NovelToon NovelToon
Labirin Hati

Labirin Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Persahabatan / Romansa
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kenaya_10

"Umur Ruby tuh udah 25 tahun, Masko. Kalau Ruby sampai gak dapet-dapet jodoh…” ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Miko, “masko aja deh yang jadi suami Ruby!” Miko yang sedang menyeruput iced americano langsung tersedak dan tanpa sengaja menyemburkannya ke wajah Ruby. “MASKOOO!!!” teriak Ruby murka seketika, lalu memukul-mukul tubuh Miko bertubi-tubi. Miko justru terbahak sambil berusaha menangkis pukulannya. “Sorry! Sorry! Sengaja!” Iya, Ruby tahu! Ruby bukan tipe masko!” sungut Ruby kesal. Miko hanya terkekeh, lalu meraih tisu dan mengelap wajah Ruby dengan santai, seolah tak terjadi apa-apa. Ruby tidak tahu saja kalau, Miko itu justru telah menyukai Ruby sejak mereka masih kecil. Ruby selalu ada, menjadi saksi paling setia atas keterpurukan Miko, terutama di masa-masa setelah ia mengetahui bahwa perempuan yang selama ini ia panggil Mama ternyata bukan ibu kandungnya. Sejak itu, Miko seperti kehilangan pijakan. Ada amarah di dalam dirinya, tapi ia tak tahu harus menujukannya ke

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenaya_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Renata sedang mengupas jeruk untuk Tony di ruang keluarga. Setelah bersih, ia menyuapkan satu per satu potongan jeruk itu dengan sabar, memastikan suaminya mengunyah perlahan sebelum menyodorkan potongan berikutnya.

Sejak serangan jantung Tony yang kedua, yang kali ini benar-benar membuat semua orang panik, hidup pria itu berubah total. Tidak ada lagi jadwal rapat maraton sejak pagi, tidak ada lagi telepon bisnis yang tak henti berdering, tidak ada lagi malam-malam panjang menatap laporan keuangan hingga dini hari.

Dunia Tony yang dulu berputar di sekitar perusahaan kini dipaksa melambat… bahkan hampir berhenti.

Hari-harinya sekarang jauh lebih sederhana.

Pagi biasanya dimulai dengan Renata yang sudah lebih dulu bangun. Ia memastikan obat-obatan Tony tersusun rapi di kotak harian, menyiapkan sarapan sehat, seringkali oatmeal, roti gandum, atau buah potong. Lalu membangunkan Tony dengan suara lembut yang nyaris seperti membujuk anak kecil agar bangun sekolah. Setelah itu, Renata hampir selalu memaksanya berjalan santai mengelilingi taman rumah, meski Tony kerap menggerutu merasa dirinya tidak setua itu untuk diperlakukan seperti pasien rehabilitasi.

Siang hari, Tony biasanya duduk di ruang keluarga atau teras belakang, membaca berita di tablet, menonton dokumenter, atau sekadar memandangi taman. Kadang ia mencoba diam-diam membuka laporan perusahaan yang dikirim Pandu, tapi Renata hampir selalu berhasil memergokinya. Tablet itu biasanya langsung disita dengan tatapan tajam yang tak memberi ruang protes.

Sore hari diisi dengan jadwal rutin kontrol tekanan darah, minum obat, dan istirahat. Bahkan waktu tidur siang pun kini diawasi ketat. Renata hafal betul jam-jam Tony harus makan, minum, beristirahat, bahkan kapan ia harus berhenti terlalu lama duduk agar tidak kaku.

Renata benar-benar menjelma seperti penjaga sekaligus perawat pribadi yang tak pernah lepas mengawasi. Ia mengurangi hampir seluruh aktivitas sosialnya, lebih sering berada di rumah, memastikan Tony tidak lengah menjaga kesehatannya. Bahkan dalam hal-hal kecil seperti kadar gula dalam teh, porsi garam dalam makanan, atau lamanya Tony menatap layar, Renata selalu memperhatikan.

Tony sendiri sering menggoda istrinya itu, menyebut Renata terlalu paranoid. Namun di balik keluhannya, ia tahu betul ketakutan Renata bukan tanpa alasan. Ia masih ingat bagaimana wajah istrinya pucat, tangan gemetar, dan tangisan yang tak bisa ditahan saat ia tersadar dari koma selama beberapa hari di ICU beberapa waktu lalu.

Karena itu, Tony tidak pernah benar-benar menolak perhatian Renata. Ia bahkan membiarkan dirinya disuapi jeruk seperti anak kecil sekarang, membiarkan Renata mengingatkannya minum obat berulang kali, bahkan membiarkan jadwal hidupnya diatur sedemikian rupa.

Di sisi lain, Renata melakukannya bukan hanya karena takut kehilangan, tapi juga karena rasa syukur yang besar. Baginya, diberi kesempatan kedua untuk masih bisa duduk berdampingan seperti ini sudah lebih dari cukup.

Renata menyodorkan potongan jeruk terakhir ke bibir Tony, lalu menatapnya sejenak, memastikan suaminya benar-benar menelannya.

Tony tersenyum kecil, menangkap tatapan itu.

“Kenapa liatin Mas begitu?” tanyanya pelan.

Renata hanya menggeleng, lalu meraih tisu untuk membersihkan ujung bibir Tony dengan gerakan lembut.

“Cuma bersyukur aja… aku masih bisa sama-sama sama Mas,” jawabnya lirih.

Tony terdiam sesaat. Jemarinya perlahan meraih tangan istrinya, menggenggamnya hangat, seolah ingin memastikan hal yang sama—bahwa mereka masih di sini, masih bersama, masih diberi waktu.

Belum sempat suasana hening itu bertahan lama, bel pintu rumah tiba-tiba berbunyi.

Dengan sigap, asisten rumah tangga mereka, Bu Sari, bergegas menuju pintu tamu untuk membukakannya.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki memasuki rumah, disusul suara sapaan yang hangat, ringan, dan sangat familiar.

“Hé, mijn liefste zus.”

(Hei, adik perempuanku tersayang.)

Renata langsung menoleh. Matanya membesar, lalu wajahnya spontan berbinar.

“Mas Rendy…?” ucapnya nyaris tak percaya.

Ia segera bangkit berdiri. Senyum lebarnya merekah penuh rindu saat melihat sosok kakak laki-lakinya berjalan mendekat.

Rendy merentangkan tangan, dan Renata langsung memeluknya erat. Mereka berpelukan beberapa detik, seolah melepas rindu yang tertahan bertahun-tahun.

Setelah pelukan itu terlepas, Renata menatap wajah kakaknya dengan ekspresi campuran senang dan kesal.

“Mas kok nggak bilang-bilang sih mau datang?” tanyanya.

Rendy hanya tertawa ringan. Ia mengangkat dagunya, menunjuk ke arah Tony yang sudah berdiri beberapa langkah di belakang Renata.

“Coba tanya suamimu,” jawabnya santai.

Renata langsung menoleh dengan raut penuh tanya. Namun Tony hanya terkekeh pelan, lalu melangkah mendekat sambil mengulurkan tangan.

“Mas, gimana flight-nya?”

“Ya gitu-gitu aja,” jawab Rendy sambil menjabat tangan Tony. “Lumayan jet lag. Gue nggak bisa tidur di pesawat. Gimana kondisi lo, Ton?”

“Alhamdulillah udah jauh mendingan, Mas. Nggak percuma kan punya istri ahli gizi,” jawab Tony sambil tertawa kecil.

Renata langsung melipat tangan di dada, menatap suaminya dengan tatapan pura-pura galak.

“Percuma makan dijaga kalau kamunya masih bandel soal kerjaan.”

Rendy ikut tertawa melihat interaksi mereka.

Ketiganya sedang larut dalam suasana hangat itu ketika terdengar suara deheman pelan dari arah pintu masuk ruang keluarga.

Mereka bertiga menoleh bersamaan.

Miko berdiri di sana, terlihat sedikit kikuk.

“Miko?” ujar Tony heran.

Miko mengangguk sopan menyapa

“Halo, Om… Tante…”

Tony menoleh ke arah Rendy dengan ekspresi kagum bercampur heran.

“Wah… saya nggak nyangka bakal secepat ini sih, Mas.”

Rendy hanya tertawa pendek, santai seperti biasa.

“Enggak kok,” katanya ringan. “Tadi kita ketemu di makamnya Mira.”

“Ah, I see…” ucap Tony sambil mengangguk-angguk pelan, senyumnya mengembang penuh pengertian.

Di sisi lain, Renata justru melirik bergantian antara Tony dan Rendy, sorot matanya menyiratkan kecurigaan.

Rendy lalu menepuk bahu Tony pelan.

“Anyway… gue capek banget. Mau tidur dulu, nggak apa-apa ya?”

“Oh iya, Mas. Tentu aja,” jawab Tony cepat. Ia sempat melirik ke arah dapur. “Bi...bi Sari, tolong antar Mas Rendy ke kamar tamu—”

“Eh..gak usah,” potong Rendy sambil mengangkat tangan. “Gue bisa sendiri. Kamar yang biasa, kan?”

“Iya, Mas,” jawab Tony sambil mengangguk.

“Ya udah,” ujar Rendy singkat. Ia lalu menoleh ke arah Miko. “Ko, Ongkel istirahat dulu, ya. See you later, oke?”

Miko hanya mengangguk pelan.

Rendy tersenyum tipis, lalu berbalik dan berjalan menuju tangga, langkahnya santai saat menaiki anak tangga menuju lantai dua.

*

Miko kini duduk berhadapan dengan Tony dan Renata. Tony bersandar santai di sofa, menatap Miko dengan senyum lebar yang hangat. Sebaliknya, Renata duduk tegap di sisi Tony, sorot matanya masih menyimpan kekesalan yang belum sepenuhnya reda. Wajar saja—di benaknya, apa yang menimpa suaminya tak lepas dari Miko yang selama ini selalu membuat segalanya jadi rumit.

Menyadari ketegangan itu, tangan Tony terulur, mengusap punggung Renata dengan gerakan lembut, menenangkan. Namun pandangannya tetap tertuju pada Miko, yang lebih sering menunduk, menghindari tatapan Tony.

“Renata bilang kamu sempat pingsan pas mau jenguk Om?” tanya Tony, nadanya ringan tapi penuh perhatian.

Miko mengangkat wajahnya sebentar, lalu tersenyum tipis sambil mengangguk. “Iya, Om. Maaf ya… Miko jadi baru bisa jenguk sekarang. Om sendiri gimana kondisinya?”

“Alhamdulillah, jauh lebih baik,” jawab Tony sambil tersenyum. “Tante kamu ini telaten banget ngurusin Om yang sudah tua dan sakit-sakitan,” lanjutnya, lalu menoleh ke Renata. “Iya kan, Sayang?”

Renata hanya mendengus pelan, jelas kesal, tapi tetap memilih diam.

Tony terkekeh kecil melihat reaksi Renata, namun tangannya tak henti mengusap punggung istrinya dengan gerakan menenangkan.

Hening sempat menggantung di antara mereka.

Pandangan Tony lalu jatuh pada ransel cokelat di kaki Miko, ransel yang selalu ia bawa ke mana pun. Dari bentuknya, jelas terlihat padat, seolah terisi penuh. Tony mengangkat dagunya sedikit, menunjuk ke arah tas itu.

“Kamu mau ke mana lagi?” tanyanya ringan.

Miko belum sempat membuka mulut ketika Tony kembali bicara, nada suaranya berubah sedikit lebih hati-hati.

“Atau… jangan-jangan kamu sudah mutusin buat pulang lagi, Ko?”

Miko menggeleng kecil. Kepalanya tertunduk sejenak sebelum akhirnya ia mengangkat wajah dan menatap Tony dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.

“Enggak, Om. Miko cuma lagi dikasih libur sama tempat kerja.”

“Libur berapa lama?” tanya Tony sambil melirik ransel cokelat itu. “Tas kamu kelihatan penuh begitu.”

“Seminggu,” jawab Miko singkat.

Tony mengangguk pelan, seolah mencerna. “Terus, rencanamu selama seminggu ini mau ke mana?”

Miko mengangkat kedua bahunya. Jujur saja, ia sendiri belum punya jawaban. Kepalanya terasa kosong, arah hidupnya pun masih samar.

Tony menghela napas pelan, lalu tersenyum hangat.

“Kalau begitu, kebetulan,” katanya. “Gimana kalau kamu temenin ongkelmu selama dia di Jakarta?”

1
💞Putri Chania💞
yang d tunggu" akhir nya update juga..tq thor
Kenaya: sama-sama. makasih ya udah mau dabar dan terus baca cerita ini 🌹
total 1 replies
merry yuliana
kak ini lanjutkah??kok ga ada update update lagi kak?😄
Kenaya: lanjut kak...lg agak writer's block hehehe...kemungkinan paling lambat pagi bsk bs up bab baru 🙏
total 1 replies
merry yuliana
kak crazy up pleaseee jangan mendadak ghpib yaaa
merry yuliana
crazy up ya kak
merry yuliana
crazy up kak🙏💪
merry yuliana
crazy up kak💪💪💪
merry yuliana
lukamu jadi duri yang nempel.ya ko...masih banyak yang sayang dan care km koooo...semangat dan lepaskan semua💪💪💪 crazy up ya kak
Kenaya: 🫰🏽🫰🏽🌹
total 1 replies
merry yuliana
crazy up kak💪💪🙏
merry yuliana
sehat semangat up terus ya kak jangan memfafak brenti n ilang ya💪💪💪🙏🙏🙏😍😍😍
merry yuliana: 😍😍😍😍😍🙏
total 2 replies
merry yuliana
kak lanjut ya jangan ilang ya.....sehat semangat terus kak...ditunggu crazy upnya yaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!