NovelToon NovelToon
Tahun Kelima Menikah dengan Rizky

Tahun Kelima Menikah dengan Rizky

Status: sedang berlangsung
Genre:Patahhati / Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Orang Disabilitas
Popularitas:142.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"""Dari sekian banyak cewek, kok lu mau sih nikahin Lina yang cacat itu?""

Sekujur tubuh Lina menegang saat itu juga. Namun, yang ia dengar selanjutnya bukan pembelaan sang suami tapi gelak tawa yang disertai cibiran.

Saat itu juga, Lina tertawa miris. Padahal kakinya seperti ini karena menolong Rizky, mimpinya sebagai penari profesional sirna karena menolong Rizky, semuanya karena Rizky. Namun, semua itu tidak ada apa-apanya di hadapan kekasih pertama Rizky, Siti.

Satu kata: Cerai. Kemudian, di pertemuan berikutnya, keduanya hadir di pengadilan sebagai pihak yang berlawanan. Lina menuntut Siti dan perusahaan Rizky dengan pencemaran nama baik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024

Perjanjian Pasca Nikah

Firma hukum itu berada di salah satu gedung kaca di SCBD.

Dari lantai dua puluh tiga, Jakarta tampak seperti kota yang selalu bergerak, terlalu sibuk untuk peduli pada satu pernikahan yang sedang disusun ulang di atas meja rapat.

Keira duduk di sisi kiri meja panjang.

Rayven duduk di sisi kanan.

Di antara mereka ada map hitam, dua gelas air mineral, satu pulpen perak, dan setumpuk dokumen yang sudah diberi tanda tempel berwarna kuning.

Pengacara di hadapan mereka berusia sekitar empat puluh tahun. Jasnya rapi, suaranya datar, dan setiap kali menyebut nama Rayven, ia menunduk sedikit.

"Pak Direktur, Nyonya Oen, dokumen ini sudah kami susun berdasarkan tiga poin yang disampaikan sebelumnya," katanya.

Keira menatap halaman pertama.

Perjanjian pasca nikah.

Kata-kata itu tercetak tebal.

Lima tahun pernikahan mereka dulu dimulai tanpa perjanjian apa pun. Tidak ada syarat, tidak ada perlindungan, tidak ada pintu keluar yang jelas.

Waktu itu Keira hanya membawa cinta.

Ternyata cinta tidak punya nilai di ruang hukum.

"Poin pertama," pengacara melanjutkan, "Pak Rayven Oen tidak berhak menghalangi pendidikan, pekerjaan, perjalanan, atau keputusan medis Nyonya Keira Kan."

Rayven tidak bergerak.

Keira membalik halaman perlahan.

"Poin kedua, jika terjadi perceraian, seluruh aset pribadi yang atas nama Nyonya Keira Kan tetap menjadi milik Nyonya. Pihak Pak Rayven tidak dapat mengajukan klaim atas harta tersebut."

"Lanjut," kata Rayven.

Suaranya pendek.

Pengacara mengangguk. "Poin ketiga, dalam masa persiapan perceraian, Pak Rayven tidak boleh melakukan pemindahan aset bersama kepada pihak ketiga tanpa persetujuan tertulis Nyonya Keira."

Keira mengangkat mata.

"Pihak ketiga itu termasuk Chenya?"

Ruangan hening sesaat.

Pengacara menoleh kepada Rayven, seolah menunggu izin untuk menjawab.

Rayven hanya menatap Keira.

"Termasuk siapa pun," jawab pengacara akhirnya. "Jika Nyonya ingin menyebut nama secara khusus, kami bisa menambahkan klausul tambahan."

"Tambahkan."

Pulpen di tangan pengacara berhenti.

Rayven berkata rendah, "Keira."

Keira tidak menoleh kepadanya.

"Saya ingin klausul tambahan," katanya jelas. "Jika selama pernikahan ini belum diputus oleh pengadilan, Rayven memiliki anak biologis dengan Chenya, atau mengakui anak dari Chenya sebagai anaknya, maka seluruh aset yang diperoleh selama masa perkawinan jatuh kepada saya."

Pengacara terdiam.

Bahkan pendingin ruangan terasa lebih terdengar daripada napas orang-orang di ruangan itu.

"Nyonya," katanya hati-hati, "klausul seperti itu cukup berat. Kami bisa menyusunnya, tetapi perlu dipastikan kedua pihak menandatangani dengan sadar dan tanpa paksaan."

"Saya sadar."

Keira meletakkan kedua tangannya di atas meja.

Jari-jarinya dingin, tetapi suaranya tidak berubah.

"Saya tidak sedang melarang siapa pun punya masa depan. Saya hanya tidak mau masa depan orang lain dibayar dengan hidup saya."

Rayven memandangnya lama.

Di mata lelaki itu ada sesuatu yang bergerak, cepat, lalu hilang.

"Tulis," katanya.

Pengacara menatapnya. "Pak Direktur?"

"Tulis seperti yang dia minta."

"Baik."

Suara keyboard laptop mulai terdengar.

Keira menunggu sambil melihat pantulan dirinya di dinding kaca ruang rapat.

Wajahnya tampak lebih pucat daripada pagi tadi. Mungkin karena cahaya putih dari langit-langit. Mungkin karena ia baru saja menyebut nama perempuan lain di dalam dokumen pernikahannya sendiri.

Chenya.

Nama itu masuk ke hidup mereka seperti bisikan lembut, lalu tinggal seperti noda yang tidak hilang meski sudah dicuci berkali-kali.

Keira dulu pernah mengira, jika ia cukup diam, cukup mengerti, cukup tidak menuntut, Rayven akan melihatnya.

Sekarang ia belajar menulis semua yang tidak pernah dilihat Rayven ke dalam pasal.

Setelah beberapa menit, pengacara mencetak halaman tambahan.

Kertas hangat itu diletakkan di depan mereka.

"Mohon dibaca kembali."

Keira membaca dari awal sampai akhir.

Tidak ada kata-kata yang indah di sana. Hanya kalimat panjang, dingin, dan terukur.

Tetapi untuk pertama kalinya, kalimat dingin itu berdiri di pihaknya.

Ia mengambil pulpen.

Tanda tangannya jatuh di bawah nama Keira Kan.

Rapi.

Tidak gemetar.

Pulpen itu lalu digeser ke arah Rayven.

Rayven tidak langsung mengambilnya.

Keira menunggu.

Ia siap mendengar keberatan. Ia siap melihat Rayven marah. Ia bahkan siap kalau lelaki itu berkata ia keterlaluan.

Namun Rayven hanya mengambil pulpen itu dan menandatangani semua halaman tanpa membaca ulang.

Satu halaman.

Dua halaman.

Halaman tambahan.

Tinta hitam menekan kertas dengan tegas.

Pengacara tampak sedikit terkejut, tetapi ia segera menunduk dan memeriksa kelengkapan tanda tangan.

"Semua sudah lengkap," katanya. "Kami akan proses legalisasi dan arsipkan salinan digitalnya. Nyonya akan menerima satu set dokumen asli."

"Kirim ke email pribadi saya," kata Keira.

"Baik, Nyonya."

Rayven menutup pulpen.

Klik kecil itu terdengar terlalu keras.

Keira berdiri. Kakinya sedikit kaku karena duduk terlalu lama, tetapi ia tidak menahan meja.

"Saya ke toilet sebentar."

Rayven ikut berdiri.

"Aku antar."

"Tidak perlu."

Ia mengatakannya tanpa menoleh.

Di koridor firma hukum, aroma kopi mesin dan parfum mahal bercampur dengan dingin pendingin ruangan. Keira berjalan pelan menuju toilet perempuan di ujung lorong.

Setiap langkah mengingatkannya pada kaki kanan yang tidak akan pernah benar-benar kembali seperti dulu.

Ia menyalakan keran, membasuh tangan, lalu menatap cermin.

Di dalam cermin, ia melihat perempuan yang baru saja menandatangani harga dari lima tahun kesunyian.

Tidak mahal.

Tidak murah.

Hanya perlu diakui.

Ketika ia kembali, pintu ruang rapat tidak tertutup rapat.

Suara pengacara terdengar dari dalam.

"Pak Direktur, masih ada lampiran tambahan dari tim penilai. Ini terkait kompensasi atas kecelakaan dan cedera permanen Nyonya Keira."

Langkah Keira berhenti.

Tangannya masih basah sedikit di ujung jari.

Ia tidak bermaksud menguping.

Tetapi namanya sudah berada di udara.

Pengacara berkata lagi, lebih pelan, "Kaki kanan Nyonya Oen kehilangan fungsi dalam beberapa batas tertentu. Untuk angka kompensasinya, Bapak ingin memakai standar asuransi, standar pengadilan, atau..."

Ada jeda.

Lalu pertanyaan itu keluar dengan sangat hati-hati.

"Pak Direktur, kaki Nyonya ini kompensasinya harus dihitung seperti apa?"

Keira menunduk.

Tiba-tiba koridor itu terasa terlalu sempit.

Ia teringat malam kecelakaan itu.

Teringat bau aspal basah.

Teringat suara logam yang menghantam.

Teringat bagaimana Rayven tidak ada ketika ia membuka mata di rumah sakit.

Lima tahun kemudian, orang asing di balik pintu sedang mencoba memberi angka pada kaki yang sudah membuatnya kehilangan panggung, tubuh, dan sebagian dari dirinya sendiri.

Rayven tidak langsung menjawab.

Keira hampir melangkah pergi.

Lalu suaranya terdengar.

Rendah.

Jelas.

"Tak ternilai."

Dua kata itu berhenti di telinga Keira.

Bukan karena ia belum pernah mendengar kata itu.

Tetapi karena kata itu keluar dari mulut Rayven.

Untuk kakinya.

Untuk luka yang selama ini ia pikir tidak pernah dihitung.

Keira menggenggam tali tasnya.

Jantungnya seperti lupa berdetak selama satu detik.

Tak ternilai.

Kalau memang tak ternilai, kenapa lima tahun ia dibiarkan merasa seperti beban?

Kalau memang tak ternilai, kenapa setiap malam ia memijat kakinya sendiri sementara Rayven menunggu pesan dari Chen?

Kalau memang tak ternilai, kenapa ia baru mendengarnya dari balik pintu, bukan dari mata lelaki itu sendiri?

Di dalam ruangan, pengacara tidak bersuara beberapa saat.

"Baik, Pak Direktur. Kami akan mencatatnya sebagai kompensasi khusus tanpa batas nominal awal, menunggu instruksi lanjutan."

Keira menarik napas pelan.

Ia merapikan wajahnya dalam satu tarikan.

Getaran kecil di dada dipaksa turun.

Satu kata tidak menghapus lima tahun.

Satu jawaban tidak mengembalikan kaki yang rusak.

Dan satu kalimat yang terdengar indah dari balik pintu tetap tidak bisa menggantikan kehadiran yang tidak pernah ada.

Keira mendorong pintu ruang rapat.

Rayven menoleh cepat.

Pengacara segera menutup map lampiran.

"Sudah selesai?" tanya Keira.

Suaranya tenang.

Terlalu tenang sampai Rayven menatapnya lebih lama.

"Selesai," jawabnya.

Keira mengambil tas dari kursi.

"Kalau begitu saya pulang dulu."

"Keira."

Ia berhenti di ambang pintu.

Rayven berdiri di belakang meja, dokumen perjanjian pasca nikah masih terbuka di hadapannya.

Keira tidak menoleh penuh. Hanya sedikit.

"Apa?"

Rayven seperti ingin mengatakan sesuatu.

Tetapi yang keluar hanya, "Aku antar."

Keira melihat ke koridor.

Kaca gedung memantulkan cahaya sore Jakarta. Terlalu terang, sampai matanya terasa perih.

"Tidak perlu," katanya.

Lalu ia berjalan keluar.

Di belakangnya, map hitam ditutup.

Di dalam kepalanya, dua kata itu belum mau diam.

Tak ternilai.

1
tri nugrahani
jgn bilang ini anaknya Arwin......
Mar Lina
sedikit sedikit oma kan, anehh
Mar Lina
kayak nya pemeran utama nya oma².
mili
semangat thor...tetap menyelesaikn karya meskipun pembaca nya sedikit
Hary Nengsih
lanjut
Heriyani Lawi
ini cerita apa sich? kalimat2nya terlalu membingungkn🤭
Nia nurhayati
pusing ah alur ceritanya
adisty aulia
Kereeen... Keira bisa move on sehebat itu 🌺🌺🌺
Move on yg elegan😍😍😍
adisty aulia
Suka dengan alur ceritanya🌺
adisty aulia
Semangat Mba Outhor❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Ummee
kaki keira gmn kbr nya ya? apa uda mulai sembuh? krn uda tdk pernah di bahas🙏
Elisabeth Rita
alur ceritanya menjDikan kita pingin terus membaca kelanjutannya
mimief
kan .. katamu juga Thor
jangan cuma jadi penonton di hidup mu
mimief
yg ternyata menurut kita sepele...tidak berarti
tapi ternyata dampak nyanluar binasa😁
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹
kadang kebenaran itu seperti membuka pintu ke dimensi lain bukan?
aku dimana???
aku siapa??
🤣🤣🤣
mau kasian tapi puas bgt aku ngetawain nya
mimief
bisa aeeee...
Oma analoginya😁🫠
mimief
jadi..chenya bukan jadi selingkuhan nya Rey doank
Arvin juga
CK.. menjijikan
bangga bet jadi j4l4ng 😒
mimief
ini bukan penyesalan
bukan juga pertanggungjawaban
hanya ada rasa lega
bahwa yg perlu diselamatkan...itu selamat
mimief
jelas..emang dr awal
mereka udah memainkan oen
dia aja yg bodoh atas nama utang Budi yg salah alamat
Amiera Syaqilla
hi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!