Bijaklah dalam memilih bacaan dan dalam berkomentar. Semua hanya fiksi, tapi maaf jika mengundang banyak emosi.
Happy reading!
Bertahan demi anak, adalah sebuah kata yang mudah di ucapkan, tapi begitu sulit untuk dilakukan. Sakit, dan perih, namun harus berusaha kuat dan tetap tersenyum di depan buah hati mereka. Apalagi, ketika terpaksa harus terus tinggal bersama.
Isti wulandari, seorang wanita karier dengan seorang anak perempuan berusia Sepuluh tahun. Dengan semua kesuksesan, kecantikan, dan bahkan kekayaan yang Ia miliki, nyatanya tak menjadikan sebuah jaminan untuk sang suami agar tetap setia. Suaminya kepergok selingkuh, dengan seorang wanita yang Dua belas tahun lebih muda darinya. Dan parahnya lagi, sang suami kekeuh menolak untuk diajak bercerai, dengan alasan anak mereka.
Berhasil mempertahankan rumah tangga, atau akhirnya Isti akan menyerah dan menjelaskan pada sang anak akan permasalahan ini meski harus sakit dengan keadaan yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkai yang mulai tercium
Isti menghela nafas panjang. Merapikan kembali rambut, raut wajah, dan bahkan senyumannya yang kembali Ia kembangkan. Ia kini berjalan menghampiri Zalfa dan Ibu mertuanya yang sedang bermain bersama.
"Kenapa lagi, Is?" tanya Bu Laksmi.
"Tidak apa-apa, Bu."
"Ibu harap, tak ada lagi yang kamu sembunyikan dari Ibu. Ibu bisa terima semua curahan hatimu tentang dia, bahkan jika kamu ingin menangis ketika membicarakannya, Ibu tetap siap mendengar. Ibu sudah terbiasa dengan itu sekarang."
"Iya, Bu. Isti janji, tak akan menyembunyikan apapun lagi dari Ibu nanti." jawab Isti, berusaha menenangkan mental sang Ibu mertua yang sudah mulai menyerah dengan keadaan.
Isti kemudian mengalihkan pembicaraan dengan membahas Laras. Gadis kecil yang sedang Ia perjuangkan kesembuhannya itu. Isti menceritakan dari awal tentang dirinya, tenyang orang tua yang tak perduli lagi dengannya. Hingga sekarang, Ie berjuang dengan para sahabat untuk menggalang dana demi operasi Laras beberapa minggu kedepan.
"Isti minta maaf, kalau nanti Isti akan semakin merepotkan Ibu dan Rani. Isti akan sibuk bertemu dengan banyak donatur nantinya. Isti sebagai orang yang bisa menjelaskan kondisi anak yang ada di ruangan yang Isti pimpin."
"Bekerjalah sesuai hatimu, Is. Ibu mendukungmu, apapun itu. Apalagi, untuk sebuah kebaikan. Anggap saja, ini salah satu cara mengalihkan perhatian dari semua masalah yang ada." ucap Bu Laksmi.
Beliau yang begitu faham benar jika Isti adalah orang yang tulus dalam melakukan setiap tindakannya sebagai tenaga medis. Setulus hatinya ketika mau merawat sang ayah mertua yang sakit waktu itu, meski Ia harus membagi waktu antara semua rutinitasnya.
"Is, Ibu besok mau pulang ke rumah sebentar. Kalau kamu repot, Zalfa ikut Ibu ngga papa. Jadi Rani jemput langsung dibawa kesana."
"Ibu nginap?"
"Engga, cuma mau beres-beres aja, sorenya langsung pulang."
"Yaudah, besok selesai urusan, biar Isti jemput."
Bu Laksmi hanya mengangguk, dengan memberi senyuman manisnya.
Isti pun kembali berdiri untuk mempersiapkan makan malam mereka. Entah Fikri ikut atau tidak, yang penting Isti sudah melakukan kewajibannya pada sang suami yang masih sah dengan status mereka.
Malam tiba, mereka telah usai dengaj makan malamnya masing-masing. Isti kini sedang sibuk menyetrika seragam Zalfa, Fikri, dan dirinya sendiri. Termasuk beberapa pakaian Rani, meski Rani sendiri telah melarangnya melakukan itu.
"Pergilah kerjakan apa yang harus kamu kerjakan. Selagi Mba bisa melakukannya, biarkan Mba saja yang bekerja. Kamu fokus pada skripsimu." ucap Isti padanya. Dan Rani menuruti, dengan kembali menatap layar laptopnya dengan fokus.
Hingga malam tiba, lelah dan tidur dikamar masing-masing. Isti tersadar, jika Fikri tak akan pulang ke rumahnya. Tak apa bagi Isti, karena Ia sudah terbiasa, bahkan memang sudah tak ingin melihatnya lagi.
"Semoga Zalfa tak bangun dan mencarinya malam ini." gumam Isti, karena memang Zalfa sering mengigau dan memanggil Ayahnya di malam hari, bahkan menghampirinya di kamar.
*
*
*
"Mas...." panggil Naya, yang sedang menemani Fikri menonton tv.
"Ya, kenapa?"
"Tadi, aku lihat Mba Isti sama cowok di cafe. Mereka ngobrol berdua, ceria dan akrab banget."
"Cowok?"
"Iya, aku ngga tahu siapa. Tapi duduknya deketan, akrab banget gitu. Dan cowoknya masih muda, lebih muda dari Mba Is deh kayaknya."
Seketika Fikri teringat dengan dokter muda yang beberapa hari lalu mereka temui. Karena memang, dari yang di sebutkan, ciri-ciri mereka hampir sama. Fikri berusaha tenang, mencoba tak terlihat cemburu di depan Naya. Tapi nyatanya berbeda.
Semalaman, Dada Fikri rasanya panas, jantungnya berdegup begitu kencang. Berkali-kali Ia membayangkan apa yang di laporkan Naya padanya. Ia sampai tak bisa tidur, bahkan memejamkan mata pun sukar. Ia memilih keluar, dan menghabiskan beberapa batang rokoknya di sana.
"Apa aku cemburu?" gumamnya, seraya menatap bintang yang berkelipan diatas langit yang gelap.
Hingga pagi datang, Fikri tetap di tempatnya. Tapi Ia baru sebentar melelapkan mata. Naya mencarinya, dan mencoba membangunkannya dengan lembut, hingga bangun lagi dari tidur singkatnya itu.
"Mas, bangun udah siang."
"Hmmm, udah jam berapa?" tanya Fikri.
"Jam tujuh, Mas ke kantor kan hari ini?"
"Iya, tapi siang. Kamu kalau mau berangkat kerja, duluan aja ngga papa." jawab Fikri, yang mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi.
Naya pun menurut, Ia segera pergi bekerja dan meninggalkan Fikri di rumah itu.
Tok... Tok... Tok....!
Suara seseorang mengetuk pintu. Fikri yang sedang sarapan pun berdiri dan membukakan pintu untuknya.
"Selamat siang..." sapa seorang laki-laki.
"Siang, ada apa, Pak?" tanya Fikri dengan ramah.
"Saya adalah ketua RT disini, saya Jafar."
"Owh, silahkan masuk." ajak Fikri padanya.
Mereka pun duduk berdua berhadapan, di ruangan tanpa sofa itu.
"Ada apa, Pak?" tanya Fikri, yang sudah rapi dengan seragam kerjanya.
"Saya hanya ingin mewakili para warga, untuk bertanya mengenai status kalian berdua disini. Apakah kalian sudah menikah, atau...."
"Ka-kami sudah menikah, Pak. Tapi nikah siri, kenapa?"
"Masalahnya, ada sebuah desas desus yang melaporkan jika hubungan kalian itu adalah hubungan gelap. Jadi, bagaimana sebenarnya? Karena orang sini semua heboh mengatakan bahwa saudari Naya itu pelakor."
"Maaf, siapa yang bilang seperti itu?"
"Hampir seluruh Ibu-ibu disini."
Fikri terdiam, Ia berfikir keras bagaimana cara agar Naya tak mengetahui semua ini. Ia akan stres, dan bahkan jiwanya bisa tertekan nanti.
"Saran saya, ajak Istri anda pindah dari sini, agar tak jadi bahan omongan di kemudian hari. Anda tahu, bagaimana Ibu-ibu ketika sudah geram dengan yang seperti ini."
"Baiklah, saya akan coba membicarakan pada Istri saya soal ini. Secepat mungkin, kami akan pindah demi menjaga kedamaian disini." ucap Fikri, berusaha mencairkan keadaan.
Pak Jafar pun keluar, kembali ke rumahnya dan sesuai dengan janjinya untuk menenangkan kondisi semua warga.
Fikri pun akhirnya ikut keluar, Ia tak langsung ke pabrik Melainkan ke rumah sang Ibu.
"Ibu dimana?" tanya Fikri yang meneponnya.
"Ibu di rumah kita, kenapa?"
"Fikri mau kesana. Tunggu Fikri datang."
Ibu Laksmi hanya berdehem. Ia mematikan telepon, dan kembali merapikan rumahnya yang sudah nerdebu akibat beberapa minggu tak di huni.
Kreeeek! Suara pintu terbuka. Fikri masuk, dan mencium tangan Sang ibu. Kemudian meminta mereka duduk bersama.
"Ada apa?" tanya Bu Laksmi.
"Ibu, nyaman di rumah Isti kan?"
"Ya, sangat nyaman. Anggap saja, Ibu sebagai penebus segala dosamu. Dan jiwa Ibu, Ibu gadaikan padanya."
Fikri ingin membalas, tapi tak ingin mencari keributan hari ini.
"Fikri, akan membawa Naya pindah kemari."
Ibu Laksmi yang sedari tadi memasang wajah datar, kini menoleh pada Fikri dan menatapnya dengan begitu tajam. Semakin marah, dan semakin membenci anaknya sendiri. Ingin rasanya meluapkan segala emosinya kembali, memukul, dan menjambak rambutnya seperti ketika Ia masih kecil. Tapi, kini tak kuat. Ia lebih memilih menjaga jantungnya, agar Isti tak kembali repot dengan sakit yang Ia derita.
cb klo aq ogah lah.
lbih baik sendiri jga ank drpd mkn ati doang tiap hari liat wajahnya