Saat terbangun aku sudah berada di tempat yang asing. Aku memutar tubuhku untuk melihat lebih jelas dimana aku berada, aku merasa sedang diawasi, dia.. dia melihat kearah ku dengan mata merahnya. Dan dia tersenyum, terlihat dua buah taring keluar dari bibirnya..
Haloo semua... ini cerita pertamaku di MangaToon, Aku harap kalian seneng bacanya, semua cerita yang akan kutulis harus Happy Ending!
Why
Why
Why
Karena kopi pait adanya didunia nyata yaa, so aku bikin cerita yang bikin kalian senyum-senyum aja, just Have Fun in my Fantasi World ♥️♥️♥️
Oh yayayaa, jangan lupa love, like, kalo bisa comment juga, biar aku semangat gadang tiap malam 😆😆😆 demi kalian pencinta Fantasi World.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BFK.11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Baru
Alice mencium Gara dengan lembut. Membelai wajahnya, lehernya, pipinya, dan punggungnya.
Gara memandang Alice dengan penuh kasih, dia tersenyum.
"Maukah kau memberikan setetes darahmu kepadaku?" Gara berbisik.
Alice tidak berkata apa-apa, dia hanya tersenyum nakal dan mendekatkan lehernya pada mulut Gara.
"Dengan senang hati Nona.." Gara berbisik
Gara menjilat leher Alice, dia menciumnya dan membenamkan taringnya di leher Alice untuk yang ke dua kali.
Uuuhk
mmmmhp
Aaaah
Alice menutup matanya, dia menikmati momen saat Gara menghisap darahnya, setelah itu Alice bergantian menghisap leher Gara.
Alice dan Gara tertidur pulas setelah kelelahan, mereka mengakhirinya dengan ciuman yang sangat panas.
Seharian Alice tidak beranjak dari kamar Gara, Gara meminta untuk tidak diganggu ketika bersama dengan Alice, Dan semua orang mengerti.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu,
"Tuan, permisi.. Baginda Raja meminta anda dan Nona Alice menemuinya.."
Dean mengakhiri pesannya dan berjalan menjauh.
Gara terbangun mendengar suara ketukan pintu, dia mengerjapkan kedua matanya, kemudian melihat disebelahnya tertidur seorang gadis yang memeluk pahanya dengan erat.
Gara tersenyum, dia melihat Alice sedang tertidur nyenyak, terlihat sedikit sisa darah yang menempel di atas bibirnya.
Rambut Alice berantakan dan memenuhi tempat tidurnya, kemudian Gara merapihkan rambutnya dan mengecup kening Alice.
"Sayang, ayahku ingin menemuimu.. apakah kau ingin ikut bersamaku?" Bisik Gara.
Dengan cepat Alice bangkit dari tempat tidur.
"Ya Tuhan, aku akan pergi denganmu. Tidak mungkin aku membuat Yang Mulia Raja menungguku.." Jawab Alice.
"Tapi kau tau, apakah kau ingin membersihkan mukamu terlebih dahulu?" Gara bertanya sambil menutup mulutnya menahan tawa.
"Apa? ada apa dengan wajahku??" balas Alice.
Gara memberikan cermin pada Alice.
"Ya Tuhan, aku terlihat seperti penghisap darah, kau tau.." Alice mengikat rambutnya asal.
Dia berlari ke luar untuk membersihkan wajahnya.
Setelah merapihkan diri Alice dan Gara berjalan ke Aula. Aura Alice seketika berubah, tidak ada satu pasang matapun yang berani memandangnya. Mereka menundukan kepala.
"Hallo Aliice.." Seseorang menepuk punggung Alice dari belakang.
"Tuan Muda Eric..." Alice memberi salam.
"Tidak perlu sungkan, kau tau. Kita akan menjadi saudara sebentar lagi." Eric tersenyum.
Alice merona, wajahnya memerah seperti tomat sekarang.
"Hentikan Eric, sudah cukup kau menggodanya." Ucap Gara.
"Kau memang tak pernah berubah Gara." Jawab Eric.
"Kau tau, aku hanya menggodanya. Tapi, aromamu semakin kuat saja Alice.." Tambah Eric.
Alice mengendus tubuhnya.
"Aku tidak mencium apapun.." Jawab Alice.
Gara menutup mukanya.
"Honey, kau tidak dapat menciumnya, orang lain yang dapat melakukannya. Kau tau seperti kita memakai parfum, kita tidak akan mencium parfum kita karena sudah terbiasa dengan hidung kita, begitupun aroma darahmu sayang.." Ucap Gara.
"Hmm, aku mengerti.. tapi kau tau, aku hanya harus melahirkan anak.." Alice tersenyum.
"Apa maksudmu?" Tanya Eric.
Wajah Gara menegang, dia terlihat gugup. Gara mencoba mencari topik pembicaraan lain, namun tidak berhasil. Beruntung Dean menemukan mereka dengan cepat.
"Tuan Muda Gara, Tuan Muda Eric dan Nona Alice.. Yang Mulia Raja telah menunggu.."
Mereka bergegas menuju Aula, untuk sementara Gara dapat mencari alasan lain jika Alice mengingat hal tadi.
Namun Eric masih penasaran, dia ingin bertanya pada Alice dan Gara namun untuk sekarang dia akan menyimpannya sendiri.
"Yang Mulia Raja, hormat saya..." Alice menundukan kepalanya.
"Kemarilah Alice.." ujar Raja.
Alice berjalan menghampiri Raja, kemudian Raja membelai kepalanya dengan lembut.
"Alice.. apakah kau merasa nyaman dengan tubuh barumu?" Tanya Raja.
Alice tersenyum, dia memperlihatkan gigi taringnya.
"Yang Mulia, suatu kehormatan bagi saya untuk berada disini, terimakasih untuk Gara yang telah menyelamatkan saya malam tadi, jika Gara tidak datang maka saya tidak akan bisa berdiri dihadapan Anda." Alice menundukan kepalanya.
"Aku senang kau bisa menerima keadaan mu yang baru, namun aroma tubuhmu semakin tercium sayang.." Belum selesai Raja berbicara, dengan cepat Gara memotongnya.
"Ayah..!!" Gara menatap tajam Ayahnya.
Seperti kode, Raja mengetahui maksud Gara dan menghentikan pembicaraan.
"Ada apa Gara?" Tanya Alice penasaran.
"Tidak, tidak apa-apa.." Gara mencoba tersenyum.
Tidak lama kemudian datang William mendekat.
"Halo Alice.." William tersenyum.
"Hai Wil.. hmm terimakasih untuk yang terakhir.." Alice menambahkan.
"Oh, tentu.. tidak masalah.." Jawab William.
"Ada apa Will..?" Tanya Raja.
"Ayah.. mungkin kau tau, malam ini adalah Malam Bulan Purnama yang terakhir bulan ini. Aku merasakan hal yang aneh diluar sana."
"Maksudku, bagaimana jika Bibi Anna dan Hans kita undang ke istana untuk sementara.." Tambah William.
"Bagaimana Alice?" Raja menatap Alice.
"Saya hampir lupa dengan Bulan Purnama.. terimakasih Will.. aku akan sangat senang jika dapat bertemu dengan Bibiku dan Hans disini.." Alice tersenyum.
Yang Mulia Raja memerintahkan pelayan untuk menjemput Bibi Anna dan Hans dirumahnya.
Mereka datang sebelum malam.
Alice menyambut kedatangan Bibi Anna dan Hans, Sebelumnya Gara memperingati Alice untuk berhati-hati, karena Bibi Anna dan Hans adalah manusia.
Alice menunggu didepan gerbang, dia dapat mendengar suara kereta kuda dari kejauhan bahkan percakapan Bibinya dan Hans.
Ketika kereta kuda berhenti Alice mencoba mengatur nafasnya, Gara berada disana mendampinginya.
Hans lebih dulu turun, kemudian disusul oleh Bibi Anna. Bibi Anna terlihat senang saat melihat Alice menyambutnya, Hans tersenyum.
Dengan cepat Bibi Anna memeluk Alice, dia belum menyadari perubahan Alice, namun Hans sudah menatap matanya dan melihat perubahan Alice, raut wajah Hans menegang.
"Alice.. sayang, mengapa badanmu dingin sekali sayang.." Bibi Anna memakaikan syal wolnya yang tebal.
Bibi Anna menatap wajah Alice dan menutup mulutnya.
"Ya Tuhan..."
Alice tidak kuasa menahan tangisnya, dia duduk dan memeluk lututnya.
Uuhhh
Huuuuuhuhuhu
Uhhh
Huuuu
Bibi Anna memeluknya dengan kuat, Hans berjalan ke arah Alice dan memeluknya.
"Alice.. sayang, apakah sakit??" Bibi Anna tidak kuasa menahan tangisnya, air matanya bercucuran.
Hans tidak mengatakan sepatah katapun, dia menutup matanya dan menangis. Hatinya perih bagai diiris-iris.
Gara meninggalkan mereka dan berjalan menuju Aula. Gara memberikan waktu untuk Bibi Anna dan Hans agar bisa terbiasa dengan Alice yang baru.
padahal ceritanya mantaaaaaaaf ...aku suka aku ssuka
lanjuuuuuuut thor sampai keistimewaan si kembar di perlihatkan .
keluarkan imajinasimu yg rrrruuuuuuuuuaaaaaaaaaaarrrrr biasaaaaaaaah ...
akuu tunguuuu...