NovelToon NovelToon
Kamar No.11B

Kamar No.11B

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Contest / Rumahhantu / Eksplorasi-misteri dan gaib / Hantu / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:8.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: vikryviik

Ada apa di kamar 11B? Sejak Adi menempatinya, hal-hal tak biasa sering ia alami. Mimpi buruk kadang mengganggu tidurnya, bahkan sesosok wanita sering menghantuinya? Apa karena harga kost tersebut murah? Sampai-sampai Adi tak berniat pindah dari sana.

Atau ada hal lain? Yang membuatnya harus tetap bertahan demi menguak misteri yang terjadi.

Belum lagi, puluhan ekor kucing kadang mengganggu Adi. Seolah selalu memperhatikan dan mengawasinya.

Rasa takut bercampur penasaran menggelayut di kepala Adi. Dapatkah Adi menemukan jawaban tentang sesuatu yang mengganggunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vikryviik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part. 24

"Da, rumah lo enak banget. Gue sih mau kalau di suruh tinggal di sini." kataku sambil merebahkan badan di ranjang Yuda.

"Emang siapa yang suruh lo tinggal di sini? Hahahahaha." ledek Yuda.

Kamar Yuda luas, kasurnya tak memakai ranjang. Segala perabotan di dalam kamar tertata sangat rapi. Layar komputer cukup besar, bahkan tv yang menempel di dinding pun besar. Puas rasanya jika menonton film dengan tv sebesar ini.

Lemari berwarna putih, dengan cermin di sisi pintu sebelah kirinya. Ada karpet dengan bulu halus terhampar di tengah kamar, dan dua buah bantal yang cukup besar pula.

"Da, ini bantalnya gede banget." aku meletakkan kepalaku di atasnya.

"Itu bukan bantal Di, itu tempat duduk." jawab Yuda sambil menghisap rokoknya.

"Tempat duduk? Tempat duduk apaan kayak begini?" tanyaku heran.

"Haduuh, dasar ndeso. Ini namanya bean bag. Duduknya gini nih!" Yuda duduk berselonjor kaki di atas bantal besar yang di sebut bean bag.

Aku mencobanya, waaahh belum pernah kurasakan sebelumnya duduk di bean bag. Nyaman sekali. Aku terus mengeksplor segala perabotan yang belum pernah kulihat dan kugunakan sebelumnya, baik di kamar Yuda maupun di ruang keluarga, juga dapurnya.

Setelah shalat maghrib, Yuda mengajakku makan. Asisten rumah tangga yang di panggil bibi sudah membuat masakan untuk kami makan malam. Ayam goreng, sayur sop, di tambah tempe dan tahu goreng. Kami pun makan malam.

Setelah makan malam, Yuda mengajakku keluar rumah.

"Nih, lo pakai kemeja gue!" Yuda melemparkan selembar kemeja kotak kotak berwarna biru.

"Buat apaan kemeja? Emang mau kemana sih?" tanyaku menyambar kemeja.

"Udah ganti baju aja dulu. Buruan." ucap Yuda, ia telah rapi memakai kemeja biru dongker dan celana hitam, menyemprotkan parfum ke badannya.

"Nih, pakai sepatu gue!" Yuda menyerahkan kotak sepatu.

"Ngapain pakai sepatu segala sih Da?" tanyaku yang masih keheranan.

"Udah, pakai buruan." suruh Yuda. Dan kupakai sepatu pinjaman dari Yuda.

"Naaahh, gitu kan keren. Nggak kelihatan mahasiswa perantau. Hehehehe." Yuda melihatku dari atas hingga bawah.

"Yuk cabut!" ajak Yuda.

"Sebenernya kita mau kemana Da?" tanyaku.

"Nanti juga lo tahu." Yuda mengedipkan sebelah matanya.

Mobil menerjang lalu lintas malam kota. Lampu gemerlap di jalan membuat pemandangan lebih indah. Sekitar dua puluh menit kami sampai di sebuah...

Tempat apa ini?

"Yuk turun." ajak Yuda.

Nampak muda mudi antre membuat barisan, lelaki dan perempuan. Di ujung barisan berdiri lelaki kekar memamerkan ototnya. Pelan-pelan barisan maju selangkah demi selangkah.

Tapi aku dan Yuda langsung menuju ujung barisan. Yuda berbisik ke seorang perempuan yang berdiri tepat di belakang meja kecil, si perempuan kemudian mengangguk, dan memberi isyarat ke lelaki kekar lainnya penjaga pintu. Pintu pun di buka, dan kami masuk.

Dadaku seperti di hantam, telingaku tak nyaman, mataku terasa perih. Nampak muda mudi berjoget layaknya orang kesetanan di iringi musik. Saling berdekatan, saling merangkul, ada yang memeluk.

"Ini namanya clubbing." bisik Yuda ke telingaku.

"Kita ngapain ke sini Da?" aku teriak dekat telinga Yuda. Ia hanya menggoyangkan badannya mengikuti irama musik.

Yuda berbisik ke seorang perempuan, lagi-lagi si perempuan mengangguk dan mengajak Yuda ke sebuah sofa setengah melingkar dengan meja bulat di tengahnya. Cahanya remang, hampir nampak gelap.

Aku dan Yuda duduk di sofa, tak lama seorang pelayan perempuan datang membawa dua botol berukuran jumbo ke meja kami.

"Ini apaan Da?" tanyaku.

"Kita enjoy dulu Di, biar kita nggak terlalu tegang hadapin masalah." sahut Yuda.

Yuda menuangkan minuman dari botol ke dua buah gelas kecil, mengambil satu dan memberikanku segelas.

"Ayo tos!" ajaknya.

"Ini bikin mabuk nggak Da?" tanyaku dengan polosnya.

"Enggak Di, bikin enak pokoknya. Ayo tos!"

Dan kami pun saling menghantamkan kedua gelas dengan pelan, Yuda menenggak minuman. Aku menyicipi sedikit. Huek, rasa apa ini? Tidak keruan dan aneh. Membuat leherku panas.

"Habisin Di." aku pun meminumnya dengan terpaksa.

Yuda kembali menuangkan minuman. Lagi, lagi, dan lagi. Hingga tersisa setengah botol. Kepalaku pusing. Semua yang kulihat terasa samar dan berputar. Aku hanya duduk bersandar, tak berbuat apa-apa.

"Lo kenapa Di? Hahahahaha." Yuda menertawaiku.

"Muka lo merah. Hahahahaha." lanjutnya.

"Parah lo Da, udah bikin gue mabuk begini. Gue ke toilet dulu ah." ujarku, lalu bangun dari sofa.

Hingar bingar musik membuat kepalaku mau pecah rasanya. Tiap sudut di penuhi orang, hingga jalan ke toilet pun saling bersenggolan. Aneh, kenapa orang-orang ini sangat suka di sini? Mereka nampak ceria, saling tertawa, bergoyang bersama.

Sebuah lampu menyorot mataku. Silau, tanganku menutup mata. Menguceknya pelan. Lalu, ada sosok wanita yang tak asing bagiku. Ia berdiri di sudut ruangan, terlihat samar namun jelas. Wajah dan tubuhnya menghadap dinding. Tapi, gaun putih lusuhnya amat kukenal.

Dukk!

Seseorang menabrak lenganku, cukup keras. Aku melihat ke sisi tempat sosok tadi berdiri, namun sudah tak ada. Ah, bodo amat. Kuacuhkan. Aku pun menuju toilet.

Setelah keluar dari toilet, kembali kulihat sosok tadi. Kali ini ia tak menghadap dinding. Ia berdiri tepat di seberangku. Senyumnya menyeringai lebar, matanya terbelalak menyeramkan. Tatapannya tajam ke mataku. Aku menelan ludah. Aku ketakutan.

Aku membuang muka. Tapi sosok wanita tersebut sudah berpindah ke tempat lain dan mataku tertuju kepadanya. Wajahnya masih sama, matanya terbelalak dan senyum menyeringai lebar. Amat menyeramkan. Diakah almarhumah adik Pak Thamrin? Mbak penunggu rumah depan?

1
Dewii Ratna Daffa'rizkiansyah
iya nih kek badrun y kmna gak muncul2..
Mila Karmila
aneh ya kok semuax bengong bukan membunuh si merah mlh santai santai aja gimn sih ceritax g paham aq
Mila Karmila
ha ha ha jagox kalah
Mila Karmila
mn tika
Mila Karmila
mana ilmu di cemen
Mila Karmila
bukanx mau ambil mustika lupa yaaaa
Shankara Senja
bukan tokoh utamanya yg ga peka.taoi penulisnya ga peka sama konent pembaca
Shankara Senja
si adi lemot apa bodoh ya..secara lulusan pesantren gtu loh..kecuaki orang biasa..hapalan doa untuk apa jg pasti diajarkan..apa penulis yg kurang paham
Wiwit
koq Adi ga ada nanya yg ada perempuan d rmh mang Ujang, koq ceritanya ngambang trus
cumi cumi kecil🦑🌸🌈👑
ujang gmn?
cumi cumi kecil🦑🌸🌈👑
perasaan udah jelas banget... kalau si adi bakal di jadiin tumbal si kunti *merah* tapi karna punya jimat pengganti nya si wati..... masa adi masih ga paham juga... padahal udah di kasih tau dan dapat petunjuk banyak bangat (dari mimpi).
cumi cumi kecil🦑🌸🌈👑
itu mereka ga ada kepikiran buat cari si bagas di rumah mba kunti apah?
KATAKURI
Jujur gua benci sama wanita kayak Kemala ini!!!! asli!!!!
Achiek
adi... adi..... cara pikir mahasiswa kok gitu sih.... yg diincar bkn hny loe... tika dan nyokap kemala kan diincar juga....
Achiek
lho bknnya nyai asih blm meninggal saat keguguran... dan dikuburkan bkn disekitar rumahnya.... ini crt kok jd mundur maju.... belibet nggak jelas....
Achiek
bodoh.... kok bs sich thor sosok bodoh dijadikan aktor utama....
Aris Setyawan
si guntur emang g berguna,,malah nambah masalah
Aris Setyawan
bentar2 dengkul lemas,, aslinya adi punya nyali g sich
Aris Setyawan
selain adi yg pekok,, ternyata anak ponpes satunya juga g kalah pekoknya...hehehehe..
Aris Setyawan
ne cerita nya adi tokoh utama yg g peka,, katanya lulusan ponpes kok g peka,, katanya nyaman dikost ternyata merasa dihantui,, nyamannya dimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!