"Sepertinya aku jatuh cinta dengan pencuri yang masuk ke rumahku."
-Sandra Ellen-
"Sepertinya aku jatuh cinta dengan pemilik rumah yang barangnya kucuri."
-Senapati-
Suatu hari, Sandra Ellen mendapati rumahnya disusupi pencuri. Seluruh makanan di dapur, isi kulkas dan kue kering di konternya digasak.
Kali pertama, Sandra membiarkannya, ia berpikir si pencuri cukup aneh karena hanya menyasar dapurnya.
Si pencuri datang lagi sebulan kemudian, kali ini Sandra membekali dirinya dengan cctv, pentungan besi dan ponsel.
Lagi-lagi hanya dapurnya yang disasar.
Sandra mencoba memergokinya. Lalu memberikan si pencuri itu sejumlah uang dengan syarat untuk tidak kembali lagi ke rumah Sandra.
Besoknya si pencuri kembali lagi. Kali ini terang-terangan dari pintu depan, tanpa masker yang menutupi wajahnya.
Astaga, tampan sekali!!
Pikir Sandra.
Sena, si Pencuri, berniat untuk memperlihatkan rasa terima kasihnya dengan bekerja untuk Sandra, senilai uang yang kemarin diberikan Sandra padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Malang
Los Angeles. USA
Vou menatap bukit tinggi menjulang di depannya.
Amerika dengan pemandangan fenomenalnya. Sering terlihat dari layar bioskop dengan film-film box officenya. Dan kini, Vou menikmatinya dari balkon 'rumahnya'.
Rumah sewaan pacarnya, lebih tepatnya.
Langit cerah hari ini, tetapi hatinya mendung.
Mendung sampai terasa akan terbit badai.
Ia akan terus begini sampai ia bertemu anak-anaknya.
Vou benci melihat mereka, tapi juga merindukan mereka.
Benci... Karena mengingatkan akan masa lalunya yang kelam.
Rindu... Karena bukan tanpa alasan Vou bersedia mengandung dan melahirkan mereka dengan bertaruh nyawa.
Namun,
Ia juga butuh hidup tentram dan bahagia.
Setelah hari-harinya tanpa kehadiran Sena dilaluinya bagai neraka.
Vou mulai belajar kalau ia bisa memanfaatkan kecantikannya untuk bertahan hidup, lepas dari kukungan ayahnya.
Juga ia menyesal kenapa tidak ia lakukan sejak lama.
Vou mengelus lengannya, merinding.
Setiap ia melihat wajah Mia yang cantik. Bagaikan perpaduan dirinya dan...
Ayahnya.
Vou tidak menyangka kecantikannya juga membawa tragedi terbesar dalam hidupnya.
Sampai sekarang, ia memiliki sindrom 'mandi sesering mungkin'! Setiap ia mengingat bagaimana ayahnya menyentuh dirinya.
Ia selalu merasa kotor!
Membayangkan wajah almarhum saja langsung membuatnya sangat mual.
Lalu perlahan ingatannya mulai ke masa lalu.
Saat tragedi Mia terjadi dan tersangka belum ketemu.
Saking shocknya ia sampai pingsan berkali-kali.
Apalagi saat diberitahu kalau Mia membutuhkan donor darah.
Vou panik.
Jangan sampai Sena tahu yang sebenarnya.
Ia diberitahu saat Mia dilahirkan, kalau golongan darah Mia A. Sedangkan Vou dan Sena B.
Ibu Vou juga B. Tapi Ayahnya A.
Mau tidak mau, ia minta bantuan ke... Ayahnya.
Mati-matian ia memohon ke pihak rumah sakit agar menyembunyikan hal ini. Buat alasan sebisa mungkin, bekerjasama dengan Vou, agar Sena tidak mendonorkan darahnya. Juga agar ayahnya dapat diambil darahnya tanpa sepengetahuan siapa pun.
Saat selesai pengambilan darah. Ayahnya menatap Vou dengan pandangan mesum dan licik.
"Kan sudah bapak bilang dulu, gugurkan. Kalau begini kan dia jadi menyusahkan banyak orang. Memang bawa sial anak itu!"
Betapa geramnya Vou mendengarnya.
Ia langsung mendendam ke ayahnya saat itu juga.
Lalu Vou meminta Sena untuk melakukan investigasi sendiri, tanpa menunggu kepolisian. Karena akan lama birokrasinya, menurut Vou.
Nassib berpihak pada mereka, Sena mengetahui pembunuhnya tidak sengaja saat para debt collector sedang mabuk-mabukan di kantor. Dan salah satunya mengaku dengan gamblang kalau ia lah yang melakukan 'hal itu'.
Berikutnya... Mimpi buruk!
Vou tidak menyangka Sena langsung melakukan penghakiman di tempat.
Sekaligus ia merasa sangat bersalah karena Sena bahkan membela Mia yang bukan anaknya.
Saat Sena tidak ada, sebisa mungkin Vou menjauhkan Mia dari ayahnya.
Bantuan yang diberikan saat donor darah adalah harus yang terakhir kalinya. Ia tidak ingin berhutang budi pada pria bejat itu lagi.
Jadi untuk biaya sehari-hari, hutang rumah sakit dan perawatan Mia, Vou terpaksa menghubungi teman sekolahnya. Seorang artis muda yang gosipnya juga seorang mucikari.
Memang disitulah rejeki Vou. Ia menjadi simpanan pengusaha kaya.
Juga sekaligus, ia butuh tameng sepeninggal Sena. Agar ayahnya segan berdekatan dengannya.
Terbukti, ayahnya tidak mendekat, ibunya juga bahagia dengan pemberian uang haram darinya.
Namun...
Saat itu Vou harus menemani pacarnya ke luar negeri. Otomatis, Mia dititipkan ke ibunya.
Setelah tiga hari ia pergi Vou selalu mengkontrol Mia setiap pagi dan sore.
Ibunya bilang, Mia baik-baik saja.
Nyatanya, tidak.
Mia mengadu pada Vou saat pulang, kalau 'kakek sentuh Mia di sini. Katanya mau membersihkan. Tapi sakit Mah.'
Vou geram.
Lalu...
Menghubungi pembunuh bayaran.
Usahakan agar terlihat seperti kecelakaan.
Begitu pesan Vou.
Bayaran 100juta sekaligus.
Sialnya, seharusnya ayahnya pergi sendirian, namun perubahan rencana yang tidak diduga Vou, ibunya ikut pergi.
Mereka berdua meninggal karena kecelakaan.
*****
"Ngapain melamun terus?" sebuah tangan besar merangkul pinggangnya dan mengecup lehernya.
Menyadarkannya dari masa lalu.
"Hehe. Hanya mengagumi pemandangan." kata Vou.
"Secantik kamu..."
Vou tersenyum menanggapi perkataan Vincent.
"Aku dapat undangan menghadiri pameran eksklusif bulan depan di Indonesia. Pameran perhiasan. Kabarnya, semua konglomerat akan hadir. Kamu mau ikut? Kalau iya kupesankan satu lagi undangan."
"Oke, Mas. Pameran perhiasan brand apa?"
"Luster Schon Jewelry. Anak usaha Jarvas Co."
"Waah... Lagi booming itu mas! Aku pakai cincinnya nih." Vou memamerkan cincin berbentuk mawar dari emerald di tangannya.
Vincent mengangguk mengagumi benda berkilau di tangan Vou.
"Besok temanya perhiasan laki-laki. Lumayan menarik konsepnya."
"Oke Mas. Kita pulang ke Indonesia kapan?"
"Minggu depan kita pulang."
Vou tersenyum senang.
Ia berkesempatan mengunjungi anak-anaknya.
Ia tidak sabar ingin bertemu mereka.
*****
Sena melirik Sandra yang sibuk dengan laptopnya, berbaring setengah duduk di samping Sena.
Wanita itu terlihat sedang menggambar melalui Drawing Pad.
"Tidur." desis Sena.
"Kamu duluan sana tidur."
"Kamu ngga capek?"
"Capek, tapi konsep harus kukirim sebelum Senin."
"Kali ini apa temanya?"
"Hm." Sandra memperlihatkan layar laptopnya ke Sena. "Perhiasan untuk sosialita yang suka mengurusi sendiri anak-anaknya."
"Hm. Jangan yang matanya dipatri. Bisa dilapisi pakai resin aja ngga biar ngga gampang copot?"
"Batu mulia dilapisi resin? Penghinaan..." dengus Sandra.
"Kalau konsep kamu begitu, suatu saat terkulum bayi, bisa saja copot."
"Benar juga..." Sandra langsung kembali fokus.
Buyar sudah rancangannya.
Untung belum 40%.
Kenapa dia tidak minta pendapat Sena sejak awal?!
"Aku bikin rusak rancangan kamu ya." Sena langsung bisa menebak raut wajah Sandra yang bersungut-sungut.
"Iya. Dasar pengacau." gerutu Sandra.
"Hehe. Kamu cantik kalau cemberut."
Drak!
Sandra menutup layar laptopnya.
Apa tadi dia bilang?!
Pikir Sandra.
Wajahnya langsung berasa panas.
"Kenapa?" tanya Sena.
"Heeeemmm... Tiba-tiba ngga bisa mikir. Aku tidur saja. Kamu kapan pulang?"
"Itu harusnya pertanyaanku, Sandra."
"Aku nginep. Aku udah bawa baju buat besok. Kamu kan belum pulang, ngga kuatir sama rumah kamu?"
"Ngga ada yang bisa dicuri di sana."
"Atau kamu tidur saja di rumahku. Nih kuncinya." Sandra mengacungkan kunci rumahnya.
"Hei... Kamu ini kenapa ngelantur sih?" Sena mendorong tangan Sandra.
Lalu ia berbaring di sebelah Sandra dan menarik selimutnya.
"Tidur, jangan kerja terus. Bisa-bisa kamu gantiin Mia diinfus." sahut Sena sambil miring membelakangi Sandra.
"Kamu tidur di sini?"
Pertanyaan bodoh, Sandra. Ya sudah pasti lah, ini kan ranjang untuk keluarga yang menunggui pasien.
Dan Sena sudah jelas-jelas keluarganya.
Sedangkan Sandra hanya orang lain.
"Sofanya ngga muat. Kakiku kepanjangan." kata Sena.
Sandra menatap punggung bidang itu.
Dengan kaos hitam yang baru mereka beli di mall.
Dan selimut yang melingkari pinggangnya.
Di balik itu ada celana training hitam yang juga baru.
Di balik celana training, ada boxe...
Ssshh!!!
Sandra mengipasi dirinya sendiri, berusaha menghilangkan pikirannya yang melayang tanpa arah.
Jadi wanita itu akhirnya bersiap-siap tidur.
Waktunya skincare malam dan piyama.
Ia menyambar pouch make upnya, dan tas totebag yang berisi beberapa stel piyama celana kekinian.
Lalu masuk ke kamar mandi untuk menggosok giginya.
*****