Dirumah sakit Camilla bertemu Tante Itoh. tantenya yang kebetulan bekerja disana. Tiba-tiba tanpa sepengetahuan Camilla, Tante Itoh merencanakan pernikahan Camilla dengan anak temannya yang merupakan seorang dokter yang bekerja di Belanda. Yang dimana pernikahan mereka harus segera terjadi secepatnya.
mengapa Tante Itoh bersikeras menikahkan Camilla dengan teman anaknya?
baca terus sampai habis jika ingin mengetahui kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
*AMC Hospital, Amsterdam. 07.30 Pagi*
Ruang jaga masih sepi. Raffa Wicaksono udah rapi pake jas dokter, stetoskop ngegantung di leher, rambut disisir klimis. Bedanya sama di Indonesia, di sini nggak ada yang manggil "Mas Dokter", adanya "Dokter Wicaksono" atau "Raff".
"Morning, Raff!" sapa Dr. Adrian sambil nyodorin kopi item.
"Gimana minggu pertama? Istrimu udah nggak nyasar naik tram?"
Raffa nerima kopi, mukanya datar. "Dia hafal sekarang. Line 5 ke Zuidas."
"Wih, progress." Adrian ketawa.
"Eh, gua nonton vlog istri lu semalem. Yang di Vondelpark. Manis banget anjir."
Tangan Raffa yang mau nyeruput kopi berhenti di udara.
"lu subscribe?"
"Jelas. Subscriber cowok kan? Gua di urutan 4.312." Adrian menyodorkan HP didepan muka Raffa.
"Thumbnail-nya lu senyum. Pertama kali gua liat lu senyum tanpa disuruh kaprodi."
Raffa dehem kenceng. "Itu... angle kamera."
"Angle apaan, itu kecupan di pipi jelas banget keliatan bayangannya" ledek Adrian.
"Se-ICU pada nonton. Katanya dokter Wicaksono yang kaku udah meleleh."
Sebelum Raffa bisa ngebalas, pager-nya bunyi. Code Blue, ER Bay 3.
Profesional mode: ON.
Raffa naro kopi, langsung jalan cepet ke IGD. Mukanya balik jadi tembok. Dingin, fokus, nggak ada sisa-sisa suami yang salting karena ketahuan senyum.
*Jam 14.00, Ruang Radiologi*
"Fraksi ejeksi 32%, Dokter Wicaksono. Pasien dengan riwayat..." co-ass Belanda laporan pake bahasa Inggris.
Raffa ngangguk, matanya scan hasil echo di layar. Tangannya gerak nunjuk-nunjuk, ngasih instruksi cepet dan tepat.
"Contact cardio team. Kita butuh dobutamine stress echo sekarang. Dan..."
Drrt. HP di saku jasnya geter.
Raffa kerut alis. Jam kerja dia silent, cuma 3 orang yang bisa nembus: RS, ibu, dan... Camilla.
Dia ngelirik sekilas sambil tetep dengerin co-ass.
1 new message from: Istriku ❤️
Foto: Camilla selfie di dapur apartemen, mukanya belepotan tepung, nunjukin adonan gagal bentuk. Caption:
"Mas, aku bikin bitterballen tapi kok jadi bakwan?"
Sudut bibir Raffa naik 1mm. Refleks.
Co-ass yang ngeliat langsung diem. Dokter Belanda senior di sebelahnya juga nengok.
"Doctor Wicaksono, everything alright?"
Raffa langsung balik datar. Hapus senyum.
"Lanjut. Siapkan juga informed consent untuk keluarga."
Dia masukin HP ke saku lagi. Tapi 5 menit kemudian, pas lagi jalan ke ruang rawat, jarinya ngetik cepet:
To: Istriku ❤️
Tambah maizena 2 sendok. Jangan panik. Nanti malem saya bantu goreng.
Send. Terus HP masuk saku lagi, muka kembali jadi dokter kaku sejuta umat.
*Jam 19.40, Apartemen*
Raffa buka pintu, jasnya masih di lengan, dasi udah kendor. Badan capek, kepala penuh diagnosa.
Aromanya langsung aneh. Bau gosong campur keju.
"MAS!" Camilla nongol dari dapur pake apron muka cemas.
"Aku nurut resep Mas, tapi kok..."
Di meja makan, sepiring benda bulat-bulat gosong, sebagian pecah, keju meleleh kemana-mana. Tapi di sebelahnya ada 3 biji yang bulet sempurna, golden brown.
Raffa taro tas, cuci tangan, nggak komen. Dia ambil satu yang bagus, gigit.
Hening. Camilla nahan napas.
"...enak," kata Raffa.
Mata Camilla langsung berbinar.
"BENERAN? MAS NGGAK BOHONG KAN? Yang gosong jangan dimakan ya mas!"
Raffa ambil satu lagi yang gosong dikit, makan juga.
"Ini juga enak. Cuma... teksturnya crunchy."
Camilla ketawa lega, terus peluk lengan Raffa.
"Mas hebat banget, dikasih tau lewat chat langsung jadi. Pantesan subscriber aku bilang Mas pinter."
Raffa mau protes "jangan baca komen", tapi nggak jadi. Dia malah buka jas, gulung lengan kemeja.
"Mana adonan sisanya. Saya ajarin teknik muterinnya biar nggak pecah."
Dan jadilah dokter spesialis yang abis 12 jam jaga, sekarang ngajarin istrinya bikin bitterballen jam 8 malem. Kaku, ngedumel
"apinya kebesaran" tapi tangannya nuntun tangan Camilla yang belepotan buat ngebentuk adonan.
Camilla senyum-senyum ngeliat ke arah kamera HP yang dia taro di pojok. Rekam diam-diam.
Caption dalam hati: Dokter kaku kalau di RS. Tapi kalau di dapur, dia jadi guru paling sabar.
Raffa nengok. "Jangan di-upload yang ini."
"Kenapa mas?" Camilla polos.
"Karena... saya nggak pake jas dokter."
Camilla ngakak.
"apasih mas! Aku uploadnya besok. Judulnya: 'Dia yang Galak di RS, Lunak di Dapur'."
Raffa ngelus dada. Tapi tangannya tetep nggak berhenti ngajarin Camilla muterin adonan.