Berawal dari kejadian beberapa tahun lalu, Intan bertekad untuk menjadi seorang pengacara agar dapat membela hak-hak orang tuanya.
Gayung pun bersambut, seorang pengacara terkenal yang dikenalnya 1 tahun lalu menawarkan dirinya untuk menjadi sekretarisnya.
Intanpun menerima tawaran itu dan bekerja di sana. Seiring berjalannya waktu, akhirnya merekapun menjalin hubungan. Hubungan mereka terlihat sangat bahagia hingga akhirnya Intan mengetahui bahwa Pak Hendra sudah mempunyai istri dan anak.
Bagaimana kisah selanjutnya? Silahkan di baca dalam novel "Aku memilih pergi"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 24- Tamu tak di undang
Keesokan harinya, Pak Hendra memutuskan untuk masuk kantor dan berencana untuk pulang ke rumahnya setelah dari kantor.
"Sayang, aku langsung pulang ke rumah yaa, nanti Pak Ilyas yang akan mengantarmu pulang," ucap Pak Hendra setelah jam pulang kantor tiba.
"Iya sayang" jawab Intan.
Setelah merapikan mejanya, Intan lalu bergegas turun ke bawah bersama Pak Hendra. Di bawah Pak Ilyas sudah menunggu.
"Pak, hati-hati nyetirnya yaa," ucap Pak Hendra pada Pak Ilyas.
"Iya Pak."
Lalu Pak Hendra beralih ke arah Intan.
"Nanti aku telpon yaa," ucap Pak Hendra.
"Iya" jawab Intan singkat.
Setelah mobil yang di tumpangi Intan berlalu, Pak Hendra bergegas naik ke mobilnya. Sekitar hampir dua jam berkendara di tengah macet, akhirnya dia memasuki kompleks perumahannya. Namun baru sekitar seratus meter dari rumah, Pak Hendra melihat ada sebuah taksi yang terparkir di depan rumahnya. Pak Hendra bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan orang yang bertamu ke rumahnya. Dia merasa tak pernah mendapat kabar jika akan kedatangan tamu.
Setelah memarkir mobilnya, diapun bergegas masuk. Di depan pintu, dia berpapasan dengan seorang lelaki separuh baya, yang tak lain adalah supir taksi yang berada di depan rumahnya. Diapun masuk dan melihat ada dua koper besar yang berada di depan pintu.
"Bi, bibi!" panggil Pak Hendra sambil mencari pembantunya di dapur.
Namun beberapa saat Pak Hendra terkejut melihat seorang wanita yang sedang meneguk segelas air.
"Susan! ngapain kamu kesini?" tanya Pak Hendra dengan nada kesal.
"Sayang, kok kamu nanya gitu sih! Aku ini masih istrimu loh!" jawab Susan dengan suara manja yang di buat-buat.
"Istri? Sekarang kamu keluar dan jangan pernah kembali lagi ke rumahku!" teriak Pak Hendra dengan geram sambil menarik tangan susan.
"Aww, sakit sayang, kok kamu sekarang jadi kasar ke aku," ucap Susan dengan nada manja yang memuakkan.
Namun bukannya melepaskan tangannya, Pak Hendra semakin keras menarik susan hingga membuat susan hampir terjatuh.
"Aww sakit, lepasin aku!" pinta Susan dengan sedikit jengkel.
Namun Pak Hendra tak peduli dengan rengekan susan. Dia terus menariknya hingga di depan pintu dan melempar kedua kopernya ke depan.
"Pergi ke rumahku sekarang juga!" teriak Pak Hendra dengan geram hingga membuat wajahnya memerah.
"Aku ngga akan pergi, ngga akan pernah!" teriak susan seakan menentang Pak Hendra.
"Apa? Kamu ngga mau pergi! Kamu ngga punya hak sama sekali dan tak pantas untuk menginjakkan kakimu di rumahku! Jadi, silahkan pergi selagi aku masih mempunyai kesabaran!" ucap Pak Hendra sambil menahan geram.
"Aku akan tinggal disini," ujar Susan dengan santai seakan tak ada yang terjadi.
"Apa?"
"Iya aku akan tinggal di sini," ucap Susan sekali lagi yang membuat Pak Hendra semakin emosi.
"Kamu sudah gila yaa, apa kamu pikir aku akan membiarkan kamu tinggal di sini? kamu jangan mimpi. Sekarang silahkan keluar dari rumahku sebelum aku menelpon polisi untuk menyeretmu keluar!" perintah Pak Hendra gemetar menahan emosi.
"Silahkan! Dan ketika kamu menelpon polisi, akupun akan menelpon ayah bahwa menantu kesayangannya melaporkan istrinya ke polisi karena masuk ke rumahnya sendiri!" balas susan dengan santai sambil mempermainkan ujung rambutnya.
Pak Hendra terkejut mendengar apa yang dikatakan susan. Dia tak bisa berkata apa-apa namun terdengar jelas gemerutuk giginya menahan emosi. Dengan tangan terkepal, dia menatap tajam ke arah susan. Dia ingin mengatakan sumpah serapah padanya, namun dia menyadari bahwa semuanya percuma. Karena susan adalah wanita yang berhati iblis. Lalu Pak Hendra keluar dengan amarah yang masih membuncah.
******
Sementara waktu sudah hampir pukul sembilan malam, Intan dengan gelisah terus melihat ponselnya. Sudah berjam-jam yang lalu namun Pak Hendra belum menghubunginya. Tidak biasanya dia sperti itu. Intan khawatir terjadi apa-apa pada Pak Hendra. Karena sudah lama menunggu dan tak ada kabar, akhirnya Intan mengambil ponselnya dan menelpon.
"Halo...," ucap Intan.
"Halo sayang, aku minta maaf karena tak sempat mengabari kamu tadi, karena ada tamu mendadak yang datang" ucap Pak Hendra menyadari kesalahannya.
"Iya sayang, ngga apa-apa, aku hanya khawatir kalau terjadi apa-apa." balas Intan.
"Ngga, aku baik-baik aja kok," ucap Pak Hendra.
"Ya udah, kalo gitu Mas istrahat aja," ucap Intan.
"Aku akan tidur di sana," ujar Pak Hendra tiba-tiba.
"Loh, katanya mau tidur dirumah, kenapa sekarang berubah." tanya Intan.
"Ngga, aku hanya kangen aja," jawab Pak Hendra.
"Iiihh Mas suka ngegombal," ucap Intan tersenyum malu-malu.
"Ya udah, hati-hati nyetirnya sayang," ucap Intan lagi.
"Iya sayang," balas Pak Hendra.
Sekitar satu jam lebih Pak Hendra tiba di komplek perumahan gloria. Intan sudah menunggunya di ruangan lantai dua.
"Mas Hendra kenapa?" tanya Intan yang heran melihat wajah Pak Hendra murung.
"Aku ngga apa-apa kok sayang, mungkin aku hanya lelah" jawab Pak Hendra.
"Yaa udah kalo gitu Mas istrahat aja," balas Intan.
"Sayang, buatin aku coklat panas yaa," pinta Pak Hendra.
"Iya Mas," jawab Intan.
Sambil membuat minuman, Intan mulai berfikir.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi, Mas Hendra tidak biasanya seperti itu, apalagi pakainnya juga terlihat acak-acakan." gumam Intan penasaran.
Setelah membuat minuman, Intan lalu mengantarnya ke kamar Pak Hendra. Setelah masuk, Intan langsung meletakkan gelas di atas meja karena Pak Hendra sedang mandi. Karena tak ingin mengganggu waktu istrahatnya, Intan lalu bergegas keluar. Namun belum sempat Intan membuka pintu, Pak Hendra menghentikannya. Intan yang melihat Pak Hendra hanya memakai handuk dengan dada bertelanjang, seketika berpaling. Sekalipun hubungan mereka sudah sangat dekat Intan masih belum terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Pak Hendra yang melihat tingkah Intan hanya tersenyum.
"Sayang, sini," panggil Pak Hendra.
Intan berjalan mendekat ke arah Pak Hendra. Lalu tiba-tiba Pak Hendra langsung memeluknya. Intan yang langsung mendapatkan pelukan kaget. Pak Hendra menyadarinya.
"Aku ngga akan macam-macam, aku hanya ingin memelukmu sebentar saja." ucap Pak Hendra dengan suara terdengar lelah.
Intanpun membiarkan Pak Hendra memeluknya. Keyakinananya semakin bertambah bahwa memang sudah terjadi sesuatu di rumah Pak Hendra yang membuatnya begitu tertekan. Diapun mulai mengelus-ngelus belakang punggung Pak Hendra seakan mengatakan bahwa, "Aku akan selalu berada di sisimu apapun yang terjadi".
Pak Hendra semakin mengeratkan pelukannya. Dia merasakan kelegaan. Sekitar dua menit mereka berpelukan akhirnya Pak Hendra melapaskannya.
"Sayang," panggil Pak Hendra sambil menatap Intan dengan syahdu.
"Ya" jawab Intan membalas tatapan Pak Hendra.
" Kamu sayang ngga sama aku," tanya Pak Hendra.
"Pastilah aku sayang, sayanggg banget ama Mas," jawab Intan meyakinkan.
"Kamu ngga akan ninggalin aku kan?" tanya Pak Hendra seakan Intan akan meninggalkannya.
"Iya, aku ngga akan ninggalin kamu," jawab Intan.
"Apapun yang terjadi?" desak Pak Hendra.
"Iya, aku ngga akan pernah ninggalin Mas Hendra apapun yang terjadi. Aku akan selalu ada di sisimu sayang," jawab Intan berusaha meyakinkan.
"Kamu janji," ujar Pak Hendra masih belum yakin.
"Iya, aku janji."
Pak Hendra kemudian memeluk Intan dengan begitu erat, seakan mengatakan "Jangan pernah tinggalin aku".
"Mas, kalau ada masalah, Mas Hendra bisa bicara. Jangan di pendam sendiri." pinta Intan setelah melepas pelukan.
"Maaf sayang, untuk saat ini, aku benar-benar ngga bisa cerita. Tapi aku janji, aku akan cerita ke kamu kalau waktunya tiba," balas Pak Hendra yang menyadari bahwa Intan tahu kalau ada masalah yang sedang menderanya.
"Iya Mas, aku akan selalu siap mendengarkannya kapanpun itu." balas Intan.
"Terima kasih sayang."
"Yaa udah, sekarang Mas pakai baju dan istrahat yaa. Aku ke kamar dulu." ujar Intan sambil mengelus lembut pipi Pak Hendra.
"Iya sayang," balas Pak Hendra sambil mencium tangan Intan yang berada di pipinya.
Intan hanya tersenyum dan beberapa saat kemudian dia berlalu dengan di iringi tatapan syahdu dari Pak Hendra.
terbaik kak thor 🥰🥰
mantap.