Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.
"Viola?"
"Ya ampun, kamu semakin cantik saja."
"Sweet Cakemu sedang ramai sekali dibicarakan. Aku bahkan sudah beberapa kali melihat unggahannya."
"Selamat atas toko barumu. Aku dan beberapa karyawanku pasti akan sering berkunjung ke sana."
"Nona Viola, saya senang bisa melihat Anda kembali di sini."
Satu demi satu suara itu datang menghampirinya.
Begitu memasuki ballroom, Viola yang bahkan belum sempat melangkah jauh lebih dulu disapa beberapa wajah lama yang masih mengenalinya. Mereka adalah orang-orang yang pernah duduk bersamanya dalam rapat bisnis, menghadiri jamuan perusahaan, atau sekedar bertukar kartu nama ketika dirinya masih menjabat CEO.
Dulu mereka mengenalnya sebagai Viola Shania, seorang wanita yang berdiri di balik meja perusahaan besar. Tapi malam ini mereka menyapanya sebagai pemilik Sweet Cake, sebuah toko kue yang sedang ramai diperbincangkan.
Viola sendiri tidak merasa terganggu, justru ada sesuatu yang hangat ketika mendengar orang-orang membicarakan hasil kerjanya sendiri.
"Terima kasih. Jangan lupa mampir ke Sweet Cake kalau ada waktu."
"Saya pasti datang. Katanya strawberry shortcakemu enak sekali."
"Semoga sesuai dengan selera Anda." Viola tertawa kecil.
Belum sempat ia beranjak setelah berpamitan, sebuah suara yang lebih berat terdengar dari belakang.
"Viola."
Viola menoleh. "Tuan Dhanubrata."
Pria tua itu berdiri tidak jauh darinya dengan tongkat di tangan. Tatapannya langsung jatuh pada Viola, kemudian pada gaun yang dikenakannya.
"Sweet Cake berkembang lebih cepat dari yang kuduga," ucap Dhanubrata membuka obrolan.
"Terima kasih, Tuan. Saya masih harus banyak belajar," jawab Viola merendah.
"Jangan terlalu merendah. Aku sudah mendengar banyak laporan tentang tokomu."
Viola terdiam sejenak.
"Yang terpenting, kau mampu membuat orang datang kembali karena rasa, bukan karena nama," lanjut pria tua itu.
Kalimat sederhana itu membuat dada Viola terasa hangat. "Itu yang selalu saya harapkan."
Dhanubrata mengangguk. "Pertahankan."
Viola menjawabnya dengan anggukan kecil dan senyuman hangat.
Setelah berbicara beberapa saat, Tuan Dhanubrata meninggalkannya untuk menyambut tamu lain.
Viola menghembuskan napas perlahan. Malam ini ternyata jauh berbeda dari yang ia bayangkan. Ia kembali memandang ke sekeliling ballroom. Lampu-lampu besar menggantung di atas kepala. Meja-meja bundar telah dipenuhi tamu. Musik mengalun lembut di antara percakapan para pengusaha dan undangan lainnya. Lalu matanya berhenti pada satu sosok. Seokjin.
Pria itu berdiri beberapa meter darinya, mengenakan setelan hitam dengan wajah tenang seperti biasa. Beberapa rekan bisnis berada di sekelilingnya. Sesekali Seokjin mengangguk mendengarkan pembicaraan mereka.
Viola tanpa sadar terus menatapnya. Ada keinginan kecil untuk menghampirinya. Sekedar menyapa dan mengucapkan terima kasih karena telah memberinya kesempatan membawa Sweet Cake ke acara sebesar ini.
Namun, kakinya tidak bergerak. "Lupakan saja," gumamnya pelan. Ia menurunkan pandangan.
Seokjin sedang berbicara dengan rekan bisnisnya. Tidak pantas jika ia mengganggu hanya untuk menyampaikan sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan nanti. Selain itu masih ada hal yang jauh lebih penting.
"Rani, Siska, dan Dimas. Aku harus segera menemui mereka." Viola berbalik.
Sejak tiba di hotel, ia terus dihampiri tamu undangan yang mengenalnya. Sampai sekarang, ia bahkan belum memastikan apakah ketiga karyawannya benar-benar memastikan semua hidangan Sweet Cake tersaji dengan baik.
Ia mengangkat sedikit ujung gaunnya agar tidak terseret saat berjalan. "Aku harus memastikan semuanya baik-baik saja." Langkah Viola membawa dirinya menjauh dari kerumunan.
Tanpa ia sadari, dari kejauhan Seokjin sempat mengangkat pandangan. Tatapannya mengikuti wanita itu beberapa detik lalu kembali pada percakapan di hadapannya.
Viola terus berjalan menuju tempat hidangan Sweet Cake disiapkan, ia sama sekali tidak mengetahui bahwa malam itu seseorang tengah memperhatikannya dalam diam.
"Rani, bagaimana dengan semua hidangannya?" tanya Viola. "Semuanya masih aman?"
"Semuanya berjalan lancar, Bu. Bahkan beberapa cake sudah habis diambil tamu." Rani menunjuk ke arah meja hidangan. Viola mengikuti arah tangannya sambil memperhatikan susunan cake dan dessert yang tertata rapi.
"Bagaimana dengan respon mereka?" tanya Viola penasaran. "Apa mereka terlihat menyukainya?"
Rani menggangguk penuh semangat. "Mereka yang sudah mencoba salah satu cake, bahkan kembali lagi untuk mengambil varian lain."
"Benarkah?" Viola hampir tidak percaya, tetapi sudut hatinya merasa sedikit lega.
"Benar, Bu. Mereka sepertinya menyukai Sweet Cake." Siska yang sebelumnya sedang merapikan beberapa cake ikut menimpali.
"Syukurlah, mereka menyukainya." Viola menghela napas lega.
"Nona Viola!" panggil seseorang.
Viola menoleh. "Asisten Kim, Anda ...."
Asisten Kim berdiri beberapa langkah dari Viola. Setelan formal yang dikenakannya terlihat rapi, sementara senyum tipis terukir di wajah pria itu.
"Anda terlihat sangat cantik malam ini," puji Asisten Kim.
"Terima kasih, Asisten Kim." Viola refleks merapikan bagian depan gaunnya. Pujian sederhana itu tetap membuatnya sedikit salah tingkah.
Rani dan Siska yang berdiri tidak jauh dari sana langsung saling pandang. Senyum kecil muncul di wajah keduanya. Mereka tidak mengatakan apa-apa. Namun, tatapan mereka sudah cukup untuk menyampaikan dugaan yang sejak lama tumbuh di antara mereka.
"Apakah Anda sudah bertemu dengan Tuan Han?" tanya Asisten Kim.
"Belum." Viola menggeleng pelan. "Tuan Han pasti sibuk menyambut tamu yang datang."
"Anda bisa ikut saya menyapa beliau."
Viola terdiam sesaat. Ia khawatir kehadirannya malah hanya mengganggu pria itu. "Tidak perlu, Asisten Kim. Beliau pasti masih sibuk sekarang," tolaknya akhirnya.
"Tidak perlu merasa sungkan, Nona. Mari saya antar."
Meski sempat merasa ragu, namun akhirnya Viola mengangguk. Ia menyerahkan urusan hidangan Sweet Cake pada Rani dan Siska.
Asisten Kim dan Viola berjalan melewati beberapa kelompok tamu hingga akhirnya berhenti tidak jauh dari tempat Seokjin berdiri.
"Tuan Han."
Seokjin menoleh. Pria itu menatap Asisten Kim beberapa saat sebelum pandangannya beralih pada Viola.
Beberapa detik, mata Seokjin menyapu wajah Viola lalu turun pada gaun malam yang dikenakan wanita itu.
Tak ada perubahan berarti di wajahnya. "Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk hadir," ucapnya datar.
Viola berdiri dengan sedikit canggung. "Pestanya sangat meriah. Saya sangat beruntung bisa hadir di sini."
Seokjin mengangguk kecil, lalu kembali berbicara dengan rekan bisnisnya seolah kedatangan Viola bukan sesuatu yang perlu disambut lebih jauh.
Namun, salah seorang pria yang berdiri di samping Seokjin justru tersenyum ke arah Viola. "Bukankah Anda Nona Viola Shania?" sapanya ramah.
"Benar, Tuan."
"Anda masih ingat saya?" tanya pria itu lebih lanjut. "Kita pernah bertemu saat Jayendra Group menggelar ulang tahun perusahaannya dua tahun lalu."
Viola terdiam. Ia mencoba mengingatnya. Namun, banyaknya rekan bisnis yang hadir pada saat itu membuatnya tidak terlalu yakin.
Melihat Viola yang belum juga menjawab. Pria itu berinisiatif dengan lebih dulu mengulurkan tangannya. "Saya Satria Atmaja dari AMJ Group."
Mendengar nama AMJ Group disebut. Viola akhirnya bisa langsung mengingatnya. Rupanya pria yang berdiri di hadapannya adalah putra tunggal Tuan Atmaja. Salah satu rekan bisnis Jayendra Group.
Viola buru-buru menyambut uluran tangan pria tampan itu. "Maaf, Tuan Satria. Saya sedikit lama mengenali Anda."
Pria bernama Satria itu tersenyum ramah. "Tidak apa, Nona. Saya memang jarang mengikuti acara besar seperti ini. Wajar bila Anda tidak terlalu mengenal saya."
Keduanya kemudian terlibat obrolan ringan. Viola tidak menyadari jika Seokjin sesekali menatap ke arahnya saat ia sedang mengobrol.
Beberapa saat Kemudian, suasana ballroom tiba-tiba berubah. Bukan karena musik yang berhenti atau karena seseorang berbicara terlalu keras. Melainkan karena hampir semua orang menoleh ke arah pintu masuk.
Seorang pria tampan memasuki ballroom dengan setelan jas mahal yang membuat penampilannya terlihat semakin sempurna. Di sampingnya, seorang wanita berjalan anggun dengan gaun malam indah yang membalut tubuhnya. Wajah cantik dan senyum lembutnya membuat banyak orang terpesona. Keduanya tampak begitu serasi.
"Nara memang sangat cantik," puji Viola dalam hati. Pandangannya masih tertuju pada wanita yang baru saja memasuki ballroom itu. Ingatannya kembali pada beberapa bulan lalu saat Nara dan Sagara berkunjung ke Sweet Cake.
Nara dan Sagara lebih dulu menghampiri Dhanubrata untuk menyapa.
Saat obrolan ringan berlangsung di antara mereka dan beberapa rekan bisnis lainnya. Sagara selalu menggenggam tangan Nara. Sesekali pria muda itu bahkan menundukkan kepalanya untuk mendengarkan sesuatu yang dikatakan istrinya. Belum lagi tatapan penuh cinta setiap kali tatapan suami istri itu bertemu.
Semua gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian orang-orang disekitarnya termasuk Viola.
"Tuan Sagara dan Nona Nara memang pasangan serasi. Tuan Sagara yang tampan dengan istrinya yang cantik."
"Nona Nara bahkan tidak terlihat seperti baru melahirkan. Beliau justru terlihat seperti masih gadis."
"Jayendra Group dan Dhanubrata Group. Bisa kalian bayangkan sekuat apa perusahaan mereka jika digabungkan."
Bisikan-bisikan itu terdengar di antara suara musik dan denting gelas.
Nara yang mendengar semua bisikan itu hanya tersenyum tipis. Melihat kebahagiaan pria yang pernah ada dalam hatinya, ia sama sekali tidak membencinya, tapi justru ikut merasa senang.
"Semoga kalian selalu berbahagia," bisiknya tulus.
Namun, tidak semua orang di ruangan tersebut memberi reaksi yang sama.
Seokjin masih berdiri di tempatnya. Wajahnya tampak datar tanpa senyuman. Tatapannya tidak beralih dari Nara dan Sagara. Jemarinya semakin erat menggenggam.
Nara adalah sepupunya. Wanita yang sejak remaja ia kagumi sekaligus ia cintai. Melihat Nara berdiri sambil menggenggam tangan pria lain membuat dada Seokjin terasa sesak.
Tatapannya tetap dingin dengan tangan yang terkepal semakin erat. Wajah tenangnya menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.
****Bersambung.
Viola Shania.
Like dan komentar na, kakak.. 🙏 biar yang nulis makin semangat... Agak-agak meleyot nulis soal na...
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor