NovelToon NovelToon
Suamiku Tak Terlihat

Suamiku Tak Terlihat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Sudah Terbit / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Evhae Naffae

Apa jadinya kalau suamimu tak terlihat orang sekitar dan hanya kamu yang bisa berinteraksi dengannya? Sehingga banyak beranggapan kalau kamu itu gila, seperti pasangan Vanesa dan Rikuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evhae Naffae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Season 2 (Part 2)

Suamiku Tak Terlihat (Season 2)

Part 2

Malam ini bulan bersinar sangat terang, tepat di malam ultah pernikahan Rikuh dan Vanesa. Ia sudah mendekorasi kamar seperti malam pengantin mereka terdahulu, dan berharap sang istri mau disentuhnya malam ini. Lelaki mana yang tak merindukan kehangatan dekapan wanita yang begitu ia cinta setelah bertahun-tahun lamanya. Ia sudah sangat mengharapkannya sejak lama, namun dengan keadaan si istri yang baru sembuh dari sakit, ia kubur hasrat itu.

Vanesa terlihat senang saat duduk di rumah makan alam manusia itu, sambil menikmati nasi goreng kesukaannya. Perut laparnya karena sekian hari tak diisi nasi kini sudah kenyang. Ia kembali bersemangat dan bisa tersenyum ceria. Rikuh menatap senang sang istri yang makan dengan lahabnya.

“Gimana, Sayang, apa mau pesan lagi?” tanya Rikuh.

Vanesa menggeleng, sebab perutnya sudah kenyang. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah, lalu kembali murung.

“Ada apa lagi, Sayang?” Rikuh menyentuh wajahnya.

“Tidak apa-apa, Bang.”

“Ya sudah, ayo kita pulang!” Rikuh merangkul bahu Vanesa lalu melangkah menuju jalan pulang.

Ketika sampai di tempat sepi, Rikuh mengedarkan pandangan ke sekitar lalu menarik Vanesa menghilang dan langsung muncul di rumahnya. Vanesa yang selalu kebingungan akan situasi ini, enggan untuk menanyakannya. Yang mana keanehan ini sudah lama ia rasakan, membuatnya selalu bertanya dalam hati, makhluk apakah pria yang mengaku sebagai suaminya itu?

Rikuh menuntun Vanesa masuk ke kamar dan berharap Vanesa terkejut dan senang akan dekorasi kamar yang sudah ia persiapkan. Akan tetapi, sang istri malah tak menyadari akan hal itu. Ia malah langsung menuju tempat tidur dan bersiap tidur.

“Sayang, bagaimana menurutmu kamar kita?” Rikuh mendekati Vanesa.

Vanesa hanya diam dan malah menatap nanar pada pria limunan itu.

“Apa, Bang?” tanyanya sambil sedikit heran melihat banyak kelopak bunga mawar yang memenuhi tempat tidurnya.

“Kamu suka, Sayang?” Rikuh duduk di samping Vanesa sambil menatap lekat matanya.

Vanesa malah tak mengerti maksud Rikuh, ia menyingkirkan kelopak bunga mawar itu dan sibuk membersihkan tempat tidur.

Rikuh menghela napas lalu mendekati Vanesa dan memeluknya dari belakang.

“Sudah, Sayang, tak perlu dibersihkan sekarang!” bisiknya mesra tepat di telinga Vanesa.

Vanesa yang merasa tak nyaman akan situasi ini berusaha menghindari dari sentuhan pria gaib itu. Akan tetapi, Rikuh yang sudah tak dapat menahan hasratnya terus berusaha mencumbunya.

“Bang, kumohon jangan lakukan ini!” Vanesa memohon.

Rikuh menatap Vanesa dengan kecewa, lagi-lagi ia mendapatkan penolakan ini. Ia melepaskan pelukanya terhadap wanita kurus itu, lalu tertunduk sambil memegangi kepalanya. Dihembuskannya napas dengan kasar, mencoba sabar dan memahami akan keadaan sang istri yang memang belum pulih dan mengingat kebersamaan terdahulu.

Tanpa menatap wajah Vanesa, Rikuh melangkah keluar dari kamar lalu mengurung diri di ruang kerjanya. Masih terngiang selalu kenangan masa indah awal pernikahannya dengan Vanesa yang penuh cinta. Ia merindukan Vanesa yang dulu, yang begitu mencintainya. Dan tiada malam yang terlewati tanpa bercinta, saling memberi kepuasan dan selalu dahaga akan cinta.

Dengan sambil memeluk lutut, Rikuh duduk di pojok ruangan gelap itu. Dadanya sesak menahan kecewa dan penolakan istrinya tercinta, wanita yang bisa membuatnya melakukan apa saja hanya demi bisa bersama. Tanpa ia sadari, buliran bening jatuh begitu saja. Hatinya rapuh walau sekuat tenaga berusaha tegar dan menerima semua ini.

***

Sedangkan di kamarnya, Vanesa sedang menyelimuti seluruh tubuh dengan selimut tebal itu. Hatinya masih didera ketakutan akan aksi pria berwajah aneh itu sesaat yang lalu. Walaupun pintu sudah ia kunci rapat, hati masih was-was dan bimbang akan kembalinya si suami gaib itu.

Semalaman Vanesa tak bisa memejamkan mata dan selalu ketakutan akan terulangnya ulah pria itu lagi. Ia belum siap memberikan apa yang diinginkan sang suami. Untuk menatap lekat wajahnya saja ia masih risi, apalagi melakukan hubungan suami istri itu. Ia tak habis pikir, bagaimana dulu ia bisa menikah dengannya dan melakukan hubungan yang bisa menghasilkan Qirey, sang putri yang wajahnya menurun sang papa.

Hingga menjelang pagi, Vanesa yang tak tidur semalaman merasakan sakit akan sekujur tubuhnya. Sehingga untuk bangun dari tempat tidur saja ia tak sanggup. Qirey yang sedari tadi berusaha memanggil-manggil sang mama menjadi khawatir, sebab pintu terkunci dari dalam.

“Kenapa, Rey?” tanya sang Kakek ketika melihat sikap gelisah Qirey di depan kamar mamanya.

“Mama, Kek ... dari tadi Qirey panggil tapi tidak membuka pintu juga.”

Kakek menghampiri Qirey dan mengetuk pintu kamar sang menantu, namun tetap tak ada jawaban dari dalam.

“Papamu juga ada di dalam, Rey?”

Qirey menggeleng dan berkata, “Gak tahu, Kek.”

“Ya sudah, kamu tetap di sini! Kakek mau coba mencari papamu di ruang kerjanya.” Kakek berlalu meninggalkan Qirey dan mencari keberadaan putra tunggalnya.

Kakek mendorong pintu yang tak terkunci itu, ruangan terlihat gelap. Di sudut ruangan itu, tampaklah Rikuh yang sedang tertidur dengan posisi menelungkapkan kepala di atas lutut yang ia tekuk.

“Kuh, kamu kenapa?” kakek menggoyang pundak Rikuh.

Rikuh masih tak menjawab, ia bergeming.

Sekali lagi kakek menggoyang tubuh putranya yang keras kepala itu, lalu mengangkat kepalanya. Ternyata pria muda itu sedang tertidur.

“Kuh, bangun, Nak!”

Rikuh membuka mata dan menatap kesal sang bapak dan berkata lirih, “Biarkan Rikuh sendiri, Pak!”

“Kamu sedang ada masalah dengan Vanesa? Dia juga sedang mengurung diri di kamar. Hah, ada apa dengan kalian? Sudah bersama begini juga masih saja berantem ....” gerutu pria limunan yang sudah berumur ratusan tahun itu.

Rikuh menatap sang bapak yang sudah melangkah menuju pintu.

“Vanesa kenapa, Pak?” Rikuh bangkit dan berlari keluar dari ruangan itu, mendahului bapaknya. Mendadak kebimbangan menggerogoti hatinya, ia tak mau terjadi apa pun pada wanita yang sangat ia cintai itu.

Qirey masih duduk di depan pintu kamar Vanesa saat Rikuh sampai di sana.

“Mama kenapa, Rey?” tanyanya dengan khawatir.

“Gak tahu. Coba dobrak aja deh, Pa!” usul Qirey.

Rikuh mencoba mengetuk dan memanggil Vanesa, namun hasilnya masih nihil. Hatinya begitu bimbang dengan keadaan sang istri di dalam sana. Tanpa menunggu lagi, ia langsung mendobrak pintu kamar itu cukup dengan sekali dorongan keras. Qirey langsung berlari masuk ke dalam, begitu juga sang papa.

“Sayang, kamu kenapa?” ucap Rikuh sambil memeluk tubuh lemah Vanesa yang kini sedang terbaring lunglai.

“Mama .... “ Tangisan Qirey langsung pecah.

Rikuh langsung berlari ke luar dan menyuruh bapaknya memanggilkan dokter orang limunan yang biasa mengobati keluarga mereka, lebih tepatnay dokter keluarga.

 

\*

 

“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Rikuh tak sabar ketika sang dokter selesai memeriksa Vanesa.

Dokter mengajak Rikuh keluar dari kamar dan mengajaknya berbicara di luar saja. Sedang Qirey, ia menunggui sang mama sambil terus terinsak.

“Kondisi istrimu hanya lemah saja, dikarenakan kondidi psikisnya sedang terguncang. Jangan memaksa ia melakukan hal yang diinginkannya, selalu buat ia bahagia. Luka di kepalanya juga belum pulih sempurna, jangan membuat ia terlalu memikirkan sesuatu. Yang jelas, kamu harus bisa membuat dia rileks,” jelas sang dokter di hadapan Rikuh dan kedua orangtuanya.

“Dengar itu, Kuh!” Ibunya melirik Rikuh yang masih terlihat cemas.

“Ya sudah, saya permisi. Ini ada ramuan kesehatan untuk Nyonya Vanesa, semoga ia bisa segera pulih,” ujar sang dokter sambil meletakkan botol ramuan obat.

“Terima kasih, Dokter,” jawab bapaknya Rikuh sambil mengantar dokter menuju pintu keluar.

Rikuh mengambil botol obat itu, lalu menghembuskan napasnya. Ia begitu menyesali kejadian tadi malam yang membuat Vanesa harus sakit lagi. Pria limunan itu mengusap wajahnya dengan kasar lalu menyandarkan kepalanya di sofa, sebelum ia beranjak menemui istrinya.

Rikuh menghampiri Qirey yang masih duduk di samping sang mama. Wanita dari alam manusia itu terlihat sedang tertidur, namun wajahnya sudah terlihat cerah karena suntikan obat dari dokter tadi.

“Mama tidur, Pa.” Qirey menoleh ke arah Rikuh yang meletakkan botol obat di atas nakas.

“Iya. Kalau mamamu sudah bangun, kasih obat ini, ya!” ujar Rikuh dengan raut wajah sedih.

“Papa mau ke mana?”

“Papa mau keluar, ada urusan,” jawab Rikuh sambil berlalu dari kamar istrinya.

***

Vanesa membaringkan tubuhnya di antara hamparan padang ilalang, ratusan pohon pinus berjejer di sekelilingnya. Ia sedang menanti seseorang yang bisa membuat hatinya tenang, pria berwajah teduh dengan seulas senyum yang selalu menghangatkan jiwanya.

Taklama kemudian, pria itu sudah ikut berbaring di sampingnya sambil menyungingkan senyum tipis. Vanesa tersunyum senang menyambut sosok yang selalu ia rindu itu.

“Kenapa baru muncul sekarang? Aku menunggumu sejak lama,” ujar Vanesa.

“Maafkan aku,” jawab pria itu.

“Bolehkan aku memegang wajahmu?” Vanesa duduk sambil berusaha menggapai pria yang sangat dekat dengannya namun tak bisa ia gapai.

“Jangan!” larang pria itu sambil sedikit menjauh darinya.

Pria itu bangkit dan perlahan menjauh dari Vanesa.

“Bawalah aku bersamamu!” lirih Vanesa sambil mengejar pria yang semakin tak terlihat itu, bersatu dengan gumpalan asap.

“Kumohon, tetaplah disini!” teriak Vanesa yang tiba-tiba sudah berada dalam kegelapan.

“Vanesa, kembalilah ke duniamu! Aku tak bisa tenang di sini sebelum melihat kamu terbebas dari lingkaran gelap itu. Aku akan tetap di sini, menunggumu hingga tiba waktunya kebersamaan kita.” Suara itu terdengar begitu lantang di telinga Vanesa, tapi hanay suara, wujud pria sudah melebur dalam pekatnya malam.

Vanesa terbangun dan langsung duduk di tempat tidurnya, hatinya masih terasa pilu. Mimpi itu sungguh terasa nyata baginya. Seandainya ia bisa memilih, ia lebih akan memilih tertidur selamanya dari pada harus bersama orang asing yang mengaku suaminya itu. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah, kemudian melangkah menuju jendela. Ia ingin lari Kota aneh ini, namun ia tak cukup bernyali untuk melakukannya. Apalagi membanyangkan orang-orang berwajah aneh yang akan ditemuinya sepanjang jalan, mendadak ia risi. Untuk bersama lima orang itu saja, ia harus menguatkan diri setiap saat.

Terdengar pintu kamar berderit, Qirey masuk sambil membawa buah-buahan untuk mamanya. Ia tersenyum senang melihat mamanya sudah terlihat segar dan sekarang sedang berdiri di tepi jendela, tempat favoritnya untuk melamun.

“Ma, udah enakan badannya?” sapa Qirey sambil meraih tangan sang mama, lalu menciumnya.

Vanesa mengangguk dan tersenyum tipis, lalu kembali duduk di tempat tidurnya.

“Qirey bawa buah-buahan untuk Mama,” ujar Qirey sambi memperlihatkan buah apel dan jeruk yang habis dipetiknya dari kebun belakang rumah.

“Mama mau makan di luar, tapi perginya sama kamu saja ....” jawab Vanesa pelan.

“Iya, nanti sore saja kita perginya. Sekarang makan buah-buahan ini saja dulu, dan minum obat dari dokter juga,” jawab Qirey sambil mengambil botol obat dari atas meja.

Vanesa bergidik ngeri menatap botol obat di tangan Qirey, ia menggeleng sambil berkata, “Mama tidak mau minum obat itu!”

“Loh, Ma ... jangan itu. Ini obat dari dokter biar mama kembali sehat dan tidakl lemas lagi,” bujuk Qirey lembut sambil mendekat ke arah mamanya.

Vanesa berusaha mengontrol ketakutannya, ia memundurkan tubuhnya dari Qirey yang berusaha mendekatinya.

“Simpan di atas nakas saja obatnya, nantia akn mama minum ....” ujar Vanesa dengan suara bergetar.

“Baik, Ma. Tapi, jangan lupa diminum ya! Qirey gak mau lihat mama sakit lagi.” Qirey memeluk sang mama.

Vanesa mengangguk sambil mengelus kepala putri tunggalnya yang sedang beranjak remaja itu. Ia masih berusaha mengingat kapan ia melahirkan Qirey dan mengapa ia tidak bisa mengingat masa-masa kecil anaknya itu. Namun, ia seperti memiliki ikatan batin dengan anak itu. Ia menyayanginya dan merasa kasihan jika anak itu bersedih hanya karenanya.

***

Seperti yang sudah disepakati Vanesa dan Qirey, sore ini mereka akan berjalan-jalan ke alam manusia berdua saja dan tanpa Rikuh. Rikuh yang mengetahui hal itu dari penuturan sang putri, merasa sedikit tersinggung. Akan tetapi ia tetap berusaha berbesar hati, demi rasa cinta yang begitu besar terhadap sang istri. Ia hanya meng’iya’kan saja permintaan Qirey dan berencana mengikuti dari jauh sebab ia tak akan membiarkan keduanya pergi tanpa dia.

Dengan sambil bersembunyi di balik pohon pinus, Rikuh mengikuti Vanesa dan Qirey yang sedang menyusuri hutan pinus terlebih dahulu untuk sampai ke pasar alam manusia. Vanesa terlihat riang sambil bergandengan tangan dengan putrinya.

Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di pasar dan kini sedang menikmati jajanan pasar. Vanesa sangat senang, senyum tak luput dari bibirnya. Kini ia sedang menikmati bubur ayam dengan lahabnya. Qirey hanya memperhatikan saja tingkah sang mama. Ia sangat senang bisa melihat senyum sang mama.

“Kamu gak mau ikut makan, Rey?” ujar Vanesa menyadari Qirey yang hanya memperhatiakan dirinya.

“Qirey masih kenyang. Mama saja yang makan!” jawab Qirey.

Hal yang sebenarnya, lidah Qirey belum terbiasa memakan makanan alam manusia itu. Untuk saat ini, ia cukup menjadi pengamat saja. Nanti barulah ia akan mencoba mencicipi. Apalagi ia yang memang berkeinginan untuk menjadi manusia seperti sang mama.

“Ayo, coba barang sedikit aja! Ini enak loh .... “ Vanesa menyuapkan bubur ayam itu ke mulut Qirey.

Qirey yang merasa aneh akan rasa makanan itu, hanya tersenyum senang dan menelannya sedikit demi sedikit.

“Enak, Ma ....” jawab Qirey sambil membuka mulut minta disuapi lagi.

Bukan rasa enak akan bubur itu yang membuat Qirey terus mengembangkan senyum, tapi suapan dari tangan sang mama yang membuat bubur itu begitu berharga di mulutnya. Walau harus dengan susah payah ia menelannya.

Bersambung ....

( Kalau suka dengan cerita ini, jangan lupa like, koment dan votenya, ya, gaes 😆

Salam kechup manja dariku, Author amatiran modal halu wae 😘 )

1
Waryuti Yuti
kok minum nya darah ya kaya vampir
Waryuti Yuti
waduh, jangan2 suami bangsa genderuwo hiii serem
Eko Priyosantoso
kapan cerita ini ending ?
Nabila Aulia
hmm
aurora ara
alurnya menggantung, trus kelanjutan ya bagaimana?, pembaca jadi bingung endingnya kurang pas/Frown/
Eko Priyosantoso: Ya emang nggantung karena blm ending.
total 1 replies
Anik Chiffon
kenapa rikuh gk pernah dibuat ngikuti rahma lg,biar terkuak tentang fiolisa,kasihan kalau jd anak raja iblis,mending ikut opa rukuh aja..
aurora ara
Keren bnget, ak suka /Smile/
Anik Chiffon
nggantung..
duoNaNa
merinding mlh 😬😬😬
Cornelia Damayanti Sakti
bangsa gaib malah lebih setia dri manusia,eh manusia kelakuan Kya siluman macan g setia
Imberl~
Maaf thor menurut aku cerita nya terlalu di paksain, harus ada intro nya dlu sih kenapa si vanessa bisa gini , jadi kesannya alurnya maksa bgt gtu hehehe 🙏🙏
Mmh Neng Tea
semoga rikuh ketemu sama vania dan anak nya rahma
Mmh Neng Tea
qirey kenapa ga di temuin sama ibu nya vanesa
Mmh Neng Tea
cerita nya ko rahma doang yg lain donk thoor anak nya si rikuh yg pertama ceritain juga biar nyampur yg lain nya
Mmh Neng Tea
kasihan si riuh nya dan anak nya ga mendapat kn kebahagiaan
Mmh Neng Tea
lebih baik sama rikuh .kn awal nya sama rikuh udah di satuin aja sama sumi dan anak nya tapi rikuh nya menjelma kaya awal seperti manusia
Auliarosyida
alur ceritanya bagus. cuma jadi kepanjanngan akhirnya ngak berujung. author kemmana saja kau
Auliarosyida
komen paling akhir 27-5-2023😂
segitu lamanya ngegantung pecintamu thooorrr
Auliarosyida
ngak salah nyebutin usian vanesa. awal! ketemu ustad fajar sudah 40 tahun. eh sekarang anak2 udah pada kuliah vanesa usia 43
Auliarosyida
visualnya thooo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!