Mutiara Bumi: Sang Kucing Putih dan Sang CEO
Bai Xue adalah makhluk asing berwujud kucing berbulu putih cantik yang datang ke Bumi bersama empat temannya. Misi mereka adalah mengumpulkan Mutiara Energi untuk menyelamatkan planet asal mereka yang terancam punah. Mereka semua bisa berubah wujud menjadi manusia kapan saja.
Di Bumi, Bai Xue berubah menjadi gadis cantik berusia 20 tahun yang mungil, ceria, dan baik hati. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, seorang CEO muda kaya raya yang jenaka, tengil, agak ceroboh, dan memiliki keunikan: ia sangat alergi terhadap kucing.
Awalnya pertemuan mereka penuh insiden konyol, namun lama-kelamaan Xiao Chen mengetahui rahasia Bai Xue dan mulai jatuh hati padanya. Bersama teman-teman alien dan orang-orang kepercayaannya, mereka berusaha mengumpulkan energi sambil melawan musuh yang ingin mencuri kekuatan para alien dan menghancurkan perusahaan Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Musuh
Sore itu, langit berubah menjadi oranye kemerahan yang indah, menyorot ke dalam ruang kerja luas di rumah keluarga Xiao. Setelah pulang dari museum dengan perasaan puas dan gembira, mereka semua berkumpul di sana untuk membahas hasil misi pertama sekaligus merencanakan langkah selanjutnya.
Bai Xue duduk di sofa empuk, tangannya memegang sebuah kotak kecil transparan berisi cahaya keemasan yang berdenyut lembut. Itulah wujud murni dari Mutiara Energi yang berhasil mereka kumpulkan. Wajahnya bersinar cerah, matanya berbinar gembira saat menatap cahaya itu.
"Lihatlah... Energi ini sangat murni dan kuat. Cukup untuk menyalakan penerangan di kota besar di planet kami selama berbulan-bulan. Misi pertama kita sukses besar, dan itu semua berkat bantuanmu, Xiao Chen," ucap Bai Xue tulus, lalu menoleh menatap pemuda yang duduk bersila di lantai di hadapannya.
Xiao Chen tersenyum bangga, mengusak rambutnya sedikit acak-acakan dengan gaya santainya. Ia merasa sangat bahagia bisa menjadi bagian penting dari hal besar ini, jauh lebih berarti daripada sekadar menandatangani kontrak atau mengelola perusahaan.
"Sudah kubilang, itu hal wajar. Aku kan bagian dari tim ini sekarang. Lagipula, melihatmu senyum begitu, rasanya lelahku hilang seketika," jawab Xiao Chen santai, membuat pipi Bai Xue sedikit memerah merona.
Di sisi lain ruangan, Wu Gui, Feng Huang, dan Hu Die berdiri mengelilingi layar proyeksi kecil yang dipancarkan oleh Sistem X-9. Di layar itu terlihat peta kota dengan titik-titik cahaya yang beragam ukurannya, menandakan lokasi-lokasi potensial sumber energi selanjutnya.
"Ada banyak sekali tempat yang bisa kita tuju," kata Wu Gui sambil menunjuk salah satu titik yang sangat besar dan terang. "Tapi ada satu hal yang perlu kami sampaikan dengan serius. Sejak kita kembali dari museum tadi, detektor pergerakan sistem menangkap sesuatu yang mencurigakan."
Wajah Xiao Chen yang tadinya santai seketika berubah menjadi tegang. Ia bangkit berdiri dan mendekat. "Maksudmu?"
Feng Huang menatap tajam ke arah Xiao Chen. "Kita diawasi. Sejak kita keluar dari museum, ada kendaraan yang sama bergerak mengikuti kita dari jarak aman sampai ke gerbang rumah ini. Dan... ciri-ciri kendaraan itu, serta pola gerakannya... sangat aku kenal."
Xiao Chen mengertakkan gigi, tangannya mengepal kuat. Wajahnya yang tampan berubah masam seketika.
"Guo Feng..." desisnya pelan namun penuh kebencian. "Hanya dia yang punya keberanian dan kepentingan untuk mengawasi gerak-gerikku. Dasar manusia kurang ajar! Dia benar-benar tidak punya kerjaan lain selain menguntitku ya?!"
"Siapa Guo Feng itu sebenarnya?" tanya Bai Xue dengan nada khawatir, ia beranjak dari duduknya dan berdiri di samping Xiao Chen.
"Dia adalah saingan terbesarku," jawab Xiao Chen dengan nada dingin. "Orang yang paling aku benci dan orang yang paling ingin menjatuhkanku. Dia licik, serakah, dan tidak punya prinsip apa pun. Selama ini dia selalu kalah dariku dalam bisnis, tapi dia tidak pernah berhenti mencari celah untuk merusak nama baikku atau mengambil apa yang menjadi milikku. Dan sekarang... sepertinya dia mulai curiga pada kalian."
Hu Die mengangguk pelan, wajahnya teduh namun serius. "Aku bisa merasakan emosi jahat dan rasa ingin tahu yang sangat kuat jauh dari sana. Dia tidak hanya ingin tahu apa yang kita lakukan, tapi dia juga menginginkan sesuatu dari kita. Terutama... dia sangat tertarik padamu, Bai Xue. Dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dan berharga dalam dirimu."
"Kalau begitu kita tidak bisa diam saja," kata Tu Zi dengan semangat, telinganya yang terlihat di bawah rambutnya bergerak-gerak waspada. "Kalau dia mau cari masalah, kita kasih pelajaran saja! Aku bisa melompat cepat sekali, bisa memukulnya sampai pusing!"
Xiao Chen menggelengkan kepalanya, meski bibirnya sedikit tersenyum melihat kelakuan polos Tu Zi. "Jangan sembarangan. Guo Feng itu licik. Dia tidak akan bergerak sendiri. Dia punya banyak anak buah, koneksi, dan juga dia cukup berkuasa di kota ini. Kalau kita berbuat kasar, dia akan memutarbalikkan fakta dan menjadikan kita yang terlihat bersalah di mata publik. Kita harus hati-hati, tapi kita juga tidak boleh mundur selangkah pun."
Tiba-tiba, suara dering telepon berdering keras memecah suasana tegang itu. Xiao Chen mengambil ponselnya dari saku celana, dan saat melihat nama penelepon, matanya menyala marah.
"Napas saja aku sudah bau dia... Guo Feng sendiri yang menelepon. Berani sekali dia!" geram Xiao Chen. Ia mengangkat telepon itu dengan kasar, lalu menempelkannya ke telinga dengan wajah galak.
"Apa? Ada keperluan apa kau meneleponku? Mau pamer kemenanganmu lagi? Atau mau mengadu pada ibuku?!" bentak Xiao Chen ketus sejak awal sambungan tersambung.
Dari ujung telepon sana, terdengar suara tawa halus, lembut namun penuh kepalsuan dan kejahatan. Suara yang sangat Xiao Chen kenal.
"Wah, wah... Xiao Chen, Xiao Chen... Masih saja begitu sifatmu. Gampang sekali marah, gampang sekali terpancing emosi. Padahal aku menelepon dengan niat baik lho," suara Guo Feng terdengar santai dan mengejek.
"Jangan bertele-tele! Katakan saja apa maumu!" seru Xiao Chen makin kesal.
"Aku cuma mau mengundangmu," jawab Guo Feng perlahan, suaranya merendah seolah berbisik meski lewat telepon. "Malam ini, di Klub Malam Langit Senja. Ada acara pertemuan para pengusaha besar kota ini. Aku dengar kau punya kenalan baru yang sangat menarik. Gadis cantik berwajah asing, rombonganmu yang baru saja datang. Akan lebih baik kalau kau bawa mereka semua ke sini. Aku ingin berkenalan. Siapa tahu kita bisa bekerja sama dalam hal-hal... yang luar biasa."
Xiao Chen diam sejenak, rahangnya mengeras. Ia tahu betul apa maksud musuhnya itu. Guo Feng sudah melihat mereka, dia tahu ada yang aneh, dan dia ingin memancing mereka keluar agar bisa diperhatikan lebih dekat, atau bahkan dijebak.
"Kau salah dengar. Mereka hanya kerabat jauhku yang biasa saja. Tidak ada yang menarik. Dan aku tidak ada waktu untuk buang napas di dekatmu," jawab Xiao Chen dingin, hendak memutus sambungan.
"Tunggu dulu..." suara Guo Feng berubah sedikit lebih tajam dan mengancam. "Kau tahu kan, Xiao Chen... Aku punya banyak teman di mana-mana. Di museum, di jalanan, di instansi pemerintah. Kalau tiba-tiba ada laporan bahwa ada orang asing yang mencurigakan, yang mungkin membawa barang terlarang atau melakukan hal aneh di tempat umum... kasihan sekali kalau mereka harus diperiksa, ditahan, atau diteliti oleh pihak berwenang. Aku tidak mau hal buruk menimpa kerabatmu itu lho."
Ancaman yang nyata. Guo Feng berani menggunakan kekuasaannya untuk mengganggu dan membahayakan keselamatan Bai Xue dan teman-temannya.
Xiao Chen menahan amarahnya sekuat tenaga agar tidak meledak. Ia tahu musuhnya itu benar-benar gila dan tidak punya hati.
"Baiklah," jawab Xiao Chen pelan dan dingin. "Aku akan datang. Aku akan bawa mereka. Tapi ingat satu hal, Guo Feng... Jangan coba-coba berbuat ulah atau menyakiti siapa pun yang bersamaku. Kalau sampai ada satu pun rambut kepala mereka yang jatuh, aku pastikan kau akan menyesal telah lahir ke dunia ini. Aku akan hancurkan bisnismu, kehormatanmu, dan segala hal yang kau miliki sampai kau tidak punya apa-apa lagi."
"Ah, aku sangat menantikannya. Sampai nanti malam ya, saudaraku," jawab Guo Feng riang, lalu sambungan telepon terputus.
Xiao Chen meletakkan ponselnya ke meja dengan keras, wajahnya merah padam menahan kemarahan yang meluap. Ia berbalik menatap Bai Xue dan teman-temannya yang menunggunya dengan tatapan cemas.
"Dia tahu," kata Xiao Chen singkat. "Dia tidak tahu persis rahasia kita, tapi dia curiga besar. Dia mengancam akan melaporkan kalian sebagai orang asing berbahaya atau mata-mata kalau kita tidak datang menemuinya malam ini. Dia ingin melihat kalian lebih dekat, mencari kelemahan, dan mungkin mencari tahu apa yang sebenarnya kita lakukan."
"Kalau begitu kita harus pergi," kata Bai Xue tegas, wajahnya tidak lagi memiliki senyum ceria biasa, melainkan sorot mata yang kuat dan berani. "Kita tidak bisa membiarkan dia mengganggu misi kita atau membahayakan keselamatan kita. Kita harus menghadapinya, menunjukkan bahwa kita tidak lemah dan tidak mudah ditakuti."
"Tapi ini berbahaya, Bai Xue," sela Wu Gui dengan cemas. "Guo Feng itu licik. Dia pasti sudah menyiapkan jebakan atau rencana buruk saat kita datang nanti. Kita harus sangat berhati-hati."
"Aku akan ikut," kata Feng Huang dengan nada dingin dan berwibawa. "Aku akan awasi setiap gerak-geriknya. Kalau dia sampai berani menyentuhmu sedikit saja, aku pastikan dia tidak bisa berjalan lagi."
"Dan aku juga," tambah Hu Die lembut namun tegas. "Aku bisa merasakan niat jahatnya jauh sebelum dia melakukannya. Aku akan lindungi kalian semua dengan kekuatan emosiku."
Xiao Chen menarik napas panjang, lalu menatap mereka semua satu per satu. Rasa khawatir memenuhi dadanya, tapi rasa bangga dan rasa tekad perlahan menguasai kembali. Ia merasa sangat beruntung memiliki teman-teman sehebat dan sebaik mereka.
"Baiklah. Kita akan pergi malam ini. Kita akan hadapi dia. Tapi dengarkan aturanku baik-baik," kata Xiao Chen tegas, menatap tepat ke arah Bai Xue. "Kamu, Bai Xue... Kamu harus selalu berada di sampingku. Tidak boleh berpisah sedikit pun. Jangan bicara sembarangan, jangan makan atau minum apa pun yang diberikan orang lain, dan jangan pergi ke mana pun sendirian. Aku tidak akan membiarkan dia menyakitimu, tapi aku butuh kerja samamu."
Bai Xue mengangguk pelan, lalu tersenyum manis yang menenangkan hati. Ia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Xiao Chen erat-erat.
"Tenang saja, Xiao Chen. Kita sudah melewati banyak hal sulit bersama. Kita punya kamu, kita punya satu sama lain. Kita akan baik-baik saja. Dan... aku janji, aku akan selalu ada di dekatmu. Tidak akan pergi ke mana pun."
Sentuhan tangan kecil dan hangat itu seolah menyalurkan kekuatan baru ke dalam diri Xiao Chen. Ia merasa berani dan kuat kembali.
"Oke. Kalau begitu persiapkan diri kalian. Kita akan tunjukkan pada Guo Feng siapa sebenarnya kita. Dan kita akan pastikan dia tahu, bahwa mengganggu kita adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya."
Malam itu, suasana menjadi berbeda. Bukan lagi sekadar misi pengumpulan energi, kini mereka berhadapan langsung dengan bahaya nyata dalam wujud manusia yang jahat dan serakah. Di balik kemewahan dan kemegahan kota ini, di balik tawa dan pesta, tersembunyi bahaya yang siap menerkam. Namun, dengan kebersamaan mereka, dan ikatan yang semakin kuat di antara mereka, mereka siap menghadapi apa pun.
Dan malam itu juga, kisah mereka akan memasuki babak yang lebih gelap, lebih menegangkan, namun juga akan semakin mengikat benang-benang takdir mereka menjadi simpul yang tak terputuskan.