NovelToon NovelToon
TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*


Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.

Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.


Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.


Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Satu Garis Merah.

Enam bulan kemudian.

Junee menghitungnya lagi dalam hati sambil menatap garis tipis di testpack yang sekali lagi hanya muncul satu garis.

Satu garis merah, seperti garis tipis yang memisahkan harapannya dengan kenyataan.

Junee kembali teringat dengan ucapan dokter kandungan beberapa waktu lalu.

“Darah haid telat sembilan hari, Ny. Pratama.” Ucap dokter di rumah sakit Kasih Bunda. “Tapi hasil USG dan hormon semua normal. Coba rileks, jangan stres. Kadang tubuh butuh waktu.”

Rileks.

Kata yang paling mudah untuk diucapkan bagi orang yang tidak sedang menunggu kepastian.

Junee menghela nafas kasar, memasukkan testpack ke dalam kotak sepatu kosong di bawah wastafel. Kotak yang sekarang isinya sudah ada lebih dari 10 batang plastik kecil, semua dengan hasil yang sama. Satu garis. Terasa seperti kutukan untuk wanita itu.

Di luar kamar mandi, suara Ben terdengar.

“Junee? Kamu sudah hampir satu jam di dalam. Tidak apa-apa?”

Suara itu pelan, dan hati-hati. Sejak mereka menikah ulang enam bulan lalu, Ben belajar satu hal. Jangan pernah mendobrak pintu kalau Junee sedang diam di dalam. Ia akan keluar sendiri. Atau tidak sama sekali.

“Tidak apa-apa, Ben.” jawab Junee pelan. “Ini sudah mau selesai.”

Bohong.

Junee sudah selesai mandi sejak setengah jam yang lalu. Ia hanya butuh waktu sendiri supaya Ben tidak melihat matanya yang mulai memerah.

Pintu kemudian terbuka. Ben berdiri disana, dasi sudah dilepas, lengan kemeja digulung sampai siku. Lelaki yang dulu dingin dan penuh perhitungan itu sekarang menatapnya dengan kekhawatiran yang tidak pernah ia sembunyikan lagi.

“Kamu telat lagi?” tanya Ben langsung. Tidak ada basa-basi. Itu cara Ben menunjukkan rasa perdulinya.

Junee mengangguk kecil.

“Telat sembilan hari. Tapi hasil testpack negatif lagi.”

Ben menghela napas panjang. Ia berjalan mendekat, tidak menyentuh, hanya berdiri di samping Junee dan menatap pantulan mereka di cermin. Tinggi Ben 188 cm, Junee 165 cm. Perpaduan yang sangat serasi.

Di mata orang lain, mereka terlihat seperti pasangan yang sempurna. Namun, pada kenyataannya, mereka baru belajar menjadi suami istri tanpa kontrak.

“Enam bulan.” Gumam Ben. “Kita baru mencoba selama enam bulan, Junee.”

Maksud Ben adalah, enam bulan tanpa pengaman.

Junee menelan ludah.

“Dokter mengatakan normal kalau belum hamil di tahun pertama. Katanya delapan puluh lima persen pasangan butuh waktu dua belas bulan.”

“Lalu, kenapa kamu tidak terlihat tenang?” Tanya Ben pelan.

Junee menoleh.

“Karena setiap malam aku berpikir, Ben. Bagaimana kalau aku yang mandul? Bagaimana kalau kamu sudah capek menunggu? Bagaimana kalau Ibu kamu benar… kalau aku hanya beban untuk kamu?”

“Jangan bicara seperti itu.” Suara Ben mengeras sedikit, tetapi tidak marah. Hanya tidak suka mendengar kalimat sang istri. “Aku menikahimu bukan untuk anak, Junee. Aku menikahimu karena diri kamu.”

Kata-kata itu seharusnya menenangkan. Tapi malah membuat dada Junee semakin sesak.

Karena ia tau Ben tidak berbohong. Tapi Junee juga tau dunia tidak akan melihat pernikahan mereka sesederhana itu.

Di pertemuan keluarga nanti, Ibu Ratna pasti akan bertanya lagi. “Belum isi juga?”

Para karyawan kantor Ben Holding akan kembali bergosip. “Sudah lama menikah, tapi belum punya anak.”

Dan di kepala Junee sendiri, ada suara kecil yang berbisik. “Kamu tidak cukup.”

“Besok kita ke dokter lagi.” Ucap Ben tiba-tiba.

“Untuk apa?” Junee mengernyit.

“Cek lebih detail. Aku tidak mau kamu berpikir sendiri terus. Kalau ada masalah, kita cari jalan bersama. Kalau tidak ada masalah, ya kita terus coba. Sesederhana itu.”

Sesederhana itu.

Kalau saja hidup sesederhana itu.

Junee mengangguk pelan. Ia tidak mau berdebat. Karena di balik sikap tenang Ben, ia bisa melihat ada ketakutan yang sama. Takut gagal. Takut mengecewakan keluarga. Takut kehilangan Junee.

Malam itu mereka makan malam di meja panjang penthouse yang terasa terlalu besar untuk berdua. Yang terdengar hanya suara lentingan sendok dan garpu beradu di atas piring.

“Besok aku meeting sampai sore.” Ucap Ben sembari menyuap sepotong daging. “Tapi jam empat aku sudah selesai. Aku jemput kamu, ya?”

Junee menggelengkan kepalanya.

“Kamu tidak perlu menjemput aku. Dari panti ke klinik tidak terlalu jauh.”

“Tapi aku mau, Junee.” Ucap Ben dengan tegas.

Satu kalimat. Tidak ada alasan. Ben kalau sudah pakai nada itu, berarti tidak bisa dibantah.

.

.

.

Setelah makan malam, Junee duduk di balkon kamar. Angin malam Jakarta menerpa wajahnya. Di bawah sana, kota terang benderang, penuh dengan orang yang mungkin malam ini sedang merayakan kabar kehamilan, ulang tahun anak, atau hal-hal kecil yang selama ini Junee anggap biasa.

Sekarang, hal kecil itu terasa seperti kemewahan.

Jubee teringat enam bulan lalu. Hari pertama setelah mengucap janji suci pernikahan.

Ben mengatakan “Kita mulai dari nol, ya? Mulai dengan tidak menggunakan pengaman. Kamu sudah siapkan untuk menjadi ibu?”

Junee kira dirinya sudah siap.

Ternyata, siap menikah dan siap punya anak itu dua hal yang berbeda.

“Kenapa belum tidur?” Tanya Ben sembari menyerahkan satu cangkir coklat hangat.

“Takut bermimpi,” jawab Junee jujur.

Ben duduk di sebelahnya. Sangat dekat, namun tidak menempel. Ia selalu memberi ruang, menunggu Junee yang memutuskan kapan akan mendekat.

“Kita tidak akan berhenti di enam bulan, Junee.” Ucap Ben tiba-tiba.

“Kalau perlu setahun, dua tahun, sepuluh tahun. Aku ada. Aku tidak ke mana-mana.” Imbuhnya lagi.

Junee menatap sang suami.

“Kalau ternyata aku tidak bisa memberimu anak?”

“Maka aku akan menjadi suamimu yang tidak punya anak.” Jawab Ben datar.

“Sesimpel itu. Anak itu bonus, Junee. Bukan syarat.” Imbuh Ben.

Ada sesuatu di mata Ben yang membuat Junee hampir menangis. Bukan kasihan. Tapi keyakinan. Seolah-olah bagi pria itu keberadaan dirinya sudah cukup untuk membuat pernikahan mereka berarti.

Junee mengangguk pelan. Ia mengangkat cangkir cokelat hangatnya, kemudian meneguk sedikit. Manisnya terasa di lidah, tapi tidak sampai ke hati.

“Terima kasih, Ben.” bisiknya.

Ben tersenyum kecil.

“Jangan mengatakan terima kasih terus menerus, Junee. Aku suamimu. Itu tugas aku.”

Mereka kembali terdiam. Namun suasananya tidaklah canggung.

Di dalam kamar, jam menunjukkan pukul 00.14. Haid Junee belum datang juga. Dan untuk pertama kali dalam enam bulan, ia tidak merasa panik.

Karena setidaknya, malam ini Junee tidak sendirian menghadapinya seperti malam bulan sebelumnya.

Ben ada di sebelahnya.

Dan itu sudah cukup. Setidaknya, untuk malam ini.

---

1
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut kak
ardiana dili
up lg kak
merry yuliana
senangnya kamu dicintai sebegitunya sama ben.. junee
pesan 1 kak
ardiana dili
semoga junne bisa hamil
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Hennyy exo
wow awal yg bagus thor
Naufal Affiq
gak usah dengar ocehan si arga ini ya jun,ingat jun ada ben yang selalu mencintaimu
ardiana dili
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!