Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Retakan Masa Lalu
Gemuruh bising mal yang baru saja mereka kunjungi rupanya tidak mampu menenangkan badai yang bergejolak di dalam dada Citra. Dia memilih pulang sendiri, membuat Elang tidak bisa berbuat apa-apa selain mengizinkannya pergi, meski ada secercah kekhawatiran yang menggelayuti benak pria itu.
"Mau ke mana, Mbak?" tanya sopir taksi yang sejak tadi kebingungan karena belum mengetahui tujuan penumpangnya.
Citra memang tidak memesan taksi melalui aplikasi, melainkan langsung menghentikan armada yang kebetulan lewat di tepi jalan.
"Jalan saja dulu, Pak. Nanti saya beri tahu arahnya," jawab Citra lirih.
Rute jalan tersebut sebenarnya mengarah ke kosannya. Namun, alih-alih meminta berhenti di perempatan tempat Surya biasa mendirikan tenda angkringan, Citra membiarkan taksi itu terus melaju hingga berhenti beberapa menit kemudian di tempat yang lebih sepi.
Setelah membayar tunai, Citra turun. Langkah kakinya menuntunnya mendaki sebuah bukit kecil yang terletak tak jauh dari kawasan hunian tersebut. Di atas puncak yang sunyi itu, di bawah naungan langit sore, Citra berdiri merenung.
Sejak takdir mengikatnya menjadi pengawal pribadi Elang Dirgantara, ada sesuatu yang bergeser di dalam dirinya.
"Kenapa gue selalu lepas kontrol belakangan ini? Rasanya... ingin banget menghajar setiap orang yang berani menghina Elang," gumam Citra lirih. Sepasang matanya menatap kosong hamparan kota Jakarta dari kejauhan.
Ia mengembuskan napas berat, merutuki kontradiksi yang terjadi pada dirinya sendiri. "Gue yang selalu menasihati Elang untuk mengendalikan hawa nafsu dan egonya. Tapi ternyata gue sendiri? Gue justru yang paling gampang terprovokasi dan selalu ingin main fisik."
‘Nyai... Sebagai seorang pengawal, waspada dan bersiap adalah titah yang tak boleh semenit pun kamu lalaikan. Namun, ingatlah, jangan sampai amarahmu justru memperburuk keadaan. Jangan sampai riak yang kamu buat mempersulit langkah tuanmu.’
Sebuah suara berbisik halus di antara desau angin. Itu adalah suara tan katingalan, suara tanpa wujud yang bergema langsung di dalam rongga dadanya. Detak jantung Citra seketika berhenti.
Suara penuh wibawa itu adalah suara yang sangat ia rindukan selama ratusan tahun pengembaraan jiwanya.
"Tuan Putri... apakah itu Anda?" tanya Citra dengan suara bergetar hebat. Ia memutar tubuh, mengedarkan pandangan ke segala penjuru bukit yang sepi.
Namun, tidak ada siapa pun di sana. Hanya semilir angin dingin yang menyapu kulit, membawa pergi sisa gema bisikan tadi. Langit sore kini mulai dihiasi lembayung, pertanda malam akan segera menyapa.
Tidak ada jawaban lanjutan. Namun, Citra tahu persis pemilik suara itu. Pada masa lalu, di kehidupan yang telah terkubur sejarah, ia adalah salah satu pengawal setia Dyah Pitaloka Citraresmi, Sang Putri Kerajaan Sunda Galuh yang memilih jalan bela pati, gugur demi menjaga kehormatan tanah Sunda di Lapangan Bubat.
"Apakah gue terlalu khawatir?" gumam Citra lagi, jemarinya mencengkeram dada yang terasa sesak. "Apakah ketakutan kalau kejadian tragis yang menimpa Tuan Putri dulu akan terulang pada Elang, membuat gue se-paranoid ini? Benar... gue enggak boleh lengah. Tapi gue juga jangan sampai membuat Elang tidak nyaman atau malah memperburuk posisinya sekarang. Gue harus bisa mengendalikan diri sendiri terlebih dahulu."
Citra menarik napas dalam-dalam, menstabilkan gejolak energi di tubuhnya. Ia kemudian menegakkan tubuh, menyatukan kedua telapak tangan di depan dada, lalu menunduk dalam, sebuah posisi penghormatan tertinggi dari seorang kesatria purba kepada tuannya yang agung. "Terima kasih, Tuan Putri. Anda sudah mengingatkan saya."
"Citra!"
Tiba-tiba, sebuah lengkingan suara memecah keheningan dari arah belakang. Citra tersentak. Batin kesatrianya langsung siaga saat ia berbalik. Seorang perempuan paruh baya dengan pakaian kusut akibat perjalanan jauh muncul dari balik semak jalur pendakian.
Itu adalah Sutirah, adik kandung mendiang ayahnya. Wanita yang menampung dan merawatnya tepat setelah kedua orang tua Citra meninggal dunia.
"Bibi?" Citra benar-benar terkejut. Alisnya bertaut rapat melihat kemunculan sosok dari masa lalunya yang lain, masa lalu versi modern yang sama sekali tidak ingin ia ingat. Pikirannya berputar, heran mengapa bibinya bisa berada di bukit sepi ini menjelang malam, padahal mereka tinggal jauh di kampung.
"Bibi? Kenapa Bibi bisa ada di sini?" tanya Citra beruntun.
"Kamu ini, bukannya mengambilkan air! Bibi haus, dari tadi jalan kaki, tahu-tahu malah mendaki ke bukit ini!" omel Sutirah dengan napas memburu.
"Bibi sendiri yang datang ke sini, bukan saya yang undang," jawab Citra enteng.
"Kamu..." Sutirah menjeda ucapannya sejenak. "Bibi sengaja ke kota karena memang mencari kamu! Pokoknya kamu harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa Bibi selama ini. Itu semua gara-gara kamu!" lanjutnya ketus.
"Maksudnya bagaimana, Bibi? Dan Bibi belum jawab, kenapa bisa ada di Jakarta?"
Pertanyaan Citra masih menggantung saat dua sosok lain muncul dari balik remang-remang jalan setapak yang mulai gelap. Satim, pamannya, berjalan dengan langkah gontai, disusul oleh Susan, anak perempuan mereka yang sebaya dengan Citra. Ketiganya tampak terengah-engah dengan peluh yang membasahi baju.
"Oh... kamu ternyata sembunyi di sini!" hardik Susan tanpa basa-basi.
Ia langsung melangkah maju dengan muka masam, lalu menunjuk wajah Citra dengan telunjuknya yang kotor. "Kenapa rumah kontrakanmu yang dulu malah ditempati orang lain? Kamu sengaja mau mempermalukan keluargamu sendiri di depan orang-orang, hah?!"
Citra menatap sepupunya itu dengan pandangan dingin. Rasa bersalah yang sempat melintas di hatinya seketika menguap, digantikan oleh rasa muak yang teramat sangat. "Kenapa kamu harus marah? Saya sudah tidak mengontrak di tempat itu lagi, dan itu hak saya."
"Ya setidaknya kamu kasih kabar ke kami kalau pindah alamat! Tidak sampai membuat kami telantar di kontrakan lamamu yang kumuh itu!" bentak Susan lagi.
"Lantas, untuk apa kalian mencari kontrakan saya? Perasaan, urusan kita sudah selesai setelah kalian tega mengusir saya dari rumah peninggalan orang tua saya sendiri! Sekarang, ada urusan apa lagi?!"
Suara Citra kali ini tidak lagi pelan. Ia balik membentak mereka dengan intonasi tegas dan menusuk. Selama bertahun-tahun hidup di kampung, Citra selalu memilih mengalah dan menelan semua perlakuan tidak adil demi menghormati status mereka sebagai keluarga. Namun, tidak untuk hari ini. Citra yang sekarang bukan lagi gadis lemah yang bisa mereka intimidasi.
Bentakan telak itu seketika membuat Sutirah, Satim, dan Susan terkesiap. Mereka bertiga saling pandang dengan mata terbelalak, sama sekali tidak menyangka kalau Citra yang biasanya penurut dan pendiam kini berani melawan dengan tatapan mata yang berkilat tajam.
"Bagus ya! Bagus banget!" sindir Sutirah. Suaranya meninggi, mencoba menutupi rasa terkejutnya dengan sandiwara kepasrahan. "Kamu kuliah di kota besar, hasilnya cuma jadi manusia yang tidak tahu terima kasih! Berani nyolot kamu sekarang! Ingat ya, Citra, Bibimu ini yang merawatmu sejak kamu jadi anak yatim piatu!"
"Benar itu! Kamu jangan jadi anak yang tidak tahu diri, Citra!" Satim ikut menimpali. Ia melangkah maju sambil berkacak pinggang untuk menakut-nakuti keponakannya. "Kenapa pamanmu ini dulu malas menyekolahkanmu tinggi-tinggi? Ya karena ini! Takut kamu malah jadi anak pembangkang dan kurang ajar. Tidak seperti Susan, anak Paman yang baik, berbakti, dan selalu penurut!"
Citra hanya bisa menghela napas panjang. Ia menatap kedua orang tua itu dengan rasa kasihan yang bercampur jijik. Berbakti? Penurut? Citra tahu betul Susan menurut hanya karena selalu dimanja. Dan perihal merawatnya dulu? Mereka menampung Citra bukan karena dasar kasih sayang, melainkan karena memiliki niat terselubung untuk menguasai seluruh aset harta peninggalan orang tuanya di kampung.
"Oh... begitu?" Citra tersenyum sinis sambil melipat kedua tangan di dada. "Lalu, kalau Susan seberbakti itu, kenapa kalian berbondong-bondong datang ke sini? Apa kalian belum puas tinggal gratis di rumah peninggalan orang tua gue?" Tembakan telak itu keluar begitu saja, dengan nada bicara yang kembali beralih kasar.
Mendengar pertanyaan itu, wajah Satim mendadak memucat kaku. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, tampak sangat gugup. Susan yang melihat ayahnya terpojok segera menyambar pembicaraan dengan ketus, "Rumah itu... rumah itu sudah diambil alih sama Pak Broto!"
"APAA?!" Mata bulat Citra melebar sempurna. Jantungnya berdegup kencang oleh rasa syok yang menghantam pertahanannya. "Kenapa rumah peninggalan orang tua gue bisa diambil alih sama Broto?! Hmmm... jangan bilang ini semua gara-gara ulah kalian lagi. Terutama Paman, yang taruhan judinya kalah lagi, kan?!" selidik Citra. Matanya menyipit tajam, mengunci tatapan sang paman yang kian salah tingkah.
"Enak saja kalau ngomong! Jaga ya mulutmu!" bentak Susan memotong. Wajahnya memerah karena malu rahasia busuk keluarganya dikuliti tanpa sisa. "Perlu kamu tahu ya, Pak Broto mengambil rumah itu karena kamunya yang sok suci enggak mau dia nikahi! Apa susahnya sih menikah sama Pak Broto? Dia itu kaya raya, terpandang!"
Citra tertawa hambar. Sebuah tawa yang terdengar begitu dingin dan meremehkan menggema di atas bukit itu. "Apa susahnya, lo tanya? Kalau memang itu perkara mudah dan menguntungkan, kenapa enggak lo aja, Susan, yang menikah sama tua bangka itu? Dia kan sudah punya istri lima. Lo sepertinya cocok banget kalau ditambahin jadi istri keenamnya. Pas!"
"Kamu...!!" Susan mengangkat tangan, hendak melayangkan tamparan ke wajah Citra karena merasa terhina. Namun, begitu melihat tatapan mata Citra yang mendadak berubah sedingin es, memancarkan kilatan aura magis kesatria purba yang mengancam, tangan Susan mendadak kaku di udara. Tangan itu perlahan turun dengan sendirinya, ditarik oleh rasa takut mencekam yang tidak mampu ia jelaskan.
"Sudah, sudah! Malah bertengkar!" Sutirah menyela. Ia memijat pangkal hidungnya dengan raut wajah yang mendadak dibuat memelas tanpa tahu malu. "Citra, Bibi ini sudah seharian berjalan kaki keliling Jakarta mencari kamu. Perut Bibi lapar sekali, kaki juga rasanya mau copot. Di mana rumah kontrakanmu yang baru? Bibi, Paman, sama Susan mau istirahat dan makan di sana sekarang."
Citra menatap ketiga anggota keluarganya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada lagi sisa rasa hormat di matanya; yang tertinggal hanyalah rasa muak yang mutlak.
"Lah, siapa juga yang menyuruh kalian datang ke kota ini?" jawab Citra enteng sambil membalikkan badan dengan gerakan cepat. "Kalau kalian lapar, sebelum kalian naik ke bukit ini, di bawah sana berderet banyak angkringan dan rumah makan. Kenapa kalian enggak modal sedikit buat makan di sana? Aneh."
Tanpa menunggu jawaban atau makian selanjutnya dari ketiga orang parasit tersebut, Citra melangkah pergi membelah kegelapan malam yang mulai turun. Ia berjalan mantap, meninggalkan Sutirah, Satim, dan Susan yang berteriak geram memanggil namanya di atas puncak bukit yang sunyi.
***
Beberapa jam sebelumnya...
Suasana di dalam kamar kos petak tempat Citra tinggal mendadak berubah mencekam oleh kepanikan yang merayap cepat. Di dalam ruangan itu, Elang, Surya, dan Kirana tengah bergerak gelisah, sibuk memikirkan berbagai kemungkinan buruk tentang hilangnya Citra yang seolah tiba-tiba lenyap ditelan bumi.
"Citra... lo sebenarnya ke mana sih..." gerutu Kirana sembari mondar-mandir di depan pintu. Jarinya tak henti menekan layar ponsel, mencoba menghubungi nomor Citra yang berulang kali hanya dijawab oleh nada dialek operator yang dingin.
Baru kali ini dalam sejarah pertemanan mereka, Citra pergi begitu saja tanpa pamit. Biasanya, sekecil apa pun urusannya atau ke mana pun kakinya melangkah, gadis itu pasti selalu memberi tahu Kirana. Namun kali ini, Citra benar-benar menghilang tanpa meninggalkan jejak sepotong pun.
Rasa khawatir yang membakar dada membuat ketiganya tidak bisa berpikir jernih. Seluruh penjuru jalan di sekitar area kampus sudah mereka sisir habis. Mereka bahkan sudah mendatangi lokasi Angkringan Tenda Arema hingga mengecek ke sudut-sudut sunyi Perpustakaan Pusat Kampus, namun hasilnya tetap nihil. Surya bahkan mengambil keputusan ekstrem dengan membatalkan jadwal jualan angkringannya malam ini. Baginya, keselamatan dan keberadaan Citra jauh lebih berharga daripada pundi-pundi rupiah dari para pelanggan setia.
Kini, dengan tubuh yang didera kelelahan fisik dan mental, mereka terpaksa kembali ke kosan. Malam sudah bergeser semakin larut, melampaui batas wajar, tetapi tanda-tanda kepulangan Citra masih belum terekam oleh netra mereka.
"Jujur sama gue, Lang. Orang terakhir yang ketemu dan barengan sama Citra itu... lo, kan?" tanya Surya. Matanya menatap lekat ke arah Elang yang sejak tadi duduk meringkuk di sudut ruangan dengan wajah murung dan tatapan kosong.
Elang mengembuskan napas pendek yang terasa berat, lalu mendongak lambat. "Tadi siang, gue ajak Citra ke gedung Perusahaan Dirgantara Perkasa. Gue berniat ketemu Pak Banyu. Tapi... kami bahkan enggak diizinkan masuk sama satpam di depan. Citra saat itu sempat kelihatan marah banget, aura tubuhnya mendadak dingin. Tapi langsung gue cegah dan..."
"Apa? Citra marah?!" Kirana langsung memotong penjelasan Elang dengan nada suara meninggi, penuh ketidakpercayaan. "Gue enggak percaya ya, Lang. Citra itu orang paling sabar dan lempeng yang pernah gue kenal. Apa lo cuma ngarang cerita buat pembelaan diri?"
"Gue enggak ngarang cerita, Nana!" jawab Elang, nadanya bergetar oleh rasa frustrasi yang memuncak. Ia kembali menyandarkan kepala ke dinding semen kontrakan yang dingin, memijat pelipisnya yang berdepan nyeri. "Gue sendiri juga heran dan bingung. Tadi siang itu, Citra kelihatan seperti orang lain. Dia seolah hampir enggak bisa mengendalikan emosi dan dirinya sendiri."
Kirana seketika terdiam, mencerna kalimat Elang dengan saksama. Sementara Surya masih memandang lekat sahabat sekaligus bosnya itu, mencoba membaca apakah ada kebohongan yang disembunyikan.
"Jangan bilang... lo sempat berantem sama dia di sana?" Kali ini Surya yang angkat bicara, mencoba menelisik lebih dalam.
"Berantem apa sih, Sur? Gue enggak ada konflik atau adu mulut sama sekali sama dia," sangkal Elang cepat. Suaranya melemah, sarat akan rasa bersalah yang tak beralasan. "Gue juga heran, kenapa setelah gue ajak dia berbelanja di mal, Citra mendadak memilih pamit buat pulang sendiri..."
"Dan lo membiarkan dia pulang sendirian begitu aja?!" Kali ini, giliran Kirana yang memotong pembicaraan Elang dengan tatapan mata menghujam tajam.
"Lah, kan biasanya juga begitu, Nana! Citra selalu mandiri dan selama ini enggak pernah ada masalah apa-apa kalau dia balik sendiri," ucap Elang membela diri. Meski di dalam lubuk hati, ia merutuki kebodohannya sendiri mengapa tidak menahan gadis itu tadi siang.
Tepat saat ketiganya tenggelam dalam pusaran kebingungan dan kecemasan yang kian mencekik, sebuah suara familiar yang sejak tadi mereka tunggu-tunggu mendadak terdengar dari arah pintu depan yang terbuka.
"Haduh! Kalian ini gimana, sih? Kenapa enggak ada yang bilang ke gue kalau malam ini angkringan tutup sementara?"
Citra melangkah masuk ke dalam kosan dengan napas yang agak memburu. "Tadi gue langsung jalan ke lokasi tenda, eh tahunya angkringannya tu..."
Belum sempat Citra menyelesaikan kalimatnya, sebuah pergerakan kilat memotong udara. Tanpa aba-aba, Elang langsung menghambur maju. Sebuah pelukan erat mendarat sempurna di tubuh Citra. Elang mendekap raga gadis itu dengan begitu posesif dan dalam, menyalurkan seluruh rasa takut, panik, dan kelegaan yang sempat mengoyak dadanya selama berjam-jam ini. Ia benar-benar tidak memedulikan keberadaan Surya dan Kirana yang seketika terbengong kaget dengan mulut setengah terbuka di belakang mereka.
"Aih, aih! Lepas! Bukan muhrim, woi!" Kirana yang pertama kali sadar dari keterkejutannya langsung bergerak cepat. Ia meraih kerah bagian belakang baju Elang, lalu menyeret cowok itu mundur dengan paksa untuk memisahkan keduanya.
Dipeluk secara mendadak seperti itu, wajah Citra seketika merona merah sempurna hingga ke batas telinganya. Ada debaran aneh yang asing bagi batin kesatrianya.
"Maaf... Maaf, gue refleks. Gue benar-benar terlalu khawatir sama keadaan lo," ucap Elang bergegas setelah berhasil menenangkan debaran jantungnya sendiri, sembari menatap Citra dari ujung rambut hingga ujung kaki untuk memastikan tidak ada luka. "Lo sebenarnya dari mana aja?"
Namun, belum sempat bibir Citra terbuka untuk memberikan jawaban...
"Cih. Ini tempat tinggal manusia atau kandang apa sih? Kok sempit dan pengap banget."
Sebuah suara cempreng yang sarat akan nada penghinaan terdengar jelas memotong atmosfer hangat di dalam ruangan tersebut. Dari balik punggung Citra, sosok Susan melangkah masuk tanpa permisi dengan memasang wajah masam, disusul oleh Sutirah dan Satim yang mengekor di belakangnya dengan tatapan mata yang menilai rendah isi kosan tersebut.
[Bersambung]
like+ bunga🌹🤭
kalo berkenan mampir ya thor😉