Saat membuka mataku aku sudah berada didalam tubuh seorang tokoh Antagonis dalam novel yang berakhir tragis akibat mencoba mencelakai pemeran utama wanita.
sekarang aku yang berada didalam tubuh pemeran Antagonis tersebut dan mencoba membanting setir agar akhir baik untuk antagonis dan hidup bersama tokoh kedua protagonis pria kedua.
Hari-hari berganti ke Tahun aku hidup dalam novel dan berhasil merubah alur tersebut namun tidak dengan takdir, Tubuh yang ku tempati mati terkena racun dan jiwaku terlempar kembali ke masa depan.
Revisi :
Judul sebelumnya : Princess Vilainess
Judul Revisi : Transmigrasi Claudia
yuk ikutin perjalanan waktu bersama Claudia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amelia Chisuga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 25
Alferd meneteskan darah pada kening Claudia, disisi lain tepat dibawah alam sadar Claudia.
Kali ini ia sedang menaruh kepalanya di pangkuan sang ibu.
"ibu, kenapa aku tak terlalu ingat dengan masa kecilku? dan lagi sekarang aku tak bisa mengingat orang tua yang merawatku di abad 21" ucap Claudia.
Florencia mengusap kepala sang putri dengan lembut dan mengatakan "karena ibu tak ingin kau mengingat hal-hal yang akan membuatmu bersedih, dalam buku itu sudah ibu tuliskan disana kenapa dan mengapa ibu melakukan hal itu, dimasa depan kau harus jaga dirimu baik-baik saja. dan kau harus menerima kenyataan jika kau hidup dijaman yang kau tempati sekarang, dunia itu akan baik-baik saja kau tidak bisa kembali ke masa depan"
"baiklah, aku akan mencoba menerima nya" ucap Claudia lalu memeluk sang ibu.
"kembalilah, banyak orang yang menunggumu dan ayah dan suamimu sedang menunggumu sampai jumpa Claudia putri kecilku" ucapnya lalu terlihat sinar terang yang membuat bayangan Florencia menghilang perlahan. "jaga dirimu putriku, bilang pada ayahmu jangan terlalu keras dalam bekerja"
didalam kamar Claudia.
Semua orang dalam kamar tersebut terkejut dalam keheningan saat melihat darah segar milik Luca diteteskan pada kening Claudia. kenapa harus darah milik seorang anak kecil? kenapa bukan milik orang dewasa? begitulah yang mereka tanya-tanyakan pada pikiran masing-masing.
Namun ajaib setelah darah Luca diteteskan pada kening Claudia tak lama ia mulai membuka matanya perlahan namun tanda di keningnya mulai menghilang.
Dengan pandangan masih buram dan setengah sadar, Claudia menutup matanya kembali membuat semua orang khawatir termasuk dengan dua orang pria yang masing-masing disamping Claudia.
"Claudia...!" ucap bersamaan dua orang pria tersebut.
Mereka tak lain ialah ayah dari Claudia dan juga suaminya.
Claudia kembali membuka matanya yang saat ini pandangannya mulai jelas melihat semua orang yang ada dikamarnya.
"em..." dengan suara seraknya mencoba mengatakan sesuatu.
"sebaiknya kau istirahat, kau pasti kelelahan mencoba kembali ke alam sadarmu kan?" sambar Alferd yang membersihkan darah di kening Claudia.
Claudia menganggukkan kepalanya mencoba mencerna keadaannya.
"akan ku bantu kau duduk" tambahnya.
Ingin rasanya marah melihat lelaki lain perhatian pada istrinya bagi Raphael namun ia urungkan karena ia tak mau egois karena Claudia baru bangun dari tidurnya sudah seminggu ia tertidur.
Claudia duduk menyender pada kepala ranjang lalu mengusap perutnya yang sudah rata.
"em bukannya aku hamil? kemana isi didalam perutku?" tanyanya sedikit panik. "dan Luca tanganmu kenapa? begitu??"
Raphael yang kini duduk di pinggir ranjang lalu menggenggam tangan milik Claudia.
"anak kita sudah lahir sekarang mereka sedang tidur dan tangan Luca berdarah karena dia tak berhati-hati dalam latihan pedagang nya" ucapan nya bohong.
"ayah, kakak kalian tidak perlu khawatir aku baik-baik saja, dan untuk suamiku terimakasih sudah menungguku"
Mereka bertiga hanya menarik senyuman tipis untuk Claudia lalu Raphael mengusap rambut nya lalu mencium kening Claudia.
Dalam ruangan tersebut sangat hening namun tak lama keheningan tersebut terpecahkan ketika suara seorang pria paruh baya terlontar sebuah kata-kata dari mulutnya yang membuat semua orang tercengang.
"aku akan membawa Claudia pulang" ucapnya tegas. "sudah berapa kali seperti ini? untuk sementara aku akan menjaga putriku" imubuhnya.
Sontak Raphael langsung berdiri dari duduknya dan menghadap pada mertuanya itu.
"tidak bisa ayah, aku sekarang suaminya dan kami sudah memiliki keturunan, kami tidak bisa berpisah kasihan bayi kami" ucapnya tak terima.
Duke Nilson hanya menganggukkan kepalanya tanda ia tak bisa membantah kebenaran status yang disandang putrinya kini. Sebenarnya ia sangat khawatir tentang keadaan putrinya itu karena ia tak ingin kehilangan kembali seperti saat ia kehilangan mendiang istrinya.
"baiklah, aku tak ingin keras kepala tapi jika ada sesuatu yang membuat putriku tersakiti aku tak segan membawanya" ucapnya.
Lalu Ardhan sang kakak duduk dibibir ranjang yang ditempati Claudia.
"kakak senang kau kembali, kau pasti bertemu ibu kan? dia sangat cantik mirip denganmu, jaga dirimu baik-baik kakak akan menjagamu dan juga keponakan kakak dari jauh, hiduplah bahagia bersama suamimu" ucap Ardhan sembari mengusap rambut milik Claudia.
Claudia menarik senyuman hangatnya,"terimakasih kakak selalu menjaga ku, dan cepatlah menikah agar kakak tidak kesepian karena aku sekarang sudah tak disampingmu"
"itu hal gampang, sekarang keselamatan adikku lebih penting, kakak tak perlu menikah karena sekarang aku memiliki keponakan yang sangat mirip denganmu" tambahnya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Satu bulan berlalu setelah kejadian itu kini Claudia sedang duduk di rumah kaca tentunya ditemani oleh si kembar dan juga peri kecil yang selalu menemani nya.
"yang mulia maafkan saya karena tak bisa membantu anda lebih banyak lagi karena kekuatan kami dibatasi"
"tidak apa Roxi, sepertinya anak kembar ku bisa melihat mu" ucap Claudia.
Tangan mungil tersebut menarik sayap milik peri kecil tersebut membuat Claudia terkekeh melihatnya.
"yang mulia tolong aku, huhu.....T_T.."
Namun Claudia tak menghiraukan Roxi yang kini tengah sibuk melepaskan sayapnya, ia samar-samar mendengar suara kecil yang sedang berbicara. Claudia bangkit dari tempat duduknya dan mencari sumber suara itu berasal.
"ah ternyata kalian, kemarilah jangan takut kalaian boleh melihat anak-anak ku" ucap Claudia kepada para peri kecil yang sedari tadi memperhatikan nya.
Claudia kembali duduk lalu membiarkan kedua anak kembarnya bermain dengan peri kecil yang berada di dekatnya.
"aku masih penasaran dengan isi buku itu tapi ibu sudah menjelaskan tentang isi buku tersebut, tapi aku sangat penasaran asal usul ibu" gumamnya.
💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢
Jangan lupa untuk support author dengan like, komen dan jadikan favorit!!
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
aku aja kecewa sama kamu raphael palagi claudia..😣😣
AAA, SUMPAH KESAL BANGET AKU LIHATNYA!!!