Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Di detik pertemuan pandangan itu, jantung Ratna serasa berhenti berdetak. Di mata Ardiansyah tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi rindu, tidak ada lagi amarah. Yang ada hanyalah kedinginan yang mutlak, kedinginan yang jauh lebih mengerikan daripada kebencian. Ardiansyah menatapnya seolah menatap debu yang tidak berharga, seolah menatap orang asing yang tidak pernah ada dalam hidupnya. Pandangan itu yang paling menyakitkan Ratna. Pandangan yang mengatakan: Kau sudah tidak ada apa-apanya bagiku. Kau sudah kalah jauh sebelum pertandingan ini dimulai.
Di sebelah Ardiansyah, Salwa berdiri tegak sempurna. Ia memandang ke bawah, memandang langsung ke arah kerumunan keluarga Pratama dan keluarganya sendiri. Ia melihat wajah Yogie yang pucat dan penuh penyesalan. Ia melihat Sania yang gemetar dan menahan tangis. Ia melihat ayah tirinya, Pak Joko, yang wajahnya berubah merah padam karena ketakutan dan rasa bersalah. Dan ia melihat ibunya, Ratih.
Salwa tidak memalingkan wajah. Ia menatap ibunya itu dengan pandangan yang tenang namun tajam. Tidak ada air mata, tidak ada permohonan, tidak ada rasa sedih. Hanya ada ketegasan dan kemenangan. Pandangan Salwa seolah berkata: Ibu... Ibu lihat? Anak yang Ibu buang, anak yang Ibu sakiti, anak yang Ibu anggap tidak berharga... kini berdiri di tempat tertinggi ini. Dan Ibu, beserta mereka yang menyakiti saya... kini berada di bawah kaki saya, menunggu vonis saya.
Ardiansyah mulai berbicara dengan suara berat, berwibawa, dan terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan.
"Selamat malam, Bapak, Ibu, Saudara sekalian yang saya hormati. Terima kasih telah hadir di malam bersejarah ini, di malam di mana Perusahaan Laksana Group genap berusia 21 tahun... usia kedewasaan, usia kematangan, usia di mana segala sesuatu harus diwariskan kepada penerus yang layak dan pantas."
Suaranya bergema, membuat setiap orang merinding mendengarnya. Ardiansyah menoleh ke kanan dan ke kiri, memandang Bunga dan Salwa dengan penuh kasih sayang, lalu kembali menatap para tamu.
"Malam ini bukan sekadar perayaan ulang tahun. Malam ini adalah malam kebangkitan, malam pembuktian, dan malam pengumuman penting yang akan mengubah sejarah perusahaan ini selamanya."
Ardiansyah menjeda ucapannya sejenak, membiarkan ketegangan memuncak, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Salwa, mengundang seluruh pandangan tertuju sepenuhnya pada gadis itu.
"Selama ini, saya memimpin perusahaan ini dengan sekuat tenaga, membangunnya dari nol, dari keterpurukan, dari pengkhianatan, dan dari rasa sakit hati yang mendalam. Saya membangunnya bukan untuk diri saya sendiri, tapi untuk satu tujuan saja: untuk melindungi dan memberikan hak yang seharusnya diterima oleh darah daging saya sendiri, putri kandung saya, putri sah saya, wanita yang lahir dari raga saya dan darah saya..."
Ardiansyah menatap tajam ke arah barisan depan tempat duduknya Pak Joko dan Ratih, lalu berteriak lantang, suaranya mengguncang seluruh ruangan.
"Salwa Azzahra Laksana!"
Satu nama itu disebutkan, dan seketika seluruh ruangan bergumam heboh. Nama Laksana... nama keluarga Ardiansyah. Nama yang seharusnya milik Salwa sejak lahir, namun sempat dirampas darinya.
Dan di barisan depan, Yogie, Sania, Pak Joko, dan Ratih terhuyung mundur seolah dipukul palu besar. Nama itu... nama lengkap itu... memastikan segalanya. Memastikan bahwa Salwa bukanlah orang asing, bukanlah kebetulan. Dia adalah darah daging Ardiansyah. Dia adalah pewaris tunggal. Dan mereka semua... mereka semua yang menyakiti, membuang, dan merendahkan Salwa... mereka semua telah menginjak-injak anak dari orang paling berkuasa di negeri ini.
Ardiansyah tersenyum dingin, lalu melanjutkan pengumuman yang menjadi mimpi buruk terbesar bagi keluarga Pratama dan keluarga Joko.
"Mulai malam ini, dan resmi berlaku besok pagi... saya meletakkan jabatan saya sebagai Direktur Utama Perusahaan Laksana Group. Dan saya angkat, saya lantik, dan saya serahkan seluruh kekuasaan, tanggung jawab, serta kepemilikan ini kepada putri saya tercinta..."
Ardiansyah menggenggam tangan Salwa dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, persis seperti mengangkat pemenang pertarungan.
"Salwa Azzahra Laksana... adalah Direktur Utama yang baru. Dia adalah pemilik sah segalanya. Dia adalah nyonya besar yang akan memimpin kita semua mulai hari ini!"
Tepuk tangan kembali bergemuruh lebih keras dari sebelumnya, disertai sorak-sorai dan kekaguman. Semua orang berdiri memberikan penghormatan kepada pemimpin muda yang cantik, cerdas, dan penuh pesona itu.
Namun, di tengah keramaian itu, di sudut barisan depan, ada lima orang yang berdiri diam, hancur lebur, dan sadar sepenuhnya bahwa hidup mereka baru saja berakhir malam ini.
Yogie menatap Salwa dengan pandangan kosong, penuh penyesalan yang tidak terkira. Gadis yang dulu ia buang kini adalah rekan bisnisnya, kini adalah penguasa yang bisa menghancurkan perusahaan ayahnya dalam sekejap jentikan jari. Sania menangis diam-diam, menyadari bahwa kemenangannya hanyalah ilusi, bahwa posisinya sebagai wanita terhormat hancur lebur. Pak Joko berkeringat dingin, menyadari bahwa rencananya untuk mengambil kekayaan dan mempromosikan pabriknya kini berubah menjadi ancaman kematian bagi usaha-usaha yang ia bangun dengan cara curang.
Dan Ratna.. Ratna hanya bisa menatap Ardiansyah dan Salwa dengan mata yang kosong dan hati yang hancur. Ia menyadari betapa bodohnya dirinya dulu. Ia menyadari bahwa pilihan yang ia ambil bertahun-tahun lalu memilih Joko dan meninggalkan Ardiansyah adalah kesalahan terbesar, terbodoh, dan paling fatal dalam hidupnya. Ia telah membuang emas asli demi debu yang berkilau palsu. Dan sekarang, ia harus membayarnya dengan menonton keagungan mereka yang dulu ia buang, sementara ia sendiri berdiri di bawah sana, kecil, hina, dan menunggu hukuman yang pasti akan datang.
Di atas panggung, Salwa tersenyum indah, senyum yang paling tulus dan paling bahagia. Ia memandang ke bawah, menatap mereka satu per satu.
"Permainan belum selesai ."batin Salwa. Ini baru permulaan. Dan malam ini... kalian baru saja masuk ke dalam penjara yang sudah saya siapkan khusus untuk kalian.
Dan di sebelah Salwa, Ardiansyah dan Bunga tersenyum puas. Rencana mereka berjalan sempurna. Kehancuran musuh-musuh mereka bukan lagi soal waktu, melainkan kepastian yang mutlak.
Tepuk tangan gemuruh dan sorak-sorai penuh kekaguman masih menggema di seisi ruangan, seolah tidak ingin berhenti. Seluruh tamu undangan masih berdiri, memberikan penghormatan tertinggi kepada Salwa Azzahra Laksana, gadis muda cantik yang kini resmi menjadi pemimpin tertinggi perusahaan raksasa itu.
Di bawah sorotan lampu yang menyilaukan, Salwa berdiri tegak dengan kepala terangkat tinggi, wajahnya memancarkan kebanggaan dan kewibawaan yang luar biasa. Tidak ada lagi jejak ketakutan atau kepolosan yang dulu sering dianggap kelemahan oleh orang-orang yang membencinya. Kini, ia adalah ratu yang berkuasa penuh.
Namun, Ardiansyah belum berniat untuk turun dari panggung. Ia mengangkat kembali tangannya, memberi isyarat agar suasana yang mulai riuh itu kembali hening. Ada satu hal penting lagi yang harus ia sampaikan, satu pukulan terakhir dan paling menyakitkan yang akan ia berikan kepada mereka yang dulu pernah menghancurkan hidupnya dan keluarganya.
bersambung ,,,,