NovelToon NovelToon
SEPHIA

SEPHIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Slice of Life
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Penyelidikan

Suasana UKS siang itu jauh lebih ramai dari biasanya.

Beberapa guru berdiri di depan ruangan, sementara beberapa siswa yang penasaran hanya bisa mengintip dari balik jendela sebelum akhirnya diminta kembali ke kelas.

"Pulang ke kelas, semuanya!" tegur Pak Damar. "Jangan berkerumun."

Satu per satu siswa mulai membubarkan diri, meski sesekali masih menoleh ke arah UKS.

Di dalam ruangan...

Sephia masih terbaring di atas ranjang UKS.

Wajahnya pucat, napasnya mulai teratur, tetapi matanya masih terpejam.

Bu Rina, guru yang bertugas di UKS, selesai memeriksa tekanan darah Sephia sebelum melepas manset tensimeter dari lengannya.

"Tekanan darahnya turun," ucapnya pelan.

Pak Damar yang berdiri di samping ranjang langsung bertanya,

"Gimana kondisinya, Bu?"

"Sepertinya bukan karena benturan atau kekurangan oksigen."

Bu Rina kembali menatap wajah Sephia.

"Lebih ke serangan panik."

Pak Damar mengernyit.

"Serangan panik?"

Bu Rina mengangguk pelan.

"Kalau saya lihat dari kondisinya, kemungkinan dia mengalami kepanikan yang cukup berat. Ditambah ruangannya gelap dan tertutup, tubuhnya bisa saja bereaksi seperti ini."

Pak Damar menghela napas panjang.

"Syukurlah tidak ada luka."

"Untuk sementara biarkan dia istirahat dulu. Kalau nanti sudah sadar, baru kita lihat lagi kondisinya."

Pak Damar mengangguk pelan.

"Baik, Bu."

Beliau melirik Sephia sekali lagi sebelum melangkah keluar dari UKS.

Begitu pintu terbuka...

Hana yang sejak tadi mondar-mandir langsung menghampiri.

"Pak..."

"Gimana Pia?"

Pak Damar memberi senyum tipis, berusaha menenangkan siswinya.

"Dia baik-baik saja."

"Cuma masih belum sadar."

Hana mengembuskan napas lega.

Namun rasa bersalah di wajahnya belum juga hilang.

"Pak..."

"Kalau tadi saya ikut ke belakang..."

"Mungkin Pia nggak bakal sendirian."

Pak Damar menggeleng pelan.

"Jangan menyalahkan diri sendiri, Hana."

"Kamu juga tidak tahu itu akan terjadi."

"Tapi saya yang nyuruh dia ambil bukunya..."

Suara Hana mulai melemah.

"Harusnya saya ikut."

Pak Damar menepuk pelan bahu Hana.

"Yang terpenting sekarang, Sephia sudah ditemukan."

"Masalah kenapa dia bisa terkunci di sana... biar pihak sekolah yang mencari tahu."

Hana hanya mengangguk pelan.

Tatapannya kembali mengarah ke pintu UKS yang masih tertutup rapat.

Dalam hati, ia hanya berharap satu hal.

Semoga sahabatnya segera membuka mata.

Koridor di depan UKS perlahan mulai sepi.

Bel masuk pelajaran sudah berbunyi sejak beberapa menit lalu. Sebagian besar siswa kembali ke kelas masing-masing, menyisakan beberapa guru yang sesekali melintas.

Di bangku panjang depan UKS, Sagara duduk dengan kedua siku bertumpu di lutut.

Tatapannya kosong mengarah ke lantai.

Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia tidak memegang ponselnya.

Tidak pula berbicara dengan siapa pun.

Pikirannya masih tertinggal di ruang arsip.

Bayangan Sephia yang terbaring tak sadarkan diri terus berputar di kepalanya.

Di ujung koridor, langkah kaki pelan terdengar mendekat.

Alan.

Ia baru kembali dari kantin sekolah dengan dua botol air mineral di tangannya.

Tanpa banyak bicara, Alan berhenti di depan Sagara.

Satu botol ia letakkan di bangku, tepat di samping siswa kelas dua belas itu.

Sagara mengangkat pandangannya.

"Minum."

Hanya satu kata.

Alan tidak menunggu jawaban.

Ia membuka botol miliknya sendiri, lalu bersandar di dinding tepat di seberang pintu UKS.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

"Makasih."

Suara Sagara terdengar pelan.

Alan hanya mengangguk kecil.

Keduanya kembali diam.

Tidak ada tatapan saling menantang.

Tidak ada sindiran.

Yang ada hanyalah kecemasan yang sama terhadap satu orang.

Beberapa saat kemudian, Sagara membuka suara.

"Dia dari kecil memang takut ruang sempit."

Alan menoleh.

Sagara masih menatap lurus ke depan.

"Kalau tempatnya gelap..."

"...lebih parah."

Alan terdiam.

Kini ia mengerti.

Mengapa tadi, begitu mendengar Hana mengatakan Sephia terkunci di ruang arsip, Sagara langsung berlari tanpa bertanya apa pun.

Bukan karena berlebihan.

Melainkan karena ia tahu...

Sephia benar-benar ketakutan.

"Sejak kecil?" tanya Alan singkat.

Sagara mengangguk pelan.

"Dulu pernah kejadian."

"Sejak itu dia nggak pernah kuat kalau sendirian di ruangan sempit."

Alan tidak bertanya lebih jauh.

Ia kembali menatap pintu UKS yang masih tertutup.

Tak lama kemudian, pintu itu terbuka pelan.

Bu Rina keluar sambil melepas sarung tangan medis yang dikenakannya.

Kedua pemuda itu langsung berdiri hampir bersamaan.

"Gimana, Bu?" tanya Sagara lebih dulu.

Bu Rina memberi senyum tipis.

"Kondisinya mulai membaik."

"Sepertinya sebentar lagi dia sadar."

Kalimat itu membuat keduanya sama-sama mengembuskan napas lega.

Meski tak ada satu pun yang mengucapkannya...

Mereka memiliki harapan yang sama.

Semoga Sephia segera membuka mata.

Di dalam UKS...

Kelopak mata Sephia bergerak pelan.

Pandangannya masih buram.

Langit-langit putih di atasnya perlahan mulai terlihat jelas.

Ia mengedip beberapa kali.

Kepalanya terasa berat.

"..."

Suara lirih keluar dari bibirnya.

Saat mencoba menggerakkan tangan, seseorang langsung menggenggamnya erat.

"Pia!"

Suara itu terdengar begitu dekat.

Sephia menoleh perlahan.

"Hana..."

Mata Hana yang sejak tadi menahan air mata akhirnya memerah.

"Ya ampun... akhirnya lo bangun."

Tanpa menunggu jawaban, Hana langsung memeluk Sephia hati-hati.

"Lo bikin gue takut."

Sephia masih sedikit linglung.

Tangannya pelan membalas pelukan Hana.

"...Maaf."

"Maaf apanya."

Hana mengusap cepat sudut matanya.

"Gue kira..."

Kalimatnya terputus.

Ia memilih menghela napas panjang daripada menangis di depan Sephia.

Bu Rina yang melihat Sephia sudah sadar segera menghampiri.

"Gimana? Masih pusing?"

Sephia mengangguk kecil.

"Sedikit..."

"Sesak?"

Sephia menggeleng.

"Nggak."

"Bagus."

Bu Rina tersenyum tipis.

"Nanti istirahat dulu. Jangan dipaksakan banyak bergerak."

"Iya, Bu."

Bu Rina lalu melirik ke arah pintu.

"Teman-temanmu dari tadi nungguin di luar."

"Kalau kamu sudah merasa lebih enak, mereka boleh masuk sebentar."

Sephia mengangguk pelan.

Tak lama kemudian...

Pintu UKS kembali terbuka.

Sagara masuk lebih dulu.

Langkahnya pelan.

Tatapannya langsung tertuju pada Sephia yang kini sudah terduduk di ranjang.

Untuk beberapa detik...

Tidak ada satu pun yang berbicara.

Sagara hanya memastikan sendiri bahwa Sephia benar-benar sudah sadar.

Barulah ia mengembuskan napas lega.

"Masih takut?"

Pertanyaan itu sederhana.

Namun membuat Sephia langsung menunduk.

Ia tersenyum tipis, meski matanya masih berkaca-kaca.

"...Masih."

Sagara mengangkat tangan.

Dengan pelan, ia mengusap pucuk kepala Sephia.

"Udah."

"Sekarang aman."

Sephia mengangguk kecil.

"Iya, Kak."

Di ambang pintu...

Alan masih berdiri.

Ia tidak ikut masuk.

Hanya memperhatikan dari luar.

Setelah memastikan Sephia sudah sadar dan bisa tersenyum lagi...

Ia berbalik.

Bersiap meninggalkan UKS tanpa mengatakan apa pun.

"Alan."

Langkah Alan terhenti.

Ia menoleh.

Sephia menatapnya beberapa detik.

"...Makasih."

Alan terdiam sejenak.

Lalu mengangguk kecil.

"Hm."

Hanya itu.

Namun entah kenapa...

Jawaban singkat itu justru membuat sudut bibir Sephia terangkat sedikit.

Setidaknya...

Ia tahu.

Hari ini...

Ia tidak sendirian.

Beberapa menit setelah Sephia sadar, Pak Damar kembali masuk ke UKS.

Di belakangnya, Bu Rina masih membawa map pemeriksaan.

Pak Damar menghampiri ranjang UKS dan tersenyum tipis.

"Gimana, Sephia? Udah lebih enakan?"

Sephia mengangguk pelan.

"Udah, Pak."

"Masih pusing?"

"Sedikit."

"Kalau begitu jangan dipaksakan banyak bergerak dulu."

Sephia mengangguk.

Pak Damar terdiam sejenak sebelum kembali membuka suara.

"Bapak mau tanya sedikit."

Sephia mengangkat pandangannya.

"Kamu masih ingat kenapa bisa masuk ke ruang arsip?"

Sephia mencoba mengingat.

Beberapa potongan kejadian kembali terlintas di kepalanya.

"Tadi..."

"...Rani bilang dia pernah lihat buku tentang Kerajaan Singasari di ruang arsip."

"Aku pikir bukunya memang ada di sana."

Hana langsung mengangguk.

"Iya, Pak."

"Saya juga dengar waktu itu."

"Rani bilang bukunya ada di rak paling belakang ruang arsip."

Pak Damar mengangguk pelan.

"Lalu?"

Sephia menarik napas kecil.

"Aku masuk."

"Terus lampunya mati."

"Pas aku mau keluar..."

"...pintunya udah nggak bisa dibuka."

Suasana UKS mendadak hening.

Pak Damar menatap Sephia beberapa saat.

"Baik."

"Nanti Bapak akan bicara dengan Rani."

Sephia buru-buru menggeleng.

"Pak..."

"Saya rasa Rani nggak sengaja."

"Dia cuma ngasih tahu soal bukunya."

Pak Damar tersenyum tipis.

"Bapak belum menyalahkan siapa pun."

"Bapak hanya ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya."

Beliau lalu menatap Hana, Alan, dan Sagara secara bergantian.

"Karena satu hal yang pasti..."

"...ruang arsip tidak mungkin terkunci sendiri."

Kalimat itu membuat semua orang terdiam.

Alan menundukkan pandangannya sejenak.

Ucapan Pak Damar sama persis dengan apa yang sejak tadi ada di pikirannya.

Ini bukan sekadar kecelakaan.

Di sisi lain, Sagara mengepalkan tangannya pelan.

Entah siapa pelakunya...

Tapi seseorang telah membuat Sephia mengalami ketakutan terbesarnya.

Pak Damar mengembuskan napas panjang.

"Untuk sementara, kalian jangan membahas kejadian ini ke teman-teman dulu."

"Biarkan pihak sekolah mencari tahu lebih dulu."

"Iya, Pak," jawab Hana pelan.

Pak Damar mengangguk, lalu pamit keluar dari UKS.

Pintu kembali tertutup.

Menyisakan keheningan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Kini...

Bukan hanya rasa lega karena Sephia sudah sadar.

Tetapi juga satu pertanyaan yang belum memiliki jawaban.

Siapa yang mengunci pintu ruang arsip itu?

1
Ayunda
judulnya bikin inget lagu Sheila on seven yg viral pd jamanya
Arya Suluran
wahh adapakah ini??😄
Arya Suluran
plenger juga sih Sephia ini ya😄
Azkaqia Ratna: ya gugup soalnya doi hehe
total 1 replies
Arya Suluran
apakah jatuh cinta pandangan pertama??
Azkaqia Ratna: belum kyknya, cuma awal mengagumi 😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!