Akulah Al, sang pewaris kekuatan supranatural.
Akulah Al, sang pembuka gerbang dua alam.
Akulah Al, sang mata batin yang akan melindungimu dari ilmu hitam.
Akulah Al, sang paranormal yang tidak pernah diperhitungkan.
Akulah Al, sang petualang alam gaib yang penuh romansa, darah dan kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ch 25
Tengah malam baru saja lewat, aku bermeditasi mempersiapkan perjalananku mencari Damar. Aku merasa Ki Ageng menyembunyikan keris lanang itu agar energinya tidak terbaca orang lain.
Sebelum aku pergi, Kaji Idris datang menghampiriku dengan senyum kharismatiknya. Kakek buyutku ini beberapa waktu tidak menampakkan diri padaku.
Biasanya dia datang dengan wejangan, pengajaran dan pengetahuan. Setelah mengucapkan salam aku duduk khidmat di depannya, siap menerima apapun yang akan diberikannya.
Beliau meminta kami menaiki Turonggo Jagad untuk menjelajahi tempat baru. Hutan suram dengan minim cahaya membuat semua tampak abu-abu dalam pandangan mata.
"Lama nggak ketemu kamu Cah bagus, aku akan mengajakmu mengamati apa yang terjadi dalam alam lelembut ini. Bukalah seluruh inderamu!"
Aku menajamkan semua indera agar bisa mendengar, melihat dan merasakan apa yang ada di sekelilingku. Bayangan-bayangan hitam berkelebat seperti kelelawar terbang, berlari dan kadang terlihat seperti bertabrakan. Suara bising pembicaraan yang aku tidak mengerti juga terdengar seperti pasar karena saling tumpang tindih antara satu suara dengan suara lainnya.
"Amati yang itu!" Perintah Kaji Idris menunjuk pada bayangan hitam besar yang sedang duduk bersila diatas batu hitam. Posisinya membelakangi kami, sepertinya dia sedang mempersiapkan diri.
Lamat-lamat aku mendengar suara berat perempuan tua sedang membaca mantra.
'S**hang nyang cipto gumono, rawuhno sejatining… kang aperojo hing songgobuwono rawuh rawuh rawuh mijil dateng pangarsanisun…'
Makhluk hitam itu terkesiap ketika mendengar mantra itu, seperti sebuah panggilan untuknya. Ia melesat dan menghilangkan dirinya menuju suara pemanggilnya.
"Itu tadi mantra pemanggil roh atau makhluk halus dari alamnya. Namanya Ajian Cipto Gumono. Orang yang mengerti pusaka biasanya punya ajian ini, baik untuk mengisi pusaka atau sebagai bala bantuan jika diperlukan karena kekuatannya untuk mengendalikan makhluk yang dipanggilnya.
Sedangkan Selikur Lanjaran hanya boleh menggunakan Asmoro Kuning untuk memanggil makhluk gaib seperti yang sudah kuajarkan padamu. Semua makhluk yang ada di sini bisa dipanggil dan diperintah oleh orang yang memiliki kemampuan linuwih, tapi semua pasti ada syarat yang harus dipenuhi. Artinya tidak ada yang gratis jika ingin menggunakan bantuan lelembut."
"Nggeh, Kaji." Aku memerintahkan naga hitam itu untuk kembali ke pendopo dengan kecepatan maksimal yang dia bisa setelah acara mengintip di tempat itu selesai.
Kami terbang pulang melewati pinggiran hutan dengan sungai yang airnya berwarna kehitaman, terkesan kumuh. Tapi di tepiannya banyak sekali makhluk berjenis perempuan yang sedang beraktivitas ataupun hanya duduk bersemedi. Sepintas seperti acara mandi dalam dongeng bidadari.
Sementara bagian lain hutan yang terlewati hanya berupa lubang-lubang gelap seperti sumur besar dengan asap kekuningan mengepul dari sana.
Sesampainya di pendopo, kami kembali duduk berhadapan, aku siap mendengarkan apa yang akan buyutku ucapkan.
"Aku nggak isok sue, Cah bagus. Tapi ada hal yang harus aku sampaikan padamu mengenai pantangan yang sudah menjadi pakem Lanjaran. Tidak boleh dilanggar jika kamu ingin kemanden ini tidak pernah luntur. Sekali kamu melanggar kemandene akan hilang selama 7 tahun. Kamu tidak akan diberkahi apa-apa selama itu selain kesengsaraan."
"Nggeh, apa pantangannya Kaji?"
"Pantang menumpahkan air pada yang bukan wadahmu," terang Kaji Idris yang tak kumengerti maksudnya.
"Maksudnya apa Kaji? Maaf saya tidak paham."
"Maksudnya pantang menumpahkan air ma*nimu itu pada wanita yang bukan istrimu, pantang berselingkuh bagi Lanjaran, Cah bagus."
"Tapi saya kan belum menikah Kaji?"
"Ya ini repotnya, cuma kamu yang jadi Lanjaran sebelum menikah. Seharusnya masih 10 tahun lagi, kamu masih terlalu muda dan labil saat ini Cah bagus. Tapi intinya nggak boleh ya! Paham kan?"
"Kalau sendiri di kamar mandi boleh?" Tanyaku menunduk dalam. Sebenarnya aku geli dengan pertanyaanku, tapi biarlah sudah terlanjur terucap. Kami tinggal pada zaman yang berbeda jadi wajar saja kalau aku banyak bertanya.
"Repot musuh arek cilik lahiran Rebo Kliwon iki, cocoke jadi Lanjaran cinta" gumam Kaji Idris menahan tawa. "Terserah kamu, pikiren dewe soal itu!"
Aku mengangguk malu, "sendiko dawuh, Kaji."
"Apa Lanjaran lain tidak ada yang hari lahirnya sama dengan saya, Kaji?" Aku penasaran apa leluhurku ada yang tingkahnya sepertiku waktu muda.
"Tidak ada satupun Lanjaran yang mempunyai hari lahir dan weton sama, karenanya setiap Lanjaran punya satu keunggulan yang tidak dipunyai Lanjaran lainnya. Begitu juga kamu nantinya."
"Apakah seorang Lanjaran bisa mengundurkan diri, Kaji?"
"Sayangnya tidak, Cah bagus."
"Tapi kenapa?"
"Karena Lanjaran tidak lahir pada setiap generasi."
"Bagaimana jika saya ingin hidup normal?"
"Bukannya kamu sudah hidup dengan sangat normal di duniamu? Tidak normal bukan hanya karena mereka punya kelebihan, mereka yang punya kekurangan dan menyimpang dari kodrat apa bisa disebut hidupnya normal?" Kaji Idris menghilang bersama suara salamnya.
Aku mengendapkan kata-kata leluhurku itu untuk aku pikirkan nanti, mungkin aku perlu bertanya beberapa hal pada Mom agar lebih jelas.
Selanjutnya aku kembali menaiki naga hitam yang sudah menungguku dari tadi, aku mengelusnya. Aku memberikan perintah hanya dengan kata hati dan diapun terbang membawaku ke rumah Ki Ageng untuk kembali mencari Damar Jati.
Dari sini rumah itu tampak tua, angker dan gelap. Tapi penuh dengan penghuni yang rupanya beraneka ragam. Mulai dari bentuk binatang melata sampai binatang buas. Meski ada juga yang berbentuk manusia dengan banyak keanehan pada tubuhnya.
Dan ya, banyak sekali wanita di sini. Apa ini surganya lelembut? Ternyata mereka juga begitu cantik-cantik meskipun ada hal yang tidak sempurna di tubuhnya. Cacat. Entah itu di mata, tangan atau bagian tubuh lainnya. Mengingatkanku pada sungai yang tadi aku lewati, apa mereka ini dipanggil kesini dengan mantra juga?
Aku melihat yang kucari ada disini, bersenang-senang di antara kaki para bidadari. Damar Jati. Ki Ageng memang pandai menyamarkan energi Damar dengan menyembunyikannya di antara energi hitam lain sebagai pagar yang mengelilinginya.
Aku membawa Turonggo Jagad terbang rendah dan memamerkan keris Asih Jati yang memijar panas seperti lahar, setelahnya dalam sekejap aku pergi menjauh. Aku yakin Damar Jati akan mengejar istrinya setelah aku membaca pengasihan pusaka dan menyebutkan namanya.
Bukit tandus ini aku jadikan tempat menunggu Damar Jati. Benar saja, hanya dua kedipan mata aku sudah melihatnya mendekat membentangkan keris hitam di depan dadanya. Yah, dia memang rupawan seperti yang diceritakan Lucia, di dunia nyata sangat tidak cocok pakaiannya yang ala pendekar itu.
"Siapa kau anak muda? Mengapa pusaka istriku ada padamu?"
"Karena dia memberikannya padaku, Damar. Aku yakin dia tidak suka kau berselingkuh darinya dan tidak berusaha mencarinya di gunung yang jadi tempat perjanjian bertemunya kalian," kataku mengejek mengingatkannya.
"Dukun tua itu memperdayaiku, Anak muda. Aku terikat janji dengannya, dan aku tidak bisa melepaskan diri. Satu-satunya cara agar kami bersatu, aku yang harus membawa pergi Asih Jati darimu supaya dia bisa terus bersamaku."
"Asih juga terikat janji denganku, Damar. Dia tidak akan pergi dengan mudah dariku. Lebih baik aku menghabisimu, kau sudah merusak salah satu teman wanitaku. Aku tidak akan membiarkan benihmu bertebaran di rahim manusia lainnya!"
Damar Jati tertawa congkak, "Aku berhak mendapatkan bayaran dari Ki Ageng atas bantuan yang aku berikan padanya, aku bebas memilih wanita yang datang padanya, temanmu itu salah satunya, aku suka bau tubuhnya. Aku menitipkan penjaga di rahimnya. Dan soal Asih Jati istriku, dengan senang hati aku akan merebutnya darimu!"
Aku bersiap, aku akan melawannya dengan pusaka milik istrinya. Hawa panas yang keluar memijar memberikan sedikit cahaya pada tempat gelap ini. Dengan jarak lima depa aku dan Damar saling mengintimidasi dengan mata yang beradu tajam.
"Kau ingin istrimu? Kalahkan aku dulu!"
***
kan kakak dr orgtua kita