Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat Anna tiba-tiba tersentak bangun. Mata indahnya mengerjap panik begitu menyadari hari sudah sesore—bahkan semalam—ini.
"Astaga, jam sembilan?!" pekik Anna tertahan. Ia langsung mengguncang bahu sahabatnya yang masih pulas di atas karpet. "Jol! Jolina, bangun! Gue harus pulang, ini udah malem banget. Bisa mati gue kalau Papa nyariin!"
Jolina yang masih setengah sadar hanya melenguh pelan, "Eungh... iya, Na? Hati-hati ya..."
Tanpa membuang waktu lagi, Anna menyambar totebag kecilnya dan berlari terbirit-birit keluar dari rumah mewah keluarga Elion. Langkah kakinya bergerak cepat menyusuri halaman, dipenuhi rasa cemas membayangkan omelan sang Papa di rumah.
Namun, tepat saat Anna baru saja membuka gerbang besar kediaman tersebut, sebuah lampu sorot mobil yang terang benderang langsung menerpa tubuhnya. Sebuah mobil mewah hitam yang sangat ia kenali berhenti tepat di depannya.
Kaca mobil itu turun perlahan, menampilkan wajah tegas dan dingin milik Axel. Pria itu menatap Anna dengan tatapan tajamnya yang intimidatif dari balik kemudi.
"Masuk," perintah Axel singkat. Suaranya berat, tidak menerima bantahan apa pun.
Anna menelan ludah. Setelah apa yang terjadi di antara mereka kemarin malam—termasuk ciuman panas dan gombalan spontannya—merupakan hal yang sangat canggung untuk berada di dalam satu ruangan yang sempit lagi dengan pria ini. Namun, melihat jam yang sudah semakin larut, Anna tidak punya pilihan lain.
Dengan gerakan lambat dan kaku, Anna membuka pintu penumpang lalu duduk di samping Axel. Suasana di dalam mobil seketika terasa begitu sunyi dan mencekam. Anna hanya bisa meremas tali totebag-nya dengan canggung, melirik ke luar jendela, sementara Axel mulai melajukan mobilnya membelah keheningan malam.
Suasana di dalam mobil terasa begitu padat dan sunyi. Anna berulang kali meremas tali totebag-nya, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memecah keheningan yang mencekam ini. Ia tahu, jika hubungan membingungkan ini terus berlanjut, alur hidupnya bisa semakin rumit.
"Emm... Paman," panggil Anna lirih, memecah keheningan sambil menatap lurus ke depan, tak berani menoleh langsung pada Axel.
Axel tidak menyahut, namun ketukan jarinya di setir mobil melambat, menandakan ia mendengarkan.
"Soal... kejadian-kejadian sebelumnya," Anna berdeham kecil, mencoba terdengar se-basa-basi mungkin meskipun suaranya sedikit bergetar. "Maksudku... tentang semalam, lalu ciuman itu, dan... perkataan Paman tentang aku yang merupakan milik Paman. Aku pikir... sebaiknya Paman lupakan saja semuanya."
CITTT!
Mobil mewah itu mendadak berhenti di pinggir jalan yang sepi dengan rem yang cukup mendadak, membuat tubuh Anna sedikit tersentak ke depan. Jantung Anna hampir copot. Ia menoleh perlahan dan langsung membeku saat melihat ekspresi Axel.
Raut wajah Axel berubah total. Aura dingin yang biasanya terkendali kini meledak menjadi kemarahan yang pekat. Rahangnya mengeras, dan sepasang matanya menatap Anna dengan tatapan yang begitu tajam, seolah siap menguliti gadis itu hidup-hidup.
Axel melepas sabuk pengamannya, lalu memutar tubuhnya menghadap Anna. Ia memajukan badannya, mengikis jarak di antara mereka hingga Anna terdesak ke pintu mobil.
"Kau bilang apa tadi? Lupakan?" desis Axel dengan suara rendah yang bergetar karena amarah yang ditahan.
"P-paman, maksudku kita kan—"
"Anna!" potong Axel, suaranya naik satu oktav, membuat Anna tersentak ketakutan. Axel mencengkeram kedua sisi sandaran kursi Anna, mengurung gadis itu sepenuhnya. "Kau pikir semua yang terjadi di antara kita adalah lelucon? Kau pikir setelah kau membiarkan aku menyentuhmu, setelah kau membalas ciumanku, dan setelah kau menggombaliku semalam, kau bisa menyuruhku melupakannya begitu saja?!"
"Bukan begitu, Paman... Aku hanya merasa ini salah. Lagipula aku masih sekolah, dan Paman—"
"Aku tidak peduli!" bentak Axel, matanya menyipit penuh penolakan yang absolut. "Aku tidak akan pernah melupakannya, dan aku menolak untuk melepaskanmu. Kau yang memulai permainan ini dengan masuk ke dalam hidupku, Anna. Jadi jangan pernah berpikir kau bisa keluar begitu saja."
Axel mendekatkan wajahnya, menghirup napas di depan bibir Anna yang gemetar. "Sekali kau menjadi milikku, selamanya kau tetap milikku. Mengerti?"
tapi senang nya anna (raisa) bisa pulang kedunia dia, walau msih bnyak yang blum di bahas🗿, reygan bagaimana keadaannya dan sahabat anna (raisa) pas SMA 😭🗿
dari pada msih di transmigrasi, yang sinopsis siapa yang bahagia siapa??
sebenarnya kak author baca ga sih komenan kami?
tentang endingnya anna (raisa)?
tokoh tambahan diksih ending bahagia!
saya baca cerita ini dari awal cuman ngikutin perjalanan anna (raisa), malah di buat kek gni kisah anna.
singkat saja lhh, kapan anna (raisa) pulang ke dunia dia??
ini yang berjuang dari awal siapa, yang bahagia siapa, masih penasaran baca novel ini cmn mau baca dialog anna (raisa).
singkat saja, kapan anna (raisa) pulang ke dunia dia?
dari awal aku udah berekspektasi kalo si ana yg bakal hidup bahagia orang mahkota berharganya juga udah di ambil eeh tbtb kok jari nayara tokoh utamannya 😭
soalnya aku dari awal dukung anna sama axel dan sekarang malah naya yang jdi pu nya, dan alurnya ga sesuai yang di deskripsi dari awal novel ini.
soalnya aku lebih suka anna yang dulu, tapi malah dijadiin antagonis, malah naya yang protagonis
selama baca novel, novel ini yang buat greget dan ga sesuai ekspektasi dah dukung anna dari awal malah dibuat kek gni, terus raisa (anna) pulang ke dunia nyatanya kapan?
malah anna yang ppb, huftt 😮💨