NovelToon NovelToon
After We Died

After We Died

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nongnong

Lima orang tewas dalam malam yang sama.

Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.

Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.

Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.

Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERISIK

"Pengawal!" panggil Aleta.

Sony seketika melebarkan matanya. Ia baru ingat jika di villa itu masih banyak pengawalnya.

'Sial. Kenapa aku baru ingat jika di Vila ini masih ada mereka? Seharusnya aku minta tolong dari tadi pada mereka.'

Sony mengepalkan tangannya, kesal pada dirinya sendiri.

'Sony, tenang. Kamu pasti selamat! Jangan biarkan malaikat maut ini mencabut nyawamu hari ini. Uang masih banyak, jangan sampai kerja keras selama ini sia-sia.'

"Tahan kepalanya!" titah Aleta pada pengawal Sony.

"Baik, Queen." ucap sang pengawal. Kakinya melangkah mendekati Sony.

"Kau! Apa yang kau lakukan hah! DASAR PENGAWAL TIDAK SETIA!" teriak Sony marah.

"Maaf bos," ucap sang pengawal, yang mulai menahan kepala Sony agar tidak bisa bergerak lagi.

"Apa yang kau lakukan! Harusnya kau lawan gadis kecil itu!" marah Sony.

"Aku tidak bisa," ucap pengawal tersebut.

"Kenapa? Dibayar berapa kamu sama dia?" heran Sony melihat pengawalnya yang sangat tunduk pada Queen Moon.

"Dia sudah membunuh semua orang. Hanya kita berdua yang tersisa," jelas pengawalnya.

Deg!

"A-apa? Pengawal ku sebanyak itu, bagaimana bisa dia mengalahkan semuanya sendirian..." lirih Sony.

"See? Nyawa kalian seberharga itu jika sudah berurusan dengan ku. Bersikaplah baik jika ingin selamat!" tekan Aleta.

"Ba-baiklah aku akan mengatakan semuanya..." sahut Sony.

Aleta mengangguk, lalu memerintahkan pengawal tadi untuk menyiapkan kamera dan mulai merekam.

Sony menarik napas panjang. Tubuhnya masih gemetar, sementara pandangannya terus menghindari tatapan Aleta.

"Aku..."

"Aku mengaku."

Ruangan kembali hening. Aleta tidak menyela. Ia hanya berdiri di samping kamera, membiarkan Sony berbicara.

"Dana bantuan pembangunan... tidak seluruhnya sampai ke masyarakat." Sony memejamkan mata sejenak.

"Aku memotong anggarannya. Bukan sedikit... lebih dari separuh." Napasnya semakin berat.

"Sebagian masuk ke rekening pribadiku. Sebagian lagi kubagikan kepada beberapa orang yang membantuku menutupi semuanya." Sony menelan ludah.

"Aku juga memalsukan laporan keuangan. Proyek-proyek yang seharusnya selesai... sengaja kubuat seolah-olah sudah berjalan sesuai rencana. Padahal... banyak yang bahkan belum pernah dikerjakan."

"Ada lagi?" tanya Aleta, dan dibalas dengan anggukan Sony.

"Aku mengintimidasi beberapa saksi. Beberapa pegawai kupaksa diam. Siapa pun yang mencoba melapor... langsung kupindahkan atau kupecat."

"Nama?" tanya Aleta sambil menatapnya beberapa detik.

Sony terdiam sesaat, lalu mulai menyebutkan satu per satu nama orang yang terlibat beserta jabatan mereka. Kamera terus merekam tanpa terputus. Setelah selesai, Sony menundukkan kepalanya.

"Hanya itu."

Aleta menghampiri kamera, memastikan seluruh pengakuan telah terekam dengan jelas. Namun tidak berniat mematikannya.

"Kau menyesal?" tanya Aleta.

"Iyaa! Aku sangat menyesal... Aku benar-benar menyesal!" seru Sony, berusaha meyakinkan.

"Aku tidak percaya," ucap Aleta dingin.

Deg!

"Bahkan jika kau mengeluarkan air mata buaya sekalipun, aku tidak akan percaya."

"A-aku tidak bisa mengungkapkan perasaan ku dengan cara menangis," ucap Sony, membela diri.

'Kenapa mataku tidak bisa mengeluarkan setetes pun air mata? Kenapa?'

'Aku harus pikirkan sesuatu yang membuat ku sedih sekarang! Apa ya? Oh iya, neraka. Bayangkan betapa panasnya api itu jika melahap tubuh ku. Itu akan sangat menyakitkan. Oh tidak! Aku tidak bisa merasa sedih'

"Aku tahu kau menyesal hanya karena sudah ketahuan, Sony Febrie. Penyesalan itu datang bukan langsung dari lubuk hatimu. Semua koruptor begitu," ucap Aleta.

Ia mengisap cerutunya sekali lagi, lalu tanpa ragu menempelkan bara rokok itu ke pipi Sony. Sony tersentak, menahan erangan saat rasa panas menjalar di wajahnya.

"Kalian tahu apa yang akan terjadi pada seseorang yang berani menggelapkan uang rakyat?" tanya Aleta, sambil menghadap ke kamera. Seolah-olah sedang bertanya pada orang-orang yang akan melihat video tersebut.

"Ya, benar. Mereka harus menderita seperti kita. Tapi dengan cara yang berbeda," desis Aleta.

"Cara yang ku maksud..."

Krak!

Byuur.

"Arggghh!!!" teriak Sony, ketika Aleta berhasil mem0t0ng tangan k4n4nnya dengan kapak.

Darah mengucur dari lengan Sony yang telah terp*t*s, beberapa tetes bahkan memercik hingga mengenai pakaian dan topeng Aleta. Topeng berhias bulu ayam dengan lambang bulan itu kini tampak kontras, noda merah yang menempel di permukaannya menambah kesan kelam dan mencekam.

"Itu adalah hukuman untuk tangan pencuri," ucap Aleta datar.

Krak!

Byuur.

"Arggghh!!!" teriak Sony, ketika Aleta berhasil mem0t0ng tang4nya yang satunya lagi.

“Ini... agar pencurian tidak terulang untuk kedua kalinya," ucap Aleta.

"Sakit..." lirih Sony.

"Kau hanya menderita belum sampai sehari sudah mengeluh sakit. Lalu bagaimana dengan orang lain yang kau rugikan sehingga menderita bertahun-tahun?"

"Maaf... Maafkan aku..." lirih Sony, perlahan ia menundukkan kepalanya.

"Hiks... Tolong berhenti, aku benar-benar menyesal..." tangis Sony.

"Bu-bunuh saja aku jika itu memberikan kelegaan untuk kalian semua," ucap Sony lagi, pasrah.

"Okeyy." Aleta menggantikan kapaknya dengan pedang, lalu mengangkatnya.

"Ucapkan selamat tinggal pada dunia..."

Srak!

Byuur...

Setelah mengucapkan kalimat yang telah menjadi ciri khasnya, ia pun mengayunkan pedangnya dan m3n3b4$ k3pal4 Sony. Darah menyembur, dan kembali meninggalkan noda di pakaiannya. Sementara kepala Sony, m3ngg3linding, dengan mata melotot yang menyeramkan.

"Bangunkan yang lain dan bereskan," titah Aleta pada mantan pengawal Sony yang hanya mengangguk.

"Tu-tunggu Queen," ucap sang pengawal, berhasil menghentikan langkah Aleta.

"Maksudmu... Yang aku bangunkan adalah teman-teman ku? Bukankah mereka sudah kau tembak mati?" tanya pengawal itu.

"Aku hanya menembakkan jarum berisi obat bius, bukan peluru," ujar Aleta dengan nada santai. Setelah itu, ia berbalik dan melenggang pergi seolah tak terjadi apa-apa.

Setelah kepergian Aleta, pria itu langsung membangunkan teman-temannya yang ternyata hanya pingsan efek obat bius yang Aleta tembakan. Mereka segera melaksanakan yang telah Aleta perintahkan.

...FLASBACK OFF...

"Begitu..."

Ruangan masih dipenuhi keheningan. Adrian juga masih menatap Aleta, berusaha mencerna setiap cerita yang baru saja didengarnya. Sementara Aleta memilih menyandarkan kepalanya ke bantal, napasnya terdengar sedikit lebih tenang setelah akhirnya mengungkapkan semuanya.

Tok... tok...

Ketukan pelan terdengar dari balik pintu.

"Permisi."

Seorang perawat masuk sambil mendorong troli kecil berisi makanan.

"Ini makan siang pasien. Tolong dihabiskan dulu sebelum minum obat, ya."

Perawat itu meletakkan semangkuk bubur hangat, segelas air putih, dan beberapa butir obat di atas meja lipat di samping ranjang.

Setelah perawat keluar, Adrian mengambil mangkuk bubur itu. Aroma kaldu tipis langsung memenuhi ruangan, namun Aleta hanya terdiam menatap isi bubur itu.

"Bubur rumah sakit..." gumamnya pelan. "Pasti hambar."

Adrian yang mendengarnya tanpa sadar tersenyum tipis.

"Aku bisa sendiri," ucap Aleta sambil mengulurkan tangan.

"Kata dokter, jangan banyak bergerak dulu."

"Aku cuma makan."

"Justru itu."

"Kamu terlalu berlebihan."

"Tidak." Adrian tetap meletakkan mangkuk itu di tangannya sendiri, lalu menyodorkan sendok berisi bubur. Aleta menatapnya beberapa detik.

"..."

"Kalau kamu terus diam, buburnya keburu dingin."

Aleta akhirnya menurut. Melihat pemandangan itu, Gavin langsung menyenggol siku Ezra.

"Bos kita tuh..."

"Ternyata bisa juga nyuruh orang makan," sahut Ezra, sambil menahan senyum.

"Biasanya nyuruh orang latihan," ucap Gavin lagi.

"Perkembangan yang luar biasa." Ezra bertepuk tangan.

Gavin menyeringai jahil lalu berseru, "Cieee..."

"Suap-suapan cintaa..." goda Gavin dan Ezra kompak.

Adrian dan Aleta sontak menghentikan gerakan. Keduanya menoleh bersamaan, lalu melempar tatapan tajam ke arah Gavin dan Ezra. Tatapan yang begitu kompak itu membuat kedua penggoda tersebut langsung terdiam sejenak, meski senyum jahil masih tersungging di sudut bibir mereka.

"Jujur... Aku masih ga percaya kalau Aleta itu Queen moon si pembunuh bayaran yang baru-baru ini menggemparkan dunia bawah," ucap Gavin.

"Sama. Aku juga masih ga percaya manusia kayak kamu bisa jadi mafia," sahut Viana.

Ruangan seketika hening. Gavin mengernyit, berusaha mencerna apa yang baru saja Viana katakan. Sedetik kemudian...

"Bwaahahaha!" Ezra langsung tertawa paling keras melihat wajah polos Gavin.

"Kenapa ketawa? Lucu ya?" tanya Gavin.

"Lucunya itu karena ga lucu," jawab Ezra yang masih terkikik geli.

"Bisa gitu ya?" tanya Gavin lagi. Entah kenapa hari ini otaknya tiba-tiba lemot.

Plak!

"Aduh!"

Ariana menggeplak lengan Gavin. "Dasar lemot. Tukar sama otak gagak sana."

Gavin langsung mengusap lengannya sambil manyun. Sementara Ezra menutup wajahnya menggunakan telapak tangan.

"Aku malu satu organisasi sama dia."

"Kenapa ma–"

"Sshhttt..." Ezra tiba-tiba membekap mulut Gavin dengan kuat.

"Bau tai," gerutu Gavin setelah Ezra melepas tangannya.

"Look at Zion!" seru Ezra.

Gavin langsung menoleh ke sudut ruangan, tepat di sofa panjang dekat jendela. Dimana Aura dan Zion sedang duduk saling berhadapan sambil menikmati camilan mereka. Melihat itu, Gavin langsung menyeringai.

Dengan suara yang sengaja dilantangkan agar terdengar jelas, ia menyanyikan penggalan lagu, "Empat mata bicara padamu..."

Seketika perhatian seisi ruangan tertuju pada Aura dan Zion. Merasa diperhatikan, keduanya reflek menoleh.

"Besok latihan dua kali lipat," ucap Zion dingin sambil menatap tajam Gavin. Senyum Gavin pun seketika lenyap.

"Loh? Zi... Jangan baper gitu lah."

"Eh iya, Gavin tadi kan ga ikut latihan gara-gara kebelet eek," bohong Ezra.

Gavin reflek menunjuk Ezra dengan wajah penuh protes.

"Fitnah! Itu fitnah!"

"Bos! Zion! Aku dizalimi!"

"Berisik," desis Ariana pelan, meski sudut bibirnya nyaris terangkat melihat tingkah mereka.

"Tau tuh, si Gavin," ucap Ezra.

"Si gavin si gavin."

Aleta yang sejak tadi memasang wajah datar pun tanpa sadar menarik sedikit sudut bibirnya. Melihat senyum tipis itu, Adrian hanya mengembalikan mangkuk ke atas meja.

"Begitu lebih baik," ucap Adrian pada Aleta, setengah berbisik sehingga hanya Aleta yang dapat mendengarnya.

"Teman-temanmu berisik," ucap Aleta pelan.

"Sudah biasa," sahut Adrian.

"Bahkan lebih berisik dari ku," ucap Viana yang ternyata juga mendengarkan percakapan keduanya.

"HEI!" protes Gavin. "Aku dengar, tahu!"

Ucapan itu justru membuat Zion, Aura, Ezra, Viana dan Ariana ikut tertawa, sementara suasana ruang rawat yang sebelumnya terasa tegang perlahan berubah menjadi jauh lebih hangat.

1
Peach
bener sih tapi jawabannya... 😭😭
Nongnong 🦩: agak laen yaa 🤭🤣
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
prasaan kemarin masih lo gue deh, kok tiba-tiba udah aku kamu aja 😭😭
mana dipanggil honey lagi /Doge/
Chika
Akhirnya ktm mommy kandung 😍
Chika
Adrian lo jgn kayak Joe ya, lucu² setan /Smug/
Chika
Joe sama Anneta selucu itu kok harus pisah sihhh 😭😭
Nongnong 🦩: dulu pas author masih sama dia juga lucu tapi endingnya tetep pisah 😌
total 1 replies
Yuni
wkwkwkwk waajr sih mak nya Aleta marah/ga terima Aleta ngaku Anneta. secara kan dia ga percaya adanya reinkarnasi. Apalagi pas awal Aletanya kayak plenger bangt, siapa yg ga kesel cba. Anak tunggal udh meninggoy belasan thn trus tb² ada yg ngaku 🤣🤣
Yuni
ih udah honey aja nih 🤭
Peach
loh kok udah lopyu lopyu aja nih? udah jadian apa begimana? apa cuma aku yg ketinggalan berita?
Peach
circle ini isinya manusia lantam smua 💜
Yuni
🥀💔
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
ternyata orang seasik dan setengil joe juga bisa jahat
Nongnong 🦩: namanya juga manusia 😔
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
awas jodoh 😂🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
makin deket niehh
Nongnong 🦩: Adrian mah gercep
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
demen bgt sama cw yg pemikirannya begini 🤣🤭
Nongnong 🦩: Author juga demen 🤑
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
kocak umur sndiri pun tak ingat 😂🤣
Nongnong 🦩: Author juga sering kaya gtu, padahal ga reinkarnasi 🤧
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
yg ini agak lain ya, malah ngakunya wlw 😭😭
Nongnong 🦩: cari aman dulu wkwkwk
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
perempuan nyembelin
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Viana sendiri aja ributnya minta ampun. Apalagi kalu ditambah Keira sama Ravian trus Gavin Ezra. ga kebayang ribut & berantakannya bakal kayak apa 😂
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Mampus lo Ravian, siapa suruh udah bikin gue nangis tiap baca kisah lo ama Keira
Nongnong 🦩: silakan mengeluarkan kata² mutiara mu kak
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Gitu deh manusia, kehilangan dulu baru menyesal
Nongnong 🦩: real .
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!