Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.
Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.
Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.
Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.
Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Genggaman & Lari
Meski menerima panggilan dari pihak yang berbeda, raut wajah mereka berubah tegang secara serentak hanya dalam waktu hitungan detik. Tanpa membuang waktu, Muha langsung memutar balik tubuhnya.
"Ayo, Yuki!" serunya terburu-buru.
Muha dan Naru berlari ke arah yang bertolak belakang. Tepat saat tubuh mereka berpapasan, gerakan mereka seakan melambat. Seperti efek slow-motion dalam adegan drama.
Dalam sepersekian detik yang intens, tatapan Muha menyambar tajam, menyampaikan pesan tersirat yang sangat dingin:
Jangan coba lo dekati adik gue.
Seolah sanggup membaca peringatan tanpa suara itu dari sela angin yang berhembus, Naru justru menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. Menyambut tantangan itu secara terbuka sebelum akhirnya melesat pergi menembus kerumunan.
Sementara itu,
suasana di sepanjang trotoar Jalan Malioboro sudah mulai riuh dan dipenuhi lampu-lampu pertokoan yang temaram. Rombongan kuartet Multimedia sedang asyik menjelajahi deretan stan dan ruko pedagang.
Sejujurnya, Nuha sudah capek setengah mati. Baterai sosialnya sudah berada di mode gawat darurat akibat introvert hangover yang melanda. Namun, demi melihat ketiga sahabatnya yang masih sangat bersemangat, Nuha memaksakan diri untuk tetap berdiri tegap dan menyamai langkah mereka.
"Guys, kalau mau beli barang buat diri sendiri, sisakan uang kalian buat oleh-oleh juga, ya!" peringat Sifa bijak sambil menghitung sisa uang kertas di dompetnya. "Inget, kalau sudah di Malioboro suka pada kalap lupa daratan, hehe."
"Apa daya aku yang cuma dikasih uang jajan kakak seratus ribu," batin Nuha merana.
"Sini, kalian berdua!" panggil Asa menghentikan langkah mereka, menunjuk ke arah kursi taman kayu yang masih kosong. "Petang-petang begini, kalian harus bisa jaga diri. Di sini ramai banget, banyak yang suka godain. Sini gue dandanin tipis-tipis biar nggak ada yang berani macam-macam sama kalian berdua."
Nuha dan Fani menurut saja, langsung duduk berdampingan di kursi tersebut menuruti perintah Asa yang sibuk mengeluarkan kantong pouch kosmetiknya.
Di antara lalu-lalang lautan manusia yang memadati Malioboro, sosok Naru mendadak menghentikan langkahnya di balik pilar ruko dalam jarak yang aman. Pandangan matanya yang tajam menembus barisan pejalan kaki, langsung terkunci pada satu objek.
Dari sudut pandangnya, setiap gerakan Nuha terlihat mendadak begitu manis, mengalir seperti adegan romantis penuh estetika. Dengan gerakan halus, ia membuka layar ponsel flip-nya, mengarahkan kamera ke arah tempat duduk geng cewek itu.
Klik.
Sudut pertama: Kamera menangkap Nuha yang tengah memejamkan sepasang matanya rapat-rapat saat Asa membuat smoky eye di kelopak matanya. Wajahnya yang pasrah terlihat begitu lugu.
Klik.
Sudut kedua: Nuha mendadak mendelik lebar-lebar dengan mata membola lucu, menatap lurus ke atas karena bagian bawah matanya sedang digarisi eyeliner.
Klik.
Sudut ketiga: Bibir Nuha sedikit memanyun menggemaskan, menyerahkan sepenuhnya area pipi yang merona merah muda alami untuk dipoles warna nude sampai ke ujung hidungnya.
Klik.
Dan sudut terakhir yang paling memikat: Bibir mungil itu sedikit terbuka, menerima sentuhan lip tint yang memberi warna hitam di atasnya.
Empat kali berturut-turut, terasa seperti montage. Kamera ponsel flip itu terus bekerja diam-diam. Sudut bibir Naru terangkat pelan. Batinnya yang dingin perlahan meleleh, terpesona sepenuhnya oleh kepolosan gadis yang berusaha keras ia hindari.
Saat mereka berempat sibuk memilih-milih aksesori, kamera ponsel flip Naru sama sekali tak pernah terlepas dari sosok Nuha. Namun, cowok itu mendadak hampir terjungkal saat arah pandangan Nuha tiba-tiba menyapu sekeliling.
Naru buru-buru menyembunyikan diri karena panik hampir kepergok. Di balik layar ponselnya, selain berdebar takut ketahuan, Naru sebenarnya dibuat makin syok oleh hasil garapan Asa yang malah membuat Nuha tampak seperti gadis vampir dari dunia lain. Gemas, tapi juga ada sentuhan seram yang kocak.
Tak lama kemudian, langkah mereka berbelok masuk ke sebuah toko buku bekas yang tersembunyi di sudut jalan. Aroma kertas tua yang khas seketika menyapa indra penciuman Nuha dan Fani, sebuah wangi nostalgik yang selalu memabukkan bagi mereka.
Nuha memang tidak terlihat seperti "kutu buku" sejati seperti Fani. Namun, di kamar rumahnya, ia mengoleksi banyak sekali novel fantasi dan buku dongeng bergambar klasik.
Buku-buku ini sejenak melempar ingatan Nuha pada sosok mendiang sang ayah. Sebagian besar buku koleksinya di rumah adalah hadiah yang rajin dibelikan ayahnya sewaktu masih hidup.
Rasa rindu itu mendadak membuncah. Dan kali ini, Nuha berniat hanya ingin cuci mata dan membaca-baca sebentar, tanpa bermaksud membeli apa pun.
Sebuah buku fantasi hardcover edisi terbatas menarik perhatian Nuha. Punggung bukunya memiliki ornamen ukiran emas timbul bertuliskan The Golden Forest.
Sayangnya, buku itu terselip di rak paling atas. Nuha berusaha berjinjit hingga ujung kakinya pegal. Tepat saat ia hampir oleng dan pasrah hendak menyerah, sebuah lengan jangkung berkulit bersih meraih buku tersebut dari belakang tubuhnya tanpa suara.
Jarak mereka mendadak begitu dekat, hingga Nuha bisa merasakan kehangatan dari sosok di belakangnya.
"Kan udah dibilangin, banyakin minum susu biar cepat tinggi. Ngeyel," dengus Naru usil, suaranya terdengar tepat di atas kepala Nuha.
"AAAAA--!"
Nuha refleks menjerit histeris karena kaget setengah mati melihat Naru tiba-tiba berada begitu dekat. Dengan cepat, tangan lebar Naru langsung membungkam mulutnya.
"Sstttt!! Jeritanmu itu suka bikin jantungan tauk! Bisa nggak sih santai dikit?" bisik Naru tertahan sambil mengawasi sekitar dengan panik.
Karena Nuha sempat oleng dan bergerak heboh, beberapa buku tebal di rak atas ikut tersenggol dan jatuh menimpa punggung Naru.
Duk! Duk! Duk!
"Aw! Ittai ... Kamu ini?! Kenapa sih tiap dekat sama kamu aku selalu ketimpa sial?" ringis Naru mengusap punggungnya.
"Nuha? Kamu di sebelah mana?" suara Fani mendadak terdengar dari lorong rak sebelah karena mendengar keributan tersebut.
Mata Naru membola. Sebelum kehadiran mereka ketahuan oleh sahabat Nuha, dengan gerakan kilat dan tanpa permisi, Naru langsung membopong tubuh mungil Nuha ke atas pundaknya seperti mengangkat karung beras, lalu membawanya lari menyelinap keluar dari toko buku.
"Woy woy woy woy, Hei?!!!" protes Nuha setengah berbisik, meronta-ronta dengan wajah memerah padam.
Begitu sampai di lorong sepi di luar toko, Naru baru menurunkan Nuha ke tanah. Ia menyeka dahinya dengan ekspresi santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Fiuh! Hampir saja ketahuan."
"Kamu ini apaan sih--"
Sebelum Nuha makin heboh memprotes, Naru keburu menarik pergelangan tangannya, mengajaknya berlari menembus keriuhan Malioboro yang padat manusia.
Detak jantung Nuha rasanya mau copot seketika. Langkah kakinya yang pendek-pendek kewalahan setengah mati mengejar ritme langkah lebar pemuda di depannya yang pandai nyelip-nyelip.
"Tunggu! Hei, berhenti dulu!"
"Ikut bentar, ada yang mau ketemu sama kamu," sahut Naru seraya menoleh tipis.
Sorot mata dan wajah tampan yang terpapar pendar lampu jalanan itu sukses membuat pipi Nuha mendadak merona panas. Pandangannya turun, menatap genggaman Naru. Seolah takut dilepaskan, jemari mungil Nuha perlahan-lahan merapat, ikut menggenggam erat.
Merasakan balasan genggaman itu, Naru tersenyum tipis. Rasa hangat membuncah di dalam dadanya. Namun, momen romantis itu tak bertahan lama karena pelarian mereka benar-benar menguras sisa napas Nuha.
"Kita ... kita mau ke mana, sih?!"
"Bentar lagi sampai," sahut Naru tanpa mengendurkan kecepatannya. Ia membawa Nuha kembali membelah kerumunan pejalan kaki, mengarah ke sebuah gedung tinggi bergaya modern yang disorot lampu megah di sekelilingnya.
Hartono Mall.
Mereka menaiki tangga teras luar dan berganti menjadi jalan cepat. "Seenggaknya berhenti dulu! Biarin aku napas bentar!" protes Nuha sambil memegangi dadanya yang kempas-kempis.
"Nggak sempat," potong Naru tegas tanpa menoleh. Matanya bergerak liar memindai area mall. Begitu menemukan eskalator, ia langsung menarik Nuha ke sana.
Nuha sempat bernapas lega karena mengira bisa beristirahat sejenak di atas eskalator yang berjalan. Namun harapannya sirna seketika saat Naru justru tetap melangkah menaiki anak tangga eskalator itu dengan terburu-buru.
"Mooo, iyaaa! Aku bisa pingsan beneran kalau begini cara mainnya!" rengek Nuha frustrasi, serasa mau menangis di tempat.
"Tahan, dua lantai lagi!"
.
.
. NEXT》Bab 22. Besok lagi 👋
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Kan dia suka sama Naru.