bagaimana jika seorang wanita mendapat kesempatan untuk berada dekat dengan seorang taipan berwajah tampan? mengasuh seorang CEO tampan yang pikirannya kembali ke masa anak umur 8 tahun? punya kepribadian aneh? dan kadang wajah tampan itu bertranformasi menjadi imut dan selalu meluluhlan hati seorang karin..... sampai sampai bisa menembus jiwa kejombloan karin, lalu bagaimana jika pria itu kembali ke pemikiran dewasanya? bagaimana kehidupan duo sejoli itu nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak_na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RASA TAKUT
Karin pov
aku meraba bibirku kembali ini kedua kalinya Devan bertindak seperti ini padaku. “apa dia tidak tahu jika kesalahan terbodoh seorang pria adalah membuat seorang wanita baik berharap sesuatu padanya namun pria itu tidak punya niat mewujudkan harapan itu?”
aku memandang gemerlapan malam dari balkon kamar Devan, setengah hari ini kuhabiskan hanya memikirkan perbuatan pria itu pada tubuhku.
Jujur aku menyukai Devan, tapi hanya sebatas mengagumi. Baiklah aku juga mengakui pernah mengoleksi foto-fotonya yang ada di majalah dan itu masih tersimpan rapat di rumah lamaku. Namun hanya sebatas itu!
Aku tidak ada niat untuk berada dekat dengannya, “tapi Karin... jika melihatnya dari jauh saja kau bahagia, pasti dari dekat kau seperti berada di surga” aku kembali bergumam pada diriku sendiri.
Aku tidak bisa menampik seberapa bahagianya diriku menjalani hari-hari bersama Devan. Namun jika dia terus memperlakukanku seperti ini.... apa hatiku akan kuat jika suatu hari Devan meminta sebuah perpisahan?
Kuremas pelan lenganku yang terbuka, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyesakkan dada ketika membayangkan Devan ingin pergi dan tidak membutuhkanku lagi. Sudah kuduga jika rasanya sangatlah menyakitkan. Kupejamkan mata meresapi rasa sakitnya. Apa aku harus menanyakan kejelasan mengenai sikapnya yang selalu manja padaku? Atau meminta kepastian kenapa dia menciumku? Atau meminta alasan kenapa dia bersikap seolah-olah selalu memujaku?
Tok tok!
Aku mendengar suara pintu yang diketuk dari luar. “siapa?” tanyaku.
“ini aku karin” aku menaikkan alisku sebelah, itu suara Devan, tapi tumben sekali dia bersikap sopan dengan mengetuk pintu lebih dulu, biasanya juga langsung masuk dan menghamburkan diri minta kupeluk.
“kenapa kau tidak masuk?” tanyaku penasaran, aku pun segera membalikkan badan dan berjalan ke arah pintu, tapi tidak berniat untuk membukanya.
“emmm, itu, kau harus janji padaku kau tidak akan marah dulu” apa maksudnya? aku yang penasaran segera meraih gagang pintu, hell? Gagang pintunya keras seperti di tahan oleh sesuatu.
“jangan dibuka!” aku terperanjat dengan suara teriakkan Devan barusan ketika aku masih berusaha membukakan pintu untuknya.
“ada apa?”
“kau arus berjanji dulu jangan marah Karin” aku yang masih tidak mengerti maksud Devan akhirnya mengangguk. “hmmm baiklah aku tidak akan marah”
Dan akhirnya gagang pintu yang kupegang tadi sudah bisa di buka. Dan ketika pintu itu terbuka sempurna aku hanya mendapati Devan yang memunggungiku. Seolah-olah menyembunyikan wajahnya.
Aku melipat tangan dan menatapnya kesal, jadi, apa maksud dari tingkahnya kali ini. Jika kulihat dari sosok Devan yang sekarang, dia membalikkan badan dengan kepala yang di tekuk. Kemejanya berwara biru tua yang sedari pagi kulihat masih rapi sekarang sudah acak-acakkan. Dia terlihat seperti anak kecil yang kedapatan sudah berkelahi dengan anak tetangga sebelah.
Aku menghembuskan nafas lelah, mengusir pemikiran mengenai Devan yang berkelahi karena...
“Devan aku tidak suka jika kau berkelahi, baku hantam dan memukul orang itu adalah perbuatan yang salah, jika aku kedapatan ada orang yang seperti itu maka aku tidak akan mau jadi temannya lagi!!”
Hmmm, yah setidaknya begitulah aku menyampaikan pelajaran hidup mengenai yang namanya ‘baku hantam’ pada Devan. Dan ketika itu dia mendengarnya dengan hikmat dan berjanji tidak akan melakukan hal bodoh itu.
“jadi? Kenapa kau tidak masuk?” aku memandang Devan yang masih enggan menampilkan mukanya. Aku pun berinisiatif untuk melangkah dan melihat wajahnya sendiri.
Ketika aku sampai di depanya, Devan malah menyembunyikan wajah tampannya dengan kedua tangan besarnya. Aku yang sudah kehabisan rasa sabar, mengambil paksa tangannya. Dan untungnya itu bisa terlepas.
“maafkan aku, aku melanggar janji itu” aku membelalakkan mata mendapati betapa berantakannya wajah Devan kali ini.
Sudut bibirnya yang berdarah, hidungnya yang juga memerah dan bahkan sampai membiru. Aku juga melihat aliran darah yang sudah seperti sungai mengaliri pelipis dan terus turun sampai ke dagunya.
Seketika tanganku gemetar, sesak rasanya melihat kondisi Devan yang seperti ini. pikiranku kosong, tanpa ku sadari tubuhku mendekat ke arahnya, tanganku yang masih bergetar berusaha untuk menjangkau pipinya.
Ketika aku berhasil menangkup kedua pipinya. Masih dengan keterkejutan seperti tadi... aku jadi membayangkan itu..... tidak itu tidak akan pernah terjadi!
“tidak... ini tidak mungkin...” aku menjauhkan telapak tanganku dari pipi Devan, dan melangkah mundur.
“Karin....”
“Karin...”
Aku mulai menyadarkan diriku. Kutatap Devan yang sedari tadi memanggil namaku. Masih dengan keadaan terluka. Aku memalingkan wajah tidak mau melihat lukanya lagi. Aku takut.. aku takut jika sampai itu kejadian...
Aku yang tak sanggup lagi menatap wajah Devan, menundukkan kepala. Aku ingin pergi dari sini. Kulangkahkan kaki menjauh dari Devan. Aku masuk ke dalam kamar yang kutempati tadi yang lebih tepatnya kamar Devan. Ku tutup segera pintu itu dengan rapat dan ku kunci langsung.
“Karin! Apa kau marah? Maafkan aku, aku janji setelah ini aku tidak akan berkelahi lagi!”
Tok
Tok
“Karin kumohon buka pintunya, aku tahu aku salah, aku yang memulainya duluan!” aku tidak menghiraukan teriakkan Devan yang semakin lama semakin Meggila. Aku pun menjauhi pintu itu dan langsung menghempaskan diriku di atas ranjang besarnya. Tidak, devan tidak akan mengerti ketakutanku, jika aku marah sekalipun, itu tandanya aku khawatir padanya, tapi jika dia sampai terluka seperti itu.... yang terbayang olehku hanyalah... Devan yang di sakiti oleh Bramasta hanya untuk melindungiku.
Ketakutan terbesarku salah satunya adalah ini. Sampai-sampai membuat tubuhku gemetar dan merinding. Bahkan sekarang pun aku sudah sangat ingin menangis.
“hiks...kenapa jadi seperti ini... seharusnya... seharusnya aku tidak boleh menyerahkan semua masalahku pada Devan....hikss...” akhirnya aku menangis dan menggumamkan kata-kata tidak jelas seperti tadi.
Aku meredam setiap tangisku pada bantal yang ada disini. Sesekali raunganku terdengar begitu jelas. Aku menyesal...
“seharusnya aku mengakhiri kontrak ini dan menjauh dari Devan hiks....” apa aku harus pergi dari sisinya?
“akan lebih baik bagi Devan jika aku menyerahkan diri pada Bramasta. Hiks.... dia akan aman dan tidak akan terluka seperti tadi”
***
Devan pov
Aku menjambak rambutku frustrasi. Tatapan Karin yang ketakutan ketika melihat wajahku membuat jantungku kembali sakit.
“bukakah saya sudah menyarankan pada tuan untuk tidak melakukannya?” aku memandang pak fet yang berdiri di depanku dengan tatapan datar seperti biasa.
“diamlah!” aku memandangnya tajam. Bukannya memberi solusi terbaik dia malah menceramahiku.
"saya sudah mengingatkan tuan untuk tidak menambah luka pada wjah anda, tapi tuan malah menyuruh saya dan beberapa orang hanya untuk melakukan perbuatan konyol ini. Dan hasilnya malah-"
"kau pergilah periksa beberapa surat dan email yang dikirimkan Arthur padaku!” aku memotong perkataan pak fet degan dalih kerja.
Sial, sepertinya pria tua itu benar tentang membuat luka pada wajah sendiri akan membuat seorang gadis takut... tapi yang aku inginkan hanya melihat wajah khawatir Karin untukku. Apa ini terlalu berlebihan?
Ku tatap kembali pintu kamarku yang di dalamnya terdapat Karin. Kuhembuskan nafas berat, sudah puluhan kali kupanggil namanya dan ku ketok pintu ini namun tidak ada balasan dari dalam. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku hanya ingin dia khawatir memperhatikanku saat ini. tapi kenapa malah berubah dia menghindariku?
“tuan”
“apa!” teriakku kesal pada pak fet, padahal aku sedang mencari solusi untuk membujuk Karin agar mau membuka pintunya.
“saya hanya lupa mengataka jika tuan ingin membuka pintu itu ini adalah kunci cadangannya”
“oh, berikan padaku” aku mengambil dengan cepat kunci ruangan kamarku dari tangan pak fet dan langsung menyuruhnya pergi. Aku sedikit tertawa dengan pemikiran bodohku, kenapa harus membujuk Karin untuk membuka pintu ini? Padahal aku bisa saja membukanya dengan kunci cadangan. Ini adalah hal paling memalukan yang kutunjukkan pada pak fet untuk pertama kalinya, bahkan aku sendiri tidak bisa menunjukkan wajah maluku.
“tidak... itu tidak mungkin terjadi”
Aku mengingat perkataan Karin yang tadi berusaha keras juga ku cerna, apa maksud dari tidak akan terjadi? Kejadian apa yang bisa membuatnya takut ketika melihatku dengan kondisi seperti ini. Awalnya aku berpikir jika aku bisa membuat Karin khawatir maka dia akan lebih memperhatikanku lagi dari biasanya.
Tapi ketika melihat wajah takutnya barusan..... rasa sesak di dadaku kembali menghantam dengan keras.
“sial!” umpatku.
hrsnya diceritakan jg gmn Karin diselamatkan, ungkapan cinta Devan, permintaan ma'af Karin, gmn bucinnya Devan..
lha ini tiba2 sdh punya anak usia 5 th..😢😥
ternyata tokohnya semya menyukai Karin kecuali Arthur..
akhirnya Jerry mampus jg, pasti de. Jhon atau suruhannya yg membunuhnya..
kasihan Devan, dia sdh berusaha berubah malah Karinnya salah paham & akhirnya pergi drnya..
yg sabar ya Devan..