Apa jadinya jika masa lalu terus terulang kembali? Saat kamu mencoba melupakan masa lalu dengan menguburnya dalam-dalam dan menguncinya rapat dalam hatimu sehingga tak satupun celah yang bisa dilihat untuk didekati.
Saat itulah seseorang mengetuk pelan pintu itu dan dan dengan bangganya berkata, "Aku akan jadi seperti matahari, yang akan terus menuntun dan menyinarimu."
Matahari memang sangat indah, tapi bukankah akan tersengat panas jika kita mendekatinya?
Saat kamu merasa nyaman dengan cinta nya saat itulah kamu tau bahwa selama ini kamu dicintai karena dianggap sebagai bayangan seseorang. Masihkah kamu tetap bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Huang Vioren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22: I'll tell you
Walaupun musim panas, tetapi cuaca terasa dingin karena perjalanan yang semakin dekat dengan puncak gunung.
Tapi bukan itu yang jadi permasalahannya, yang jadi permasalahannya adalah karena suasana mencengkam yang terus menguar di sekitar gadis bermata Violet itu. Beberapa siswa bahkan menjauh darinya.
"Ehem ...! Valeny, kalo kamu terus merenggut begitu nanti kami bisa membeku, lho!" Pria yang berada di samping Valeny mencoba untuk mencairkan keadaan.
"Hah?! Memangnya kenapa? Masalah?!" Jawabnya dengan nada sinis.
"Iya! Kamu membuat kami nggak nyaman,lho!" Jawab pria itu masih tetap tersenyum.
Para siswa pun semakin menjauh dari mereka, mungkin saja sebentar lagi akan ada badai dan tentu saja mereka tidak ingin terlibat di dalam badai tersebut.
"Jadi semua ini salah gue gitu?!" Valeny menatap lekat pria tampan di sampingnya ini.
"Valeny, saya lebih tua dari kamu,lho!" Pria itu masih tetap tenang.
"Ck..Kenapa semua orang pada nyebelin,sih, hari ini!" Gumam Valeny yang masih menekuk wajahnya.
"Huffthh! Saya kira kamu udah dewasa, ternyata masih belum banyak berubah,ya!" Pria itu mengelus kepala Valeny masih sambil tersenyum, dan tentu saja Valeny menepisnya.
"Hah? Ngomong apa, sih? Gak jelas banget!"
"Tapi tumben loh kamu gak bisa nahan emosi kayak tadi! Saya sampai kaget bisa liat wajah jengkel kamu tadi, huhu!" Ucapnya seperti membayangkan sesuatu.
"Bapak ngejek saya nih ceritanya!" Pria itu hanya mengangkat bahunya.
"Lagian ya orang gak tau diri macam dia harus dikasih pelajaran sesekali, baru kenal Konglomerat aja belagunya mengalahkan Elizabeth Bathory!" Valeny terlihat masih sangat kesal.
"Pfffttt! Kamu ini ada-ada aja! Tapi dia itu bukan lawan yang mudah, lho! Kamu kan tau sendiri gimana dia bertahan sampai sekarang. Nayra ... dia bisa menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya."
Memang tidak kentara, tapi Valeny tau bahwa ada rasa sedih diujung kalimatnya dan juga rasa ... penyesalan (?)
"Apa ... Hubungan pak kepsek sama si Nayra itu?" Tanya Valeny penasaran.
"Mm ... Entahlah! Huffthh ... Yang penting kamu harus lupain masalah orang dewasa dan urus masalahmu sendiri!" Ucapnya lagi-lagi sambil tersenyum yang menurut Valeny sedikit menyebalkan.
"Cih ... apanya yang urusan orang dewasa! Lagian ya kenapa tiba-tiba pa ... Bapak jadi kepala sekolah di Libra?"
'Ah ... hampir aja kecoplosan manggilnya.' Valeny menepuk-nepuk mulutnya yang entah kenapa hari ini tidak bisa dikontrol.
"Itu juga termasuk urusan orang dewasa, jadi anak-anak nggak boleh tau! Dan ... kamu baik-baik aja kan selama hidup sendiri?"
'Cepet banget ngalihin topiknya!' Inner Valeny menggerutu kesel karena pertanyaannya tidak dijawab sama sekali.
"Sure, i'm fine! Hidupku cukup bahagia tanpa kalian!" Jawabnya ketus.
"Oi ... oii apa maksudnya tanpa kalian? Lagian apa kamu gak pengen pulang ke rumah?"
"Pulang? Kemana? Sejak kapan gue punya tempat yang disebut dengan rumah? Gue kan udah bilang, hidupku cukup bahagia tanpa kalian." Ekspresi Valeny kembali berubah menjadi dingin.
Pria itu menatap nanar gadis di sampingnya ini, perasaan bersalah kembali menyeruak dalam dirinya.
"Maaf ..." Kata itu terdengar lirih namun tulus.
"Ya, ya. Kalo udah tau mendingan jauh-jauh sana." Ucap Valeny lagi-lagi dengan nada ketus.
Pria itu langsung diam dan menjauhkan dirinya dari Valeny, ia terlihat memasuki kerumunan beberapa siswa yg berada di belakang Valeny.
Sebenarnya Valeny tidak ingin berkata demikian, tapi saat melihat pria itu, kenangan buruk kembali berputar di kepalanya, seakan baru terjadi kemarin. Walaupun ia tahu bahwa penyebabnya bukanlah pria itu.
"Huffthh ..." Valeny menatap sekelilingnya. Ah, ternyata Nana dan Key berada di kelompok yang sama. Tapi tidak seperti biasanya, mereka malah terlihat lesu dan tak bertenaga.
"Apa mereka lagi berantem,ya?"
***
"Gila!! Pemandangan nya bagus banget!! Rasa capek langsung hilang. Aaaaaa!!!!" Rea yang baru sampai di puncak gunung langsung berteriak kencang seakan melepaskan semua beban di pundaknya.
"Ehem! Rea, jangan terlalu kencang teriaknya, nanti monyet-monyet pada kesini, lho!" Tegur Mr. Zero.
"Hahahaha.. Dia itu kan memang sespesies sama mereka, jadi maklum aja!" Sahut seseorang yang disambut meriah oleh yang lainnya.
"Iri bilang bos!!" Jawab Rea PD tanpa memedulikan mereka.
Dan akhirnya disinilah mereka berkumpul sekarang, siapa lagi kalau bukan Valeny, Rea, Key, Auryn dan Nana. Walaupun mood mereka terlihat lebih baik dari sebelumnya, tapi tetap saja ada yang aneh dan tak biasa.
Hening ...!
"Kalian ... kenapa, sih, dari tadi pagi?" Akhirnya Valeny membuka suaranya karena tidak tahan dengan suasana yang semakin membuatnya badmood.
"Itu ... Kalian semalam ke pemandian air panas, kan? Ka-kalian liat sesuatu gak? Mi-misalnya se-sesuatu yang aneh gitu?" Key terlihat pucat saat mengatakannya.
"Se-sesuatu? Mak--maksudnya sesuatu yang menyeramkan gitu?" Nana malah memperparah keadaan, Key bahkan terlihat gemetaran.
"Nana diem dulu! Key, sekarang tarik nafas dulu baru ceritainnya pelan-pelan, ok!" Valeny terlihat tenang seperti biasanya. Mereka duduk mengelilingi api unggun dan mulai mendengarkan cerita Key.
"Ja-jadi semalam itu gue sama Auryn mau nyusul kalian ke permandian air panas, karena kami perginya udah lumayan telat, makanya nggak ada satu orangpun di sana. Dan pas kami mau mandi tiba-tiba ..." Key menghentikan ceritanya.
"Tiba-tiba ...?" Valeny dan Rea dibuat penasaran dengan cerita gantung Key.
"Tiba-tiba ... ad-ada ra-rambut yang super panjang ke-keluar dari kolam." Sambung Auryn sambil gemetaran.
"Aaaaaaaa." Nana berteriak kencang, membuat semuanya ikut terkejut.
"Njir!! Kaget kan gue! Kebiasaan, deh!" Sahut Rea sambil memukul Nana.
"Gu-gue kan takut, coba aja kalian bayangin tiba-tiba ada rambut yang keluar dari dalam kolam trus lilit kalian sampe darah kalian habis. Ngeri banget!!!" Nana mulai menampakkan imajinasinya.
"Semalam, ya?" Valeny tampak memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Val?" Tanya Rea.
"Semalam itu kan ..."
Flashback on
Valeny, Rea dan Nana berputar-putar mengelilingi sebuah lorong. Mereka benar-benar tampak kebingungan, yah ... Lebih tepatnya hanya Valeny dan Rea saja yang kebingungan.
"Padahal tempat ini terlihat kecil dari luar, tapi tau-taunya pas nyampe ke dalam ..." Rea menghembuskan nafasnya.
"Kita gak bisa lewat sini, ini jalan buntu." Valeny mulai berjalan ke arah yang berlawanan dengan jalan buntu tadi.
"Hah? Jalan buntu lagi? Ya ampun ... Gue capek banget! Mana panas lagi disini!" Nana tak henti-hentinya menggerutu.
"Jangan ngeluh, Nana! Inikan juga gara-gara lo!" Sahut Rea yang langsung dibalas dengan wajah cemberut Nana.
"Kayaknya ini ruang bawah tanah yang nggak kepakai, deh! Tapi aneh juga, sih, kenapa area bawah tanahnya lebih luas dari permukaannya?" Valeny mengamati sekelilingnya.
"Bener juga, sih, itu juga yang gue bilang tadi, padahal kan penginapan ini terlihat kecil dari luar!" Jawab Rea.
"Hah?Bawah tanah? Permukaan? Luas? Kecil? Oh ... Pasti kalian lagi bahas gempa bumi,ya!" Celotehan Nana langsung dihadiahi Deathglare oleh Rea.
'Kenapa teman gue yang satu ini otaknya agak rada-rada, ya." Valeny hanya bisa menghela nafasnya.
"It--itu ada kolam."
"Hah?" Rea yang kebingungan hanya mengikuti arah pandang Valeny. Dan bak air ditengah gurun Sahara, mereka langsung berlari menghampiri kolam tersebut.
"Woah!! Daebak!! Kenapa tiba-tiba di sini ada kolam?" Nana masih terkagum-kagum dengan kolam yang berada tepat dibawah sinar rembulan itu.
"Rea, lo sering nonton film sama baca komik, jan?" Tanya Valeny.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Lo tau gak apa artinya kalo tiba-tiba ada kolam di saat kita kesusahan dan selalu nemu jalan buntu?" Tanya Valeny lagi.
"Ah! Gue ngerti maksud lo! Kalo kita nyemplung di kolam dan tepat di bawah sinar bulan purnama, kita bakal jadi Putri duyung, iya kan!" Jawab Rea bersemangat.
Harapan yang awalnya terlihat kini meredup sudah, Valeny mulai memegang kepalanya yang berdenyut.
"Hah ... Bukan itu maksud gue, Rea! Setau gue, satu lautan dengan lautan lainnya saling terhubung, itu artinya kolam ini dengan kolam lainnya juga pasti terhubung! Dan kita pasti bisa keluar melalui kolam ini!"
"Ta-tapi bukannya kita perlu testimoni dulu ya untuk lebih memastikan lagi." Jawab Rea.
"Tentu aja kita bakal testimoni, dan yang bakalan testimoniin adalah ..." Valeny langsung menatap Nana yang langsung diikuti oleh Rea.
"Eh? Kok ka-kalian tiba-tiba natap gue?!" Nana mulai was-was, tapi tak lama setelah itu ...
'Byurrrrr!!!'
Valeny dan Rea langsung melempar Nana ke dalam kolam.
Flashback off
"Tu--tunggu dulu! Jadi maksudnya rambut yang kami lihat semalam itu rambutnya ... Nana?" Key menatap Nana horor.
"Iya, 95% gue yakin itu Nana, karena saat kami keluar dari kolam, kami nemuin handuknya Auryn." Jawab Valeny.
"What?? Jadi itu benar-benar rambutnya Nana? Gue sampe mimpi buruk loh semalam." Auryn dan Key langsung memukuli Nana. Hah ... Akhirnya kesalahan pahaman ini terselesaikan.
"Karena kesalah pahaman ini udah terselesaikan, maka kalian harus ceria dan jangan murung lagi,ok!" Sahut Rea sambil membuka mie instan kesukaannya.
'Gue kira cuma gue yang ngerasain kalo mereka itu lagi murung, ternyata Rea lumayan peka juga,ya! Senangnya bisa memiliki sahabat.' Ujarnya dalam hati.
Karena ada seseorang di sisi kitalah makanya hidup terasa lebih bermakna.
***
*hujan dibalik punggung
*suamiku ceo ganss
ditunggu lanjutannya thor 😁