" Ken, maaf kan aku ! " ucap Jonathan
Kendra tersenyum mencibir.
" Selama aku belum menikah, jangan mimpi kau mendapatkan maafku, dan asal kau tahu, aku tidak gampang menyukai seseorang dan selama aku belum memaafkanmu, kebahagiaan yang kau punya akan kosong dan rapuh seperti cangkang, camkan itu ! " pada kata terakhir, Kendra menunjuk dada Jonathan dengan ujung telunjuknya.
Ig.rii.ena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Hukuman untuk Jo
Setelah sarapan Ibu Lastri sudah keluar rumah, ada urusan yang hendak diselesaikan, mbok Narti ke pasar bareng dengan ibu Yuni, ibunya Raisa.
" Mas Ken, Niken...." sebelum Rai meneruskan ucapannya, Jo sudah menggenggam tangannya sambil menggeleng.
" Bang, aku cuma mau memberikan ini, agar Mas Ken membawa sekalian ke atas " Raisa menyodorkan sepiring sarapan lengkap beserta segelas susu hangat, meletakkannya di depan Ken
" Oh " Jo tersenyum canggung.
" Makasih, Rai, kau memang kakak ipar yang pengertian " ucap Ken membawa sarapan yang sudah disiapkan Rai tadi naik keatas
Jo hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Bagaimana perutnya ? sudah enakan ? " Jo menarik tangan Rai pelan untuk duduk di pangkuannya.
" Masih sedikit mual " Rai masih malu jika Jo bertindak terlalu mesra, apa lagi sekarang keduanya ada di meja makan.
Rai berusaha turun dari pangkuan Jo, tetapi Jonathan menahannya
" Malu bang, ntar ada yang lihat "
" Malu sama siapa ? Ken ? dia pasti sedang sibuk diatas " Jo mulai menggigit cuping telinga Raisa, mendadak perutnya Raisa bergolak lagi mau muntah, cepat ia menutup mulutnya dan melompat dari atas paha Jo
Jo sedikit kesal, sudah hampir dua Minggu ia tidak bisa menyentuh Raisa, karena setiap Jo mulai melakukan tindakan mencumbui Rai, walaupun hanya sekedar mencium pipi, Raisa mendadak mual, tetapi jika Jo diam diam saja, perut Raisa juga baik baik saja.
Ketika tidur, Jo hanya bisa memeluk istrinya tanpa melakukan apa apa, kehamilan Raisa baru juga masuk Minggu ke sebelas.
Raisa kembali lagi dengan wajah yang basah sehabis cuci muka.
" Bang, maaf ..."
" Gak apa apa Rai, apa salah abang sama kamu Rai, kok sepertinya anak abang alergi dengan abang ya ? apa abang bau ? " Jo mulai mengendus endus aroma tubuhnya sendiri, Raisa ingin tertawa tetapi takut menyinggung dan membuat suaminya semakin sedih.
" Mungkin cuma kebetulan, bang " Rai mencoba menghibur.
" Sudah dua Minggu bukan kebetulan, Rai ? pasti ada yang salah.
Kalau abang diam saja tanpa menyentuh mu, kamu tidak mual tetapi jika abang mulai ....ach...." Jo menyugar kasar rambut di kepalanya.
Raisa hanya bisa diam duduk di sebelah Jonathan.
Ken yang hendak mengambil air putih untuk dirinya sendiri, tanpa sengaja melihat kemesraan dan mendengar semua yang dibicarakan oleh Jo dan Raisa.
Ketika ia meletakkan sarapan ke dalam kamar, Niken masih tertidur dengan nyenyak, Ken tidak tega untuk membangunkannya hanya untuk sarapan, jadi dia kebawah lagi untuk minum kerena mendadak terasa haus.
Ia tidak menyangka jika Jo sedang mempunyai masalah yang cukup serius dengan kebutuhan biologisnya, Ken menggelengkan kepalanya kasihan.
Jo...Jo...baru juga menikah, sepertinya kau harus puasa lebih panjang, hukuman untuk mu Jo, sebelum aku menikah kau memprovokasi aku, sekarang....kau nikmatilah siksaan itu, masih beruntung aku, kemarin aku belum menikah, nah kau sekarang, ada, dekat, dan boleh, tetapi kau tidak bisa ckckck
Ken mengutuki Jo dalam hati.
Ken tidak jadi mengambil air minum kebawah, biarlah ia tahankan rasa hausnya sebentar, lalu kembali masuk kedalam kamar.
" Rai.... " Jo merengek seperti anak kecil.
" Aku harus bagaimana bang ? apakah aku harus mengatakan dengan ibu, siapa tahu ibu punya obat agar aku tidak mual " Rai memberi alasan yang konyol.
" Itu bukan solusi Rai, abang akan malu pada ibu "
Jo berdiri lalu menggenggam tangan Raisa dan membawanya naik ke atas untuk masuk ke dalam kamar.
Jo duduk di atas kasur, Rai di dudukkan lagi diatas pangkuannya.
" Selama ini kan abang saja yang mulai menyentuh mu, bagaimana kalau kamu yang memulai, abang yang menerimanya " dengan tidak tahu malu Jo mengutarakan ide nyelenehnya.
Sebelum Ken menikah, menghadapi Rai yang acap kali langsung mual begitu Jo Ingin mencumbunya, Jo masih bisa bertahan dan bersabar, tetapi setelah Ken yang sudah menikah, Niken yang tidak turun untuk sarapan di hari pertamanya di rumah mertua, Jo bisa membayangkan apa yang sudah terjadi di kamar Ken, Jo merasa panas sendiri.
Kemarin ketika dia dan Raisa menikah, Jo tidak langsung melakukannya karena omongan tidak masuk akalnya sendiri, sangat berbeda dengan Ken, tentu saja Jo merasa hidupnya sengsara sekali.
" Tapi bang, aku malu " Raisa menundukkan wajahnya, tangannya memainkan kancing kaus yang Jo pakai saat ini.
" Rai, abang suamimu, kenapa harus malu ? bahkan ini " Jo mengelus perut Rai yang masih rata " Buah dari rasa yang mulai tumbuh dihati kita bukan ? apakah perasaanmu pada abang, masih biasa biasa saja ? " tanya Jo menatap dalam manik mata Raisa
Raisa menggelengkan kepalanya meyakinkan Jonathan bahwa dia memulai menyukai Jo sebagai suaminya.
" Abang juga Rai, abang menyukaimu mungkin juga sudah mulai mencintaimu " Jo mulai mendekatkan wajahnya agar Raisa mulai melakukan apa yang Jo inginkan.
" Bang, tapi aku kepengen makan mangga muda, tadi sudah pesan dengan ibuku, sekarang sepertinya mereka sudah pulang dari pasar, nanti malam saja kita cobanya ya ? gak apa apa kan ? " wajah Rai yang terlihat enggan membuat Jo melepaskan tangannya yang berada di pinggang Raisa sedari tadi.
" Baiklah, ayo ! abang yang akan mengupaskan mangganya " Jo harus menekan keinginannya, kembali turun berdua menuju ke belakang.
*
*
*
🌹🌹🌹🌹🌹
baru awal bab aja udah terasa bedanya... 👍👍👍
terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️
setelah baca mengejar cinta suamiku & menikah dengan sahabat