NovelToon NovelToon
Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Mengubah Takdir
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.

Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.

Lalu Yong Ing meninggal.

Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.

Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.

Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.

Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.

Dan itu baru tiga hari pertama.

Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.

Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024: Tujuh Puluh Juta

Keluarga Tan datang lebih cepat daripada dugaan Margaret.

Keesokan paginya, Robert menelepon rumah Lim. Suaranya ditekan rendah, katanya ia ingin bicara.

Margaret hanya menjawab satu kalimat, "Di rumah tidak. Restoran saja. Ruang tertutup."

Sore itu, kedua pihak duduk di sebuah ruang tertutup restoran Tionghoa.

Di sisi keluarga Lim ada Margaret, Jason, dan Adrian. Daniel sebenarnya ingin ikut, tetapi Margaret menyuruhnya tinggal di rumah menemani Ama dan Sophie. Jason diam sepanjang jalan. Setelah duduk, ia bahkan tidak menyentuh cangkir teh. Adrian meletakkan tas kerja di samping kursinya. Di dalamnya ada foto, slip transfer, keterangan losmen, hasil klinik, dan salinan laporan Polsek lama milik Sophie yang membuktikan keluarga Lim bukan orang yang takut masuk kantor hukum.

Di sisi keluarga Tan ada Robert, Vincent, dan Livia.

Livia memakai blus biru muda. Wajahnya pucat, matanya bengkak. Begitu melihat Jason, ia menunduk.

Jason tidak melihatnya.

Sejak pulang dari losmen, ia belum memaki Livia sekali pun. Tidak karena ia memaafkan. Justru karena amarahnya sudah melewati kata-kata. Di rumah, ia hanya duduk di bengkel belakang, memegang kunci pas, lalu meletakkannya lagi. Benda logam itu lebih jujur daripada manusia.

Vincent duduk paling tegak. Usianya belum terlalu tua, tetapi cara bicaranya sudah seperti orang yang terbiasa membuat orang lain menunggu di depan meja kantor. Kemejanya licin, rambutnya rapi, matanya dingin.

"Kita semua keluarga baik-baik," kata Robert lebih dulu. "Masalah anak-anak, jangan diperbesar."

Margaret mengangkat cangkir teh. "Anak perempuanmu hamil dari laki-laki lain saat masih menjadi menantu Lim. Itu kecil?"

Wajah Robert mengeras.

Vincent langsung masuk. "Ci Margaret, kata-kata harus hati-hati. Kami belum melihat bukti bahwa anak itu bukan Jason."

Adrian membuka map pertama.

Foto toko kopi.

Foto losmen.

Slip transfer Rp 500.000 tiga bulan berturut-turut.

Keterangan penjaga losmen dengan paraf.

Terakhir, hasil klinik.

Adrian mendorong semuanya ke tengah meja dengan rapi.

"Silakan lihat."

Vincent membaca tanpa mengubah ekspresi. Tetapi ketika sampai pada usia kandungan, jarinya berhenti setengah detik.

Setengah detik cukup.

Margaret melihatnya.

Robert mengambil kertas itu, lalu menatap Livia. "Benar?"

Livia menangis. "Papa, aku..."

"Benar atau tidak?"

Livia tidak menjawab.

Robert menutup mata sebentar. Seorang ayah mungkin bisa marah pada orang luar, bisa membela anak di depan dunia, tetapi kertas kecil di tangannya membuat semua pembelaan terasa berlubang.

Livia meremas saputangan. "Aku bingung waktu itu. Jason selalu kasar. Di rumah, Mama mengatur semua uang. Aku merasa tidak punya tempat."

Jason tertawa sekali.

Suaranya pendek dan pecah.

"Aku kasar karena aku kerja sampai tangan bau oli? Atau karena aku tidak bisa bicara manis seperti dia?"

Livia menunduk makin rendah.

Jason menutup mata.

Di dalam ruangan, suara AC terdengar lebih keras daripada napas manusia.

Vincent menaruh kertas itu kembali. "Baik. Misalnya ada kesalahan dari pihak Livia. Tapi keluarga Lim juga tidak boleh lepas tangan. Selama menikah, apakah kalian memperlakukan dia dengan baik? Dia sering mengeluh tidak dihargai, uang rumah dikontrol, mertua terlalu keras."

Jason membuka mata.

Untuk pertama kalinya sejak duduk, ia menatap Livia.

"Aku tidak pernah kurang memberi uang."

Livia menangis makin keras.

Margaret menepuk meja sekali. Tidak keras, tetapi cukup membuat tangis itu berhenti.

"Jangan pakai air mata untuk menutup angka."

Ia menunjuk slip transfer.

"Tiga bulan, tiap bulan Rp 500.000. Dari uang rumah. Itu baru yang kami temukan. Kalau dihitung dari awal dia mulai dingin pada Jason, mungkin lebih banyak. Tapi aku tidak mau buang waktu menghitung dosa kecil. Kita bicara penyelesaian."

Adrian menambahkan, "Transfer ini bisa dilacak. Kalau perlu, kami minta rekening tiga bulan terakhir. Kalau ada lebih banyak, angka tuntutan naik."

Vincent melirik Adrian. "Kamu mengancam?"

"Aku menghitung."

Margaret menyukai jawaban itu.

Robert menatapnya. "Apa maumu?"

"Cerai. Cepat. Bersih. Livia keluar dari rumah Lim tanpa membawa apa pun yang bukan haknya. Keluarga Tan mengganti kerugian."

Vincent tertawa pendek. "Kerugian? Justru adikku yang reputasinya rusak karena kalian menerobos losmen."

Adrian mengambil alih dengan suara datar.

"Untuk non-Muslim, perceraian diajukan ke Pengadilan Negeri. Kalau perkara ini masuk berkas lengkap, bukti perselingkuhan dan transfer uang keluarga akan ikut terbaca. Jika Martin terseret, department store tempat mereka bekerja juga bisa ikut tahu. Kalau keluarga Tan ingin reputasi dijaga, penyelesaian keluarga lebih murah."

Vincent menatap Adrian.

Untuk sesaat, dua orang yang sama-sama pandai berhitung itu saling mengukur.

"Berapa?" tanya Vincent.

Margaret menjawab sebelum Adrian.

"Rp 70.000.000."

Robert hampir menjatuhkan cangkir. "Kamu gila?"

"Belum."

"Itu uang besar!"

"Aku tahu. Karena kehormatan anakku juga besar."

Vincent wajahnya mengeras. "Angka itu tidak masuk akal."

Margaret mulai menghitung dengan jari.

"Biaya pesta dulu. Perabot yang kami beli setelah mereka menikah. Uang rumah yang dialihkan ke Martin. Kerusakan nama Jason. Biaya pengurusan cerai. Dan satu hal lagi."

Ia menatap Livia.

"Kamu membawa anak laki-laki lain ke dalam status pernikahan dengan anakku. Kalau nanti anak itu lahir, jangan pernah sekali pun keluargamu mencoba menempelkan nama Jason."

Livia menutup wajah.

Jason menunduk. Bahunya bergetar sekali, lalu diam.

Robert seperti bertambah tua dalam satu jam.

"Kami tidak punya uang sebanyak itu tunai."

"Cari."

Vincent berkata dingin, "Kalau kami menolak?"

Adrian membuka map kedua. Di dalamnya ada daftar langkah: Pengadilan Negeri, laporan tambahan, surat ke tempat kerja, pemanggilan Martin.

Margaret tidak perlu bicara.

Vincent membaca daftar itu, lalu menutup map dengan satu jari.

"Kamu sudah siapkan semuanya."

"Aku punya banyak anak," kata Margaret. "Tidak punya waktu bertarung tanpa persiapan."

Perundingan berlangsung dua jam.

Robert keluar dua kali untuk menelepon. Vincent menawar, menekan, lalu mencoba memecah Jason dengan kalimat, "Kalau kamu laki-laki, selesaikan sendiri tanpa Mama-mu."

Sebelum itu, Vincent menawarkan Rp 10.000.000.

Margaret tidak menyentuh tehnya.

"Untuk apa? Ganti mochi?"

Robert menaikkan menjadi Rp 25.000.000, dengan syarat semua foto dan slip diserahkan ke keluarga Tan.

Adrian langsung menutup map.

"Bukti tidak dijual. Bukti disimpan sampai proses Pengadilan Negeri selesai."

Vincent menawarkan Rp 40.000.000 dan berkata keluarga Lim harus menandatangani pernyataan tidak akan menjelekkan Livia.

Margaret akhirnya tertawa.

"Anakmu masuk losmen dengan laki-laki lain, mengirim uang rumah ke laki-laki itu, hamil saat masih menjadi istri anakku, lalu aku yang harus berjanji menjaga namanya? Vincent, kamu kerja di kantor atau panggung sandiwara?"

Wajah Vincent memerah tipis.

Jason menatap meja. Setiap angka yang keluar membuatnya makin sadar bahwa pernikahannya sedang ditawar seperti barang rusak. Tetapi ketika Margaret menolak satu per satu, ia juga perlahan mengerti: Mama-nya bukan menjual lukanya. Mama-nya sedang memaksa keluarga Tan mengakui bahwa luka itu nyata.

Jason akhirnya menjawab.

"Justru karena aku laki-laki, aku tidak akan memukul perempuan hamil di depan orang. Mama yang bicara."

Margaret tidak menoleh, tetapi hatinya bergerak sedikit.

Pada akhirnya, keluarga Tan menyerah.

Rp 70.000.000 tidak dibayar seluruhnya hari itu. Robert menyerahkan Rp 20.000.000 sebagai tanda jadi, sisanya dibuat surat pernyataan bermeterai, jatuh tempo satu bulan. Adrian menulis setiap kata. Vincent membaca dua kali sebelum menandatangani sebagai saksi keluarga Tan.

Vincent meminta foto dan slip transfer diserahkan setelah tanda tangan.

Adrian tersenyum sopan. "Salinan bisa kalian lihat. Asli tetap di kami sampai uang lunas dan berkas Pengadilan Negeri masuk."

"Kalian tidak percaya kami?"

Margaret menjawab, "Kalau aku percaya, kita tidak duduk di sini."

Robert menutup wajah dengan tangan. Livia menangis lagi, tetapi kali ini tidak ada yang menenangkan. Bahkan Vincent tidak menoleh. Ia terlalu sibuk menghitung kerusakan yang baru saja terjadi pada nama Tan.

Adrian membuat kuitansi terpisah untuk Rp 20.000.000 tanda jadi, lalu menulis jadwal pembayaran sisa uang. Semua rapi, dingin, dan tidak memberi ruang untuk pura-pura lupa.

Livia menandatangani kesediaan cerai dan keluar dari rumah Lim.

Saat pena menyentuh kertas, Jason menatap ke luar jendela.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada meja terbalik.

Hanya satu pernikahan yang runtuh dengan suara kertas digores tinta.

Keluar dari restoran, Vincent berjalan di samping Margaret.

"Bu Lim," katanya pelan, "saya ingat kamu."

Margaret tersenyum.

"Terima kasih. Aku juga ingat kamu."

Di belakang mereka, Jason berdiri di bawah langit mendung Januari, seperti orang yang baru keluar dari rumah yang terbakar sambil membawa abu di tangan.

Margaret tidak menghiburnya. Hari ini, diam lebih jujur daripada nasihat apa pun.

Besok baru mereka bicara pelan tentang hidup setelah patah.

1
🌸nofa🌸
keren banget kak, nambah pengetahuan tentang pengelolaan keuangan keluarga. makasih dah rutin update🙏
Fauziah Daud
mantap.. trusemangattt
Fauziah Daud
karen
Ida Kurniasari
lanjut thor😍
Dewiendahsetiowati
crazy up thor
Dewiendahsetiowati
wah Margaret asetnya sudah berkembang banyak
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ini waktu up nya ngga salah liat kan ya/Shy/
Dewiendahsetiowati
mantab Margaret
Dewiendahsetiowati
belum mulai sudah tekor duluan,tapi tetap semangat Jason
Dewiendahsetiowati
Jason mulai bangkit lagi bersama Marco dan Toby
Dewiendahsetiowati
Margaret suka bener deh ngomongya🤣🤣
Dewiendahsetiowati
kasihan Jason
Dewiendahsetiowati
Ama the best deh aktingnya,Jason jadi bodyguard jadi tenaganya kayak Hulk dibutuhkan.Vanesa dan Margaret mulutnya bon cabe level 100.kelyarga kocak dan kompak🤣🤣
Dewiendahsetiowati
Oscar bikin ngakak 🤣🤣
Dewiendahsetiowati
ada main nih sama kakak iparnya
Dewiendahsetiowati
semua sudah berjalan kearah yang benar tinggal buang benalu yang ada dirumah👍👍
Dewiendahsetiowati
othornya taruh bawangnya kebanyakan,nyesek baca part Sophie😭😭😭
Dewiendahsetiowati
bagus Margaret tegas sama orang2 toxic
Dewiendahsetiowati
hadir thor
cinnamon
kapan up nya thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!