NovelToon NovelToon
The Mafia'S Only Weakness

The Mafia'S Only Weakness

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Anak Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mel R.

Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.

Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

​"Aku tidak pernah meminta dilahirkan dari darah seorang monster sepertimu, Dad," bisik Dominic, membungkuk rendah hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Antonio yangs sudah pucat pasi.

"Dan takhta ini? Aku tidak menerimanya darimu. Aku merebutnya karena kau sudah terlalu lemah untuk mempertahankannya."

Dominic menegakkan kembali tubuh tegapnya lalu menatap lurus ke depan dengan sorot mata elang nya yang tajam.

Bahunya yang tertembak pun masih mengeluarkan darah, namun dominasi dan otoritas yang memancar dari dirinya membuat luka itu tampak seperti tidak ada apa-apanya.

"Biarkan dia disini. Ayo kita pergi." Ucap Dominic kepada semuanya dengan dingin.

Dan mereka meninggalkan Antonio seorang diri tanpa peduli dengan pria itu mau mati atau pun tidak.

"Kau akan menerima balasannya sialan! Awas kau!!" Teriak Antonio.

Dominic tentu saja mana peduli dengan teriakan itu. Mereka berjalan keluar menuju ke mobil. Membiarkan Antonio hidup terlunta-lunta di antara tumpukan mayat pasukannya sendiri dengan harta 25 ton yang ludes dirampas adalah hukuman yang jauh lebih menyiksa daripada hukaman sel di bawah tanah.

Rombongan Divisi Bayangan berjalan keluar dari hanggar 12, menembus rintik hujan badai yang masih setia mengguyur Pelabuhan Utara.

Udara malam yang sedingin es langsung menerpa bahu Dominic yang tertembak, namun ia bahkan tidak meringis sedikit pun.

Darius kemudian dengan sigap membukakan pintu mobil SUV hitam utama, memastikan Dominic masuk terlebih dahulu ke dalam kabin yang kedap suara dan hangat.

Di dalam mobil, Jeremy langsung membuka kotak medis darurat.

"Tuan, izinkan saya mengeluarkan pelurunya sekarang. Pendarahannya harus segera dihentikan sebelum kita sampai di rumah," ucap Jeremy dengan wajah yang tegang.

​"Pastikan setelah ini rampung, tidak ada bau apapun atau darah yang tertinggal di tubuhku," desis Dominic dengan suara baritonnya yang rendah dan dingin.

"Pukul setengah empat pagi. istriku biasanya sedikit terusik jika aku tidak ada di sampingnya jam segini. Aku ingin kembali ke ranjang sebelum dia terbangun."

​"Baik, Tuan. Tim medis di paviliun belakang sudah bersiaga dengan peralatan bedah mini dan pakaian ganti yang baru," lapor Darius sembari memantau situasi jalanan dari kaca spion.

Iring-iringan SUV hitam itu melaju membelah jalanan kota yang sunyi, melesat bagai bayangan di bawah temaram lampu jalanan.

Di dalam kabin, Jeremy bergerak dengan sangat cekatan. Ia menggunakan gunting medis, ia juga memotong kaus taktis hitam Dominic yang sudah basah oleh darah, mengekspos luka tembak di bahu kiri tuanya agar segera di ambil.

Sreeek.

Jeremy menyemprotkan cairan antiseptik dosis kuat untuk membersihkan luka, lalu menekan lubang peluru itu dengan beberapa lapis kain kasa steril.

Dominic hanya menggerakkan rahangnya yang mengeras sempurna, menolak untuk mengeluarkan satu pun erangan kesakitan dan Sepasang mata elangnya menatap kosong ke luar jendela sambil memantau rintik hujan yang mulai mereda seiring mobil mereka memasuki kawasan residensial elite yang dijaga ketat.

Hanya dalam waktu dua puluh menit, gerbang besi raksasa kediaman Salvatore terbuka perlahan. Mobil-mobil itu langsung berbelok menuju jalur privat yang mengarah langsung ke paviliun belakang—jalur tersembunyi yang sengaja dirancang agar tidak terlihat dari jendela kamar utama.

​Begitu mobil berhenti, pintu pun langsung dibuka dari luar oleh dua dokter pribadi keluarga Salvatore. Dominic turun dengan langkah tegapnya menolak semua tangan yang mencoba memapahnya meski wajahnya sudah tampak sedikit pucat karena kehilangan darah.

​"Langsung keluarkan pelurunya. Jangan gunakan bius total, aku harus tetap sadar," perintah Dominic dingin begitu ia mendudukkan tubuh kekarnya di atas ranjang periksa paviliun.

​Proses pengeluaran peluru itu berlangsung mencekam selama lima belas menit. Tanpa bius total, Dominic hanya mencengkeram pinggiran ranjang besi hingga perlahan melengkung akibat kekuatan tangannya yang luar biasa. Suara dentingan logam saat peluru kaliber besar itu dijatuhkan ke atas nampan stainless steel menandai berakhirnya operasi mini tersebut.

Ting.

Setelah lukanya dijahit dengan rapi dan dibalut perban kedap air, Dominic langsung berdiri. Ia melangkah menuju kamar mandi paviliun, membasuh seluruh tubuhnya di bawah pancuran air hangat untuk melarutkan sisa bau mesiu, keringat, dan darah yang menempel di kulitnya.

Pukul 04.15 pagi.

Dominic keluar dari kamar mandi dengan mengenakan gaun tidur satin hitam yang bersih dan wangi, persis seperti pakaian yang ia kenakan saat beranjak tidur tadi malam. Perban di bahunya tersembunyi sempurna di balik kain mahal tersebut. Aura iblis pembantai dari Pelabuhan Utara kini telah lenyap tanpa bekas, digantikan oleh ketenangan seorang kepala keluarga yang berwibawa.

"Tuan, seluruh 25 ton barang selundupan sudah aman di gudang bawah tanah sektor selatan. Area pelabuhan juga sudah bersih total tanpa menyisakan jejak," lapor Darius dengan suara rendah yang muncul dari balik pintu paviliun.

​"Bagus. Bubarkan pasukan. Kalian berdua kembalilah beristirahat," jawab Dominic pendek.

"Satu lagi Jeremy, berikan kompensasi atas anak buah kita yang gugur. Aku ingin mereka juga layak di makam kan.

"Baik Tuan" jawab Jeremy.

​Dominic melangkah keluar dari paviliun, berjalan pelan menyusuri koridor rumah utama yang sunyi senyap. Ia menaiki tangga satu per satu, lalu membuka pintu kamar utamanya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara sedikit pun.

Rasa kehangatan kamar tidur langsung menyambutnya. Di atas ranjang besar, Isabella masih tertidur pulas dengan posisi yang sama persis seperti saat ia tinggalkan beberapa jam lalu. Wajah istrinya begitu damai di bawah temaram lampu tidur.

Dominic tersenyum sangat tipis—sebuah senyuman tulus yang hanya ia miliki untuk wanita itu. Dengan gerakan yang luar biasa lembut, ia merangkak naik ke atas ranjang, memposisikan tubuh tegapnya di samping Isabella. Merasakan pergerakan di kasur, Isabella melenguh pelan dalam tidurnya, lalu secara insting menggeser tubuhnya mendekat, menyandarkan kepalanya di dada bidang Dominic dan memeluk pinggang suaminya erat.

"Masih mimpi indah kamu istriku" kekeh Dominic. Ia pun memejamkan matanya agar ikut menyusul ke mimpi istrinya.

1
meliana
kalian semua jangan lupa mampir yah, di jamin seru dengan cerita cerita author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!