Saras wati versi moderen
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rozalina Apriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hijrah
"Sahira kamu?" ucap Rere memandangi Sahira lekat dari ujung kaki hingga ujing kepala.
"Mmm," Sahira masuk ke ruang kelas.
"Kamu beneran udah hijrah Ra? Jangan main-main lo Ra, hibab itu bukan barang yang bisa kamu buka tutup, buka tutup, harus mantap," ucap Rere yang masih tidak yakin. Atas dasar apa Sahira di hari pertama masuk sekolah setelah libur jadi berubah.
Rasa sakit hati yang menimpanya membuat Sahira banyak berpikir, kurang tidur dan sedikit kurusan. Patah hati memang lebay nyatanya.
Sampai akhirnya Sahira akhirnya sering mendatangi pengajian sore rutin di kompleksnya untuk membasuh hati dan menenangkan jiwanya.
Iya, dia pikir dia telah salah karna tidak seharusnya berpacaran sedekat itu apalagi mereka belum punya rencana untuk menikah.
Ia hanya ingin berpikir mingkin patah hati adalah jalan yang Allah berikan untuknya agar ia mau memperbaiki dirinya.
Selain dosa yang ingin ia hindari ia juga tak ingin patah hati kembali, sebab itu ia memilih memakai hijab dan berjanji tak akan pernah berpacaran lagi hingga suatu saat ia ingin menikah.
Meskipun wajah Agatha terukir jelas di hati dan pikirannya, ia mencoba bersikap sewajarnya, ia tak mau patah hati membuatnya melakukan hal buruk, ia hanya ingin kembali ke fitrah agamanya. Meskipun menghapus nama Agatha adalah hal yang hampir mustahil baginya, ia hanya ingin bersabar meskipun cinta itu akan ada hingga ujung usia sekalipun.
"Apa wajahku ini terlihat tidak meyakinkan?" ucap Sahira dengan nada acuh.
"Ra' kamu kenapa? Kamu ngak lagi kesambet atau apa kan, atau kamu sedang patah hati? Kalian putus Ra?" Rere dengan rasa penasarannya.
"Ngak... aku memutuskan untuk berhijrah dan ngak mau pacaran lagi," ucap Sahira masih acuh.
'Lagian aku sedang tidak berbohong, di antara kami memang tidak ada kata putus namun juga tidak lagi sedang pacaran. Jelas-jelas dia melakukannya dengan sengaja.'
"Tapi kamu berubah drastis Ra, 180 derajat celcius, hehe."
"Maksud aku kamu berubah pasti punya alasan kan?" Rere masih kepo.
"Hah... Oh my God," Ria masuk kelas kaget, ia menutup mulutnya yang barusan berucap kaget.
"Sahira, ini beneran kamu?"
"Mmm."
"Apaan sih Ra', dari tadi am em am em aja jawabnya."
"Tunggu, kamu ngak ada angin ngak ada hujan tiba-tiba pake' hijab, ngak mungkin kan. Pasti ada sebabnya." Ria menimpali.
"Pasti abis ada badai tentunya," ucap Rere.
"Badai... pasti... berlalu...," ucap Sahira merentangkan tangannya seolah sedang membaca puisi.
"Ra, kami serius. Kamu punya masalah?" ucap Rere masih dengan keponya.
"Aku serius untuk menutup aurat Re, Ria, udalah kalian ngak usah ribut. Aku bukan orang yang sekarang membuat keputusan terus besok berubah lagi. Ngak mungkin sekarang aku pakek terus besok aku copot dan terus lusa ku pakek lagi."
"Iya Ra, tapi kamu ngak mungkin secara tiba-tiba. Pasti ada sesuatu yang terjadi dan kami berdua penasaran kenapa, ada apa?" Ucap Rere.
"Hidayah memang kadang datang secara tiba-tiba, makanya kalian do'ain saja supaya teman kalian ini istiqomah. Oke!"
"Ya udah deh kalau ngak mau cerita kami ngak mau maksa."
"Tadi ribut, apa namaya kalau bukan pemaksaan?"
"Itu tadi rayuan, tapi ngak mempan Sahira," ucap Rere yang berakhir terbahak.
#
Di sebuah ruangan rumah sakit kelas VIP, Agatha menatap nanar ke luar jendela. Deretan kanyataan pahit yang secara tiba-tiba namun tetap harus ia terima, bagaimana cara ia menyikapinya?
Agatha yang akhir-akhir ini hanya diam, senyap tak mau lagi bicara. Berat badan yang sudah menurun dan wajah pucat yang sekarag menghiasi harinya. Dan tentunya kursi roda yang selalu menemaninya.
Pikirannya adalah bagaimana cara ia bisa menemui Sahira dengan keadaannya yang sudah begini, hancur sudah cita-citanya untuk memjelaskan tentang kejadian hari itu pada Sahira. Dan kencan, kencan yang ia rencanakan hanyalah sebuah rencana. Jika ia tetap lumpuh seumur hidupnya maka ia akan membiarkan Sahira dengan pemikirannya bahwa ia adalah laki-laki brengsek yang menghianati cinta mereka juga sepanjang hidupnya.
"Agatha sayang kita makan ya?" ucap Bu Amira.
Agatha hanya diam tak bergeming, terkhir ibunya melihat senyum da mendengar suara Agatha adalah hari ia dinyatakan lumpuh oleh Dokter. Teriakan histeris Agatha adalah kali terakhir keluarganya mendengar suaranya, setelah itu ia seperti orang bisu tak pernah mengatakan apapun.
"Kakak, kakak harus makan. Amara ngak mau liat Kak Aga kayak gini terus, plase Kak, Kak Aga pasti sembuh. Kakak makan ya" rengak Amara yang sudah berurai air mata.
"Aga, apasih mau kamu? Kamu itu lumpuh bukan bisu, dan kamu bisa sembuh. Jangan bersikap seolah-olah kamu akan mati sekarang. Kamu tahu sekarang kamulah orang yang paling sering membuat Mama menangis," Haru mendekat dan menggoyang-goyang tubuh Agatha yang lemah. Ia sudah tidak tahan dengan sikap adiknya yang menurutnya tak punya semangat untuk sembuh sedikitpun.
Tak ada basil, Agatha masih diam dengan tataoan kosong. Seisi ruangan terisak termasuk Haru. Haru akhirnya pergi keluar ruangan sebenarnya ia tidak tahan melihat kesedih Agatha yang begitu dalam dan air mata Ibunya yang akhir-akhir ini lebih sering menangis.
Haru memukul-mukul dinding rumah sakit menumpahkan kekesalannya dan juga kesedihannya, sampai akhirnya ia tersandar lemah di dinding rumah sakit.
"Haru, kenapa kamu disini Nak?"
"Tanya sama anak Papa yang ngak punya semangat hidup itu, Haru kesal Pa sama Aga, seharuanya Aga bersemangat untuk terapi dan sembuh, bukanya Dokter bilang dia bisa sembuh. Tapi kenapa Aga bersikap bahwa dia seolah-olah akan lumpuh selamanya. Papa harus tegas sama anak manja kesayang Papa itu," suara Haru setengah berteriak.
"Haru, kamu harus mengerti. Agatha masih terlalu muda untuk bisa berpikir jernih dengan cobaan yang begitu berat dalam hidupnya. Sebagai Kakak kamu harus tetap menyemangatinya dan mendorongnya agar mau berpikir jernih," ucap Pak Iman memegang kedua pundak Haru.
"Pa, apa Haru juga akan besikap sama jika Haru yang ada di posisi Agatha," Haru menangis dalam pelukan ayahnya.
"Bisa jadi nak, karna saat kita sedang mendapat cobaan berat dalam hidup kita terkadang otak kita tidak bisa berpikir jernih, terkadang juga bertentangan dengan hati kita," menepuk-nepuk punggung Haru.
"Ayok kita masuk!"
Saat membuka pintu, Haru dan Pak Iman melihat Agatha makan di suapi oleh Amara. Haru tersenyum berpandangan dengan ayahnya. Akhirnya adiknya itu mau makan juga, terbayang betapa sulitnya membuat Agatha bisa makan akhir-akhir ini.
"Ma," Pak Iman menunjuk Agatha dengan mulutnya, lalu Pak Iman dan Bu Amira tersenyum.
lebaiiii..