Seorang mahasiswi yang harus rela menikah dengan brondong.
Karena kejadian yang tidak mengenakkan. Di grebek warga saat di toilet. Dan menjadikannya harus menikah di saat itu juga.
Dia yang sudah berumur 21 tahun semester VI dan dengan terpaksa harus menikah dengan brondong 18 tahun. Masih SMA kelas 3.
Bagaimana kelanjutannya...?
Pantengin di sini ya??
Makasih sudah mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
.
.
.
"Jo... bangun Jo...hiks jangan tinggalin aku..." Nesa tergugu pilu, sambil mengguncang-guncangkan tubuh Jo.
"Hmmm..."gumam Jo pelan. Nesa langsung melongo. Jadi Jo masih hidup, alhamdulillah.
Tak lama kemudian seorang dokter dan seorang perawat masuk ke dalam.
"Kenapa nak Nesa??"tanya dokter itu sambil tersenyum simpul.
"Tadi dia sudah sadar dok, tapi tiba-tiba tak sadarkan diri lagi..."ucap Nesa sambil sedikit berfikir tentang gumaman Jo tadi.
Dokter itu kembali tersenyum, kemudian memeriksa Jo dengan insten.
"Dia baik-baik saja... hanya pengaruh obat tidur saja. Jadi dia kembali tidur. Mungkin sekitar dua jam-an dia akan bangun kembali. Gak usah khawatir,,,, kalau suami mu bangun langsung kasih minum ya..."kata dokter itu berusaha menenangkan Nesa.
Nesa mengangguk pelan, jadi suaminya sudah siuman. Dalam hatinya terus berucap syukur karena Jo baik-baik saja. Dengan cepat Nesa mengambil ponselnya, guna mengabari pak Bambang dan pak Wahyu kalau Jo sudah sadar. Biar mereka tidak terlalu khawatir lagi.
***
Dua jam lamanya Nesa menunggu Jo bangun. Tapi belum ada tanda-tandanya juga. Nesa jadi ngantuk sendiri. Sedetik kemudian mata Nesa sudah terpejam, Nesa tidur dengan kepala yang berada di tepi ranjang. Tangannya menggenggam erat jemari tangan Jo.
Saat Nesa sudah terlelap, kini Jo yang sudah tersadar. Jo menatap Nesa sambil menyunggingkan senyum.
"Nesa,,, terima kasih..."ucap Jo lirih. Salah satu tangannya mencoba mengelus lembut puncak rambut Nesa.
Nesa yang merasa terusik akhirnya mencoba bangun. Tapi Jo langsung ke posisinya, pura-pura tidur kembali.
"Emmm, Jo... kamu lama bener sih tidurnya? Kapan kamu akan bangun?? Kamu gak capek apa tidur mulu???"ucap Nesa pura-pura sebal sambil mengucek-ucek matanya. Karena Nesa yakin Jo gak bakalan denger. Padahal dalam hatinya, Jo pengen banget menyentil mulut Nesa yang suka asal bicara itu.
"Jo, bangun.... aku kangen sama kamu Jo. Aku janji, gak akan menolaknya lagi..."
"Yakin???"
Nesa terlonjak kaget.
"Astaghfirullah, Jo..." Nesa mengelus-elus dadanya, karena jantungnya berdegup kencang gara-gara mendengar suara Jo barusan.
"Kenapa??"tanya Jo sambil memainkan alisnya menggoda.
"Bikin kaget tau gak,,," Manyun Nesa. "Bangun gak bilang-bilang..."lanjut Nesa sambil pura-pura cemberut.
"Jadi gak ikhlas nih jagain suami???"
"Ikhlas kok..."
"Tapi kok marah-marah gitu, bilang aku gak capek tidur..."desis Jo pura-pura marah.
"Jadi kamu sudah bangun dari tadi?? Pantes aja, tidurku tadi gak nyenyak..."balas Nesa yang masih ngambek.
"Udah jangan ngambek, aku tadi juga denger lho kalau kamu kangen sama aku?? Emangnya Aris kemana??"tanya Jo yang mulai menyindir tentang Aris. Dia penasaran sejauh apa hubungan Nesa dengan Aris.
"Cukup Jo, jangan bicarain Aris lagi di sini..."
"Kenapa?? Bukannya kamu lebih seneng kalau aku sakit, jadi kamu bisa berduaan terus sama Aris..." tuduh Jo yang kembali emosi karena teringat saat Aris memanggil Nesa dengan sebutan 'Sayang'.
"Kamu salah Jo, tuduhanmu gak bener... kamu bisa tanya ke semua orang. Siapa yang menemanimu di sini!!" Mata Nesa mulai berkaca-kaca. Tapi Nesa enggan mengeluarkan air matanya. Dia senang Jo siuman, tapi dia gak suka kalau dituduh yang bukan-bukan.
Jo menghela nafas berat. Gak seharusnya dia menekan Nesa seperti itu. Ya sudahlah, lebih baik Jo menanyakan faktanya dulu.
"Oke aku percaya kalau istriku memang menjagaku..." Jo memencet hidung Nesa gemes. Reflek Nesa memukul tangan Jo.
"Jayus (Jail Usil)..." desis Nesa sambil memalingkan muka.
"Cerita sama aku sekarang,,, kenapa kamu bisa selingkuh sama Aris?? Bukannya kapok, malah balik nyelingkuhi suami sendiri..."tanya Jo sambil menyindir.
"Oke-oke aku ceritain sekarang...." Nesa menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai bercerita.
"Aris ngancam aku Jo... kalau aku gak mau pacaran sama dia, dia akan ngebuat kamu cacat seumur hidup. Aku gak mau itu terjadi sama kamu Jo... aku gak mau..." cerita Nesa dan pada akhirnya air mata itu terjatuh.
Jo jadi merasa bersalah, jadi Nesa nglakuin ini semua demi melindunginya. 'Dasar Aris.. awas aja. Gue akan ngebuat perhitungan ama loe!!!'
"Kok kamu gak cerita sama aku sih Nes?? Aku ini suamimu lho..."
"Masalahnya aku gak mau ujianmu berantakan gara-gara mikirin ini Jo..."
"Dasar istriku ini ya??? Masalah sebesar itu dipendem sendiri. Pantes aja waktu itu kamu ngomong ngaco..."
'pengen hamil'batin Jo tersenyum geli.
Sikap Nesa yang sekarang ini menyadarkan Jo, kalau istrinya tak seburuk yang ia fikir.
Pipi Nesa jadi merona mengingat waktu itu. Dia memukul pelan dada Jo.
"Apa??"kata Jo saat meraih tangan Nesa dan menggenggamnya. Nesa semakin malu.
"Jangan marah lagi ya..."kata Nesa sambil menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Aku marah kalau kamu gak jujur... dan sekarang gimana kamu dengan Aris??"tanya Jo masih menggenggam erat tangan sang istri.
"Semua sudah berakhir..."balas Nesa sambil membuang nafas lelah.
"Kok bisa??"tanya Jo heran.
Kemudian Nesa menceritakan semuanya yang mana Nesa memberikan dua pilihan untuk Aris.
"Aku gak nyangka kalau istriku ini bakal senekad itu. Aku takjub sama kamu...."puji Jo yang kini membelai lembut pipi Nesa.
"Maafin aku ya.. udah salah paham sama kamu... Andai aku tahu semuanya dari awal Nes..."
"Sudahlah, semuanya udah terjadi jugakan??? Gak ada yang harus dibahas lagi. Fokus sama kesembuhan kamu..."
"Iya ya,, udah berapa hari sih aku gak bangun??"tanya Jo sambil memegangi kepalanya yang terasa pening.
"Dari kamu kecelakaan sih 4 hari.."
"Pantesan aku haus..."celetuk Jo.
"Ya Allah aku lupa..." Nesa langsung melepaskan tangannya dari genggaman Jo dan meraih satu botol minuman yang sudah ada sedotannya.
"Nih diminum..."
Jo langsung menyedot minuman itu dengan bantuan Nesa. Matanya terus menatap Nesa tak berkedip. Nesa jadi salting.
"Liatnya gitu amat sih..."dengus Nesa sambil memanyunkan bibirnya.
"Gak usah dimanyunin... nanti ku cium!"ancam Jo.
"Dasar omes, sakit aja main nyosor!!!"ucap Nesa keceplosan.
"Kan sudah sah...."
Nesa langsung terdiam gak berani jawab. karena sudah kalah telak. Lagian Nesa juga udah ngijinin Jo melakukan apapun kan?? Jadi dia hanya pasrah sekarang.
***
Di tempat yang berbeda. Aris berbincang-bincang dengan adik perempuannya, Lia. Sirat matanya berkilau penuh dengan ancaman.
Sesekali terlihat Lia menggeleng dan menangis di hadapan kakak lelakinya itu. Suara amarah Aris menggelegar, dan jika Lia menggeleng. Aris akan mencengkeram dagu adiknya tanpa ampun.
"Kamu harus lakuin itu Lia... ini perintah!!!"
"Gak mas,,, Lia gak mau..."suara Lia hampir habis gara-gara terus menolak perintah Aris yang menurutnya tak masuk di akal.
Sudah di Next ya... Vote kalian sangat berarti loh... dapat 1000 vote. Langsung di next lagi hari ini
DN OTHOR SNANG BANGET BUAT CERITA KONFLIK YG GK HABIS2
BETUL KATA JO, KLO GK ADA YG JAWAB SAJA