Alya adalah mahasiswi cantik yang masih polos. ia sangat manis dan ceria. suatu hari kecelakaan saat mereka pergi berlibur telah menewaskan ibunya.
ayahnya lalu menikah sepeninggal ibunya. lima tahun setelah ayahnya menikah dengan ibunya. ayahnya meninggal karena serangan jantung. kini ia hidup dengan ibu tirinya berdua saja. namun sejam lima bulan meninggalnya ayahnya, ibunya akhirnya memiliki pacar baru. dilema muncul saat calon ayah tirinya jatuh cinta padanya. apa yang harus Alya lakukan dengan keadaan itu. sementara ayah tirinya adalah crussnya saat sekolah dulu. Di balik itu dia punya pacar bernama Anjasmara seorang penderita NPD temperamen yang terlalu mencintainya. Akankan dia bisa menghadapi kedua lelaki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM ANJASMARA
Anjasmara masih mengepalkan tinjunya. Sudah seharian dia duduk di bangku kios rokok yang berseberangan dengan tempat kos Alya. Sesekali dia menghisap rokoknya. Rasa kesal yang membuncah di dadanya terlihat jelas di matanya.
Matanya awas melihat orang lalu-lalang di depan kos itu. Begitu juga yang keluar masuk dari kos itu.
"Udah, Bang, gak bakal ada orangnya. Saya kan tiap hari di sini. Dek Alya udah gak tinggal di sana lagi. Sudah pindah."
"Ah, saya juga tahu Bang."
"Ya udah Bang, saya cuma ngasih tahu saja. Jangan diambil pusing."
Yang punya kios itu balik lagi ke dalam kiosnya yang berukuran mini banget. Sementara Anjasmara masih sama dengan tingkah polahnya dari tadi.
Dia tidak suka kalau ditanya-tanya kalau lagi kalut begitu. Padahal, dia lagi numpang duduk di sana. Tapi lagunya minta ampun sombongnya.
Diambilnya minuman dingin di kulkas yang persis di sendirian dekat pintu kios itu. Lalu ia membayar dengan uang 6 ribu. Di atas meja kecil sudah empat botol ada di sana, dua air mineral dan dua teh pucuk.
Sangat tidak masuk akal kalau dia 24 jam menunggu di sana. Kemarin-kemarin, dia cuma sesekali ke sana, tapi setelah empat hari menghilangnya Alya, Anjasmara seakan tidak kuasa.
Dulu saja sehari gak nelpon dan ketemuan dengan Alya dia semaput. Dia samperin Alya di kampusnya. Teman-teman Alya jadi paham kenapa Alya suka terburu-buru pulang. Yang lebih ekstrim lagi, Alya tidak mau lagi terlalu akrab dengan teman laki-laki. Bahkan tuk sekedar bertegur sapa saja Alya enggan.
"Alya, kamu aneh banget sih sekarang."
"Aneh gimana?"
"Ya beda aja, gak kayak Alya yang kukenal dulu." Nila mencoba mengorek-ngorek jawaban padanya.
"Tidak ada yang berbeda, Nila. Aku masih sama seperti dulu."
"Itu, anak cowok pada curhat, katanya Alya beda sikap sekarang. Sekarang nampak dingin. Gak mau lagi bercanda sama mereka. Nyala pun kadang enggak kalau papasan."
"Masih kok, cuma mengurangi aja."
"Dilarang cowokmu, ya?"
"Mmmm."
Cuma itu yang meluncur dari lisannya Alya. Tidak mungkin dia jujur bagaimana Anjasmara over protective pada dirinya selama ini. Cemburunya gak main-main. Plus makiannya bila Alya dicurigai macam-macam.
"Trus apaan tuh, sekarang gak mau salaman sama cowok-cowok? Kamu sok suci kelihatannya."
"Nila, bukan begitu, kan memang gak muhrim Nil, jadi yaa gitu deh salamannya."
"Pret, gak muhrim, kalau sama yang lain bilangnya gak muhrim, tapi. Kalau sama pacar sendiri boleh gitu."
"Nila, maaf banget, aku pulang dulu. Gak mau debat sama kamu. Kamu teman aku, tapi bukan berarti bisa ngatur sikap dan tingkah laku ku."
"Aku pulang dulu, ya."
"Ya udah, Alya, aku minta maaf juga."
"Ya, dah, aku balik ya."
Dan seperti biasa sudah ada Anjasmara di parkiran.
***
Anjasmara mencek sosial media miliknya. Lagi-lagi emosinya kumat lagi. Alya memblokir dirinya. Dia gak bisa kirim DM atau pun chat pada Alya.
"Shit!"
Dia menggebrak meja.
BRAK
Yang punya kios melongok ke luar kios. Melihat ke arah Anjasmara.
"Bang, mending lu pergi dah, Bang. Udah gue bilang kagak ada pacar lu di sini lagi. Dari pada lapak gue berantakan gara-gara lu lampiaskan emosi di sini."
Anjasmara melempar botol ke tempat sampah, lalu ngeloyor pergi dari sana.
karena vivi itu licik