Dear Disya merupakan kisah cinta segitiga antara Disya, Arya dan Ardi. Yang dibumbui dengan konflik beda agama, pandangan dan cara mencintai seorang anak magang.
Arya yang awalnya terobsesi mengejar Disya karena kemiripannya dengan mantan pacarnya yang telah lama meninggal. Makin mendalam rasa cintanya bukan hanya karena mirip dengan orang yang pernah mengisi hatinya, namun cara berfikir Disya yang mandiri dan terampil yang membuatnya kagum dan berubah jadi cinta
Sedangkan Ardi yang berawal niat hanya menjahilinya dengan berpura-pura suka. Namun jadi suka beneran sama Disya dan sampai bucin
Disya sebenarnya sangat mencintai dan menyayangi Arya namun karena berbeda agama, Disya memutuskan untuk tak terlalu mendalam mencintainya walaupun kenyataannya amat menyakitkan bagi dirinya. Namun ternyata Arya memilih untuk seiman dengan Disya, membuat Disya sangat senang ternyata cinta Arya tidak main-main.
Disaat Arya dikirim ke Jepang oleh papanya, Disya menjadi kesepian. Ardi selalu ada disampingnya yang membuat Disya mengalami Delusi. Namun Arya yakin bahwa Disya tipikal Setia. Ardi selalu memanfaatkan situasi yang saat ini dihadapi Disya dengan masuk ke dunia Disya membuat Arya semakin marah dan memutuskan untuk fokus bekerja di Jepang, agar dia bisa pulang kembali ke Indonesia
Apakah Disya akan memilih Arya ataukah Ardi?
Debut pertama yang ingin kuberanikan diri menulisnya disini. Mohon komentar, saran dan likenya ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tyas Feyza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mualaf
"Aku akan mengantarmu ke masjid bertemu dengan pak ustadz untuk mengucapkan Dua kalimat syahadat" tantang Disya pada Arya.
Arya lalu memeluk Disya. Tante Rachel memeluk keduanya.
"Kalian ini sama-sama keras kepala." ucap Tante Rachel lalu memeluk mereka lagi.
Tante Rachel menanyakan sekali lagi apakah Arya memang sudah mantap untuk pindah keyakinan. Melihat tatapan Arya, sepertinya ia sudah bertekad kuat. Tante Rachel lalu menelpon suaminya yang sedang dalam perjalanan pulang.
Saat sang suami tiba, Rachel menceritakan tentang keinginan sang keponakan yang ingin pindah keyakinan. Sang suami lalu memeluk keponakannya itu dan segera mengantarkannya ke masjid terdekat.
Saat semua sudah berada di masjid, ia menunggu pak ustadz langsung untuk membimbing Arya. Saat pak ustadz tiba, Arya melepas kalung salib dari tubuhnya dan meletakkannya dalam saku celananya. Arya yang sudah mantap lalu menjabat tangan pak Ustadz lalu melafalkan dua kalimat syahadat.
Suasana haru dan bahagia Tante Rachel, Disya dan pamannya disana.
Kemudian pamannya akan membimbingnya untuk belajar sholat dan mengaji dihari weekend nya. Tante Rachel membawakan buku-buku yang dibacanya dulu saat masuk Islam. Buku berisi panduan sholat dan bacaan sholat.
"Wow..." kata Arya melihat tumpukan buku dalam sebuah kardus.
"Tenang kak, aku akan membantu sebisaku" kata Disya mengelus pundaknya
"Ehm.. tapi ada satu lagi" kata om ragu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa itu om?"tanya Arya penasaran
"Kau harus melakukan yang namanya khitan alias sunat"
Arya lalu menelan salivanya tak pernah membayangkan seperti ini proses menjadi muslim. Disya berusaha menahan tawanya melihat muka Arya yang mulai panik. Rachel mulai mengingat. Sepertinya Arya dulu waktu kecil pernah melakukan sunat untuk mengangkat penyakit phimosis yang pernah dialami ketika ia berusia 3 tahun. Rachel menarik tangan suaminya untuk berdiskusi, apa perlu sunat ulang. Suaminya menjelaskan jika memang sudah disunat, maka tidak perlu diulang. Karena sunat itu hanya sekali seumur hidup. Kini tante Rachel dan Arya merasa lega akan hal tersebut.
Karena barang bawaannya banyak, Tantenya meminjamkan mobil untuk dibawanya pulang ke Apartemen milik Arya. Tantenya menyarankan untuk sementara Arya harus tinggal di Apartemen dulu, sampai Arya berani bilang kepada keluarganya. Om dan tantenya berjanji akan membantunya di setiap weekend. Sementara itu motornya ditinggal di rumah tantenya. Kunci motor ia letakkan di nakash ruang tamu yang biasa om dan tantenya menaruh semua kunci-kunci kendaraannya.
Arya dan Disya mengucapkan terima kasih kepada tante dan omnya. Mereka saling memeluk dan merangkul. Arya dan Disya pamit pulang. Arya meraih kunci dan membawa kardus berisi buku-buku. Disya membantu membawakan beberapa paper bag berisi kue ke dalam mobil Terrios warna biru metalik.
Mereka memasuki mobil dan melambaikan tangan kepada om dan tantenya. Lalu Disya melihat sepertinya ada beberapa yang harus ia belikan untuk Arya di pasar. Disya meminta Arya untuk mampir sebentar ke pasar Jatinegara. Namun Arya menolaknya karena hari sudah sore dan pasarnya pun pasti sudah tutup. Ia lalu melajukan kendaraannya menuju sebuah mall yang tak jauh dari rumah tantenya.
Disya lalu mencari sajadah, baju Koko, sarung dan peci untuk ia berikan kepada Arya. Ia lalu buru-buru membayarnya sebelum Arya yang mengeluarkan kartu black cardnya.
Sementara Arya memilihkan baju dan kemeja lengan panjang untuk Disya, lalu ia terpaku saat melihat beberapa rak kerudung. Dalam pikirannya, ia membayangkan Disya memakai kerudung itu. Pasti bayangan Jihan yang ada disana. Arya tak mau membuat Disya salah paham padanya. Arya membiarkannya seperti itu saja hingga ia yang siap memakai hijabnya sendiri.
Disya mengejutkan Arya dari lamunannya.
"Hayo.. lagi ngelamunin apa sih?" tanya Disya lalu melihat kearah yang dilihat Arya. Disya melihat beberapa rak kerudung. Disya jadi malu pada dirinya sendiri. Arya rela berkorban untuknya dengan menjadi mualaf. Sedangkan dirinya belum siap memakai hijab.
"Tidak ada apa-apa" jawab Arya lalu membawa baju dan kemeja yang ia pilih menuju kasir.
Arya heran kenapa Disya tak meletakkan juga barang belanjaannya di kasir. Disya lalu memberikan beberapa perlengkapan sholat untuk ia pakai. Ia membelinya dengan uang tabungannya dan meminta Arya untuk menerimanya. Saat itu Arya memberikan hal yang sama kepada Disya.
Arya berniat mengantarkan Disya pulang lebih dahulu karena hari sudah sore. Namun Disya menolak karena belum sempat sholat ashar dan ingin membantu Arya merapikan barang-barangnya.
Arya lalu melajukan mobil memasuki kawasan apartemennya. Ia lalu menghentikan mobilnya disamping masjid yang terletak didalam halaman apartemennya. Arya dan Disya sholat disana. Arya mengikuti gerakan imam. Namun bibirnya diam karena belum menghafal setiap do'a dalam shalat. Setidaknya dia berusaha untuk belajar demi bersama Disya. Disya mendo'akan Arya semoga Arya tetap Istiqomah dalam setiap menjalankan ibadah, dimudahkan jalannya dalam mencari ridho Allah SWT dan dilancarkan setiap urusannya. Aamiin.
Arya sudah menunggu Disya didalam mobilnya sambil mendengarkan setiap bacaan sholat dari HPnya. Agar tak terdengar orang lain ia memakai headset bluetooth. Saking fokusnya dia menghafalkan bacaan sholat, sampai tak memperhatikan bahwa Disya sudah berada disampingnya. Disya tak ingin mengganggu Arya sampai Arya yang menyadarinya sudah hadir di dalam mobil.
"Sudah dari tadi didalam?" tanya Arya lalu meletakkan HPnya di dashboard. Disya hanya mengangguk dan Arya meminta maaf.
tapi pas di tengah tengah sumpah tempat aku magang udah kayak tinggal dirumah sendiri 😭