Menemani seseorang dari titik nol hingga pada puncak pencapaiannya adalah sebuah titian takdir yang maha indah. From zero to be my hero, itulah yang di rasakan Kanaya pada suaminya Adrian. Pernikahannya diusia muda cukup membuatnya menjadi lebih dewasa dalam cara pandang. Laki-laki pilihan kakek yang hanya seorang seles penjualan pada sebuah perusahaan sepatu mengubah jalan hidupnya. Pernikahan yang ditentang oleh ayah kandungnya yang seorang pengusaha pengolahan susu sapi ternama. Mereka harus berpisah disaat cinta itu mulai tumbuh. Akankah mereka dapat bersatu? Akankah restu Papi dapat mereka peroleh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Hanayuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahasiswa Baru
Seperti mahasiswa pada umum nya, Naya mengikuti masa orientasi mahasiswa baru. Jadi mahasiswa baru artinya jadi anak bawang. Kerjanya disuruh-suruh dan harus nurut sama senior. Kali ini mereka mengadakan makrab - malam keakraban dengan menginap di kampus. Naya dan para mahasiswi lainnya menginap di tenda.
"Aiiih.... Malam-malam begini harus tidur di tenda yang dingin dan gelap. Ya, Tuhan ... ", batin Naya yang duduk di depan tenda seorang diri.
"Hei ... " sapa seseorang pada Naya.
"Eeh... "
"Kenapa kamu belum tidur?" tegur seorang seniornya.
"Maaf, Kak... Aku belum mengantuk"
"Tidak bisa tidur?" tanya laki-laki itu.
"Ya ..."
"Merindukan ibumu? Jangan cengeng "
"Mami sudah meninggal sejak aku SD"
Laki-laki itu terdiam.
"Maafkan, aku. Aku tak tahu soal ibumu"
"Tidak apa-apa!"
Laki-laki itu duduk disebelahnya. Dia mengulurkan tangan dan mengajak kenalan.
"Namaku Aldi. Aldi Mahesa. Tingkat tiga. Semester enam"
"Naya. Kanaya Davilla Myezha"
"Nama yang cantik. Secantik orang nya"
Naya menundukan wajahnya. Dia sedikit menggeser posisi duduknya agar tidak terlalu dekat dengan orang asing.
"Apa aku semenakutkan itu, sehingga kamu menjauh?"
"Maaf, kita tak boleh terlalu dekat"
"Kenapa? Takut pacar mu marah?"
"Tidak. Aku tak bisa. Maaf.."
Naya masuk kembali dalam tendanya. Dia mencoba memejamkan mata. Namun, kejadian tadi membuatnya takut. Andai saja Kak Rian ada disini, ah... Aku tak boleh cengeng, batinnya.
******
Pagi harinya semua berkumpul di aula kampus. Menginap tiga hari di kampus benar-benar membuat Naya lelah. Acara yang padat selama tiga hari. Untung saja siang ini acara penutupan. Dan dia terbebas. Mobil jemputan datang menjemput Naya. Dua orang pengawal turun dan memberi hormat. Salah satunya membukakan pintu.
"Hei... Tunggu..." sapa seseorang.
"Eehh... "
"Ini almamatermu tertinggal"
"Terima kasih"
"Sudah mau pulang?"
"Iya, ada apa?"
"Ah, tidak ... Kalau tidak buru-buru kita bisa ngobrol sebentar"
"Ah... Maaf ... Aku sedang ada pekerjaan lain. Permisi"
Naya masuk kedalam mobilnya. Dan kembali kerumah untuk beristirahat. Tiga hari ini dia tidur direrumputan beralaskan tikar tipis. Dia rindu bantal dan guling nyamannya dirumah.
******
Aldi merasa heran dengan sikap Naya. Perempuan itu sepertinya menjaga jarak dengan semua laki-laki. Entah apa sebabnya. Namun hal itu makin membuat Aldi penasaran. Dia sudah terpesona dengan Naya sejak malam itu. Baginya Naya adalah sosok perempuan yang anggun dan elegan. Ditambah lagi kerudung nya membuat dia makin terlihat cantik di mata Aldi.
Aldi Mahesa, anak seorang pemilik perkebunan teh di Bogor. Aldi jadi rebutan kaum hawa di kampusnya. Selain tampan dan sangat energik, Aldi juga pandai bermain musik. Dia bersama beberapa temannya membentuk band kampus.
"Kanaya. Nama yang cantik Sepadan dengan kecantikan wajahnya. Tapi dia sangat tertutup sekali. Aku harus mengenalnya lebih dekat. Mana ada dalam kamus Aldi tak dapat menundukkan seorang perempuan. Aku harus mendapatkan nya" Aldi bertekad dalam hatinya untuk mendapatkan Kanaya.
Banyak mahasiswi kampus yang mengejar-ngejar dia. Namun tak satu pun dati mereka yang di anggapnya serius. Bagi Aldi perempuan hanya buat hiburan dan kesenangan saja. Dan dia semakin tertantang dengan sikap acuh tak acuh Naya. Semakin membuat Aldi penasaran dan makin ingin mendekati Kanaya.
Naya memang memegang teguh janji nya pada, Rian, suaminya. Dia benar-benar menjaga jiwa raga dan hatinya dari godaan laki-laki lain. Dia benar-benar menunggu kedatangan suaminya itu.
******
aku mau lanjut lagi baca karyamu yg lain.
aku sudah baca 3 karyamu termasuk ini, lanjut yg ke 4, sukses selalu ya....
suka bgt gak terlalu panjang, uda gitu bahasanya juga enak dibaca...