NovelToon NovelToon
Transmigration : Modern Life Of A Taoist Gril

Transmigration : Modern Life Of A Taoist Gril

Status: tamat
Genre:Gadis nakal / Transmigrasi / Time Travel / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:144.5k
Nilai: 5
Nama Author: blumoon

Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.


---

CATATAN PENULIS

Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

patung fengshui di dalam mobil

Setelah semua persiapan untuk hari esok selesai, Fengyun dan Qinglan mengantar Xinyao kembali ke apartemennya. Mobil hitam itu melaju stabil di tengah jalanan kota yang mulai lengang, namun suasana di dalam kabin terasa berat, seolah udara ikut mengeras.

Tak ada yang berbicara.

Mesin mobil berdengung pelan, lampu jalan bergantian menyinari wajah mereka namun keheningan itu justru membuat perasaan semakin tidak nyaman.

“Yao Yao…”

Qinglan akhirnya menyerah pada suasana. Ia menyapa dengan suara manja, lalu bergayut di lengan Xinyao, mengguncangnya pelan seperti anak kecil yang minta dimaafkan.

“Jangan marah, plis…”

Xinyao melirik sekilas.

Bibirnya mengerucut kesal, alisnya bertaut rapat.

“Aku enggak marah,” jawabnya dingin.

“Cuma… kesal aja.”

Nada suaranya datar, tapi emosinya jelas belum turun.

Fengyun yang duduk di sisi lain menarik napas pelan.

“Maaf… aku refleks. Soalnya Zhenhao—”

Ucapan itu menggantung.

“Refleks si refleks,” potong Xinyao cepat.

“Tapi siapa yang tiba-tiba jadi tunanganmu, ha?”

Nada suaranya naik satu oktaf, tajam dan penuh tuduhan.

Huh.

Xinyao mendengus, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela, jelas tidak ingin menatap Fengyun.

Keheningan kembali turun.

Namun kali ini

“Kalau begitu…”

suara Fengyun terdengar tenang, terlalu tenang.

“Bagaimana kalau kita buat jadi kenyataan saja.”

HAH?!

Dalam satu detik

Xinyao dan Qinglan serentak menoleh.

Mata mereka membelalak.

“Astaga… bodohnya Gege,” gumam Qinglan lirih sambil menepuk jidatnya sendiri, wajahnya menunjukkan campuran panik dan malu.

Sedangkan Xinyao

Ia membeku.

Tubuhnya menegang, napasnya tertahan setengah detik. Pipinya perlahan memerah, hangat menjalar sampai ke telinga. Ia buru-buru mengatur napas, berusaha terlihat biasa saja meski jelas gagal.

PLAK.

Dengan gerakan cepat dan spontan, Xinyao mengeluarkan sebuah jimat, lalu menempelkannya tepat di pipi Fengyun.

“Kayaknya…”

ia menatapnya dingin.

“Kalau kamu diem begini, lebih baik.”

Huh.

Xinyao menarik napas panjang, dadanya naik turun.

“Dasar pria zaman sekarang,” gumamnya sangat pelan.

“Enggak tahu caranya merayu.”

Saking lirihnya, tak seorang pun mendengarnya.

“Emmm…”

Fengyun tak bisa bicara, namun tubuhnya masih bebas bergerak. Ia menoleh ke Xinyao, lalu menariknya perlahan ke arah dirinya.

Jarak mereka menyempit.

Mata bertemu.

“Emmmm…”

(dari gerak bibirnya jelas terbaca: Lepaskan… atau aku akan mencium kamu.)

Ia menunjuk mulutnya sendiri, lalu ke jimat di pipinya.

Heh.

Xinyao melengos, pura-pura tidak melihat.

Di sisi lain, Qinglan sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar menahan tawa.

“Emmmm.”

(kini Fengyun menoleh tajam ke Qinglan: Tutup mata… atau turun jabatan.)

Tatapan itu dingin dan penuh ancaman.

‘Bahkan tanpa Gege bicara, aku tahu,’

batin Qinglan cepat.

‘Kalau aku terus lihat, jabatanku tamat.’

Tanpa ragu, Qinglan langsung menoleh ke luar jendela, bahkan ia menarik blazer nya menutupi kepalanya sendiri.

‘Hemm. Pintar,’

batin Fengyun puas.

Ia kembali menatap Xinyao.

“Emmmm…”

(Yao Yao… lepaskan. Atau aku benar-benar akan mencium kamu.)

Namun Xinyao tetap keras kepala, bersedekap dan tidak menggubris sama sekali.

Kesabaran Fengyun akhirnya habis.

Dengan satu gerakan cepat, tangannya melingkar di pinggang Xinyao, menariknya hingga posisi duduk mereka menjadi sangat dekat.

Spontan Xinyao mendongak.

Tatapan mereka bertemu.

Senyum licik muncul di sudut bibir Fengyun

dan—

CUP.

Bibir itu menyentuh bibir lembut Xinyao, singkat namun jelas.

Xinyao membeku.

Otaknya kosong sepersekian detik.

“FENGYUN!”

Teriaknya menggema di dalam mobil.

Namun di luar dugaan

bukan jimatnya yang dilepas.

PLAK.

Satu jimat lagi menempel.

“Rasain,” dengus Xinyao kesal.

“Sekarang enggak bisa gerak, kan? Dasar MESUM!”

Ia melipat tangan di dada, alisnya bertaut rapat, bibirnya mengerucut penuh kemenangan.

“Hahahaha!”

Qinglan akhirnya tak bisa menahan diri. Tawanya meledak lepas.

“Maaf, Gege,” katanya sambil terpingkal.

“Tapi lagi-lagi kamu jadi patung fengshui.”

Bahkan sopir di kursi depan wajahnya sampai memerah, menahan tawa mati-matian takut kalau tertawa, gajinya benar-benar dipotong.

Mobil itu terus melaju…

diiringi tawa, dengusan kesal, dan sebuah ciuman yang tidak akan dilupakan siapa pun di dalamnya.

____

Mobil hitam itu akhirnya berhenti tepat di depan apartemen Xinyao. Lampu depan menyinari pintu masuk yang tenang, sementara mesin mobil masih menyala pelan, menambah kesan canggung di udara.

Sebelum turun, Xinyao mengangkat tangan, lalu melepas dua jimat yang menempel dengan gerakan cepat dan kesal. Napasnya terdengar berat, dadanya naik turun.

“Huh—”

“MESUM.”

Ia mendengus, suaranya tegas dan penuh emosi yang belum reda.

Fengyun yang duduk di sampingnya langsung terbelalak, matanya melebar sesaat sebelum ia cepat-cepat memalingkan wajah.

“Aku… aku nggak mesum,” ucapnya datar.

“Itu tadi… nggak sengaja.”

Nada suaranya tenang, bahkan cenderung kaku, dan ia sama sekali tidak menatap Xinyao entah karena malu, atau karena takut memperburuk keadaan.

“Alasan.”

Xinyao menimpali dingin.

Tanpa menunggu balasan, ia membuka pintu mobil dan turun, langkahnya cepat dan tegas, seolah ingin segera menjauh dari tempat itu.

“Yao Yao, sampai jumpa besok!”

Qinglan menyapa dengan suara ceria, berusaha memecah suasana sebelum mobil kembali melaju meninggalkan area apartemen.

Di dalam lobi apartemen yang terang dan sepi, Xinyao berpapasan dengan Meimei. Wanita itu langsung menghentikan langkahnya begitu melihat wajah Xinyao.

“Yao Yao?”

Meimei mendekat, menatapnya penuh selidik.

“Kenapa wajahmu kelihatan kesal begitu?”

Xinyao berhenti melangkah. Ia mengalihkan pandangan, lalu menghela napas pendek.

“Enggak ada apa-apa,” elaknya cepat.

“Hanya saja tadi di jalan aku lihat… ada anjing lagi kencan di pinggir trotoar.”

Ia mengangkat bahu.

“Aku iri.”

Hah?

Meimei terdiam, jelas bingung.

Namun ia segera tersenyum, lalu menepuk pundak Xinyao pelan.

“Iri sama sepasang anjing?” katanya menahan tawa.

“Kamu serius? Itu nggak lucu, Yao Yao.”

Ia menatapnya dengan senyum menggoda.

“Lagipula, kamu saja sekarang sedang diperebutkan dua pria. Apa yang perlu kamu iri-kan dari dua ekor anjing yang lagi kasmaran?”

Xinyao mendengus kecil.

“Meimei, kamu nggak akan mengerti,” katanya lesu.

“Sudahlah… aku mau naik. Pasti Chen sudah pulang.”

Tanpa menunggu balasan, ia menyeret langkah menuju lift, bahunya sedikit merosot.

Begitu sampai di apartemennya, Xinyao langsung membersihkan diri. Air hangat membantu sedikit meredakan kepalanya yang penuh, sebelum akhirnya ia berjalan ke apartemen sebelah tempat Chen tinggal.

Ting.

Bel berbunyi.

Tak sampai lima detik, pintu terbuka lebar.

Chen berdiri di sana dengan senyum lebar yang langsung merekah di bibirnya. Aroma masakan hangat dan menggugah selera menyeruak keluar, membuat perut Xinyao spontan berbunyi.

“Cepat duduk,” ujar Chen ringan.

“Nanti makanannya keburu dingin.”

“Iya, iya… aku tahu,” jawab Xinyao sambil masuk.

Ia segera duduk, mengambil peralatan makan, dan tanpa basa-basi mulai menyantap hidangan di depannya.

“Emm…”

Ia mengunyah pelan, matanya sedikit menyipit puas.

“Bener ya… makan enak itu bisa langsung bikin mood naik.”

Tangannya bergerak lincah, mengambil satu demi satu makanan, begitu fokus hingga Chen sampai melongo melihatnya.

“Selaper itu?” tanya Chen heran, senyum canggung menghiasi wajahnya.

“Laparnya sih biasa,” jawab Xinyao santai sambil tersenyum ceria.

“Tapi masakanmu enak. Jadi nggak bisa berhenti makan.”

Tak lama, seluruh makanan di meja tandas.

Xinyao bersandar di kursi, lalu mengelus perutnya sendiri dengan puas.

“Kenyang,” katanya lega.

Ia lalu menatap Chen.

“Chen, malam ini aku nggak bisa nyuci piring.”

Ia menyatukan kedua tangannya, wajahnya memelas.

“Sebagai gantinya, besok aku belanja lebih banyak buat kamu.”

Chen menghela napas kecil.

“Iya, iya… ya sudah,” katanya.

“Nih, pulang sana.”

Nada suaranya sengaja dibuat datar, terdengar seperti mengusir.

“Heh?”

Xinyao langsung berdiri, berkacak pinggang, bibirnya mengerucut.

“Kamu ngusir aku?”

“Bukan,” jawab Chen cepat.

“Cuma… ini sudah malam.”

“Iya, iya… sudah malam,” dengus Xinyao.

“Bilang saja kalau aku diusir.”

Heh.

Ia melengos, melangkah ke pintu dan membukanya, namun tiba-tiba berbalik lagi.

“Oh iya,” katanya sambil menunjuk Chen.

“Besok pagi nggak usah bikin sarapan. Aku makan bakpao paman di persimpangan.”

Ia berpikir sebentar.

“Makan malamnya… mi seafood pedas. Sudah itu saja.”

BRAK.

Pintu tertutup lembut, meninggalkan Chen yang berdiri terdiam dan Xinyao yang pergi dengan hati sedikit lebih ringan dari sebelumnya.

Bersambung 🥂

1
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
banyakin cerita gini kak, suka bgt dengan fl nya
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
filosofi ceritanya sangat keren 😍
Xlyzy: makasih beb atas dukungan nya 🫶🏻
total 1 replies
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
kisah cinta yg kekal dan abadi
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
hantu modern nya dikemanain itu
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
nah keren, hantu di cari bukan di jauhi 🤣
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
Raja Yama aja tunduk sama Yao Yao, apalah artinya kalian yg hanya butiran debu
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
ngusir dewa udh kyk ngusir kucing aja 🤣
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
UUD gak sih, ujung ujungnya duit 🤣
Xlyzy: wkwkwk ga ada yang gratis beb ke toilet aja bayar
total 1 replies
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
asli, gak berhenti ngakak aku tuh bacanya 🤣
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
unik versi museum sih ini 🤣
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
kembali ke Hongkong sih oke oke aja,.
tapi kembali ke rumah anda, sorry lah yaw..
Sary Vya
cerita nya bagus
Ayu Rahayu
/Drool//Drool/
yrputri
oooh ke sini rupanya ya/Hey/
yrputri
Xinyao mau kemana ya... hmmm
yrputri
semangat🤭
>AY<
ming xuelin, lin yuyu, li yiyu ini siapa? ko aku lupa
Xlyzy: Yao yao asli adalah seorang reinkarnator dia akan terus bereinkarnasi jika kehidupan nya berakhir buruk dan ming xuelin, Lin Yuyu, Li yiyu adalah Yao Yao asli yang terus bereinkarnasi hingga akhirnya berakhir menjadi cangli

( Yao Yao terus terlahir kembali dengan metode kembali menjadi bayi baru kali ini Yao Yao reinkarnasi ke tubuh orang lain dengan ingatan masa lalu yang utuh)

siklus ini akan terus berlanjut hingga Yao Yao bisa hidup bahagia hingga tua tanpa penderitaan
total 1 replies
>AY<
apaan tuh
>AY<
🤣🤣🤣
>AY<
ya ampun, ngakak sekali akutuh🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!