Danu gemar berorganisasi, dari SMA hingga masa kuliah, Danu selalu asyik jika menyangkut Organisasi, saat SMA Danu memiliki hubungan khusus dengan Juli, karena kedekatan dan kisah indah masa lalu kedua orang tua mereka, Danu dan Juli tunangan saat mereka selesai SMA. Walau demikian, Danu dan Juli kuliah di PT berbeda, bahkan kost yang jauh jaraknya, Danu yang aktifis meneruskan kegemarannya berorganisasi di Kampus, Juli tak bisa melarang, keingintahuannya dengan kegiatan Danu membawa Juli menerima tawaran menjadi Wartawati Kampus.
Fokus Danu dalam kegiatan Organisasi sering membuatnya lupa, termasuk janji dengan Juli, fokus inilah yang kemudian membawa Danu menjadi begitu terpuruk, waktunya yang banyak tersita untuk organisasi membuat Danu harus menerima kenyataan pahit, kehilangan Juli. Bahkan untuk prosesi terakhir pun Danu melewatkannya.
Fahmi teman Danu sejak SMA memaksa Danu meninggalkan Medan menuju kampung halaman ibunya, Apakah Danu bisa menemukan kembali kembali kata Bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wartawati Kampus
1998.
Danu menjalankan semuanya dengan datar saja, hingga masuk tahun kedua ia kuliah, suhu politk yang memanas berimbas pada gerakan-gerakan Mahasiswa yang makin tak terarah, demo menjadi menu biasa saat pagi menyapa, siang menggelora, hingga malam menguasai dunia, tak ada hari tanpa ada yang kuasai jalanan dan penuhi ruang dengar dengan teriakan.
Danu yang sudah aktif di Organisasi Mahasiswa malah sudah menjadi Sekretaris Umum harus langsung terlibat dalam kondisi itu. Hampir tiap hari ada Demo, ribut disana-sini, pengerusakan, hingga penjarahan.
“ Abang dimana ?. Kok ribut amat ?”.
“ Di DPRD. Lagi demo nih “.
“ Demo lagi, Demo lagi. Kenapa sih ?”.
“ Ngga’ cocok aja “.
“ Ngga’ kedengaran Bang, udah Ya “.
“ Nanti Abang yang telephon “.
“ Janji Ya “.
“ Iya. Nanti abang Telephon “.
HP mati. Danu kembali teriak dengan semua teman-temannya. Teriakan-teriakan bergabung dengan kepulan asap dari ban bekas yang dibakar ditengah halaman.Juli hanya geleng kepala. Itu bedanya jadi anak Ekonomi. Mau demo aja pakai kalkulasi, mana jadi. Walau ngga’ suka demo Juli ngga’ bisa larang Danu melakukan itu. Setelah penembakan aparat pada pagar betis Mahasiswa kemarin Juli terus ketakutan kalau dengar Danu demo. Juli ngga’ mau hal itu menimpa orang yang disayanginya itu. Bila dengar anak kampus Danu demo, yang paling ketakutan adalah Juli. Juli hanya bisa mengeluh pada teman satu kostnya Lusi. Sialnya Lusi juga seorang aktivis, bila dengar Juli ngeluh, bukan malah membela, Juli malah sering dapat semprotan dari Lusi.
“ Ngapaian juga demo “.
“ Itu harus. Kita punya tanggung jawab sama negara ini “.
“ Ngga’ harus bakar bakar kan ?”.
“ Itu penyemangat “.
Juli gelengkan kepala. “ Demo. Ribut, bakar ban dijalan, asapnya hitam dihisap ama anak bayi bisa sakit kan ?”.
“ Mana ada bayi ikut demo “.
“ Ngga’ mesti ikutkan Lus. Mungkin sedang lewat naik angkot misalnya, kan bahaya juga jadinya“.
Lusi geleng kepala. Menurut Lusi Juli terlalu berlebihan. Kalau ngga’ mau demo ya.. ngga’ masalah. Tapi jangan mendiskriditkan begitu dong, Lusi tentu amat sangat tidak sepakat dengan Juli.
“ Lus.. “.
Lusi menoleh. “ Apa alagi ?”.
“ Demo itu sebenarnya gimana ya.. aku pikir banyak ruginya “.
“ Rugi apanya ?”.
“ Demo bakar Ban dijalan, jalan jadi macet, orang jadi lambat sampe ke tujuan, akibat bakar ban jalan jadi rusak, Coba kamu bayangkan, berapa rugi kita untuk bagusin itu jalan, ya.. kalau daerahnya PAD nya tinggi, kalau rendah gimana ? kan jadi rugi semua juga “.
Lusi mendelik. “ Kok sampe kesana ?”.
“ Iyalah.. kita kan harus punya perhitungan matang, untung rugi “.
“ Dasar anak Ekonomi. Otaknya rugi melulu “.
Lusi tinggalkan Juli tanpa harus menunggu Juli komentar lagi, Lusi tampar jidat pelan dan terus geleng kepala melihat sikap temannya yang satu ini. Padahal Lusi sudah sering nyemprot Juli soal itu, tapi Juli tetap dan terus ngeluh kedia. Bagi Lusi, Juli itu terlalu memikirkan yang tidak-tidak, lagian rasanya jarang manusia seperti Juli wataknya.
Juli hanya menatap Lusi yang melenggang meninggalkannya. Pikiran Juli terus ke Danu yang katanya sedang Demo. Bagaimana Juli makin tidak tenang, Juli tadi melihat Danu bergantungan dibus besar, Juli begitu khawatir tentang Danu. Hanya saja dasar Danu, kalaupun Juli melarang ikut Demo, Danu malah meluk Juli dan menggendongnya tinggi-tinggi, dengan begitu Juli pasti minta tolong dan janji ngga’ melarang lagi.
Juli tak konsentrasi baca buku karya Oppu Sunggu yang ada ditangannya. Juli terus buang nafas berat dan memandang kejalan raya dengan penuh resah yang amat mengganggu pikirannya. Juli termenung panjang, rasa takut yang kuat terus memburu pikirnya prihal Danu, tunangannya yang bandel.
“ Hai.. Juli “.
Juli terkejut hingga husap dada. “ Andre.. “.
“ Melamunin siapa ? Danu lama ngga’ datang ya ?”.
“ Ada aja. Kenapa ?”.
Andre langsung duduk agak jauh disamping Juli. Andre sodorkan lembar kertas yang ada ditangannya. Juli menerima dan buka.
“ Apa nih ?”.
“ Tawaran bagus dari Buletin Kampus “.
Juli membaca dengan seksama dan tersenyum tipis aja. Juli melipat kembali dan hanya memegangnya saja. Mata Juli balik ke Andre.
“ Gimana Li.. ?”.
“ Gimana apanya ?”.
“ Sepanjang sejarah Buletin Kampus, kita tidak pernah punya Reporter dari Fakultas Ekonomi. Saya berharap Juli buka sejarah itu “.
“ Sejarah ?”.
Andre mengangguk. “ Jadi Reporter Fak Ekonomi pertama “.
Juli hanya geleng kepala. “ Sejauh mana kamu yakin saya bisa “.
Andre angkat bahu. “ Aku tidak punya jaminan soal itu Li, tapi semua orang bisa melakukan apa saja jika mau. Kemauan adalah nilai yang paling utama “.
“ Kerjanya apa aja sih ?”.
“ Banyak. Mencari berita, menulis berita, dan semua yang berhubungan dengan berita. Bila perlu terjun kelapangan, liput Demo misalnya “.
Liput demo. Itu yang langsung tertangkap diotak Juli. Juli tiba-tiba merasa itu bagus, Juli bisa melihat secara langsung bagaimana Danu dan teman temannya Demo, entah kenapa Juli merasa begitu tertarik. Tulisan yang ada ditangannya dibaca lagi, dibaca lagi, hingga lebih tiga kali.
“ Gimana Li. Ngga’ mesti lapor Danu dulu kan ?”.
Danu senyum kecil. “ Apa hubungannya ?”.
“ Kakak kamu kan ?”.
Juli mendelik. “ Kakak ? bukan, Kakak apaan ?”.
“ Lantas apa dong ?”.
“ Bang Danu ?. Bang Danu itu tunangan aku tahu “.
Andre bahkan sampai batuk, Juli tak begitu peduli. Ada rasa kecewa dihati Andre, Andre adalah salah satu dari sekian orang yang menaruh rasa pada Juli. Selama ini mereka mengira Danu adalah Kakaknya Juli.
“ Jadi gimana Li ?”.
“ Apanya ?”.
“ Reporter itu ? mau ?”.
Juli masih tertawa kecil. “ Kaya’nya aku tertarik Dre “.
Andre tersenyum puas. Impiannya punya reporter dari Fakultas Ekonomi mendekati kenyataan. Ini hal yang cukup menggembirakan, tidak hanya Andre, tapi juga semua kru yang ada di Buletin Kampus.
“ Okey Li.. Besok pagi datang ke Sekretariat untuk selanjutnya “.
Juli hanya anggukkan kepala, Andre juga langsung pergi neninggalkan Juli kembali sendirian ditaman halaman kampus yang lumayan rindang juga. Mata Juli kembali kejalan raya, jalanan yang selalu padat akhir-akhir ini, disana cukup banyak orang yang berjalan berbondong entah mau kemana, bawa spanduk, bendera, dan lain sebagainya. Ramailah pokoknya. Dapat dipastikan mereka itu adalah rombongan Demontrasi dari Kampus Juli sendiri, entah kemana mereka pergi Juli tidak pernah tahu. Juli membayangkan ia bakal ada dalam kerumunan itu, ada hanya sekedar melihat dari jauh, tapi harus tahu jalannya Demo dengan lengkap untuk dijadikan berita di Buletinnya.
Ada spirit yang dirasakan Juli untuk menerima tantangan Andre untuk jadi Reporter Buletin Kampus. Itu akan menjadi pengalaman yang bakal amat berharga bagi Juli dikemudian hari. Dalam hati Juli bertekad akan menerima tawaran itu dan akan menjalankan dengan sebaik mungkin.
"Salahkah Cinta?" atau tinggal klik profil aku aja ya