--Lebih baik menyinggung Raja Neraka, daripada menyinggung Feng Yaorao--
Dunia mengenal Feng Yaorao, putri sulung keluarga Feng, sebagai gadis yang pemalu, lemah dan tidak berpendidikan. Mereka menganggapnya sampah tak berguna yang bisa ditindas sesuka hati. Namun, mereka tidak tahu bahwa setelah sebuah kemalangan merenggut nyawanya, jiwa gadis lemah itu telah digantikan oleh seorang Top Assassin berdarah dingin dari Abad ke -24.
Licik, kejam, dan pendendam. Feng Yaorao yang baru tidak akan membiarkan siapapun yang menyakitinya lolos begitu saja. Siapapun yang berhutang padanya, harus membayar dengan darah. Siapapun yang menghalanginya, akan berakhir di kuburan massal.
Mengandalkan insting membunuh yang tajam serta Ular Darah-- makhluk spiritual mistis di dalam tubuhnya yang bisa bertransformasi menjadi cambuk mematikan, dia siap membalikkan dunia kuno ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - Teringat Kakak Laki-laki
Di permukaan, Feng Yaorao tampak seperti gadis kaya manja yang hanya tahu cara makan, minum, dan bersenang-senang demi memuaskan ego pribadinya.
Namun di balik kedok menipu itu, dia sejatinya adalah seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi di dunia bawah abad ke -24, sosok mengerikan yang ditakuti baik oleh dunia hukum yang sah maupun oleh lingkaran terdalam dunia bawah.
Meskipun statusnya diakui sebagai pembunuh bayaran terbaik di seluruh penjuru dunia bawah, dia selalu memilih jalan hidup yang mandiri dan menyendiri. Dia menolak bergabung dengan organisasi manapun atau membiarkan kebebasannya dikendalikan oleh siapapun.
Dia hanya menerima misi sesuai dengan keinginannya sendiri, dan begitu dia memutuskan untuk mengambil sebuah misi, lembar catatan karirnya tidak pernah terisi satu kata– kegagalan.
Oleh karena itu, rekam jejak emasnya ini telah menarik banyak minat organisasi besar yang ingin membawa dirinya ke bawah naungan kekuasaan mereka. Tapi bagaimana mungkin seseorang yang memiliki jiwa sebebas dirinya bisa menyetujui kekangan seperti itu.
Akibat dari penolakan-penolakan kerasnya, dia berakhir menjadi target perburuan yang tak henti-hentinya oleh berbagai organisasi dari negara berbeda. Pada suatu pertempuran besar di masa lalu, dalam situasi yang sangat berbahaya, kakak laki-lakinya nekat menerima hujan peluru demi menyelamatkannya. Kejadian berdarah itulah yang memisahkan mereka berdua selamanya.
Meskipun dia dan kakak laki-lakinya tidak memiliki hubungan darah, kakak laki-lakinya itu selalu memperlakukannya dengan baik melebihi kebaikan apapun di dunia ini. Terlebih lagi, dari ingatan bawah sadarnya yang paling dalam, dia tahu jika kakak laki-lakinya tidak mengadopsinya dari jalanan yang dingin itu, dia tidak akan pernah mampu bertahan hidup seorang diri pada usia lima tahun.
Sepanjang ingatannya, dia hanya pernah meneteskan air mata sekali seumur hidup sejak dia cukup dewasa untuk memahami betapa kerasnya berbagai hal di dunia ini. Namun, tangisannya pecah lagi ketika kakak laki-lakinya meninggal di pelukannya. Saat itu, dia menangis hingga air matanya tidak mengalir lagi.
Sebelumnya, bahkan saat harus menjalani latihan fisik yang sangat melelahkan, betapapun sulitnya, atau menyakitkan luka yang dia terima, dia selalu menggertakkan giginya dan menanggung semuanya dalam keheningan yang tegar.
Namun kini, kehadiran Qin Yuyan yang tak terduga dan sorot matanya yang penuh kekhawatiran, tiba-tiba mengingatkannya kembali pada sosok kakak laki-lakinya. Perasaan perhatian yang tulus, perlindungan yang protektif, serta kelembutan yang hangat langsung menyentuh bagian hatinya yang paling rentan dan paling tersembunyi selama ini.
Melihat Feng Yaorao hanya berdiri terpaku di sana dengan tatapan kosong, kecemasan di hati Qin Yuyan semakin memuncak. Dia bertanya lagi dengan panik, “Rao'er, ada apa? Apa kau benar-benar baik-baik saja? Katakan padaku jika ada yang sakit, jangan menakut-nakutiku seperti ini!”
“Sepupu…”
Feng Yaorao langsung tersadar dari lamunannya. Mengikuti luapan emosi di hatinya, dia tiba-tiba memeluk Qin Yuyan dengan erat.
Qin Yuyan seketika membatu, terkejut dengan tindakan berani Feng Yaorao. Menelusuri kenangan dalam ingatannya, sepupunya ini selalu bersikap pemalu dan tidak suka berbicara dengannya, sehingga hubungan mereka selama ini tidak bisa dikatakan dekat, bahkan hampir tidak mungkin bagi mereka untuk berpelukan seperti ini.
Namun kini, Feng Yaorao justru dengan sukarela melemparkan dirinya ke dalam pelukannya. Tanpa sadar, Qin Yuyan hendak mendorongnya menjauh demi kesopanan.
Namun, saat berpikir bahwa Feng Yaorao mungkin telah mengalami kejadian yang menyakitkan selama beberapa hari ini hingga memeluknya seperti ini, dia mengurungkan niatnya dan tidak mendorongnya.
Namun tetap saja, karena aturan tata krama menegaskan bahwa pria dan wanita seharusnya tidak bersentuhan fisik, hatinya dilanda kebingungan dan kecanggungan yang luar biasa.
Semua orang di tempat itu juga terkejut melihat pemandangan intim tersebut, terutama Chi Feng, yang matanya melebar karena syok. Dia tahu gadis berbaju merah ini memang sudah blak-blakan sejak pertama kali bertemu, tapi bagaimana mungkin tindakannya di depan begitu banyak orang begitu tidak terkendali? Apakah dia tidak mengerti tata krama kesopanan yang paling dasar sekalipun?
Sambil memikirkan hal tersebut dalam benaknya, Chi Feng tak bisa menahan diri untuk menegurnya, “Nona Feng, apakah kau tidak tahu bahwa pria dan wanita yang belum menikah tidak boleh saling menyentuh? Meskipun Tuan Muda Qin adalah sepupumu, kau tidak bisa bersikap begitu lancang, terutama di depan banyak orang seperti ini!”
Suara teguran Chi Feng seketika memecah suasana dan menarik perhatian semua orang. Menyadari keberadaan Pangeran Cang Yao, Qin Yuyan perlahan mendorong lembut Feng Yaorao dari pelukannya. Dia segera merapatkankan jemarinya dan membungkuk memberi hormat kepada Pangeran Cang Yao sembari berkata lantang, “Salam, Yang Mulia Pangeran Yao.”
Meskipun dia tahu pangeran di hadapannya adalah seorang idiot, dia tidak pernah mendiskriminasi atau memandang rendahnya. Karena baginya, entah seseorang terlahir idiot atau di anggap sampah tak berguna, entah mereka berasal dari kalangan bangsawan atau rakyat biasa, mereka semua adalah sama– hanya manusia biasa ciptaan langit.
Karena pihak lain memiliki status resmi sebagai seorang pangeran kekaisaran, tentu saja dia tidak akan mengabaikan tata krama kesopanan yang semestinya.
Para prajurit yang datang bersama Qin Yuyan juga buru-buru melompat turun dari atas pelana kuda mereka dan ikut membungkuk memberi hormat kepada Pangeran Cang Yao.
Meskipun sebenarnya mereka memandang rendah pangeran yang bodoh ini, bagaimanapun juga secara hukum dia tetaplah seorang pangeran dan merupakan putra yang paling disayangi oleh Kaisar. Oleh karena itu, mereka tetap wajib memberi hormat padanya.
“Salam, Yang Mulia Pangeran Yao,” seru semua prajurit sembari membungkukkan punggung mereka.
“Tidak perlu formalitas,” suara kekanak-kanakan Pangeran Cang Yao menyahut, namun anehnya, kali ini mengandung aura wibawa yang samar.
Meskipun tingkat kecerdasan Pangeran Cang Yao dianggap hanya setara dengan anak kecil berusia delapan tahun, dia sebenarnya telah tumbuh sebagai anak yang normal sebelum menginjak usia itu. Saat itu, Pangeran Cang Yao sudah tumbuh menjadi anak yang sangat bijaksana, jadi tidak peduli separah apapun kondisi mentalnya sekarang, temperamen mulia khas keluarga kerajaan masih tertanam kuat di dalam dirinya.
“Terima kasih, Yang Mulia Pangeran.”
Para prajurit berterima kasih, lalu kembali menegakkan punggung mereka.
Pada saat itulah, Qin Yuyan menyadari bahwa Feng Yaorao ternyata bepergian bersama Pangeran Cang Yao.
Namun, dia tahu bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk menanyakannya. Hal yang paling mendesak baginya sekarang adalah membawa Feng Yaorao pulang ke rumah secepat mungkin, karena kakeknya sudah sangat khawatir hingga hampir jatuh sakit.
“Ayo kita pergi dulu. Kita bisa membicarakan lainnya saat sudah sampai di rumah nanti. Kau tidak tahu betapa khawatirnya kami sejak kau menghilang selama beberapa hari ini. Aku sudah mencarimu ke seluruh penjuru ibu kota, hingga akhirnya kami mendengar informasi dari penjaga gerbang di kota bahwa kau telah meninggalkan kota. Aku langsung memimpin pasukan keluar kota untuk mencarimu, dan untungnya kau baik-baik saja.” ucap Qin Yuyan panjang lebar. Setelah itu, dia melambaikan tangannya, menyuruh beberapa prajurit memberikan kuda cadangan kepada Feng Yaorao, Pangeran Cang Yao dan juga Chi Feng.
Mendengar perhatian yang begitu besar dari sepupunya, hati dingin Feng Yaorao kembali terharu.
Ternyata, memiliki keluarga yang tulus mengkhawatirkan dirinya rasanya sungguh menyenangkan. Namun di saat yang sama, begitu memikirkan ayah kandung pemilik tubuh ini dan seluruh anggota keluarga Feng yang kejam, hawa dingin seketika merayap kembali menutupi hatinya yang baru saja mencair. Dia bersumpah bahwa dia akan segera membalas dendam atas semua perbuatan mereka pada pemilik tubuh ini.
“Kuharap kalian berdua merahasiakan apa yang terjadi selama dua hari terakhir ini, kalau tidak, jangan salahkan aku bersikap kejam pada kalian,” sebelum melangkah pergi menuju kudanya, Feng Yaorao berbalik dan memberikan peringatan tajam kepada Pangeran Cang Yao dan Chi Feng, karena untuk saat ini dia belum ingin mengungkapkan kekuatan aslinya kepada publik.
Meskipun merasa tidak senang dengan ancamannya, Chi Feng tetap menganggukkan kepalanya. Lagipula, dia bukanlah orang yang kurang kerjaan atau bosan sampai harus mengumbar urusan pribadi orang lain kemana-mana.
Meskipun suara peringatan Feng Yaorao terdengar pelan, Qin Yuyan, yang memiliki energi dalam yang mendalam, masih dapat menangkap getaran suara itu dengan jelas.
Dia menoleh dan bertanya dengan bingung, “Rao'er, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Ceritanya sangat panjang. Mari kita bicarakan saat kita sampai di rumah nanti!” sahut Feng Yaorao singkat, lalu dengan gerakan lincah langsung menaiki punggung kudanya.
Tentu saja, apa yang akan mereka bicarakan di rumah nanti dan apa yang baru saja dia peringatkan kepada Chi Feng adalah dua hal yang berbeda.
Melihat sepupunya enggan memberitahunya sekarang, Qin Yuyan tidak bertanya lagi.
Setelah entah berapa lamanya, rombongan mereka akhirnya kembali memasuki ibu kota dengan aman.
Qin Yuyan mengirim beberapa prajurit pilihan untuk mengawal Pangeran Cang Yao kembali ke kediamannya. Sementara Feng Yaorao terus berjalan mengikuti Qin Yuyan untuk kembali ke Kediaman Adipati Qin.
Sebelumnya, di tengah perjalanan, Feng Yaorao telah diam-diam mengganti gaun merahnya dengan seragam prajurit biasa agar tidak dikenali, karena dia telah menyusun sebuah rencana.
Sementara itu, di dalam aula utama Kediaman Adipati Qin, Adipati Qin beserta anggota keluarga lainnya masih dilanda kekhawatiran.
Tepat ketika Adipati Qin yang sudah kelelahan hendak meminta putra dan menantunya untuk beristirahat, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah depan.
“Melapor Tuan Besar! Tuan Besar, Tuan, Nyonya, Tuan Muda Yuyan telah kembali!” seru seorang penjaga dengan nafas memburu.
Mendengar itu, Adipati Qin langsung berdiri tegak dari kursinya. Sorot kegembiraan memancar dari matanya yang sudah tua, tetapi di saat yang sama dia juga gelisah, bertanya-tanya apakah cucunya Rao'er telah kembali bersama cucunya Yan'er.
Bukan hanya Adipati Qin, tetapi Qin Yihan dan istrinya juga merasa cemas yang bercampur dengan harapan besar.
Adipati Qin buru-buru melangkah keluar melewati pintu aula utama dan hampir saja bertabrakan dengan penjaga yang datang berlari melaporkan berita itu. Dia bertanya dengan suara gemetar, “Bagaimana? Apakah Rao'er ikut kembali?”
Mendengar itu, penjaga itu tersentak kaget. Dia tahu bahwa tuannya sangat mengkhawatirkan hilangnya Feng Yaorao selama beberapa hari ini hingga tidak bisa tidur dan makan dengan baik. Tuannya mengerahkan banyak orang untuk melakukan pencarian besar-besaran di seluruh ibu kota hingga menimbulkan kekacauan.
Sekarang, Qin Yuyan yang memimpin pasukan untuk melakukan pencarian di luar kota telah kembali. Namun, di sepanjang rombongan tadi, dia tidak melihat keberadaan Feng Yaorao.
Maka, dengan tubuh yang gemetar ketakutan, dia menjawab pelan, “Menjawan Tuan Besar, hamba… hamba tidak melihat keberadaan Nona Muda Yaorao di rombongan Tuan Muda.”
“Apa?!”
Mendengar jawaban tersebut, seluruh sisa harapan Adipati Qin seketika hancur berantakan. Tubuh tuanya tersandung lemas dan hampir saja jatuh terjungkal ke lantai. Namun untungnya, Qin Yihan bergerak cepat menangkapnya.
Qin Yihan dan istrinya juga merasa lemas. Mungkinkah… sesuatu yang buruk benar-benar terjadi pada Rao'er di luar sana?
Tiba-tiba, Qin Yuyan yang mengenakan jubah putih bersih melangkah masuk melewati pintu gerbang halaman.
Seketika itu juga, semua pasang mata langsung tertuju pada Qin Yuyan, namun tidak ada satupun dari mereka yang memperhatikan prajurit kecil yang mengikutinya dari belakang.
semangat 💪💪💪 Ditunggu updatenya❤❤
ini baru dirimu yg sesungguhnya tegas, disiplin dan harus kejam tanpa ampun pd musuh 💪💪💪
lanjut..... lanjut lagi seruu bingit
semangat yaorao💪💪💪