Kesialan dapat menimbulkan keajaiban??
Benarkah itu??
Kisah seorang gadis berusia 18 thn bernama Gaby Debbara Fernando, gadis yang diusir oleh ayahnya karena kesalahan yang entah apa itu. Kecelakaan yang membuatnya harus masuk rumah sakit, justru malah menimbulkan keajaiban dalam kehidupannya. Bagaimana tidak??
Kecelakaan yang dialaminya mungkin merupakan kecelakaan yang paling beruntung, sebab ia dapat bertemu dengan Ardiaz Sunjaya.
Ya...Pengusaha muda yang sukses bernama Ardiaz Sunjaya, siapa yang tidak mengenalnya. Ardiaz pria tertampan sedunia ini jatuh cinta pada seorang gadis biasa??
Begitu banyak gadis cantik dari kalangan atas, namun ia hanya jatuh cinta pada Gaby.
Penasaran dengan perjuangannya??
Langsung baca aja yak...
Jangan lupa like, vote, rate ya...
Kalo ada saran dan masukan silahkan ajukan di kolom komentar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Sugairti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24
TOK... TOK... TOK
"Masuklah," ucap Ardiaz.
Kangjian membuka pintu lantas masuk kedalam ruang kerja Ardiaz dan mendekat kearah meja Ardiaz.
"Tuan, ini jadwal tuan hari ini." Sahut Kangjian sambil menyerahkan secarik lembar jadwal Ardiaz.
"Hmm...," Ardiaz mengambil lembar jadwalnya lalu membacanya sekilas.
"Hari ini ada rapat?" Tanya Ardiaz setelah ia selesai membaca.
"Benar tuan, kita harus membahas masalah proyek yang ada dibarat." Jawab Kangjian menjelaskan.
"Hmm?" Ardiaz mengingat kembali tentang proyek tersebut.
"Proyek jembatan itu?" Tanyanya setelah ia mengingat tentang proyek yang sedang ia pantau.
"Benar tuan, proyek itu telah hampir selesai. Tuan hanya perlu berkunjung kesana untuk melihat kesesuaian jembatan itu menurut pemikiran tuan. Dan rapat kali ini menghitung jumlah dana yang telah kita keluarkan, jika jumlah dana melebihi yang kita perkirakan itu artinya ada orang yang mengkorupsi dana jembatan," jelas Kangjian tanpa ada satupun kesalahan.
"Sepertinya jika ada koruptor akan sulit untuk menemukannya." Ucap Ardiaz sambil mengangkat tangannya dan memperhatikannya kemudian mengepalkannya.
"Benar tuan, semua pekerja dan mandor adalah orang kepercayaan kita." Jawab Kangjian menyetujui ucapan Ardiaz.
Ardiaz berbalik menghadap jendela besar.
"Emm... tuan?" Panggil Kangjian sedikit ragu.
"Apa?" Jawab Ardiaz dingin.
"Saya masih penasaran. Tuan memasang alat pelacak pada nona dimana?" Tanya Kangjian sedikit ragu, ia takut apabila nanti Ardiaz marah dan kesal dengan pertanyaannya.
"Apa kau masih berpikir kalau aku memasangnya pada tubuh Gaby?" Ardiaz balik bertanya dengan nada dingin.
"Eh? Bukan... bukan begitu tuan, saya hanya ingin tahu tuan memasangnya dibenda apa. Karena saya tidak melihat tuan memasang alat itu," jawab Kangjian dengan wajah penuh keringat dingin.
"Aduh, sepertinya tuan marah. Tapi aku juga khawatir tuan memasang alat itu didalam tubuh nona," batin Kangjian sambil menunduk.
Ardiaz berbalik, ia mengangkat kedua alisnya dengan tatapan biasa. Mungkin bisa dibilang dia marah tapi tidak.
"Liontin," jawab Ardiaz singkat.
"Eh? Li-liontin?" Kangjian masih bingung dengan jawaban dari Ardiaz.
"Se-sejak kapan. Dan kenapa saya tidak tahu?" Lanjutnya sambil menopang dagu berusaha mengingat tentang liontin itu.
"Saat kau datang dan bertanya apakah aku menyukai Gaby. Disaat itulah aku memasang alat pelacak itu." Jawab Ardiaz dengan santai sambil merebahkan punggungnya kesandaran kursi.
"Oh, itu saya ingat. Jadi, tuan benar-benar menyukai nona?" Ucap Kangjian dengan senyum jahilnya.
"Apakah itu penting untuk dijawab?" Jawab Ardiaz masih dengan menyimpan perasaannya.
"Aku mau ke toilet sebentar, kalian jaga didepan saja." Ucap Gaby kepada kedua pengawalnya.
"Baik nona!!" Ucap keduanya dengan serentak.
Gaby masuk kedalam toilet wanita, setelah selesai Gaby mencuci tangan. Namun, tanpa disadari Shany dan Qilla berada dibelakang Gaby menunggu kedatangan Gaby dan siap menyerang Gaby.
Gaby melihat bayangan Shany dan Qilla dari kaca toilet. Shany siap mendorong Gaby, namun karena Gaby menyadari hal itu ia pun menyingkir dari depan kaca. Shany tak dapat membatalkan serangannya saat Gaby menghindar alhasil ia menabrak westaffel.
"Eh? Rupanya ada Shany dan Qilla disini," ucap Gaby dengan nada meledek.
"Kau... kurang ajar!!" Tegas Shany sambil menahan rasa sakit dipinggangnya.
Qilla memegang tangan Gaby dengan erat agar Shany dapat menampar Gaby. Gaby tersenyum sinis menyepelekan mereka yang ingin menyakitinya.
"Kau... mungkin kali ini kau bisa lolos," ucap Qilla sambil memegang tangan Gaby dengan kuat.
"Tapi, aku dan Shany tidak akan pernah menyerah untuk menghancurkanmu!!" Lanjutnya kali ini dengan nada tegas.
Shany membalikkan badannya menatap Gaby dengan senyuman iblis nya.
Shany siap menampar Gaby dengan sekuat tenaga, namun hal itu terhenti ketika Gaby bersuara.
"Qilla, kenapa kau masih mengikutinya?" Ucap Gaby setelah menghembuskan nafas panjangnya.
"Padahal... dia sama sekali tak ingin berteman denganmu," lanjut Gaby menatap Shany dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Perkataan dari Gaby membuat Qilla terdiam dan sedikit melonggarkan genggamannya pada tangan Gaby. Sementara Shany sedikit khawatir jikalau Qilla akan menjauhinya dan tak percaya padanya lagi.
"Qilla, kau jangan percaya padanya. Aku sungguh ingin berteman denganmu," ucap Shany meyakinkan Qilla untuk percaya padanya.
Qilla menunduk lesu, terdiam cukup lama dan tak tahu harus apa.
"Aku juga tahu, mungkin saja Shany hanya memanfaatkanku untuk membalas dendam pada Gaby. Shany sama sekali tak memikirkan tentang persahabat kita, tapi aku peduli. Aku teman yang baik, aku teman yang setia. Aku tidak akan pernah meninggalkan Shany," batin Qilla dengan mengepalkan tangannya dan melepaskan genggamannya pada lengan Gaby.
Gaby menarik lengannya dan tersenyum puas sambil menatap tajam Shany.
"Shany, kau beruntung memiliki teman seperti Qilla. Tapi, justru kau tidak bisa memahami arti pertemanan yang sesungguhnya!" Ucap Gaby menatap Qilla yang sedang menunduk lesu.
"Yah, sepertinya hari ini sudah cukup." Lanjut Gaby sambil mengangkat kedua bahunya.
"Kita lanjutkan besok saja, sampai jumpa." Gaby melambaikan tangannya sambil menutup sebelah matanya kemudian berjalan keluar dari toilet.
"Arti? Pertemanan? Apakah aku seperti itu?" Batin Shany merenungkan ucapan Gaby barusan.
"Tidak, aku ini tidak seperti itu. Aku harus meyakinkan Qilla kembali," lanjutnya sambil mengangguk paham dan kembali meyakinkan Qilla.
"Nona, mengapa anda lama sekali? Apa terjadi sesuatu didalam?" Tanya salah seorang pengawal.
"Oh, itu. Agak susah untuk mengeluarkannya, jadi agak butuh sedikit waktu." Jawab Gaby dengan senyum manis.
Kedua pengawal Gaby kebingungan dengan jawaban dari Gaby. Sementara Gaby tersenyum puas menikmati wajah bingung kedua pengawalnya.
Gaby berjalan kembali melewati koridor kelas.
"Kenapa Shany bisa ada disana? Seperti sedang menungguku untuk masuk kedalam toilet." Pikir Gaby sambil berjalan.
"Apa jangan-jangan, ada seorang mata-mata suruhan Shany untuk mendekatiku?" Lanjutnya semakin penasaran.
"Jika itu benar, lalu siapa?" Langkah Gaby terhenti saat melihat Bryan sedang duduk dihalaman sekolah sambil memainkan ponselnya.
Gaby melihat Bryan yang sedang menelpon kemudian berjalan mendekati Bryan, samar-samar ia mendengar sebuah nama 'Shany'.
"Shany? Apa hubungan Bryan dengan Shany?" Batin Gaby. Ia memperhatikan Bryan dari balik sebuah pohon besar.
"Nona? Apa perlu kami selidiki pria itu?" Ucap salah seorang pengawal Gaby yang ikut bersembunyi bersamanya.
Gaby menempelkan jari telunjuknya kebibirnya sebelum menjawab.
"Tidak perlu, biar aku saja yang urus!" Jawab Gaby.
Kemudian Gaby teringat saat dimana Bryan memperkenalkan dirinya kembali dikelas Gaby.
"Oh ya, aku jadi ingat kalau dia pernah menyebut namanya," batin Gaby.
"Apa ya namanya..," ucap Gaby perlahan sambil menopang dagu.
Gaby berpikir keras mengingat perkenalan Bryan padanya. Sedangkan kedua pengawal Gaby terus menatap Bryan dari kejauhan, tampak Bryan yang berjalan masuk kedalam kelasnya.
KRIIINGGG...
Bel tanda masuk berbunyi...
"Nona, jam pelajaran selanjutnya akan segera dimulai." Ucap seorang pengawal mengejutkan lamunan Gaby.
"Ah ya, ayo pergi!" Jawab Gaby sambil berjalan memasuki kelas.