Askana sangat benci pada sosok pria yang sudah menodainya. Sampai pria bernama Rafan itu ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, sayangnya Askana menolak karena terlalu benci.
Mampukah Rafan mengambil hati Askana? Dan Membuatnya jatuh cinta, akan seperti apa kisah cinta mereka yang diawali sebuah kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khoirun Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24.
"Ah sial! Kepala gue pusing banget!" ujar Afandi sambil memegang kepala-nya, ia melirik ke sebelah kanan dan kiri, dua gadis itu ternyata masih tertidur lelap, segera ia bangun dan menuju ke-kamar mandi untuk membersihkan diri, iapun segera meninggalkan tempat itu dan mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompet-nya, dan diletakkan di atas tempat tidur sebagai upah atas layanan dua gadis itu.
"Ini baru jam enam pagi, gue harus segera menuju ke apartemen!"
Afandi bergegas pergi menuju ke apartemen miliknya dengan menaiki Mobil Sport warna merah-nya, ditengah perjalanan ponsel milik Fandi berdering, ternyata sekretaris-nya yang menghubungi.
"Halo Pak? Maaf mengganggu waktunya, jam sembilan nanti akan diadakan meeting dengan klien."
"Oke! Siapkan saja semua berkas-nya."
Sesampai-nya di apartemen, Afandi menuju ke-dalam kamar untuk bersiap, memakai setelan jas-nya untuk siap berangkat ke kantor, dia terlihat begitu tampan juga gagah dengan setelan jas yang dipakai-nya. Tubuh tinggi dan tegap dengan otot di tubuh-nya membuat Afandi sangat dikagumi oleh para gadis, apalagi karyawan wanita yang di kantornya mereka sangat mengagumi ketampanan Bos-nya itu.
Hanya memerlukan waktu satu jam perjalanan dari apartement Afandi menuju ke-kantor-nya, ia keluar dari dalam mobil, berjalan dengan gagah memasuki kantor megahnya itu, disambut oleh karyawan yang mengucapkan selamat datang juga selamat pagi untuk-nya. Meski dia terbilang seorang bos yang dingin acuh dan juga cuek, namun tetap saja dia menjadi idaman kaum wanita.
Afandi masuk ke-dalam ruangan-nya, ia duduk di kursi kebesarannya sambil menyandarkan kepalanya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
"Permisi, Pak? Ini berkas-berkas yang Bapak butuh-kan untuk meeting nanti."
"Ya, terima kasih! Sekalian Buatkan saya kopi dan antarkan kemeja saya."
"Baik, Pak! Kalau begitu saya permisi dulu." Ujar sekretaris Afandi.
Di apartemen milik Rafan, Bunda Aulia terlihat sangat sibuk menyiapkan sarapan pagi dengan dibantu oleh Rafan, meskipun Rafan seorang anak laki-laki tapi dia begitu cekatan dalam membantu pekerjaan bunda-nya.
"Sudah, sana! Kamu duduk, biar bunda saja yang mengerjakan!"
"Tidak apa-apa Bunda! Itung-itung Rafan belajar, nanti kalau Rafan sudah menikah bisa membantu pekerjaan istri-nya Rafan."
"Doni kok belum datang? Padahal ini sudah waktu-nya makan."
"Mungkin masih di perjalanan Bunda!" tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam.
"Panjang umur lo, Don? Baru juga diomongin, sudah nongol ajah!"
"Maaf telat, Bun! Tadi bangunnya kesiangan." Doni ketawa sambil menggaruk kepalanya.
"Iya, tidak apa-apa! lebih baik kita makan bersama."
Makanan sudah tertata di-meja makan dengan rapih, tidak ada satupun yang terlewatkan, karena pagi ini bunda masak banyak dengan menu makanan yang beragam. Mulai dari pepes ayam, sayur asam, iga bakar, lalapan dan juga sambal.
"Kayak makanan restoran saja, Bun? Enak-enak makanan-nya."
"Biar kamu tambah gemuk, Don!"
"Wah, Bunda! Body aku sispack begini masih ada roti sobek-nya, Bun! Nih otot-ku juga masih ada," sambil menepuk-nepuk otot di lengan-nya.
"Lengan berotot! Perut buncit!" Rafan tak hentinya tertawa mengoda sahabatnya.
"Nggak baik! Lagi makan terus bercanda, habisin dulu makanan-nya, baru nanti bercanda."
"Marahin, Bun! Emang enak loh."
"Kamu juga, berisik! Habisin makanan-nya."
"Kena juga lo! Syukurin!"
Bunda Aulia hanya bisa menggelengkan kepala-nya saja, melihat tingkah Rafan dan Doni yang seperti anak kecil.
Bunda Aulia teringat akan Afandi, Bunda menyuruh Rafan untuk menghubunginya, karena khawatir takut dia belum sarapan. Rafan dengan segera mengambil ponsel yang ada di saku celana-nya. Namun sayang, no Afandi tidak dapat dihubungi, Rafan berkali-kali mencoba tetap saja diluar jangkauan.
"Mungkin Afandi lagi sibuk di kantor-nya, Bunda! Biar nanti Rafan hubungi dia lagi."
Doni teringat saat semalam dia pulang dari apartemen milik Rafan, dia melihat mobil Afandi yang berbalik arah menuju kesebuah diskotik.
"Gue ceritain ke si Rafan gak yah! Tapi gue takut salah, ntar yang ada jadi masalah."
"Mangkanya! Cepetan cari calon istri, biar makan pun gak ngelamun," ujar Bunda membuyarkan lamunan Doni.