan menolaknya, kemudian dia mengeluarkan sebuah Item dari Cincin Spatialnya.
"Karena tugas ini begitu penting untuk masa depan keturunanku, aku akan memberikanmu sebuah Item untuk membantu perkembanganmu." Ujar She Yun memperlihatkan Item di tangannya yang berupa lentera.
-
[Lentera Api Suci] [Rare]
Menghasilkan Api Suci yang dapat membakar hangus mahkluk kegelapan tingkat rendah sampai menengah.
Mahkluk kegelapan tingkat tinggi akan terkena Damage Critical.
Damage: 100 - 250 (Selama 3-5 detik)
MP: 50
-
Wu Ming menaikan alisnya ketika melihat barang yang seharusnya sangat dibenci oleh mahkluk kegelapan bisa ada di tangan seorang King Undead She Yun.
"Ini adalah milik sahabatku saat dia masih hidup dahulu, kau tentu sudah mengetahui bukan nasib sahabatku itu dari deskripsi Tongkat Tujuh Racun." Kata She Yun dengan santai dan tidak merasa bersalah sama sekali.
Wu Ming mengangguk kemudian menjawab. "Baiklah aku menerima tugas ini, batas waktunya tepat sebulan dari sekarang bukan?" Tanya Wu Ming memastikan.
"Ya, tepat sebulan dari sekarang." Jawab She Yun dengan ekspresi lega.
"Baiklah Tuan, aku akan mengambil Rumput Kaisar sekarang." Wu Ming ingin bergerak mengambil Rumput Kaisar dibawah mahkluk buas yang sedang tertidur namun She Yun berkata.
"Tidak perlu, aku sudah memberikan semua Rumput Kaisar disini beserta bibitnya. Pastikan kau tidak menyia-nyiakan semua itu." Ucap She Yun dan langsung menghilang.
Wu Ming menggaruk kepalanya, kini dia juga berpikir bahwa She Yun terlalu baik padanya, mungkin karena Gelar yang ia dapatkan?
Tanpa menunggu lebih lama lagi Wu Ming segera keluar dari Abssy Poison Cave dan menuju tempat Linlin di rawat secepat mungkin.
----
Sungai Gan'ga - Kerajaan Angin
Kelompok 4 Assasin yang biasa disebut Empat Malaikat Maut berkumpul di Sungai Gan'ga yang cukup jauh dari Desa Pemula dan arah Sekte Phoenix Emas mungkin akan menuju Desa Pemula.
Keempatnya mengevaluasi pekerjaan mereka kali ini yang tidak terlalu baik secara teknik dan perencanaan.
"Informasi yang kita dapatkan tentang kedua Pemuda itu sangat minim, Pemuda dengan Pedang aneh itu memiliki Skill-skill tidak terduga. Kita terlalu meremehkan keduanya terutama kemampuan Alchemist Racun yang ternyata ahli dalam memainkan Senjata apapun. Ai, kau harus lebih teliti lain kali." Ujar Baoyu sambil menatap Ai Rui.
"Yah... Ini juga bukan salah Ai sepenuhnya, kedua Pemuda itulah yang memang misterius dan aku tidak pernah mendengar ada sosok seperti itu di Kerajaan Angin." Balas Fen Ku membela Ai.
"Fen benar, kita terlalu terburu-buru bergerak dan inilah hasil yang kita dapat, namun untungnya misi kita berhasil dengan lancar meskipun Putri Linlin mungkin akan selamat. Yah itu tidak buruk juga sih mengingat akan menambah kesaksian dan alasan Sekte Phoenix Emas memulai perang terbuka dengan Sekte Harimau Putih." Ujar Ao Richa tertawa licik.
Ai Rui, "..."
Ai Rui tidak berkata apapun dan hanya memegangi lututnya dengan tatapan kosong.
"Seperti biasa Ai selalu selalu diam saat bagian Evaluasi. Lalu... Ai, sekarang adalah bagian membahas makanan, apa yang kau inginkan?" Tanya Baoyu tersenyum lebar.
Ai Rui sedikit mengangkat kepalanya dan berkata. "Aku tidak nafsu makan." Lalu kembali menunduk.
Fen Ku, Baoyu, dan Ao Richa saling berpandangan, tidak biasanya Ai tidak memiliki nafsu makan jika bukan karena sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Ai, ada apa? Apakah kau kasihan dengan Putri Linlin?" Tanya Fen Ku.
Ai Rui mengangguk dan menjawab. "Kak Fen terlalu kejam, aku tidak menyukainya." Ai Rui langsung memalingkan pandangannya tidak mau menatap wajah Fen Ku.
Fen Ku membeku mendengar Ai mengatakan tidak menyukainya.
"Huwaaaa! Ai membenciku! Aku akan bunuh diri saja kalau begitu!!..." Seru Fen Ku menangis histeris dan mengikatkan tali pada lehernya yang disangkutkan ke atas pohon.
"Ah tunggu, perutku lapar dan aku belum mandi, mungkin setelahnya." Ucap Fen Ku tiba-tiba dengan wajah murung.
"Fen bodoh! Seriuslah jika kau ingin bunuh diri, ini sudah ke 121 kalinya kau memakai leluconmu itu. Lihatlah Ai sampai bosan mendengar lelucon garingmu itu!" Omel Ao Richa sambil mengeluarkan cambuknya.
"Ai, tenanglah, kakak akan menghukum pria jahat ini." Ucap Ao Richa bersiap mencambuk Fen Ku.
Fen Ku menjadi pucat ketika Ao Richa mengeluarkan cambuknya. "Tu-tu-tunggu Richa! K-kau tidak bisa mencambukku dengan itu, aku tidak memiliki ketahanan racun, aku bisa mati jika kau mencambukku." Ucap Fen Ku ketakutan dan segera berlari menjauh dari Ao Richa.
"Tenang saja kau akan dimaafkan oleh Ai setelah kau menghembuskan nafas terakhir." Balas Ao Richa tersenyum lebar dan mengejar Fen Ku sambil mencambuk ke arah Fen Ku.
Disisi lain Baoyu yang paling tua diantara mereka menghela nafas panjang sambil menatap Ai dengan tatapan kasihan, sebenarnya dia tidak pernah setuju Ai ikut dalam Kelompok mereka karena kelompok mereka adalah Pembunuh bayaran yang mencari uang dengan membunuh orang yang ditargetkan klien.
Ai yang saat ini masih berusia 14 tahun sangat tidak cocok mendapatkan pekerjaan ini, namun Ai bersikeras untuk bergabung dengan mereka demi suatu tujuan, yaitu membalaskan dendam orang-orang yang penting baginya.
Ai ternyata berbakat dalam menggunakan senjata Belati Kembar membuatnya menjadi Assasin yang handal bahkan lebih menakutkan dari pada para Seniornya, dalam waktu dua tahun.
Ya, Ai mulai berlatih menggunakan senjata Belati Kembar mulai dari umur 12 tahun, tepat setelah Baoyu, Fen Ku dan Ao Richa menemukan Ai di reruntuhan Panti Asuhan yang dihancurkan oleh pasukan Kerajaan Api.
Baoyu mendekati Ai yang tengah merenung sendirian dan bertanya. "Ai, apakah kau merasa bersalah telah menjalankan misi ini?"
Ai menggelengkan kepalanya dan menjawab. "Bukan begitu paman, hanya saja... Mungkin aku yang belum siap menghadapi ini, aku yakin seiring berjalannya waktu aku akan terbiasa dengan hal seperti ini." Ucap Ai dengan senyum dipaksakan.
Baoyu menghela nafas sebelum berkata. "Kau tau Ai, Paman sudah menganggapmu sebagai keponakanku sendiri meskipun aku hidup sebatang kara selama ini. Paman berharap kamu cepat berhenti dari pekerjaan ini dan mencari pekerjaan lain yang lebih baik, misalnya menjadi petualang atau sebagainya."
Ai menggelengkan kepalanya. "Tidak Paman, aku tidak bisa melupakan mereka, mereka pasti akan kecewa jika aku tidak membalaskan dendam mereka." Ucap Ai dengan mata berkaca-kaca.
"Apakah itu yang mereka bilang sebelum menemui ajal?" Tanya Baoyu.
Ai terdiam seribu bahasa, dia jelas mengingat kata-kata terakhir teman-teman dan ibu pengasuh padanya, dan itu semua bukan tentang membalas dendam, tapi agar dia pergi melarikan diri dan memulai hidup baru.
"Apakah kau yakin mereka benar-benar mengharapkanmu untuk balas dendam?" Tanya lagi Baoyu setelah melihat ekspresi Ai.
Lagi-lagi Ai diam seribu bahasa tidak bisa menjawab pertanyaan simpel Baoyu yang baginya sangat sulit.
"Tidakkah kamu ingin bahagia seperti anak-anak lainnya?" Baoyu tersenyum lembut sambil mengeluarkan sebuah kertas lusuh namun cukup rapih karena Baoyu selalu menyimpannya dengan baik.
Baoyu membuka kertas itu yang berisi gambar beberapa anak yang mengelilingi seorang Pendeta dengan gembira.
Dalam sekali lihat saja semua orang bisa merasakan perasaan gembira dari anak yang menggambar dan ucapan terima kasih pada sang Pendeta.
"Kau tahu Ai, dulu Paman adalah seorang Pendeta yang sangat membenci senjata dan sibuk menebar kasih sayang serta kebaikan pada semua orang."
"Namun suatu kejadian menyadarkanku bahwa dunia ini sangat kejam, hampir semua manusia memiliki ego masing-masing dan saling membunuh/mencelakai untuk kepentingan masing-masing."
"Aku terpaksa harus mengangkat senjata yang selama setengah hidupku aku benci untuk membela mereka yang lemah sampai suatu ketika aku menyadari bahwa diriku tidak ada bedanya dengan mereka yang selalu menindas yang lemah."
"Ketika bertemu denganmu saat itu, Paman menjadi teringat pada masa muda paman yang juga hidup sebatang kara. Paman membimbingmu berjalan di atas Pedang dan darah, namun paman sekarang menyadari bahwa tempatmu bukan disini, Ai memiliki tempat yang lebih baik dari ini." Ujar Baoyu tersenyum lembut sambil mengusap kepala Ai.
"Kalau begitu mari kita sama-sama ketempat itu, bukankah Paman mengatakan itu adalah tempat yang sangat baik?" Balas Ai.
Baoyu menggaruk pipinya dan menjelaskan. "Ai, tangan kami sudah begitu kotor sampai tidak akan bisa dicuci bersih lagi. Lagipula kami bertiga sudah menjadi buronan di beberapa Kerajaan."
"Kalau begitu Ai juga tidak mau pergi tanpa kalian bertiga, Ai tidak ingin sendiri lagi..." Kalimat terakhir Ai berisi kesedihan yang mendalam membuat Baoyu bingung harus berbuat apa.
Baoyu menghela nafas panjang sebelum berkata. "Baiklah-baiklah, kamu menang Ai. Sekarang mari kita singgah ke Kota terdekat untuk makan, susul kedua kakakmu itu dan bilang untuk berhenti bertengkar atau mereka tidak mendapat jatah makan."
Ai mengangguk dan langsung bergerak secepat kilat ke arah Fen Ku serta Ao Richa yang bertengkar.
pliss dijawab/Frown/
hmmmm... 😩😩😩😩😩😩😩