NovelToon NovelToon
Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Membalas dendam / Balas Dendam / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024 - Persiapan Makan Malam

Jumat sore, rumah Prasetyo berubah menjadi ruang ganti kecil yang terlalu panas.

Bu Sri mengeluarkan semua pakaian terbaik Laras dari lemari. Dress satin warna dusty pink, rok plisket krem, blouse putih dengan pita kecil, sepatu hak rendah yang baru dipakai dua kali. Semuanya ditumpuk di atas ranjang seperti pasukan yang menunggu dipilih.

"Yang ini terlalu biasa." Bu Sri mengangkat blouse putih, lalu melemparnya kembali. "Grand Megawan itu bukan restoran keluarga. Di sana ada wali kota, pengusaha, mungkin orang Keluarga Tan. Kamu harus terlihat pantas."

Laras berdiri di depan cermin dengan wajah lelah. "Ma, ini cuma makan malam apresiasi try out."

"Cuma?" Bu Sri menatapnya lewat cermin. "Laras, perempuan pintar harus tahu kapan kesempatan datang. Kamu peringkat dua. Itu tetap bagus. Kalau kamu terlihat anggun, orang akan ingat kamu sebagai anak yang stabil, bukan anak yang kebetulan naik."

Kata kebetulan itu tidak disebut untuk Keira, tetapi ruangan langsung tahu arahnya.

Laras menunduk. "Kalau Keira juga datang..."

"Dia memang datang." Bu Sri mengambil sisir. "Tapi dia tidak tahu cara membawa diri. Nilai tinggi tidak otomatis membuat seseorang cocok duduk dengan orang besar."

Di kamar sebelah, Keira mendengar semuanya karena dinding rumah itu terlalu tipis untuk menyimpan ambisi.

Ia duduk di lantai, membuka tas kecil. Di dalamnya ada gaun hitam sederhana dari Paris, bahan jatuh yang tidak berkilau berlebihan. Gaun itu dulu diberikan Yves dalam salah satu perjalanan yang ia sendiri hampir tidak ingat sebagai perjalanan, karena lebih banyak diisi pengejaran, luka, dan transaksi informasi.

Untuk Grand Megawan, gaun itu cukup.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Keira menyentuh kainnya sebentar, lalu menutup tas.

Ketukan pelan muncul di pintu.

"Keira?"

Pak Prasetyo berdiri di luar dengan amplop kecil lain. Kali ini lebih tebal dari amplop try out, tetapi tetap terlihat seperti sesuatu yang dikumpulkan diam-diam.

"Bapak masuk?"

"Pintu tidak dikunci."

Pak Prasetyo membuka pintu setengah saja. Ia melihat kamar Keira yang rapi, ranjang tipis, meja kecil, dan tas hitam yang tidak mencolok. Matanya berhenti pada gaun hitam, lalu cepat berpindah.

"Bapak tidak tahu kamu sudah punya baju."

"Ada."

"Bagus." Ia menyodorkan amplop. "Ini untuk ongkos kalau nanti pulang terpisah atau perlu apa-apa."

Keira menatap amplop itu. "Pak, saya tidak perlu."

"Bapak tahu kamu bisa mengurus diri sendiri." Suara Pak Prasetyo pelan. "Tapi malam ini, boleh tidak Bapak melakukan sesuatu sebagai ayah, walau terlambat?"

Kalimat itu membuat udara di kamar berhenti sebentar.

Keira menerima amplop dengan dua tangan. "Terima kasih, Pak."

Pak Prasetyo mengangguk. Ia seperti ingin mengatakan lebih banyak, tetapi dari kamar Laras, suara Bu Sri memanggilnya untuk mengambil setrika.

"Iya, Bu!" jawabnya cepat. Sebelum pergi, ia menoleh lagi. "Jangan terlalu lama siap-siap. Kita berangkat jam enam."

Setelah pintu tertutup, ponsel Keira menyala.

Tan Hansel:

Kau datang dengan keluarga?

Keira membalas:

Menurut undangan, iya.

Balasan muncul:

Kalau kau ingin pergi lebih awal, kirim pesan.

Keira menatap kalimat itu lebih lama dari yang perlu. Tidak ada rayuan. Tidak ada janji manis. Hanya jalur keluar yang disediakan sebelum ia meminta.

Ia mengetik:

Kau terlalu yakin malam ini akan buruk.

Hansel:

Aku mengenal ruangan yang penuh orang ingin terlihat lebih tinggi dari kursinya.

Keira hampir tersenyum.

Di ruang tamu, Bayu memakai kemeja biru muda yang sedikit kebesaran. Ia merapikan lengan berkali-kali.

"Mbak, kelihatan aneh nggak?"

Keira keluar dari kamar dengan rambut dibiarkan jatuh rapi di bahu. Gaun hitamnya sederhana, tanpa payet, tanpa renda mencolok. Justru karena itu, kulitnya terlihat lebih bersih dan garis tubuhnya lebih tenang. Bayu tertegun.

"Mbak?"

"Kemejamu tidak aneh."

"Bukan. Maksudku..." Bayu menunjuk gaun Keira, lalu cepat menurunkan tangan. "Mbak kelihatan beda."

Bu Sri keluar dari kamar Laras tepat pada saat itu.

Matanya berhenti pada Keira.

Dalam sepersekian detik, Bu Sri tidak bisa menyusun komentar.

Gaun itu tidak terlihat mahal dengan cara yang ia pahami. Tidak ada logo besar, tidak ada kilap keras. Namun saat Keira berdiri di bawah lampu ruang tamu yang redup, pakaian itu seperti sengaja dibuat untuk membuat orang lain terlihat berlebihan.

Laras muncul di belakang Bu Sri dengan dress dusty pink pilihan akhir. Cantik, manis, rapi.

Lalu ia melihat Keira.

Senyumnya tersendat.

Bu Sri menemukan suaranya kembali. "Kamu pakai hitam? Ini makan malam apresiasi, bukan..."

"Formal dinner boleh memakai hitam," potong Keira.

Nada itu tidak meninggi. Bu Sri justru kehilangan ruang untuk marah.

Pak Prasetyo masuk sambil membawa kunci motor dan kunci mobil pinjaman. Ia juga terpaku sebentar melihat Keira.

"Kita naik sedan Pak Heru," katanya kemudian. "Saya sudah pinjam."

Bu Sri mengerutkan hidung. "Sedan lama itu?"

"Masih bagus."

"Di Grand Megawan valet-nya bisa lihat."

Pak Prasetyo menunduk. "Kita tidak punya pilihan lain."

Bayu mengepalkan tangan di samping tubuh. Keira melihat gerakan itu, lalu mengambil tas kecilnya.

"Mobil yang sampai tujuan tidak perlu minta maaf karena tidak mahal."

Bayu langsung menatapnya. Pak Prasetyo juga.

Bu Sri tidak menjawab, tetapi bibirnya menipis.

Perjalanan ke Grand Megawan ditempuh dalam diam yang penuh perhitungan. Bu Sri beberapa kali mengingatkan Laras untuk tersenyum, menyapa dengan sopan, dan tidak terlihat kalah dari siapa pun. Pak Prasetyo menyetir hati-hati. Bayu duduk di belakang bersama Keira, tangannya mencengkeram ujung kursi setiap kali mobil melewati jalan berlubang.

Ketika sedan tua itu memasuki area Grand Megawan Hotel, lampu kristal lobi tampak seperti dunia lain. Petugas keamanan mengarahkan mobil ke sisi kiri, sementara di jalur utama sebuah Alphard hitam berhenti mulus tepat di depan pintu.

Pintu Alphard dibuka oleh petugas.

Sepatu kulit hitam turun lebih dulu.

Tan Hansel.

Ia mengenakan setelan gelap tanpa dasi, wajahnya dingin seperti biasa. Di belakangnya, Tan Yannic turun sambil menerima panggilan. Beberapa staf hotel langsung menunduk.

Bu Sri menegakkan punggung. "Laras, lihat. Itu Tan Hansel. Nanti kalau ada kesempatan, sapa dengan sopan."

Laras merapikan rambut dengan tangan gemetar halus.

Sedan Pak Prasetyo berhenti beberapa meter dari jalur utama. Petugas valet mendekat dengan profesional, tetapi Bu Sri sudah merasa pipinya panas.

Keira membuka pintu sendiri sebelum petugas sampai.

Suara lobi, lampu emas, dan mata orang-orang yang menoleh karena gaun hitamnya menyatu dalam satu tarikan napas.

Tan Hansel yang baru saja melangkah ke karpet merah berhenti.

Ia melihat Keira.

Bu Sri langsung membaca berhentinya Hansel sebagai kesempatan untuk Laras. Ia mendorong putrinya setengah langkah maju.

"Laras, cepat."

Namun Hansel tidak melihat Laras.

Ia berjalan melewati staf hotel, melewati Bu Sri yang sudah memasang senyum, melewati jarak kelas sosial yang selama ini dipakai orang untuk mengukur manusia.

Lalu, sebelum siapa pun sempat menyapa, Hansel tersenyum lebih dulu.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bayu sama kakak nya ini seumuran apa gmna dia anak kandung bu Sri apa anak angkat
falea sezi
bagus
falea sezi
ini novel al kah
Erna Fkpg
makin misterius dan menegangkan
Erna Fkpg
ceritanya menarik dan menegakkan
Erna Fkpg
wah makin mantap ceritanya 💪💪💪
Erna Fkpg
pada akhirnya tetap ditakdirkan pd jalan yg selalu dihindari untuk mencari kenyamanan
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
ni sebenarnya Bu Sri orang kaya bukan sih kok selalu memerintah dengan uang
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
nah Lo malu sendiri GK tu Bu Sri ngomongnya ngurusin keyra padahal dijadikan babu
Erna Fkpg
harusnya Laras dapat nilai dibawah Bayu biar kalah telak dan mati kutu dengan kesombongannya 💪💪💪
Cty Badria
👍👍👍
Erna Fkpg
secangkir kopi untuk semangat up💪💪💪
Cty Badria
ayo semangat up lg ni hadiah /Rose/
Cty Badria
jgn lm2 up nya thor ni hadiah biar semangat /Rose/
Erna Fkpg
GK sabar nunggu hasilnya 💪💪💪🙏🙏🙏
Anne Soraya
lanjut 👍
Erna Fkpg
lanjut thor tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!