"Setelah tiga tahun pernikahan, Dewi akhirnya sadar kalau dirinya tak lebih dari sekedar bank darah berjalan untuk Lina, wanita yang dijaga Rizky. Apapun keluhannya, semua Rizky tutup dengan uang. Hingga Dewi berpikir, 'Kalau begitu apa bedanya diriku dengan seorang pelacur? Sama-sama dibayar hanya berbeda pada apa yang ditawarkan.'
Akhirnya kata cerai keluar dari mulut Dewi dan saat itu juga, ia pergi tanpa menoleh. Namun, keduanya ditakdirkan untuk bertemu lagi, tapi kali ini dengan situasi yang berbeda.
Dewi sebagai pewaris Keluarga Konglomerat Wijaya yang jauh lebih berkuasa dari keluarga Rizky, menuntut balas Lina dan Rizky yang dulu menekannya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Langkah Joko terhenti sesaat di depan pintu masuk Bar ketika pandangannya terkunci pada sosok yang berdiri tidak jauh di depannya, dan tanpa perlu usaha lebih ia langsung mengenali Dewi yang malam itu tampil berbeda dari biasanya, bukan karena pakaian yang mencolok atau aksesori yang berlebihan, melainkan karena aura dingin dan tenang yang terpancar jelas, membuat siapa pun yang melihatnya akan berhenti sejenak, entah untuk mengagumi atau sekadar memastikan bahwa apa yang mereka lihat benar-benar nyata.
Rizky yang berdiri di samping Joko mengikuti arah pandangan itu tanpa berkata apa-apa, dan ketika matanya menemukan Dewi di sana, ia tidak bisa menghindari reaksi sesaat yang muncul begitu saja, berupa keterpanaan yang tidak ia rencanakan, karena meskipun ia pernah melihat Dewi sebelumnya, ada sesuatu yang berubah malam ini, sesuatu yang membuatnya terlihat lebih jauh, lebih sulit dijangkau, dan pada saat yang sama lebih menarik perhatian.
Sementara itu, di sisi lain, Joko justru merasakan hal yang berlawanan, karena alih-alih terpana, ia justru mengumpat dalam hati, merasa bahwa pertemuan ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak ia inginkan, dan dalam kondisi seperti sekarang, ketika hidupnya sedang berantakan, hal terakhir yang ia butuhkan adalah melihat orang yang menjadi sumber dari semua kekacauan itu berdiri tepat di depannya, seolah dunia dengan sengaja mempermainkannya.
“Kenapa harus dia lagi…” gumamnya pelan, tetapi cukup jelas untuk didengar oleh Rizky.
Namun sebelum Joko sempat melakukan apa pun, suara langkah ringan terdengar mendekat dari arah dalam, dan Maya muncul sebagai orang pertama yang membuka percakapan, matanya langsung tertuju pada Joko dengan tatapan yang tidak menyembunyikan rasa sinis.
“Menarik sekali,” katanya dengan nada dingin yang terasa seperti sindiran yang diselipkan dengan sengaja. “Masalah di rumah belum selesai, tapi masih sempat keluar minum.”
Joko langsung mengangkat kepala, tidak berniat mundur.
“Lebih baik daripada bersembunyi di belakang orang lain,” balasnya tanpa ragu, matanya sekilas melirik ke arah Dewi. “Atau sekarang memang sudah berbeda, ya? Setelah punya banyak pendukung.”
Nada suaranya jelas membawa provokasi, dan suasana di sekitar mereka langsung berubah sedikit tegang.
Namun sebelum Dewi merespons, Zara sudah melangkah maju dengan cepat, berdiri di antara mereka dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa ia tidak akan membiarkan percakapan itu berkembang lebih jauh ke arah yang tidak diinginkan.
“Kalau mau berdebat, cari tempat lain,” katanya tegas, lalu menoleh ke arah Dewi. “Kita masuk saja, semua sudah menunggu.”
Dewi mengangguk pelan tanpa memberikan satu kata pun kepada Joko, seolah keberadaan pria itu tidak cukup penting untuk mendapatkan perhatian lebih, dan tanpa ragu ia melangkah melewati mereka, diikuti oleh yang lain.
Sepanjang momen itu, ia sama sekali tidak melirik ke arah Rizky yang berdiri di samping Joko, bahkan tidak ada sedikit pun gerakan yang menunjukkan bahwa ia menyadari keberadaan pria itu, seolah-olah Rizky hanyalah bagian dari latar belakang yang tidak relevan.
Sikap itu tidak luput dari perhatian.
Raka, pria yang berjalan di belakang Dewi sambil membawa tas miliknya dengan santai namun penuh perhatian, sempat melirik ke arah Rizky saat mereka berpapasan, dan tatapan itu bukan sekadar sekilas, melainkan tajam dan penuh penilaian, seolah ia sudah mengambil kesimpulan sendiri tanpa perlu bertanya.
Rizky tidak membalas tatapan itu, tetapi matanya sempat mengikuti tas yang dibawa Raka.
Ia mengenal tas itu.
Langkah mereka terus berlanjut ke dalam.
—
Joko mengepalkan tangannya saat mereka masuk, amarah yang sejak tadi ia tahan kini semakin sulit dikendalikan, terutama karena sikap Dewi yang benar-benar mengabaikan Rizky, sesuatu yang menurutnya tidak masuk akal mengingat hubungan di antara mereka sebelumnya.
“Kau lihat itu?” katanya dengan nada kesal yang tidak disembunyikan saat mereka berjalan masuk. “Dia bahkan tidak melihatmu.”
Rizky menatap lurus ke depan, wajahnya kembali dingin.
“Itu bukan urusanku,” jawabnya singkat.
Joko mendengus.
“Atau mungkin dia memang sudah lupa,” katanya dengan nada yang setengah mengejek. “Sekarang dia punya lingkaran baru, orang-orang baru… tentu saja yang lama tidak penting lagi.”
Rizky berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Joko dengan tatapan yang membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat.
“Jaga kata-katamu,” katanya pelan, tetapi jelas.
Namun Joko tidak mundur.
“Kenapa?” balasnya. “Aku hanya mengatakan apa yang terlihat.”
Ia melangkah lebih cepat menuju tangga.
“Aku ingin lihat apa yang dia lakukan di dalam,” tambahnya.
Rizky tidak menjawab, tetapi kakinya tetap bergerak mengikuti, meskipun di dalam pikirannya ada penolakan yang tidak bisa ia abaikan, karena ia tahu bahwa masuk lebih jauh ke dalam situasi ini tidak akan membawa hal baik.
Namun langkah itu tetap berlanjut.
Dan ketika mereka sampai di tangga menuju lantai dua, suara musik yang lebih keras mulai terdengar, bercampur dengan tawa dan percakapan yang semakin ramai.
—
Di lantai dua, suasana jauh lebih hidup.
Zara menarik tangan Dewi dengan penuh semangat, membawanya menuju area yang sudah disiapkan, dengan sofa yang lebih nyaman dan posisi yang jelas lebih strategis dibandingkan tempat lain.
“Aku sudah siapkan tempat terbaik untukmu,” katanya tanpa menahan antusiasmenya. “Dan untuk Arif juga, di acara fashion show besar nanti, kalian akan duduk di barisan depan.”
Dewi mengangkat alis sedikit.
“Kau sudah mengatur sejauh itu?” tanyanya.
“Tentu saja,” jawab Zara cepat. “Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.”
Sementara itu, Raka yang masih berdiri di samping langsung mengangkat suara.
“Aku mau duduk di sebelahmu nanti,” katanya dengan nada santai, seolah itu sudah pasti.
Dewi meliriknya sekilas, lalu tersenyum tipis.
“Ayahmu pasti akan marah kalau melihatmu lebih sibuk mengatur tempat duduk daripada bekerja,” katanya tanpa mengubah nada suaranya yang tenang.
Beberapa orang di sekitar mereka tertawa kecil.
Raka hanya mengangkat bahu, tidak terlihat tersinggung.
Sebelum percakapan berlanjut, seseorang dari arah lain tiba-tiba mendekat dengan langkah lebar, lalu tanpa ragu langsung merangkul Dewi dengan erat.
“Yang Mulia Ratu akhirnya datang,” katanya dengan suara yang penuh semangat.
Dewi tidak menghindar, tetapi juga tidak membalas pelukan itu secara berlebihan.
“Rendy,” katanya singkat.
Rendy melepaskan pelukannya, lalu memberi isyarat ke arah meja di belakangnya, di mana beberapa orang sedang bermain dadu dengan ekspresi serius.
“Berhenti dulu,” katanya kepada mereka. “Aku sudah menunggu dia.”
Beberapa orang di meja itu langsung menunjukkan ekspresi tidak puas.
“Serius?” salah satu dari mereka mengeluh. “Permainan baru saja mulai panas.”
Rendy tidak peduli.
“Aku sudah mengundang Gila Band malam ini,” katanya sambil menoleh kembali ke Dewi. “Band favoritmu.”
Kalimat itu langsung menarik perhatian.
Beberapa orang bersiul, sementara yang lain mulai berbisik.
Namun Dewi hanya mengangguk pelan.
“Terima kasih,” katanya.
Sementara itu, di tangga, langkah kaki kembali terdengar.
Joko muncul lebih dulu, diikuti oleh Rizky yang berjalan sedikit di belakang, dan ketika mereka sampai di lantai dua, pandangan mereka langsung bertemu dengan suasana yang sedang berlangsung, termasuk sosok Rendy yang berdiri tidak jauh dari Dewi.
Joko langsung mengubah ekspresinya, dari kesal menjadi lebih terbuka, seolah ia baru saja melihat kesempatan.
“Rendy!” panggilnya dengan nada yang dibuat lebih ramah.
Beberapa kepala menoleh.
Suasana yang sebelumnya santai kini mulai berubah lagi, membawa lapisan ketegangan baru yang perlahan terbentuk di antara mereka.
ᴋᴇʀᴇɴ ᴀʙɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ....