Berlatar di sebuah dunia yang dihantui ramalan Invasi Volgath. Sebuah perang dahsyat ketiga dunia yakni melawan dunia atas, tengah, dan bawah ditakdirkan melawan makhluk asing dari luar dunia. Di tengah bayang-bayang kehancuran, muncul harapan dimana datangnya seorang pahlawan yang ditakdirkan untuk mencabut pedang legendaris dan menyatukan semua ras sebagai harapan terakhir dunia.
Di Benua Gradecya, benua sihir tempat mayoritas penduduknya adalah penyihir, hiduplah Ardius. Terlahir di keluarga penyihir Leonheart yang ternama. Kehadirannya dianggap sebagai aib dan produk gagal karena tak mampu menggunakan tongkat sihir.
Tak goyah oleh takdir yang melanda hidupnya, Ardius berjuang balik melawan takdir itu sambil diam-diam menyimpan rahasia bahwa ia adalah reinkarnasi dari dunia lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : Pengabdian Terakhir Izanagi
Pagi itu Ardius bangun lebih lambat dari biasanya. Latihan yang keras selama beberapa hari terakhir ini membuat tubuhnya sering merasa capek dan lemas. Bahkan latihan teknik perisai sihir otomatis kemarin saja selesai pukul sepuluh malam.
Hari ini adalah hari kedua belas. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Ardius dan Profesor Gilbert akan pergi ke lantai empat pada siang hari menjelang sore. Entah latihan apalagi yang akan dia jalani, namun sepertinya latihan hari ini akan berbeda dari sebelumnya.
Ardius keluar dari kamarnya. Sama seperti hari-hari sebelumnya, sudah tak aneh baginya melihat Profesor Gilbert yang tertidur dengan posisi aneh dan berubah-ubah setiap harinya.
"Aku penasaran tulang orang tua itu terbuat dari apa," cibirnya kemudian kembali berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, pagi itu Ardius memulai rutinitas yang berbeda dari biasanya. Karena waktu yang dia miliki masih sangat panjang, Ardius memutuskan untuk berkeliling mengelilingi kota mati yang sekarang dia tinggali.
Berpindah ke akademi. Luna dan Axel tiba di akademi tepat pada waktu biasanya mereka sampai. Saat melewati aula, mereka melihat banyak murid berkerumun memenuhi aula—lebih tepatnya mencoba melihat apa yang tercantum di papan pengumuman.
Mereka berdua ikut penasaran. Kerumunan yang begitu banyak membuat mereka tak dapat melihat apa yang ada di papan pengumuman. Tak berselang lama, terdengar suara familiar yang memanggil mereka berdua. Saat menoleh, terlihat Arlena menghampiri.
"Ramai sekali hari ini. Apa yang terjadi?" tanya Luna penasaran.
"Itu karena di papan pengumuman tercantum tentang hari Turnamen Perburuan. Semua orang gembira dan bersemangat karena turnamen itu hanya diselenggarakan dua tahun sekali." Arlena menjelaskan dengan penuh semangat. Sepertinya ia juga telah menanti turnamen tersebut.
"Turnamen Perburuan hanya bagi pelajar yang telah yakin dengan kemampuannya. Begitu juga denganku, aku yakin bisa mencapai babak terakhir," kata Axel yang terbawa semangat.
"Kau tahu apa yang lebih membuat semangat? Katanya tiga orang yang juara dapat diangkat menjadi murid khusus." Arlena menambahkan.
Mata Axel dan Luna berbinar-binar usai mengenainya. Hadiah seperti itu adalah kesempatan yang tak akan pernah datang dua kali. Bagaimana juga, mereka harus ikut turnamen tersebut dan keluar sebagai juara.
Arlena melanjutkan pembicaraan. Untuk ikut turnamen, peserta dapat membuat kelompok yang terdiri dari dua sampai lima orang. Arlena menawarkan Luna dan Axel untuk membuat kelompok bersama-sama, itu juga termasuk Ardius di dalamnya.
Luna dan Axel saling menatap. Mereka tampak berpikir sebentar. Apa yang dikatakan oleh Arlena terdengar masuk akal. Dengan bersama-sama, tingkat keberhasilannya pasti lebih mudah tercapai. Mereka mengangguk setuju.
Meski begitu, terdapat KK keraguan dalam benak Luna. "Aku... aku tidak terlalu yakin dengan Ard."
"Ya, Luna benar. Dia tidak akan tertarik dengan hal semacam ini. Aku tidak tahu bagaimana pola pikirnya, tapi kali ini kita harus memaksanya untuk ikut," sambung Axel.
Kembali kepada Ardius. Siang harinya, Ardius dan Profesor Gilbert pergi menuju lantai delapan. Mereka berdua tiba saat pukul tiga sore. Profesor Gilbert mengatakan tidak akan ada latihan untuk hari ini, namun Ardius harus bertarung dengan mempraktikkan semua pengetahuan yang dia pelajari selama dua minggu ini.
Lawannya kali ini adalah lawan yang sama saat tiba di lantai delapan, yaitu golem batu. Berdasarkan tingkatannya, golem batu di lantai delapan tergolong ke makhluk tingkat pertengahan sedang dan tinggi.
Ardius mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia membuka dan mengeluarkan Izanagi. "Baiklah Profesor, saya siap!'
Profesor Gilbert mengangguk. "Bagus. Kalau begitu, selamat berjuang!"
Profesor mengentakkan tongkatnya ke pasir. Sosoknya menghilang seperti hari sebelumnya diikuti dengan golem yang terbangun. Golem memperhatikan sekitar dengan mata merah menyalanya dan mendapati seorang pemuda yang telah siap untuk bertarung melawannya. Tidak seperti hari sebelumnya, kali ini Ardius telah siap.
Golem melesat dengan kecepatan yang hebat. Dia datang tepat di hadapan Ardius dengan tinju yang telah siap untuk melayang. Ardius membalasnya, bukan dengan Izanagi melainkan dengan tangan kanannya.
Api besar menyelimuti tangannya. "Inferno Impact!"
Begitu tinju golem melesat, Ardius melakukan hal yang sama. Tinju keduanya saling berhantaman satu sama lain. Suara ledakan yang menghempaskan udara terdengar nyaring. Kali ini Ardius tidak terhempas, tulangnya tidak patah, sebaliknya mengakibatkan kerusakan pada lengan golem. Tinju tersebut menciptakan retakan besar di tangan golem yang menyebar hingga ke satu lengan. Dari dalam retakan tersebut, muncul api panas yang mengakibatkan lengannya tak dapat berfungsi.
Serangan lanjutan datang. Ardius dengan sigap langsung melayangkan tebasan ke mata golem. Satu-satunya indera yang menjadi alat andalan golem tersebut telah hancur, membuatnya menjadi kehilangan arah. Golem terus melayangkan pukulan ke berbagai arah yang tak jelas.
Memanfaatkan momen tersebut, Ardius segera kembali menyerang untuk mengakhiri. Tangan kananya diselimuti es, dia mengarahkannya ke depan dan berkata, "Frost Prison!"
Saat itu juga, muncul es-es tajam dan besar dari dalam pasir yang membekukan setengah tubuh golem. Bilah katana Ardius diselimuti oleh api. Dia mengarahkan pedangnya ke atas, seketika bilah katana tersebut berubah menjadi bilah api yang panjang dan besar.
"Amaterasu : Inferno Furry!"
Ardius melayangkan serangan pamungkas miliknya. Tubuh golem terbelah menjadi dua sevara vertikal lalu muncul ledakan yang menelan golem yang berasal dari serangan Ardius tersebut.
Setelah tubuh golem hancur berkeping-keping, Ardius tak menyarungkan kembali Izanagi. Dia tahu pertarungan belum usai, golem yang dia lawan hanyalah pembuka pertarungan yang sesungguhnya.
Dari dalam pasir, sebuah bola kristal biru sebesar bola tenis muncul dan melayang ke udara. Tubuh-tubuh golem kembali bergerak, melayang-layang di sekitar bola kristal lalu kembali menyatu. Ardius meningkatkan kewaspadaan.
Tak lama, sebuah golem baru tercipta. Golem tersebut memiliki bentuk tubuh yang lebih kokoh serta penampilan tubuh yang berbeda meskipun tubuhnya terbuat dari golem sebelumnya. Terdapat garis-garis cahaya biru yang menyebar di seluruh bagian tubuhnya. Satu hal yang sangat mencolok adalah boga kristal itu menyatu di dadanya.
Pertarungan ini tidak akan mudah, namun dari sorot mata Ardius yang tajam menyorotkan kilauan yang menyatakan jika dia akan menang meski tidak mudah.
Pertarungan diawali dengan golem yang melesat lebih cepat dari golem sebelumnya. Ardius segera bertindak, dia melompat untuk mengelak dari serangan yang datang. Tangannya mengepal kuat, menciptakan tinju es yang akan dia layangkan ke bagian bahu sang golem.
Tepat sebelum pukulannya mengenai, lengan golem tersebut terlepas dan melayang bagaikan sebuah roket. Tinju Ardius meleset, namun dia segera melayangkan pedang yang telah diselimuti elemen es untuk menahan tinju dari tangan kiri golem.
Tubuhnya terdorong mundur secara perlahan, mengakibatkan jejak seretan di pasir. Dari belakang, Ardius mendengar sesuatu datang dengan kecepatan luar biasa. Ardius kembali melompat, dia kembali selamat teoat sebelum lengan kanan golem yang meluncur seperti roket itu kembali datang.
Lengan kanan golem menghantam tubuhnya sendiri hingga menciptakan retakan besar di badan bagian kanan. Lengan kembali menyatu dengan tubuhnya.
Ardius menjaga jarak. Usai kengan kanan golem kembali ke tubuhnya, tiba-tiba mata golem itu bersinar mengeluarkan cahaya biru. Tanpa membutuhkan banyak waktu, mata golem itu mengeluarkan sinar laser.
Tak ada waktu untuk mengelak kali ini. Perisai sihir langsung muncul dan melindunginya. Ledakan yang cukup besar langsung melahap area sekitar. Untungnya, Ardius masih sempat untuk bertahan.
Sebelum kembali bergerak, Ardius disambut dengan datangnya dua lengan roket yang melesat ke arahnya. Katana miliknya masih diselimuti elemen es serta tangannya mulai diselimuti elemen api. Ardius langsung memukul lengan roket pertama, membuat arah melesatnya berbelok, begitu juga dengan lengan roket kedua yang berhasil dibelokkan menggunakan Izanagi.
Langkahnya berlari dengan cepat. Dia tahu senjata sang golem bukan hanya lengan. Laser biru dari mata golem kembali mengarah. Ardius terus mendekat ke arahnya sambil menghindari setiap laser yang mencoba datang kepadanya. Ledakan demi ledakan terus bermunculan. Pemuda itu tanpa henti terus menghindari setiap serangan laser dengan lihai.
Mana dalam tubuhnya mengalir dengan stabil meski terus bergerak tanpa jeda. Hasil dari latihan panjangnya membuahkan hasil, kini dia tidak perlu mengkhawatirkan soal mana eksternal yang tak terkendali.
Saat tinggal beberapa langkah lagi, dari kedua sisi yang berlawanan, kedua lengan roket kembali muncul. Ardius dengan terpaksa harus kembali menjauh dan menghindar dari kedua lengan roket itu.
"Menyebalkan," gumamnya kesal akibat kedua lengan golem yang terus mengganggu.
Serangan laser ditambah kedua lengan roket itu kembali, menciptakan kombinasi yang menyebalkan sekaligus berbahaya. Ardius terus melompat, menghindar, dan berlari tanpa henti.
Kurasa aku harus menggunakan Tsukuyomi. Mode Tsukuyomi memang boros dalam penggunaan mana, tapi dengan teknik mana eksternal yang telah aku pelajari, aku pasti bisa melakukannya.
Katana milik Ardius diselimuti oleh elemen es. Bukan hanya sekedar elemen es biasa yang selalu dia pakai, namun kali ini adalah elemen es yang lebih kuat dan mematikan. Area sekitarnya dilapisi tekanan dan atmosfer dingin yang lebih dingin dari sebelumnya.
"Izanagi Tsukuyomi!"
Tepat sinar laser beserta kedua lengan roket tiba, Ardius langsung menciptakan dinding es yang sangat tebal. Dengan dinding es urang memiliki tebal satu meter, sinar laser berhasil dipantulkan dan mengenai lengan roket bagian kiri, menghancurkannya dalam sekali serangan. Lengan kanan yang datang berhasil menghadirkan dan menembus dinding es itu, namun Ardius sudah menghilang dari tempat.
"Tsukuyomi: Frozen Prison Area!"
Entah berasal dari mana, suara Ardius terdengar menyebut nama skill miliknya. Seketika, muncul es-es dari dalam pasir yang menjulang tinggi hingga beberapa meter ke udara dan menciptakan sebuah kubah es—lebih tepatnya sebuah penjara es yang cukup luas.
Suhu di dalamnya mencapai -37 derajat, cukup dingin untuk membuat makhluk hidup mati kedinginan, bahkan untuk Ardius sendiri tetapi tidak untuk golem itu. Namun, Ardius menjebak monster tersebut bukan tanpa alasan.
Pertarungan kembali dimulai. Ardius muncul di belakang golem lalu melayangkan tinju es. Serangan tersebut berhasil mengenainya dan membuat golem terpental beberapa meter. Keduanya kembali beraksi satu sama lain. Pertempuran di dominasi oleh Ardius yang terus melayangkan serangan demi serangan secara konsisten, dia tahu suhu di dalam Frozen Prison Area membuat pergerakan golem sedikit demi sedikit menjadi lambat.
Keduanya saling menghantamkan tinju satu sama lain dan membuat mereka berdua saling terpental jauh. Ardius berdiri dengan tatapan wajahnya yang sedingin suhu sekitar. Begitu juga dengan golem yang kembali berdiri meski tubuhnya sudah menjadi begitu lambat.
Dari bawah golem itu, muncul banyak es yang menjalar ke atas dan membekukan setengah tubuhnya, membuat golem tersebut terperangkap dan tak mampu untuk berjalan.
"Akan aku akhiri ini!" ucap Ardius dengan serius.
Pemuda itu memasang sebuah kuda-kuda—menandakan jika dia akan melakukan serangan klimaks. Dari ujung bilah, perlahan berubah menjadi bilah es yang mengkilap dan begitu tajam hingga bilah Izanagi benar-benar berubah menjadi bilah es. Aura dan suhu dingin terpancar dengan sangat jelas.
"Tsukuyomi : Glacial Fang!"
Ardius berlali dengan sangat kencang di tengah penjara es miliknya. Golem menembakkan sinar laser dari matanya namun Ardius hanya perlu mengelakkan kepalanya sehingga laser tersebut terpantul-pantul di dinding es penjara sebelum akhirnya kembali mengenai tubuh golem.
Saat jarak Ardius semakin dekat dari golem, pergerakannya berubah menjadi jauh lebih cepat. Dalam gerakan yang luar biasa itu, Ardius melayangkan banyak tusukan dari satu titik ke titik lain dengan gila. Sosoknya kembali ke depan untuk melayangkan serangan klimaks, dalam satu kali gerakan, Ardius menusukkan Izanagi tepat ke kepala golem hingga Izanagi dan sosoknya menembus golem tersebut.
Seketika tubuh golem itu berubah menjadi es yang langsung hancur berkeping-keping. Kini golem tersebut telah sepenuhnya hancur tak tersisa. Latihan selama beberapa hari yang Ardius jalani ini akhirnya terbayar dengan maksimal.
Bilah Izanagi yang berubah menjadi bilah es tiba-tiba ikut hancur berkeping-keping. Saat itu juga, Frozen Prison Area mulai menghilang seperti debu yang tertiup oleh angin.
Ardius mencengkeram gagang katana yang telah menemaninya dari awal hingga detik ini dimana perkembangannya telah melesat. Dia berjongkok lalu menancapkan gagang tersebut di atas pasir lantai delapan dungeon.
"Terima kasih atas kesetiaanmu!" gumam Ardius dengan senyum tipis di wajahnya.
"Kau bicara kepada benda mati? Sungguh aneh untuk merayakan kemenangan." Profesor Gilbert secara tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Anda tahu? Orang-orang zaman dahulu percaya jika pedang yang kuat adalah pedang yang memiliki jiwa," ucap Ardius yang kembali berdiri dan menatap langit-langit dungeon.
"Dan kau percaya hal itu?" tanya kembali Profesor.
"Meski terdengar konyol tetapi Izanagi yang telah menemani saya adalah separuh dari jiwa saya. Dengan pembuatan Izanagi versi sempurna di esok hari, berarti saya telah memiliki separuh jiwa yang baru."
Profesor mendengarkan dengan tenang. "Memang konyol tapi tidak cocok untuk ditertawakan." Tangannya mengambil sebuah bola kristal biru dari tempat hancurnya golem. "Ambil ini! Kau pasti membutuhkannya." Profesor melemparkan bola kristal tersebut.
Ardius menangkap dengan tangkapan sempurna. Ia menatap bola kristal tersebut dengan penuh analisa. Ia tersenyum tipis sambil mencengkram erat material tersebut. Esok adalah hari terakhir baginya untuk menempa Izanagi baru versi sempurna. Bagaimanapun juga, Ardius harus terus berkembang demi orang yang ia cintai termasuk dengan mengembangkan sebuah katana yang menjadi setengah dari jiwanya.