NovelToon NovelToon
J King (This Is Side Of You)

J King (This Is Side Of You)

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Cinta beda status
Popularitas:79.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyaeva

Secara perlahan, setelah kepahitan bahkan kehancuran yang dialaminya karena J King. Juliet mulai mengerti dan memahami sisi lain kehidupan J yang membuatnya merasakan sesuatu untuk pria itu.

Diamnya seorang J King menunjukkan sisi lain J yang sebenarnya. Pria dengan masa lalu kelam yang tidak pernah terbayangkan oleh Juliet.

...


Romeo dan Juliet tidak pernah menemukan akhir yang bahagia. Kematian adalah akhir cerita cinta mereka.

Aku, J King tidak akan membiarkan Juliet kembali pada Romeo karena dia hanya milikku.

Bahkan jika nyawaku juga terancam, aku tidak peduli.

Aku tidak peduli jika Juliet menderita, selama bayangannya masih tertangkap dalam pandanganku, itu sudah cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyaeva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

You Are Not Alone

Apa yang harus diucapkan ketika keterdiaman lebih membuat diri merasa nyaman. Saat kesendirian terasa lebih aman dan melindungi dari tatapan kejam dunia.

Untuk apa berada di tempat yang terang jika dalam kegelapan bisa membuat diri bebas melihat tanpa ada rasa sakit dalam penglihatan. 

Juliet berbaring menyamping ke arah kiri dengan tangan kiri yang menjadi bantalannya, dia tidak bisa pergi ke alam mimpi walaupun matanya sudah ia pejamkan sejak setengah jam yang lalu. Bahkan dia sudah mematikan lampu kamar dan hanya menyalakan lampu tidur saja.

Ceklek …

Pintu kamar yang terbuka membuat Juliet tidak perlu berpikir tentang siapa yang datang, itu sudah pasti si pria dingin yang sudah membuatnya tergila-gila.

Juliet pura-pura tertidur karena tidak ingin membuat J terganggu jika dia masih terbangun. Dia mendengar suara langkah kaki mendekat dan merasakan ada sedikit gerakan pada tempat tidurnya.

Juliet masih berusaha terpejam tanpa memperlihatkan kegugupan. Wanita muda itu merasakan bahwa sang suami membaringkan tubuh tepat di belakangnya.

Juliet meremat selimut yang menutupi bagian depan tubuhnya karena merasakan sebuah tangan yang melingkar di perutnya.

Dadanya berdegup kencang saat tangannya bersentuhan dengan tangan J yang terasa panas, apakah pria itu sakit?

"Aku tahu kau belum tidur," bisik J yang membuat Juliet membuka matanya. Itu benar dia tidak bisa tidur karena memikirkan si pria dingin.

"Biarkan seperti ini, sebentar saja!" Juliet ingin menangis, kenapa J harus meminta izin untuk melakukan itu?

Juliet memberanikan diri untuk berbalik setelah puluhan detik terlewat walaupun dengan sangat ragu tanpa melepaskan tangan J yang masih melingkar di perutnya. Setelah saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat, Juliet tidak menemukan sepasang jade yang ia sukai karena J memejamkan matanya.

Wajah J terlihat pucat dan sembab, sungguh itu membuat Juliet merasa lemah karena dia memahami bagaimana perasaan pria itu sekarang.

Tangan kiri Juliet terangkat perlahan menyentuh wajah J, pria itu tetap diam dan terpejam seolah sedang tidur nyenyak. Panas, Juliet merasakan itu. Belakangan dia juga mendengar dari Corina bahwa J memang sering sakit walaupun itu gejala ringan.

Juliet membiarkan pria itu tetap terpejam dan dia bisa merekam semua bentuk wajah pria itu tanpa perlu ada perasaan canggung atau malu.

Juliet akan menatap sepuas hati jika seandainya dia tidak teringat pada suhu tubuh J. Dia mengangkat kepala untuk membuka selimut hangat supaya lebih lebar dan menutupi tubuh J dengan selimut yang sama.

Dia mengerti jika J tidak ingin mengatakan apapun saat ini. J membutuhkan seseorang untuk bersandar dan Juliet merasa senang karena pria itu mendatanginya. 

Juliet sangat terkejut saat tiba-tiba J menariknya untuk kembali berbaring bahkan menenggelamkan wajah di bahu kanan Juliet. 

Tubuh Juliet membeku, dia menahan napas karena hidungnya bersentuhan dengan kening J yang terasa panas. Dia berharap J tidak mendengar degup jantungnya yang cepat.

"Kau sakit?" tanya Juliet dengan suara yang lembut. Dia memberanikan diri untuk menyentuh dan mengusap rambut belakang J.

Pria itu bergeming tanpa menjawab pun membuka mata. Juliet membiarkan posisi mereka tetap seperti itu. Embusan napas panas J menerpa leher Juliet dan itu membuat wanita hamil tersebut merasa tidak nyaman.

Bukan karena posisi mereka, tetapi hawa panas di tubuh J memang membuat Juliet merasa cemas. Dia tidak tidak mau menolak atau mengganggu J yang sepertinya nyaman dengan posisi itu.

Tangan Juliet yang masih berada di kepala belakang J mulai bergerak mengusap helaian rambut coklat gelap yang baru pertama kali dia sentuh, berharap hal sekecil itu bisa membuat J merasa nyaman.

Secara perlahan akhirnya J memang tertidur dalam dekapan Juliet, pria itu memeluk erat pinggang sampai ke punggung wanita itu. Sementara Juliet tidak keberatan dengan itu, kalau J mau dia bisa melakukannya setiap waktu.

Dan Juliet merasa seperti bodoh karena baru teringat pada gaun tidur tipis dengan tali spageti yang terpasang di bahunya. Mau bagaimana lagi dia memang selalu kepanasan beberapa hari terakhir.

Saat tubuhnya bersentuhan dengan J dia merasakan sesuatu yang aneh. Dia lebih kepanasan dari sebelumnya. Dia tidak bermaksud untuk menggoda tetapi jika J  menginginkan sesuatu maka dia akan siap untuk melakukannya.

'Ishh….'

Juliet menepuk kepalanya, J sedang sakit jadi tidak mungkin pria itu bergairah untuk melakukan hal yang gila. Oh, kali ini si kembar tidak bisa diajak berkompromi, mereka seperti merindukan sentuhan ayah mereka sekarang.

J membuka mata karena ada pergerakan pada tubuh Juliet, dia sadar mungkin wanita itu merasa tidak nyaman. "Apa kau merasa terganggu?" bisiknya.

Setelah mengatakan itu dia tidak merasakan Juliet bergerak lagi. J berusaha sedikit--hanya sedikit menjauh tetapi dekapan Juliet terlalu menenangkan untuk dia tinggalkan. Sehingga akhirnya mereka hanya terdiam dengan pemikiran masing-masing.

"Bagaimana kabar mereka?" tanya J tanpa berani mengangkat wajah untuk menatap Juliet.

J tidak menyadari bahwa saat ini Juliet sedang tersenyum setelah mendengar pertanyaan darinya. "Kau ingin tahu?" tanyanya sambil menjauhkan tubuh.

Tangan yang sebelumnya memeluk kepala sang suami, kini beralih untuk membimbing tangan pria itu pada perutnya. Juliet menautkan jemari sebelum akhirnya mengubah posisi menjadi terlentang.

Dadanya berdebar saat telapak tangan besar J berada di perutnya yang hanya terhalang kain tipis. "Mereka tidak bisa diam," ucap Juliet, ada tawa dalam suara wanita itu.

Juliet membimbing tangan J untuk mengusap dan mengelus semua bagian perut hamilnya. Berharap debaran yang mengharukan juga sampai di dada J, semoga si kembar bisa memberi makna bahwa hidup J sangat berarti untuk mereka … dan juga ibu dari keduanya.

Sepertinya usaha Juliet tidak sia-sia, nafas J seperti tertahan, tangannya juga bergetar. Juliet merasakan semua itu dan dia merasa terharu di saat yang bersamaan karena wajah J melukiskan sesuatu yang baru.

Tangan J masih mengusap secara perlahan seperti takut akan menyakiti jika terlalu keras menekannya. Matanya juga terus menatap perut Juliet yang sudah menunjukkan sebuah gundukan.

Tangan Juliet kembali terangkat menyentuh wajah J sampai pria itu mendongak dan mengalihkan tatapan pada wajah istrinya.

"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Juliet sambil merangkum wajah J.

"Aku ingin minta maaf tentang tadi," jawab J kemudian menunduk. 

Juliet hanya tersenyum, sesungguhnya dia tahu bahwa bukan hal itulah yang sedang J pikirkan, ada masalah lain yang mengganggu dan itulah sebabnya Juliet melihat J berada di dalam kamar calon bayi mereka.

Saat tiba di rumah dia bertemu Corina yang terlihat cemas, wanita tua itu mengatakan bahwa Archibald King menghubungi J dan menyuruh cucu pertamanya itu untuk segera datang ke Belanda.

Juliet terkejut pada awalnya karena seperti yang semua orang tahu, pria itu sudah lama meninggal menyusul putrinya Meredith Monroe setelah pindah membawa Diaval.

Kenapa semua kejutan yang diterima Juliet dan itu semakin membuat dia tidak bisa mengabaikan semua hal tentang J. Dan sekarang dia sudah mengerti bahwa dirinya benar-benar harus tinggal di sisi J, terlebih karena perasaannya sekarang ini.

"Apakah kau perlu meminta maaf? Kau ingat sesuatu tentang sepuluh keinginan yang akan kau berikan padaku?" tanya Juliet, dia tersenyum dalam hati saat menyadari betapa intimnya posisi J yang masih memeluknya.

J hanya mengangguk sebagai jawaban, sepertinya dia masih tidak menyadari bahwa posisi mereka berdua begitu dekat dan intim.

Tubuh J berada di atas tubuh Juliet walaupun tidak sepenuhnya. Pencahayaan yang minim membuat dia tidak bisa melihat rona merah di wajah Juliet. Hal itu justru menguntungkan si wanita hamil untuk menyembunyikan rasa gugupnya.

"Apa keinginanmu?" tanya J dengan suara yang parau.

"Kau berjanji akan mengabulkannya?" J kembali mengangguk, mungkin Juliet masih meragukannya.

"Aku- … aku," jawab Juliet dengan gugup, sedangkan J masih mendengarkan. "Permintaan pertamaku adalah ... aku ingin tahu siapa dirimu! Tidak ada rahasia, karena aku juga akan melakukan hal yang sebaliknya!"

J terdiam, sungguh itu sangat berat baginya. Sudah cukup lama dia mengubur segalanya hanya sendiri. Dia tidak mungkin mengingat masa lalu yang terus menghantui, terlebih menceritakan kepada orang lain.

J menatap wajah Juliet, sebenarnya wanita itu adalah orang pertama yang tidak boleh tahu tentang siapa dirinya. Aib kehidupan dan semua luka yang ia simpan harus benar-benar tertutup rapat.

Namun, J tidak tahu bahwa Juliet adalah orang pertama yang mengetahui siapa dirinya. Suami istri tersebut punya pemikiran yang berbeda. J dengan ketakutannya dan Juliet dengan perasaan bahwa J harus bisa mempercayai seseorang.

J takut jika sikap Juliet akan berubah setelah tahu siapa dirinya. J berpikir dirinya adalah noda kehidupan yang tidak diinginkan oleh siapapun, dia pernah membunuh, dia juga pernah tidak waras dan berperangai buruk.

Jika Juliet tahu semua itu, maka dipastikan wanita itu akan membenci bahkan mungkin menghilang dari kehidupannya. Itulah yang ada dalam pikiran J.

Kehadiran Juliet memberi arti tersendiri dalam kehidupannya. J tidak bisa bayangkan jika wanita itu sampai menghilang dari pandangannya. Mungkin terdengar berlebihan tetapi itulah yang ia rasakan.

"J!!" Lamunan J kembali ke tubuhnya saat mendengar Juliet yang memanggil. Wanita itu menuntut sebuah jawaban dengan tatapan memohon, jangan lupakan kedua tangannya yang merangkum wajah J.

"Aku … maafkan aku, tapi- …."

"Kau sudah berjanji padaku!" tegas Juliet berusaha meyakinkan sang suami.

"Aku tidak percaya siapapun," jawab J sambil mengalihkan tatapan, dia tidak sanggup untuk menatap pada Juliet.

"Termasuk diriku?" tanya Juliet, dia merasa sedih karena J mungkin masih berpikir bahwa dirinya membenci pria itu.

"Tidak seperti itu," jawab J frustrasi, "ada hal di dunia ini yang sebaiknya tidak kau tahu!" 

Juliet terdiam, dia memahami jika J bersikap demikian. Kisah kelam hidupnya memang tidak boleh diungkit karena luka itu tidak akan pernah bisa sembuh dan terlalu sakit untuk diingat ataupun dikenang.

Juliet mengusap kepala J, dia merasa sakit karena pria itu akan menanggung luka itu seumur hidupnya. Tidak akan pernah bisa diperbaiki, perasaan dan hati J seperti cermin yang sudah hancur berkeping-keping.

Juliet menarik tubuh J dalam pelukannya. Dia juga membiarkan wajah pria itu tenggelam dalam ceruk lehernya. Dia masih bersyukur karena sikap J masih seperti manusia normal.

Setidaknya pria itu tidak tumbuh menjadi seorang psikopat setelah apa yang ia alami. J punya jiwa yang kuat walaupun dirusak dan dihancurkan berkali-kali. J memang pernah mengalami gangguan kejiwaan, tetapi itu karena dia terus tertekan oleh keadaan.

Apa yang J alami bukanlah aib, pria itu tidak pantas untuk ditinggalkan. Orang-orang seperti itu butuh dukungan bukan tekanan dari berbagai pihak.

"Aku ingin menjadi satu-satunya orang kau percaya," ucap Juliet sambil mengecup bahu J beberapa kali yang masih berbalut kemeja putih, dia tidak tahu ekspresi atau tanggapan apa yang J berikan atas ucapannya.

"Maafkan aku karena bersikap buruk selama ini, apa itu melukaimu, hm?" Juliet hanya merasakan gelengan dari kepala J. 

"Percayalah padaku! Aku ingin kau selalu berbagi segalanya!" ungkap Juliet lagi.

"Hal apa yang membuat sikapmu berubah seperti ini?" tanya J yang tentu saja membuat Juliet tidak berkutik. Juliet tidak mungkin menjawab jika perubahan sikapnya terjadi setelah dia mengetahui siapa J yang sebenarnya. Pria itu bisa menganggap bahwa Juliet hanya kasihan dan hal itu akan menyinggung perasaan J serta memperburuk keadaan.

Sebenarnya mulut Juliet terasa gatal ingin mengatakan bahwa itu adalah karena rasa cintanya pada J. "Jadi sikapku benar-benar buruk?" kilah Juliet sekedar menghindari pertanyaan J yang sangat menjebak.

Sebenarnya J berpikir keras apakah ia bisa mempercayai wanita yang sudah lama mengisi ruang hampa dalam hatinya itu. J hanya tidak mau jika Juliet membohongi diri dan terpaksa bersikap baik pada dirinya.

J mendengar sendiri bahwa wanita itu mencintai Toddy Muller, bagaimana mungkin dia bisa melupakan pria itu begitu saja, terlebih Toddy memang tipe pria baik yang sangat cocok dengan Juliet.

Rasanya dia tidak bisa terima, tetapi itu adalah kenyataan yang harus ia hadapi. Juliet mungkin begitu mencintai bayi kembar mereka walaupun tidak mencintai ayah dari bayi tersebut.

Semua wanita akan jatuh cinta pada anak mereka. Kecuali ibunya.

"Jadi, kau tidak akan mengabulkan keinginanku?" tanya Juliet, dia sengaja menanyakan kembali dan berharap J akan berubah pikiran dan menganggap dirinya orang yang bisa dipercaya.

J terdiam, terlihat gamang. Juliet sangat memahami, mungkin J merasa sulit untuk percaya, terlebih dia menganggap bahwa bahwa dirinya tidak punya untuk cinta untuk J.

"Mungkin tidak sekarang," jawab J dengan ragu.

"Kau berhutang padaku, J!" ucap Juliet sambil mengusap kepala sang suami.

"Kau juga belum menjawab pertanyaanku?" Juliet menggigit bibir, dia pikir J akan melupakan pertanyaan itu.

"Aku akan menjawab jika kau mengabulkan keinginanku, lagipula ini keinginan mereka juga," ucapnya kembali berkilah.

J menatap heran karena tidak memahami ucapan sang istri. Siapa mereka yang Juliet maksud?

"Mereka, si kembar di dalam perutku," jawab Juliet, tatapannya beralih pada perutnya yang belum membesar.

"Wanita yang hamil muda akan mengidam dan menginginkan sesuatu, jika tidak dituruti maka mereka akan- …." Juliet menghentikan ucapannya. Apakah J akan memahami apa yang sedang ia bicarakan.

Benar saja, J memang tidak tahu apa itu ngidam. Dia memang pernah mendengar, tetapi apa maksud hal tersebut dia tidak memahaminya.

Juliet mengembuskan nafas, sepertinya dia harus memberitahu J tentang banyak hal dalam kehidupan. Pria itu sangat polos dan tidak tahu apa-apa. 

"Akan aku beritahukan banyak hal, tapi itu jika kau tidak keberatan," ucap Juliet.

"Terima kasih, tidurlah ini sudah larut!" J mengakhiri percakapan dengan Juliet, setelahnya dia terlihat gugup, mungkin karena baru menyadari bahwa posisinya dengan Juliet yang tidak bisa dikatakan dalam garis aman.

Wajah keduanya memerah, tetapi Juliet tidak merasa terganggu. Dua ibu jarinya menyentuh sudut bibir dan menariknya membentuk sebuah senyuman.

"Kau harus lebih sering melakukan ini. Kau tahu kenapa? Selain terlihat manis, senyumanmu akan membuat mereka bahagia," ucap Juliet juga dengan senyuman tulus.

J menatap mata dan bibir Juliet secara bergantian, segala yang diucapkan wanita itu membuat dadanya bergejolak dan membuncah, dia belum pernah merasakan hal itu. 

Ada sesuatu yang indah dan hangat dalam dadanya sehingga J merasa senang dan bahagia. Betapa pintarnya Juliet mengaduk perasaannya.

"Lakukan itu setiap hari, dan kau boleh menunjukkannya hanya padaku!" Juliet terus membujuk tidak lupa memberi sentuhan-sentuhan ringan yang bisa membuat J merasakan ketulusannya. Semoga saja.

Tanpa disadari senyuman yang sedikit lebar terlukis untuk pertama kalinya di bibir seorang J setelah lama tidak pernah ada ekspresi di sana.

Berbeda dengan J yang tersenyum, Juliet justru menangis saat J menenggelamkan wajah di dadanya. Kehidupan J membuat pria itu lupa bahkan tidak tahu caranya menunjukkan sebuah senyum.

"Terima kasih," ucap J setengah berbisik. "Aku berjanji akan menggantikan semua keinginanmu," lanjutnya.

"Ikutlah bersamaku dan temani langkahku!" Juliet segera mengangguk setuju tanpa berpikir lama, dia tahu J sedang meminta dirinya untuk menemani menemui sang kakek-- Archibald King yang sudah lama tidak ditemui.

Entah apalagi yang akan dihadapi J setelah bertemu dengan pria tua es yang mewariskan sikap dingin pada sang cucu yang tidak diharapkannya.

Juliet berjanji dalam hati, mulai saat ini J tidak akan sendirian lagi menghadapi kejamnya dunia yang ia miliki. Wanita itu akan selalu mendampingi dan menemani setiap langkah si pria dingin.

'Mulai saat ini kau tidak akan pernah sendirian, J. Aku akan selalu berada di sisimu.'

J akan membawa Juliet pergi ke Belanda dimana keluarga utama King tinggal dan menetap di sana. Sangat ironis, dulu mereka meninggalkan J dan sekarang entah kenapa J diminta datang pada mereka, belum cukupkah semua kehancuran yang J alami selama ini?

Mata J terlihat sayu, pria itu hanya menatap wajah Juliet yang sedang tidur pulas dalam dekapannya. Dia masih tidak percaya bahkan tidak ingin percaya dia bisa sedekat itu dengan Juliet.

Sejak mengetahui bahwa Juliet tidak memiliki rasa cinta pada dirinya, harapannya lenyap sudah. Dia ingat pada ucapan sang ibu yang selalu mengatakan bahwa 'tidak akan pernah ada yang mencintainya dengan setulus hati.'

Saat itu J putus asa dan melakukan kesalahan fatal dengan melukai Juliet. Hal itu justru membuat segalanya memburuk, hubungan dengan Juliet semakin tidak menemukan titik terang membuat J semakin percaya kutukan sang ibu benar-benar terjadi padanya.

Sejujurnya, sekarang dia merasakan sebuah ketulusan yang ditawarkan Juliet. J masih menyangkal hal itu karena selalu berpikir dirinya memang tidak layak untuk dicintai.

Dan sekarang semua itu menghalanginya untuk berucap cinta. Rasa takut akan penolakan terlalu mendominasi hingga J tidak ingin membayangkan itu semua.

Akan lebih baik jika dia tidak tahu tentang perasaan Juliet pada dirinya. Kehadiran wanita itu dalam jangkauan matanya sudah cukup bagi J. Terdengar egois memang, tapi J memang tidak bisa jika harus melepas wanita itu.

Mengikat Juliet dalam tali pernikahan hanya bertujuan untuk tetap melihat wanita itu. J mengabaikan perasaan Juliet yang menderita bahkan merasa hidupnya seperti di neraka. Itulah yang ada dalam pikirannya selama ini.

Hampir setiap malam dia menatap Juliet saat tidur secara diam-diam. Terkadang J menyelimuti wanita itu ketika dia terlelap dengan wajah yang tidak menunjukkan kebahagian.

Ribuan kata maaf juga ia lafalkan ketika Juliet berada di alam mimpi. Semua memang kesalahanya, bagi J mengembalikan kebebasan Juliet adalah jalan satu-satunya agar senyuman Juliet bisa kembali.

J mencium kening Juliet kemudian mengusap rambut panjangnya. J menempatkan kepalanya pada bantal yang sama dengan Juliet, membuat wajah mereka begitu dekat.

Bolehkah malam ini saja dia menyandarkan kepalanya untuk sejenak? Ternyata dia memang bisa merasa bahagia saat bersama wanita itu, seluruh dunianya hanya berpusat pada wanita bermata biru tersebut.

Pukul 03:00 dini hari …

Juliet terbangun, menyadari sesuatu dan mulai mencari keberadaan seseorang yang tadi berbaring di sisinya. Suara gemerincik air terdengar dari kamar membuat dia mengingat sesuatu.

Apakah J sedang mandi saat dini hari saat udara terasa dingin? Bukankah dia sedang demam? Juliet kembali mengingat bahwa setelah menikah dia memang sering mendapati suaminya itu selalu melakukan hal yang sama. J mandi saat dini hari dan akan demam keesokan harinya.

"Ya Tuhan, J!" Juliet segera beranjak dan berlari ke arah kamar mandi. Dia tidak berniat bertanya sebelumnya, tapi sekarang dia mulai memahami kenapa J melakukan hal itu.

"J" Saat memasuki kamar mandi dia melihat J yang sedang berdiri di bawah guyuran air yang cipratan air itu terasa dingin di kulitnya.

Tanpa mempedulikan penampilan pria itu yang tanpa busana, Juliet melakukan hal sama kemudian menghampiri sang suami yang masih tidak menyadari kehadirannya. Perlahan air membasahi dari ujung rambut sampai kakinya.

Tangan Juliet meraih punggung J dan membuat pria itu berbalik padanya. Tatapan mereka bersirobok, air mata Juliet tersamar oleh guyuran air yang juga membasahi seluruh tubuhnya.

Dia meraih tubuh J dan menariknya ke dalam pelukan. "Jangan lakukan ini, J! aku mohon," ucap Juliet sambil mengusap punggung J di bawah guyuran air.

Sekarang Juliet menyadari J melakukan itu untuk menyiksa dirinya. Itu adalah bentuk luapan emosi yang tidak bisa J kendalikan, mungkin semua karena faktor kehidupan kelam yang ia alami.

"Aku- … aku ingin mengatakan segalanya, aku ingin mengatakan segalanya." Runtuh sudah pertahanan yang J bangun selama ini, benteng yang menghalangi hatinya hancur sekarang memperlihatkan segala kekurangan yang pria itu miliki.

J menunjukkan kelemahan di depan Juliet, rasanya begitu sakit saat ia tidak bisa melupakan masa lalu yang kelam. Pelukan Juliet semakin erat, dia tidak peduli jika keadaan mereka sama-sama tanpa busana.

Juliet mengangguk setelah mendengar ucapan J. "Kau tidak sendirian, aku akan selalu berada di sisimu. Kau memiliki diriku," ucapnya seraya mengecup pundak J puluhan kali sekadar meyakinkan pria itu bahwa dia bersungguh-sungguh.

"Ingatlah! Bukan hanya aku yang membutuhkanmu, tapi mereka juga, kau harus kuat demi kami," tangis Juliet, wanita itu menjauhkan sedikit tubuhnya kemudian melepas pelukan. 

Juliet mencium seluruh bagian wajah J dan berakhir dengan sebuah ciuman di bibir J dengan penuh perasaan. J yang terlihat rapuh semakin tergugu dalam pelukan Juliet, apalagi yang ia ragukan dari ketulusan Juliet? Sudah saatnya dia membuka diri dan memberi kepercayaan.

"Aku sangat membutuhkanmu," lirih J pada akhirnya, dia sudah tidak sanggup lagi menyembunyikan segalanya hanya sendiri.

Juliet tersenyum di dalam tangis, dia kembali mengecup dan mengecup lagi bibir sang suami, menyampaikan semua perasaan pada pria itu.

Juliet segera mematikan kran air serta mengambil handuk untuk mereka berdua. Tanpa ragu dia menutup tubuh pria rapuh tersebut. Juliet mengesampingkan perasaan bahwa dia malu demi J dan berharap semua tindakan kurang baik pria itu akan berhenti.

"Aku, ah tidak, kami juga sangat membutuhkamu!" ucap Juliet sambil mengecup telapak tangan J yang sedang merangkum wajahnya.

J menatap haru, dia mengukir senyum pahit. Rambut panjang Juliet meneteskan air serta tubuh yang terlihat menggigil. Sekali lagi dia merasa tidak berguna karena membuat wanita itu harus merasakan semua yang ia rasakan.

"Maafkan aku!" Kali ini dia yang merangkul tubuh Juliet yang berbalut handuk sama seperti dirinya.

J berjanji mulai saat ini dia tidak akan membuat Juliet menderita karena memikirkannya. Memutuskan untuk percaya pada Juliet adalah yang terbaik, setidaknya rasa terima kasih pada Tuhan J lafalkan saat ini karena kasih sayang pada dirinya.

"Jangan membuatku gila, Julie!!" ucap J sambil menenggelamkan wajah pada ceruk leher wanita itu.

'Aku sangat mencintaimu.'

TBC

Jangan lupa kasih jempol plus komen ya temen² ...

See next chap and I love you all ❤️

 

 

1
Anugrah Sanjaya
saya rasa, kasus yg menimpa Juliet itu sama dgn yg menimpa ibu J. bedanya, Juliet tetap menginginkan anaknya lahir sedang ibu J, tidak...
Anugrah Sanjaya
nyimak...
Nur Yanti
hihihihi...sukaaaa banget😍
Nur Yanti
ga bisa komen 😭😭😭😭😭
Nur Yanti
duh nasibmu sungguh miris Julliet.. 😔
Nur Yanti
siapa yg tidak ketakutan di perlakukan seperti itu. di perk***a terus di tinggalkan. ampun J kejam banget sih..
Ira Endang
keren bnget kak
Wan Er
baru chapter 1 aja udah keren✨
Oliefiya Snowly
aku hadir untukmu my partner 😊😊😊
Eve: 😘😘😘 makasih banyak Beb
total 1 replies
Aba Bidol
Neh bener2 karya yang keren bangets thor..., debesssssttttt 👍👍👍👍👍
Aba Bidol
Karya yang sangat keren thor. Nyesel baru nemu ceritanya di sini. Tetap semangat berkarya.....👍👍👍💪💪💪🎉🎉🎉
Aba Bidol
Karya yang sangat keren thor..., tetap semangat yah berkarya...💪💪🎉🎉🎉
Aba Bidol
Karya ke 2 othor yg tamat. Keren. Memang beda dari karya2 yang lain. Tetap semangat berkarya yah thor....👍👍🎉🎉🎉
gulaJawa🐏
rekomendasi novel pendek uuu ntuk di baca di waktu senggang
gulaJawa🐏
halo penulis
terimakasih atas karya yg luar biasa ini, saya merasa terhibur, ending yg cukup membuat saya tercengang, tapi saya memahami itu, di dunia ini yg namanya masalah tidak akan pernah berhenti datang kecuali tokoh itu mati, dan sifat manusia sulit di rubah, dan dendam tidak akan bisa dilupakan begitu saja, cerita ini hidup, biarkan berkembang bebas dengan sendirinya,
terimakasih karyamu disukai banyak orang
gulaJawa🐏: edit: semoga karyamu di sukai banyak orang
total 1 replies
Mardysains Mardysains
mantap skali.. ta terlalu bertele2 dan banyak bab.... keren kok....ayo mana lagi karyamu...
Saifa
semangat berkarya thor, ceritanya keren
Mahdaleni Leni
novel kereeeen knapa sedikit yg like y...salut Thor anda jenius sy suka sangat aluuuuurnya. bagus bila dipanjangin,,
Saifa
semangat author, ceritanya bagus bgt
Ra I
ceritanya bagus thor... 👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!